Love Between Two Countries

Love Between Two Countries
Menunggu


__ADS_3

"Tolong aku, aku dijadikan pelacur oleh seseorang Aku berada di Spanyol. Tolonglah aku. Aku tidak punya tempat meminta bantuan selain padamu."


Email pertama dibuka oleh Bernard. "Jadi benar Alex memasukkan dia ke sarang pelacuran." Bernard membatin.


Email itu masuk beberapa kali dengan waktu yang berbeda-beda. Beberapa email dengan bahasa rayuan yang menjijikkan bagi Bernard.


Satu pesan terakhir berkata, "Aku kecewa padamu. Aku tahu kau berbohong padaku saat akan menikah. Aku tidak mengira kau sekejam ini padaku. Kesalahanku berharap padamu. Kau harus tahu satu hal, tanpa kau, aku akan tetap bisa keluar dari tempat terkutuk ini. Saat itu terjadi, jagalah istrimu. Aku tidak akan pernah membiarkan kau bahagia di atas penderitaan aku!"


"Cih, kau yang salah, kau membalas padaku." Gumam Bernard pelan.


Dia mengirimkan isi pesan itu pada Alex. Bernard juga mengatakan, "Aku tidak salahkan, meminta dia dibereskan. Tidak ada rasa penyesalannya atas apa yang terjadi Dia hanya tahu kesalahan orang lain."


Bernard tidak menunggu jawaban Alex. Dia menyusul Azharin dan tidur memeluk istrinya. Dia menyempatkan lebih dahulu mengelus perut istrinya.


ketika pagi menyapa, Azharin telah terbangun lebih dahulu. Dia melihat wajah pulas suaminya. Masih seperti mimpi, jika dia menatap lama dan dalam wajah suaminya saat tertidur.


Tidak pernah terlihat sekalipun dalam benaknya akan menikah dengan pria luar dan tinggal di luar negaranya.


Tangannya terulur menyentuh rambut suaminya. Tidak sampai di sana, Azharin juga meraba tulang pipi dan rahang kokoh suaminya. Jari telunjuknya dia telusuri menyentuh bibir suaminya. perasaan aneh hadir.


Azharin tidak mengerti dengan dirinya, dadanya bergetar dan hatinya menginginkan suaminya lebih di pagi hari.


"Ohh gawat. Apa yang terjadi padaku," gumamnya pelan.


"Aku tahu apa yang terjadi Barbie." Bernard menjawab dengan suara serak bangun tidur. Matanya masih terpejam. Azharin jelas saja terkejut. Dia merasa malu tertangkap basah telah berkata memancing di pagi hari.


Azharin ingin meninggalkan tempat tidur. Namun tangan suaminya lebih cepat menahan pergerakan Azharin.


"Kau tidak di izinkan lari sayang. Aku bisa mewujudkan keinginanmu."


"Tidak, aku ingin mandi." Azharin berkelit.


"Kau ingin mandi dengan cara lain bukan?" Bernard tersenyum penuh tantangan.


"Tidak." Azharin terus berbohong. Namun tubuhnya tidak bisa berbohong. Bernard tertawa kecil.


"Tubuhmu lebih jujur, Barbie," ujar Bernard.


Azharin tidak bisa lagi berkelit ketika suaminya memenuhi kebutuhannya. "Barbie, kau sangat manis." Bernard berbisik setelah menyelesaikan tugas pentingnya.


"Hmm, kau pikir aku gula." Azharin cemberut malu.


"Kau madu lebah."


"Aku tidak menyengat."


"Siapa bilang. Kau manis dan sangat menyengat. Terutama di sini." Tunjuk Bernard pada dadanya.


"Aku kira kau akan mengatakan di sini." Azharin menunjuk bagian lain tubuh Bernard.


Bernard tergelak. "Kalau itu bisa dipastikan benar sepenuhnya."


"Ihh, kau ini sangat mesum. Apa aku perlu memberimu gelar bule mesum?"


"Bagus juga. Setiap hari aku bisa lakukan padamu." Bernard memuluskan perkataan Azharin.


"Apa kau tidak bekerja? Kapan kita kembali? Aku rindu tempat tidurku."

__ADS_1


"Kita sedikit lebih lama. Aku ada urusan lain. Aku harap kau tidak bosan di sini."


