Love Between Two Countries

Love Between Two Countries
Kejanggalan yang Terasa


__ADS_3

Satu percikan api bisa menjadi besar. Bensin dan angin membantunya.


_____


Hari berjalan dan bulanpun berganti. Kehamilan Azharin semakin besar dan Bernard menjadi suami yang penuh perhatian. Dia menepati janjinya. Jika dia bepergian ke luar kota atau bahkan ke luar negeri, dia selalu membawa istrinya.


"Alex, apa kabar, aku merindukan dirimu," aku Azharin dengan lugas.


"Aku baik dan aku juga merindukan dirimu." Alex mencium pipi Azharin.


"Aku rasa kau sangat bahagia," ujar Alex pada Bernard. Bernard tersenyum.


Mereka bertemu di sebuah restoran mewah. Kehamilan Azharin menghambat langkah untuk bertemu di bar. Bernard mengajak Alex makan malam. Kedatangan Bernard kali ini bukan hanya sekadar untuk berbisnis dengan Alex. Bernard sedang mengembangkan sayap ke bidang lain. Dia berniat untuk menjadi investor pada suatu perusahaan besar.


Azharin banyak bertanya pada Alex tentang bisnis dan begitu juga Bernard. Makan malam santai sudah seperti ajang pertemuan antara relasi saja. Ketika Azharin menyadari dan mengatakan, Alex dan Bernard terkekeh. Mereka setuju dengan pemikiran Azharin.


Ketika mereka sedang menikmati makan malam, ponsel Bernard bergetar. Dia mengeluarkan dari saku celana dan melihat pesan ternyata dari Gilberto.


"Kau yakin Laurren di Spanyol?"


Bernard meminta izin sejenak dan keluar dari restoran.


"Apa maksudnya?" tanya Bernard langsung menelepon.


"Aku baru melihat dia di pusat perbelanjaan dengan seseorang lelaki yang lebih pantas menjadi ayahnya."


"Ohh ya?"


"Kau akan lebih terkejut jika tahu siapa lelaki itu!" kata Gilberto menekan nada bicaranya.


"Siapa?"


"Lelaki yang kau tolak berbisnis denganmu."


"Aku banyak menolak berbisnis dengan orang, siapa yang kau maksud?" tanya Bernard mulai tak sabar.


"Maxwell."


"Ohh. Aku coba berbicara dengan Alex."


Bernard menghembus napas dengan kasar. Dia memasukkan ponsel ke saku celana. Dia masih melampiaskan rasa kesalnya dengan menarik dan membuang napas dengan kasar. Jari-jari tangannya terkepal kuat.


Bernard menggumam pelan, "Aku terima jika dia mengganggu bisnisku, tetapi aku tidak terima jika dia mengganggu istriku!" geramnya tanpa bisa dia tutupi.


Bernard terlonjak ketika merasa mendapatkan tepukkan di bahunya. Dia membalikkan badan dan Alex bertanya, "Siapa mengganggu?"


"Kau?" Bernard memiringkan sedikit kepalanya. Dia mengawasi di belakang Alex dan menatap pintu restoran.


"Tenang, istrimu wanita yang pemahaman. Aku meminta dia melanjutkan makan dan menunggu," terang Alex dengan santai ketika mengerti pemikiran Bernard.


"Ada apa?" kejar Alex ingin tahu.


"Kau katakan terakhir kali di negaraku, kau sudah mengurus wanita itu dan membawa dia keluar dari negaraku."


"Laurren?" tanya Alex memastikan.


Bernard bertanya, "Kau membawa dia ke mana?" Bernard memang tak bertanya banyak ketika Alex mengatakan telah membereskan dan Laurren tidak akan tinggal di Manchester lagi.


"Ke sini, di Spanyol ini, dan aku telah menjadikan dia pelacur kecil seperti keinginannya."


"Apa? Kau gila menjadikan dia pelacur." Bernard terdengar tidak terima dan Alex salah menangkap pemikiran Bernard. Bernard tidak ingin dia banyak mengenal lelaki berpengaruh seperti sekarang.


"Kau kecewa, mantan pacarmu aku jadikan wanita bayaran?" nada Alex terdengar sangat tidak senang.


"Bukan begitu maksudku!" kata Bernard tegas.

__ADS_1


"Lalu? Apa ada maksud lain?" Alex berkata dengan sinis.


