
Cinta itu bukan buta, hanya saja pelakunya menutup mata hati secara sadar.
_______
Di sebuah hotel di pusat kota Manchester kini Azharin berada. Suatu kejadian yang tidak pernah dia bayangkan karena dulunya hanya memikirkan menikah dan menikah dengan mantan kekasihnya.
Kini jauh dari keluarga dan teman-teman. Di sinilah dia berada, di ribuan mil. Di sebuah balkon hotel mewah Azharin bersama lelaki berbeda bangsa, bahasa, dan budaya.
Setelah bertatapan secara langsung saat di bar milik Alex, pria Eropa itu, tidak ingin lagi kehilangan kesempatan kedua untuk melepas gadis Asia tersebut. Malam-malam di Spanyol membuat dia semakin yakin untuk bersama dengan Azharin.
"Aku ingin kau berkenalan dengan keluargaku. Apa kau tidak keberatan?" tanya Bernard hati-hati.
"Aku justru keberatan jika perjalanan jauhku hanya suatu perjalanan kosong belaka," jawab Azharin serius.
"Apa kau tidak bisa langsung menjawab?" ujar Bernard merapat ke Azharin.
"Kau bisa mengerti artinya bukan?"
"Barbie ... aku serius."
"Sama. Aku juga serius."
"Apa kau yakin?" tanya Bernard menatap mata Azharin.
"Jangan bilang, kau yang tidak yakin," ujar Azharin serius.
Bernard sempat menghela napas. Dia bahkan menarik napas dalam. Azharin selalu saja menguji kesabaran.
"Kau marah?" tanya Azharin ketika mendengar Bernard menghela napas dan diam beberapa saat.
"Aku tidak marah darling."
"Ya, aku tahu kau kesal padaku," ujar Azharin pelan. Bagi Azharin jika Bernard sedang menahan kesal, maka dia tidak memanggil dengan sebutan biasa, barbie.
__ADS_1
Bernard tidak mengerti dengan jalan pemikiran Azharin. "Aku hanya belum mengerti dengan sifatmu. Kau selalu mendebat aku. Kau selalu membalikkan perkataanku." Bernard tidak bisa menyembunyikan rasa ingin tahunya.
"Aku rasa dengan berdebat kita bisa saling mengenal." Azharin melontarkan alasan.
"Apa yang ingin kau tahu?" tanya Bernard mereka-reka pemikiran Azharin.
"Aku justru ingin kau tahu siapa aku. Aku tidak ingin suatu hari kau menyesali menikahi aku dan mengusir aku dari hidupmu." Perkataan Azharin kembali membuat Bernard terdiam.
"Apa perlu malam ini kita bahas? Kau tidak lelah?" tanya Bernard.
"Aku lelah. Aku tidak berniat membahasnya malam ini. Namun kau harus mengetahui siapa aku dan apa yang aku lalui. Agar suatu hari tidak menjadi beban bagiku."
"Okelah Barbie. Kita istirahat. Kau tidak apa jika sendirian di kamar ini?" tanya Bernard tanpa ada maksud tersembunyi. Dia hanya sedikit mengkhawatirkan Azharin sendirian jauh tanpa ada yang dikenal selain dia dan Gilberto. Azharin merasa nyaman mendengar nada tulus Bernard.
"Aku rasa kau tidak keberatan untuk tetap di sini," ujar Azharin terus terang. Azharin tiba-tiba merasa tidak nyaman sendirian di negara Bernard. Padahal dia merasa rileks di Spanyol dari mulai hari pertamanya datang.
"Kau gelisah?" tanya Bernard menatap manik mata Azharin. Azharin mengangguk.
Ketika matahari pagi menyapa, Azharin masih terlelap dalam tidur nyenyak. Berbeda dengan Bernard. Dia telah terbangun dan mengetuk kamar Azharin. Namun Azharin tak kunjung membukakan pintu. Azharin juga tidak mengakibatkan ponsel.
Bernard jelas panik dan meminta pihak hotel membukakan. Bernard menuju ranjang, melihat Azharin masih terlelap. Dia melihat pemandangan berbeda dari Azharin. Wajah cantik itu begitu terlihat polos dan lembut. Tak ada terlihat sifat keras dan suka mengajaknya berdebat.
Bernard bersedekap. Dia masih asyik melihat Azharin tidur dengan damai. Bernard tak habis pikir, mengapa bisa jatuh hati pada gadis ini. Padahal ketika Azharin kembali tidak membalas, Bernard berusaha melupakan dan menenggelamkan diri dengan pekerjaan.
Namun dia gagal ketika malam datang. Bernard selalu memperhatikan media sosial Azharin. Walaupun dia tidak menemukan apapun selain melihat Azharin online atau sekadar membagi postingan masakan.