"Aku tidak bosan asal bisa jalan-jalan dan tidak terkurung di kamar ini."


"Baik. Tetapi berikan aku tiga jam paling lama setiap hari hingga kita pulang."


"Baiklah, aku setuju."


"Sekarang kita mandi dan sarapan, setelah itu aku pergi sebentar. Kau bisa menonton atau menelepon Sonia dan temanmu yang lain."


***


Alex dan Bernard bertemu. Alex menceritakan kronologis dia mendatangi madam Jill dan menunggu Laurren datang.


"Kau menunda kepulangan?" tanya Alex di sebuah kafe.


"Aku ingin berjumpa dengannya di sini. Dia berani mengancam." Bernard sangat geram ketika membaca email terakhir dari Laurren. Dia selama ini mencoba menghentikan Laurren dengan cara halus.


Bernard ingin membuat perhitungan dengan Laurren. Jika perlu, dia sangat ingin menghukum Laurren atas ancaman dan niat terselubung Laurren yang ingin kembali padanya setelah tidak punya apa-apa.


"Apa dia akan datang?" Keraguan tergambar jelas di raut wajah Bernard.


Alex mendengus kesal, walau dia tahu, wajar saja Bernard meragukan dirinya. "Tadi pagi madam Jill memberikan kabar. Dia akan sampai besok sore."


"Aku sangat kesal, hanya karena wanita kita bisa serumit ini." Bernard tak habis pikir, dalam pemikirannya, kehidupan pribadi ternyata lebih sulit dari bisnis.


"Wanitamu." Olok Alex. Alex ingin mencairkan suasana.


"Bukankah juga wanitamu?" Bernard tak mau kalah.


"Ya."


"Tapi kau sangat beruntung, lepas menikmati wanita penyihir itu, kau dapat peri kecil yang cantik luar dalam."


"Kau iri?" Bernard memasang wajah berseri. Dia merasa menang dari Alex. Begitu sadar dia menyesal. Dia seakan menjadikan istrinya barang taruhan.


"Jujur, ya. Nasibmu baik sekali. Mengapa peri kecil itu memilih kau." Alex sengaja memasang wajah tak rela. Dia menggedikan dahi menunjukkan kekesalannya. Padahal dia berpura, dia ingin mengganggu Bernard.


"Sudah takdirku. Padahal aku sempat ingin menyerah." Bernard menanggapi dengan serius membuahkan rasa geli di hati Alex melihat keseriusan sikap teman sekaligus relasi bisnisnya bahkan secara tersembunyi sebagai saingan dalam cintanya.


Alex tersenyum samar. Dia menyesap kopinya dan membuang tatapan ke arah pintu masuk. Alex memperhatikan pengunjung yang masuk secara random.


Bernard juga ikut menyeruput kopinya. Dia mengambil ponselnya dan mengirim pesan pada Azharin.


"Apa tujuan kau berbisnis padaku?" tanya Alex tiba-tiba. Ia teringat perkataan yang tergantung semalam. Bernard meletakan ponselnya dan mengalihkan pandangan ke Alex.


"Kau berterima kasih padanya. Karena dia, aku beramah-tamah pada bisnismu," ujar Bernard.


"Kau tidak serius. Kau menganggap aku rendah." Alex sangat kesal mendengar perkataan Bernard.


"Tenang bro. Aku hanya ingin mengejar gadis itu saat aku membaca postingannya ke Spanyol." Alex diam menunggu kelanjutan kata Bernard.


"Aku melihat komen konyolmu yang mengatakan, "Aku siap menikah denganmu nona cantik. Walau ada simbol menjulurkan lidah. Aku terbakar api cemburu. Ada api di dadaku, apalagi gadis itu memutuskan aku sepihak."


"Lalu?" Alex terdengar bersemangat ingin tahu.


"Lalu pastinya aku melacak facebook-mu dan secepatnya mencari info siapa kau. Lalu aku punya ide untuk dekat denganmu dengan berbisnis. Aku mengetahui, kau sangat ramah dan terkenal loyal pada teman-temanmu. Aku juga mengetahui, kau berpengaruh diantara teman-temanmu." Bernard tersenyum miring.