"Sudahlah, tidak perlu dibahas. Kini masalahnya wanita itu di negara kami dan dia terlihat berjalan dengan lelaki kaya saingan bisnisku." Bernard memandang Alex dan kembali melirik ke pintu restoran. Memastikan Azharin tidak menyusul.


"Aku tak ingin, satu orang bisa menyebabkan masalah kecil untuk bisnisku dan masalah besar dalam pernikahanku." Bernard masih berbicara dengan wajah datar.


"Kau yakin!" ujar Alex terkejut. Kesibukan beberapa bulan terakhir ini menjadikan Alex tak pernah mengecek keadaan Laurren seperti biasa.


"Gilberto melihat dia langsung sedang di pusat perbelanjaan dengan lelaki tua itu!"


Alex lalu mengangkat telepon dan bertanya. Tak lama dia terlihat sedikit kesal. "Lelaki itu membayar kebebasannya dengan harga mahal. Pemilik usaha telah melanggar kesepakatan denganku."


"Apa kau bersikap ramah pada sang pemilik bisnis itu?" tanya Bernard memprovokasi Alex.


Kekesalan Alex bertambah, "Kau tak perlu memprovokasi aku. Aku tidak akan tinggal diam."


"Bagus. Aku akan membantu mewujudkan." Bernard memberi sokongan.


"Sekarang kita kembali ke dalam. Aku tidak ingin istriku mencurigai kita."


Tanpa menunggu jawaban Alex, dia melangkah ke dalam.


"Maaf lama sayang, aku berbicara pada Alex ketika melihat dia di luar," ujar Bernard sembari mengecup pipi Azharin.


"Jangan pamer kemesraan," ujar Alex bersungut-sungut. Alex telah menyusul kembali ke meja makan.


"Kau cemburu? Ingat dia sekarang istriku!" ujar Bernard serius.


Azharin hanya menggeleng kecil. Dia berkata, "Kalian jangan membuat aku besar kepala." Senyum Azharin menular pada Bernard dan Alex.


"Maaf Nona Cantik. Suamimu masih saja tipe pencemburu." Alex mengolok Bernard.


"Makanlah." Azharin menengahi. "Aku ingin kembali setelahnya. Aku ingin tidur," ujar Azharin kemudian. Ia sedikit merasakan kelelahan.


"Aku antar," ujar Alex menawarkan jasa.


"Terima kasih." Bernard tidak menolak. Dia masih ingin mencari sedikit waktu untuk berbicara.


Ketika sampai di hotel ....


"Tunggu sebentar aku mengantar Azharin ke kamar. Aku masih ingin sedikit membahas masalah bisnis jika kau tidak keberatan."


"Baiklah."


"Kalau begitu, aku bisa sendiri sayang. Silahkan."


"Tidak masalah Barbie? "


"Tidak masalah."


"Alex, terima kasih. Aku duluan." Azharin hanya melambaikan tangan. Alex membalas melambaikan tangan. Azharin melangkah meninggalkan mereka di parkiran hotel. Bernard dan Alex mengawasi hingga Azharin menjauh dan masuk ke dalam hotel.


"Apa kau begitu terganggu hanya karena wanita?" Alex lebih dulu bertanya. Ada kejanggalan terasa olehnya dengan sikap Bernard pada Laurren. Seakan Laurren akan memberikan Bernard masalah.


"Ya." Bernard menjawab singkat.


"Aku ingin tahu alasannya. Rasanya sedikit aneh melihat sikap kerasmu pada Laurren." Alex berkata terus terang.


Bernard menimbang-nimbang sejenak. Alex semakin tidak sabar dan berkata, "Jika kau tidak percaya padaku, kau bereskan sendiri!"


Bernard menoleh pada Alex dan memandang tajam Alex. "Kau berjanji tidak menyulut api pada Azharin!"


Alex tidak mengerti dengan ucapan Bernard. "Terus terang saja. Aku tidak mengerti."


"Aku pernah tidur dengan Laurren." Bernard mengakui dengan penuh keraguan. Dia was-was ini akan jadi bahan bakar untuknya.

__ADS_1


Sementara itu, Alex mengerutkan dahi dan setelah itu pupil matanya melebar. Alisnya juga terangkat. "Apa hubungannya?" Lagi-lagi Alex masih tak paham hubungan ketakutan Bernard.


"Aku berbohong pada Azharin ketika dia bertanya tentang hubungan bebas. Aku mengatakan aku tidak melakukannya."


