
Azharin mengurungkan niatnya untuk pulang. Azharin kembali melangkah mendekati Bernard. Bernard mengawasi dalam diam.
Azharin memilih duduk di tepi ranjang hotel tersebut. "Sayang, maafkan aku. Aku tidak memberimu kecupan bukan aku tidak mencintaimu. Apa itu begitu penting bagimu?"
"Tidak juga. Hubungan seharusnya tidak hanya bergantung pada itu saja, akan tetapi bergantung pada pemahaman perasaan yang tak terucapkan juga. Maafkan aku menjadikan itu sebagai tolak ukur." Bernard berkata dengan tersenyum penuh. Dia menyadari Azharin tak nyaman dengan cara pikirnya.
"Percayalah padaku. Aku wanita normal. Aku akan lakukan apapun untuk kebahagiaanmu setelah kita menikah. Apakah kau bisa menunggu untuk itu?"
"Tentu. Apakah satu pelukan aku juga tidak berhak mendapatkan Barbie?" Bernard berkata dengan merentangkan kedua tangan.
Azharin tersenyum hangat. Dia menuju ke arah Bernard. Dia masuk ke dalam pelukan hangat Bernard. Bernard mengetatkan pelukannya. Sungguh dia merasakan penuh tantangan mendapatkan Azharin. Hanya satu pelukan saja harus menguras energi dan kantongnya.
"Kau wanita mengerikan Barbie," ujar Bernard masih memeluk hangat Azharin.
"Why?"
"Aku harus punya energi ekstra untuk mencintaimu. Memelukmu saja harus menghabiskan banyak danaku," canda Bernard. Azharin tertawa lepas.
"Oke Barbie, kau bisa istirahat, aku juga ingin istirahat." Azharin meregangkan pelukannya. Dia meminta Bernard sedikit membungkuk di depan Azharin. Bernard menuruti permintaan Azharin. Azharin mengecup sekilas pipi Bernard.
"Selamat istirahat Bos Besar. Aku akan menjemputmu nanti."
Azharin meninggalkan hotel. Tujuannya pulang bukan untuk beristirahat. Dia yakin abang dan Sonia telah menunggu dengan segudang pertanyaan. Azharin memang meminta tinggal saat mengantarkan Bernard ke hotel. Dia memilih naik taksi setelahnya.
Ketika telah di rumah, benar dugaan Azharin. Baru saja dia masuk terlihat Armian dan Sonia memandang dengan sorot penasaran. Azharin tertawa. Tawa lepas yang mungkin telah lama tidak dilihat Armian. Azharin duduk berhadapan dengan mereka berdua.
"Interogasi siap di mulai Pak," canda Azharin.
"Apakah__" kata Armian terpenggal karena Azharin langsung menjawab.
"Aku masih waras Pak. Aku juga tidak sedang mabuk minuman. Aku hanya dimabuk cinta dengan pria bermata biru itu."
"Abang serius. Apakah kau sudah mengenal betul siapa dia?"
Azharin juga akhirnya serius. "Aku bukan saja mengenal dia. Aku juga telah mengenal ayah-ibunya. Mereka bahkan menerima aku, tanpa bertanya latar belakang aku. Mereka menyerahkan segalanya pada putranya. Aku diterima dengan baik. Kalian berdua jangan khawatir."
Azharin lalu menceritakan bagaimana dia bisa sampai ke negara Bernard. Dia juga menceritakan tujuan Bernard datang bersamanya.
"Kau berarti telah mantap bersamanya?"
"Aku telah mantap bersamanya, Bang."
"Kau tahukan resikonya. Kau jauh dari kami. Kau akan sendiri di sana tanpa keluarga."
__ADS_1
"Jangan lupa Bang, keluarga aku cuma Abang. Bertambah satu dengan Nia. Aku akan baik-baik saja di sana. Percayalah padaku."
Armian menatap Azharin dengan perasaan bahagia, tetapi sisi hati yang lain dia juga bersedih. Dia akan terpisah ribuan mil dengan adiknya. Mata Armian berkaca-kaca menahan perasaan. Azharin awalnya menguatkan hati. Dia tidak ingin menangis di depan abangnya, tetapi Azharin gagal.
"Jangan menangis Bang. Percayalah, aku berjanji akan bahagia di sana. Abang juga harus bahagia bersama Nia di sini."
Air mata Azharin telah meluncur. Dia bergerak cepat ke arah abangnya. Dia bersimpuh di depan abangnya. Tangannya memeluk lutut abangnya.
"Aku sangat menyayangi Abang. Bohong jika aku katakan aku tidak sedih jauh dari Abang. Selama ini aku selalu bisa menahan tangis karena Abang ada. Tak lama lagi, aku harus jauh dari Abang. Aku janji akan mengabari Abang sekali sehari. Abang berjanjilah secepatnya melamar Nia."
Armian mengusap rambut adiknya. Pandangannya semakin samar memandang adiknya yang bersimpuh di depannya karena air matanya ikut merebak. Nia juga telah ikut menangis di samping Armian.
"Mengapa tidak mencari pria dari negara kita saja?" Armian masih mencoba menggoyahkan perasaan adiknya.
"Kita jalani saja Bang. Kita juga belum tahu aku berjodoh apa tidak. Pernikahan antara dua negara tidak semudah menikah di sini Bang. Setidaknya, aku telah maju satu langkah dengan kedatangan pria itu ke sini."