__ADS_1


"Matamu saja yang berwarna lembut, tapi ternyata sangat tajam dalam memanfaatkan keadaan." Alex menyindir Bernard. Bernard terkekeh mendapat sindiran dari Alex.


"Mataku ini yang membuat aku bisa mendapatkan cintaku. Dia mengatakan, mataku sejernih langit dan setenang lautan yang menenggelamkan dirinya." Bernard berbangga diri di depan Alex.


"Iya, jika langit tak berawan hitam dan laut tidak mengganas!" ujar Alex.


"Hahaha, kau ternyata bisa kesal juga jika aku menceritakan Barbie."


Di tengah ke pelikan dan suasana yang kurang enak, mereka bercanda meredam perasaan masing-masing. Bernard meredam perasaan was-was jika Laurren benar serius dengan ancamannya. Sementara Alex meredam perasaan kesal pada madam Jill yang bisa-bisanya mengabaikan pesannya. Hingga dia merasa tidak punya wajah pada Bernard.


Memikirkan tak ada lagi pembicaraan yang penting, Bernard menyudahi pertemuan. "Aku tidak bisa lama, aku berjanji tiga jam paling lama meninggalkannya. Dia sangat mudah bosan sekarang."


"Apa rencanamu? Kau tidak mungkin berdiam di hotel bukan?"


"Belum tahu. Apa kau keberatan jika menjadi supirku dan Azharin?" tanya Bernard bercanda.


"Aku rasa itu ide bagus." Alex menyetujui.


"Kau pasti membuat my barbie bahagia. Pastinya kau juga bisa senang berada dekat my barbie." Bernard begitu terus-terang. Tanpa ada nada kecemburuan. Hanya ada nada ringan menyambut tawaran Alex.


"Kau tidak pencemburu seperti dulu."


"Aku sudah mengenal dirinya. Aku tahu cintanya untukku dan kau sahabat paling dia sayang selain dari sahabatnya di Indonesia."


"Oke, sambil menunggu wanita itu, mari kita berlibur singkat."


Mereka berangkat dan Bernard telah mengabari Azharin untuk mengganti pakaian dengan janji akan jalan-jalan. Bernard sengaja merahasiakan jika bersama Alex. Dia ingin membuat suprise kecil untuk istrinya.


Ketika bel kamar berbunyi, Azharin melangkah tenang membukakan pintu. Terlihat dua pria yang di sayangnya dengan kadar berbeda sedang berdiri di depan pintu kamar hotelnya.


"Alex?" sapanya dengan wajah sumringah.


"Nona Cantik, aku siap menjadi supir seperti yang diinginkan suamimu." Bernard mendelik dan Azharin tertawa.


Alex ikut tertawa, tetapi tawanya lenyap ketika mendengar Azharin berkata, "Aku setuju dengan pemikiran suamiku." Azharin tak bisa menahan tawa saat melihat wajah Alex yang bersungut-sungut.


"Kau harus terima, agar keponakanmu juga senang." Azharin berkata sambil mengelus perutnya.


"Aku terima demi calon keponakan aku yang cantik seperti ibunya."


"Kau yakin dia perempuan?" tanya Azharin. Mereka telah melenggang ke arah lobi hotel.


"Tidak. Aku hanya berharap." Alex cengar-cengir."


"Kau ini, tidak berubah." Azharin memukul punggung Alex.


Tak pernah Azharin tahu sikap dingin dan kejam Alex. Dia hanya tahu, Alex yang ramah. Alex yang suka to the point. Alex yang selalu bisa mengerti dan suka bercanda. Dua lelaki itu telah sepakat tidak melibatkan Azharin.


"Aku selalu merasa senang di bawah langit Spanyol," ungkap Azharin ketika telah berada di dalam mobil.


"Jadi kau tidak merasa senang di bawah langit Britania Raya?" tanya Bernard tak senang. Dia masih saja mudah terpancing oleh perkataan Azharin.


"Tidak sayang, namun aku merasa SANGAT senang di sana, bersamamu dan adanya dirimu selalu untukku." Bernard menoleh ke belakang dan memberikan kerlingan menggoda pada Azharin.


"Aku menyesal menjadi supir kalian!" Alex melirik ke Bernard dan tawa mereka memenuhi mobil yang mulai melaju keluar dari kota.


***

__ADS_1


__ADS_2