"Kini terus terang saja. Itu hanya bahagian masa lalumu."


"Tidak, tidak. Aku tidak bisa. Aku takut Azharin kecewa." Bernard dengan cepat menolak ide Alex.


Bernard terpaksa bercerita singkat apa yang terjadi dengan Azharin. Dia benar-benar panik mengetahui Laurren masih berada di dekatnya.


"Kini kau sedikit gambaran apa yang terjadi dengan hatinya. Aku tidak mau rasa kecewanya bertambah dan aku hanya menjadi pemicu terbesarnya."


Alex akhirnya mengerti dengan pemikiran Bernard, menganggap masa lalunya akan jadi bumerang pada rumah tangganya. Pola pikir karena perbedaan budaya bisa menjadi akar masalah dengan keadaan Bernard berbohong. Azharin bisa jadi tidak menerima, bukan karena perilaku Bernard dulunya, akan tetapi pada kebohongan Bernard ketika mengatakan dia juga tidak paham tentang hubungan bebas di luar pernikahan.


"Kini aku mengerti alasan kau begitu terganggu dengan wanita masa lalumu."


"Satu lagi yang harus kau tahu, dia menyimpan foto kami berdua saat di kamar hotel. Aku memang tidak pernah melakukan di apartemenku."


"Kau tidak perlu khawatir dengannya, tapi khawatirlah denganku." Alex mempermainkan perasaan Bernard.


"Kenapa?"


"Ponselnya telah aku sita ketika terakhir kami bertemu."


"Ohh."


"Kau khawatir padaku?" tanya Alex memancing


"Tentu. Namun aku lebih khawatir pada wanita itu. Kau masih bisa menimbang-nimbang perasaanmu pada Azharin. Jika kau ingin menyakiti dia, kau bisa menggunakan isi ponsel itu untuk menghancurkan perasaannya."


Mendengar pengakuan Bernard yang diselipkan dengan ancaman halus, membuat Alex terbahak dan bahunya ikut terguncang.


"Apa yang kau tertawakan!" ketus Bernard.


"Tak sia-sia kau jadi pebisnis. Kau bisa membaca situasi. Aku tentu tak akan melakukan itu. Aku sangat menyayangi nona cantik itu, apalagi setelah aku mengetahui cerita darimu." Alex memutuskan tidak mengganggu perasaan Bernard lebih jauh.


"Aku tidak mau berhutang padamu." Bernard kembali bersungut-sungut.


Alex kembali tertawa. "Kau tidak perlu berhutang padaku. Apapun yang aku lakukan dan akan aku lakukan semua bukan karena kau, tetapi demi nona itu. Jadi kau tidak perlu berhutang apapun."


"Baiklah, aku tetap mengucapkan terima kasih padamu."


Alex tersenyum kecil mendengar Bernard berkata penuh ketulusan.


"Aku rasa, kita terlalu lama berdua." Bernard memangkas waktu. Hatinya jauh lebih tenang, setidaknya Alex sudah tahu sejauh apa masalah yang akan timbul jika Laurren didekatnya.


"Aku rasa juga demikian. Kau tenang saja, malam ini aku pikirkan caranya. Aku kembali ke bar dulu. Sayang nona itu lagi hamil, jika tidak kita bisa bernostalgia di bar."


"Ya."


Bernard yang tadinya menyandar di sisi mobil Alex, menjauhkan badan. Begitu juga Alex. Alex hendak masuk ke dalam mobilnya, namun dengan memegang sisi atas pintu mobilnya, dia kembali berkata, "Ternyata benar bisnis denganku bagian rencanamu karena nona itu."


Jika tadi Alex yang selalu tertawa dan tersenyum, kini Bernard tergelak dan di ujung tawanya dia berkata, "Aku terlihat tidak rasional bukan?"


"Ya. Kau seperti orang mabuk." Alex juga tertawa. Lalu dia masuk dan mulai meninggalkan parkiran hotel.


Bernard masuk ke hotel dan mengetuk pelan pintu kamar hotelnya. Azharin bergegas membukakan pintu.


"Maaf lama Barbie." Bernard tak lupa mengecup pipi Azharin. Azharin sangat suka dengan kebiasaan Bernard. Dia merasa sangat di manja dan di sayang.


"Cuci wajah dan ganti bajumu dulu sayang." Kata-kata Azharin lebih merupakan permintaan bukan perintah.


"Yes Barbie."


***

__ADS_1


__ADS_2