Suatu malam, Bernard kembali memeriksa media sosial Azharin. Dia tidak menemukan akun Azharin. Bernard berasumsi, Azharin telah memblokir akun dirinya. Bernard merasa sakit hati dan marah.
Terlintas dalam benaknya untuk memblokir nomor kontak WhatsApp Azharin. Logika Bernard kalah sekali ini. Dia mengabaikannya. Dia hanya mengecek kapan terakhir Azharin aktif di WhatsApp. Dia melihat Azharin jarang aktif. Bernard tidak tahu, Azharin memang tidak memberikan nomor utama pada teman dunia maya. Azharin memakai dua nomor berbeda.
Bernard sempat menerima seorang wanita dalam hidupnya. Hanya saja tidak bertahan lama. Wanita tersebut dinilai Bernard terlalu banyak menuntut waktunya. Bernard tidak suka itu. Dia memang sangat sibuk dengan pekerjaan. Bahkan ada berhari-hari dia hanya berfokus pada bisnis.
Itu juga yang menjadi nilai tambah bagi Bernard tentang Azharin. Azharin tidak pernah mengusik waktu kerjanya. Azharin hanya protes ketika Bernard yang mempermasalahkan lebih dahulu.
__ADS_1
Bernard juga terkadang heran dengan hati dan pikirannya. Dia malah sering tersulut api cemburu sendiri ketika melihat Azharin online tetapi tidak menyapa dirinya saat itu. Makanya Bernard sering menuduh Azharin banyak pacar. Walau dia akhirnya mengalah karena Azharin malah balik menuduh.
Mengingat kenangan itu, garis bibirnya membentuk senyuman. Dia tidak mengira kalah dengan perempuan mungil yang sedang tertidur pulas.
Kau memang pantas dipanggil Barbie, my little doll. Kau seperti boneka kecil, sayang. Cantik dan menggemaskan. Saat bangun kau sedikit menyebalkan sayang. Akan tetapi, aku sangat menginginkan untuk memilikimu.
Bernard asyik berkata-kata dalam hatinya. Pandangannya tak lepas dari wajah Azharin. Bernard memutuskan dia akan menyerahkan urusan kantor pada sekretaris.
Dengan langkah hati-hati dia beranjak dan menuju sofa. Bernard mengabari sekretarisnya untuk menggeser jadwal jika tidak terlalu penting. Bernard juga mengabari Gilberto.
Gilberto mendukung Bernard untuk mengenalkan Azharin pada ayah-ibunya. Gilberto berharap dengan cara itu, Azharin bisa yakin pada cinta sahabatnya. Orang tua Bernard memang tidak memaksa anaknya untuk menikah. Mereka menyerahkan keputusan di tangan anak-anaknya.
Bernard lima bersaudara. Dia anak bungsu. Tiga abangnya lelaki dan dua di antaranya tidak berada di Inggris. Satu kakak perempuan di atasnya tinggal bersama menemani orang-tua mereka. Kakaknya telah bercerai dan mempunyai dua buah hati yang lelaki kini berusia tujuh tahun dan perempuan berusia lima tahun. Rumah orang tua Bernard dua jam jarak tempuh dengan mobil dari Manchester.
Bernard menyelesaikan panggilan pada Gilberto ketika melihat pergerakan Azharin. Azharin menggeliat kecil. Perlahan Azharin membuka mata, sama perlahannya dengan langkah Bernard yang mendekat ke ranjang.
"Good morning, Barbie. Are you ok?" sapa Bernard dengan senyum manis. Azharin mengangguk dan membalas dengan senyuman hangatnya. Azharin bangkit dan duduk di tepi ranjang.
"Apa aku menakutimu?" tanya Azharin. Dia sudah bisa menebak adanya Bernard di kamarnya.
"Aku sudah mulai terbiasa."
Azharin tersenyum simpul. Dia bertanya apakah Bernard tidak pergi bekerja. Azharin tentu senang, ketika Bernard akan meluangkan banyak waktu. Azharin semakin senang ketika Bernard memintanya bersiap untuk menuju rumah orang tuanya.
Tidak membutuhkan waktu lama bagi Azharin untuk bersiap dan merias diri. Azharin bukan tipe pesolek dan itu ternyata juga disukai oleh Bernard. Bernard menyukai wajah polos Asia dari Azharin.
Bernard telah meminta supir untuk mengantarkan mobil ke hotel. Bernard ingin menyetir sendiri ke rumah orang tuanya. Dia ingin banyak mendengar cerita dari Azharin.
"Sudah siap, Barbie?"
Azharin tetap menolak ketika Bernard merangkul pinggangnya, akan tetapi Azharin mulai sedikit membuka diri ketika Bernard mengatakan akan mengenalkan pada orang tuanya. Bagi Azharin selangkah lebih maju untuk rencana masa depan. Meskipun dia belum tahu apakah dia bisa disambut dan diterima baik oleh orang tua Bernard.
***
__ADS_1