Armian tidak ingin egois. Dia hanya ingin kebahagiaan sang adik, meskipun resikonya harus berjauhan.
"Apakah kau tidak akan menjumpai ayah untuk meminta restu?" tanya Armian mencoba menguasai keadaan.
"Aku tidak tahu Bang. Aku tidak berencana menikah di sini."
"Kenapa?"
"Aku hanya ingin memulai hidup baru di tempat yang bahagia. Di mana aku diterima dengan tulus. Aku juga tidak pernah bertemu ayah sekalipun selama tujuh tahun ini. Sejak ayah menolak panggilan telepon, sejak itu juga ayah tidak pernah menghubungi aku lagi Bang."
"Tunggulah sampai Bernard berbicara dengan Abang. Aku akan ajak dia."
***
Bernard telah mengatakan tujuan dia datang. Bahkan dia juga telah melamar Azharin di depan Armian dan Sonia. Armian tidak banyak bertanya pada Bernard. Armian justru lebih meminta agar Bernard menjaga dan membahagiakan Azharin di sana kelak.
Jika Azharin belum punya keberanian untuk bercerita banyak tentang keluarganya saat di rumah orang tua Bernard, Armian justru membuka semuanya dengan Bernard. Dia harus memastikan jika Bernard bisa menerima Azharin apa adanya. Armian juga tahu Azharin sebisa mungkin tidak membahas topik itu. Azharin hanya membahas poin penting saja saat itu pada Bernard.
Armian sangat lega, ketika Bernard tidak sedikitpun mempermasalahkan. Baginya itu hanya masa lalu Azharin. Azharin lebih merasa lega, cerita itu tidak perlu dia yang menceritakan. Dia sangat berterima kasih pada abangnya yang telah bijak untuk berterus-terang, walau tanpa berunding dengannya.
"Aku tidak berani banyak berjanji padamu. aku hanya berjanji membahagiakan dia. Jangan banyak khawatir saat dia jauh," ujar Bernard dengan penuh keyakinan.
"Aku serahkan dengan kalian berdua." Armian hanya bisa berkata demikian.
"Aku rasa kalian berdua masih ingin berbincang. Aku dan abangmu lebih baik duluan," ujar Sonia penuh pengertian.
"Uhm, kakak ipar aku sangat pengertian. Jangan lupa desak kekasihmu untuk segera melamar. Masa iya harus kalah dengan kekasihku yang jauh ini."
__ADS_1
Sonia hanya mendelik mendengar Azharin berkomentar. Mereka pamit, dan pergi meninggalkan restoran.
"Aku rasa, tidak ada lagi yang menjadi hambatan." Bernard memandang lekat pada Azharin.
"Masih. Aku ingin tahu, apakah cintamu sudah habis buat Laurren? Aku tak ingin setelah aku memutuskan jauh dari keluarga, masa lalumu menjadi drama baru!" Azharin tegas-tegas meminta kejujuran Bernard.
"Dia tidak ada lagi dalam hatiku. Sekarang dan ke depan kau prioritasku." Tak ada nada menggombal tak ada nada merayu didengar Azharin, hanya keseriusan yang nyata.
"Jadi kau telah yakin?" tanya Azharin.
"Aku sangat yakin untuk bersamamu Barbie. Apakah kau ingin memancing rasa kesalku?"
Jika Bernard penuh keseriusan menanyakan, tidak dengan Azharin dalam menyambutnya. Azharin tertawa dan menggoda Bernard.
"Hmmm kamu semakin berbeda setelah memakai cincin itu Barbie." Bernard telah melamar Azharin di depan Armian dan Sonia.
Azharin merasa lega. Dia bersyukur semuanya sejauh ini berjalan lancar. Jika tadi Azharin yang bertanya, kini Bernard yang bertanya keseriusan Azharin.
"Aku kini ingin tahu. Kau yakin akan berhenti bekerja dan ikut bersamaku setelah menikah?"
"Aku yakin." Azharin menjawab dengan mantap. Dia juga telah menimbang-nimbang ketika Bernard memutuskan serius ikut ke negara Azharin. Apalagi telah begitu banyak pengorbanan Bernard padanya.
"Jika begitu, kita secepatnya mengurus surat-suratnya. Akan memakan waktu agak lama untuk menikah antar negara."
"Aku tahu. Aku akan urus dan kau akan kembali disarankan untuk datang ke sini untuk sesi wawancara dan lainnya."
"Di sini cinta aku diuji. Aku harus berbagi."
"Dengan siapa?" tanya Azharin tenang.
"Bukan dengan siapa pertanyaannya Barbie, tetapi dengan apa."
"Oww, paling dengan pekerjaanmu kalau begitu," ujar Azharin mengerti.
"Kau ternyata memahami aku," ujar Bernard senang."
"Tentu. Aku cukup mengerti ketika kau tidak memberikan kabar berhari-hari."
"Apa kau tidak mencurigaiku dengan wanita lain, misalnya." Bernard memancing Azharin.
"Aku tidak suka mencurigai orang lain, hingga aku mendapatkan bukti sendiri."
Bernard tersenyum sangat senang Dia mengapit dagu Azharin. "Kau sangat cocok untukku Barbie."
__ADS_1
Bernard ingin mencuri rasa bibir Azharin. Namun dia urungkan. Dia tidak ingin Azharin berpikir dia mengambil kesempatan. Dia tidak ingin menghancurkan kepercayaan yang telah terpancar dari tatapan mata cokelat Azharin.
***