Love Between Two Countries

Love Between Two Countries
Di mana Kamu Barbie?


__ADS_3

Hari-hari yang disangka Bernard dan Azharin akan indah di tengah menunggu kelahiran buah hati mereka ternyata jalan nasib belum berpihak pada mereka. Azharin menghilang ketika mereka selesai makan. Azharin lebih dulu menuju mobil. Namun, ketika Bernard dan Alex menyusul, mereka menemukan mobil kosong.


Bernard dan Alex jelas saja panik. Mereka melihat tas kecil Azharin terhampar di bangku belakang mobil. Bernard seperti orang bodoh hanya mengelilingi mobil tanpa bisa berpikir apa-apa.


Alex menahan bahunya, agar tidak terlalu panik. Bukannya berkurang, tetapi keresahan Bernard semakin besar. Bernard meninju dinding mobil melampiaskan emosinya. Alex mendiamkan dan membiarkan, walau bisa saja jika tidak tangan Bernard yang terluka, maka dinding mobil atau bahkan kaca mobil bisa menjadi bulan-bulanan Bernard.


"Apa yang terjadi sebenarnya." Bernard bergumam tak berniat bertanya.


"Ayo kita telusuri daerah sekitar sini." Alex mengajak Bernard. Bernard menatap Alex dengan pandangan resah.


"Ayo."


Alex tetap mengambil peran sebagai pengemudi. Bernard dengan langkah gamang menuju ke pintu penumpang dan masuk. Bernard duduk dengan memandang nanar.


Mereka menelusuri kota kecil tersebut. Tak ada tanda-tanda keberadaan Azharin. Hari telah semakin senja. Alex memberikan pilihan, mengajak Bernard kembali ke kota atau tinggal sementara di sini. Alex mempunyai urusan malam ini yang tak bisa ditunda.


Bernard memutuskan tinggal untuk melanjutkan mencari Azharin. Dia yakin Azharin masih berada di sekitar kota kecil ini.


Alex akan meninggalkan mobil pada Bernard dan berencana menyewa mobil lain untuk kembali. Bernard menolak, dia juga tidak mengetahui secara pasti daerah sini. Bernard memutuskan, menggunakan taksi saja.


"Untuk satu malam ini, kau cari dulu. Aku akan kembali besok siang dan jika dua kali dua puluh empat jam dia tidak bisa ditemukan, kita lapor polisi." Alex meremas bahu Bernard.


Bernard mengangguk dan berkata, "Baiklah."


Bernard tanpa banyak kata turun dari mobil dan melangkah menuju hotel. Dia memesan kamar untuk beristirahat sejenak.


Alex memandang Bernard dan menghela napas kecil. Setelah Bernard tidak kembali keluar, Alex menekan pedal gas dan mulai meninggalkan hotel.


Di kamar hotel, Bernard berdiri di depan kaca jendela hotel, dia menyibakkan dengan kasar tirai jendela dan menelepon seseorang. "Tolong kau datang ke Spanyol besok pagi. Nanti aku kabari ke kota mana kau tuju," ujarnya dengan nada tenang.


Bernard kembali menekan panggilan. Kali ini dia menghubungi teman dekatnya, Gilberto.


"Kau sibuk?" tanya Bernard dengan nada tertekan.


Gilberto tahu Bernard tidak baik-baik dari nadanya. Gilberto menghentikan pekerjaannya. "Tidak. Ada apa?" tanya Gilberto.


"Azharin menghilang," ujar Bernard.


Gilberto tersentak penuh keterkejutan. Ingin dia bertanya, apakah ini serius. Akal sehatnya berpikir, tidak mungkin Bernard bercanda untuk hal serius seperti ini. Bernard juga bukan orang yang jahil dan suka mengerjai orang. Hidupnya penuh keseriusan.

__ADS_1


"Bagaimana bisa?" Gilberto tidak tahu lagi harus berkata apa. Hanya kalimat itu yang bisa dia lontarkan untuk mengurangi rasa terkejutnya.


Bernard menceritakan bagaimana awalnya dan sampai menghilangnya Azharin.


"Aku menyesal meminta dia ke mobil tanpa aku." Penyesalan Bernard begitu kuat terasa.


"Jangan hanya menyesal. Jika kau hanya menyesal, maka akan ada penyesalan lain. Kau harus berpikir tenang, dan terus mencari." Gilberto mengingatkan agar Bernard tenang.


"Kau benar. Aku tidak bisa begini. Walau aku sangat takut." Bernard berkata jujur tentang perasaannya pada sahabat dekatnya.


"Percayakan saja, dia akan baik-baik saja di suatu tempat."


"Semoga begitu."


"Aku tidak bisa menyusul, pekerjaan aku banyak," ujar Gilberto.


"Aku paham. Tidak masalah."


Setelah berkata demikian, ada jeda di antara mereka. Bernard berkata lebih dahulu, "Baiklah, aku mandi dan akan melanjutkan mencari dia."


Bernard tak lantas mandi. Dia menuju ranjang lalu duduk di tepinya, meletakan ponsel di sampingnya. Perlahan dia membuka satu persatu kancing baju kemejanya. Terlihat dada bidangnya, walau perutnya sedikit membuncit.


Bernard mencengkram tepi ranjang menyalurkan rasa cemas dan penyesalan.


"Apa ini perbuatan Laurren? Bagaimana mungkin. Laurren tidak tahu aku berada di sini di negara ini. Sudah pasti bukan dia. Lalu siapa yang membawa Azharin. Apa ada orang lain yang tak sengaja berniat jahat padanya? Tetapi, bagaimana orang tega menyakiti dia yang sedang hamil?" Bernard terus bergolak dengan pikirannya.


Bernard akhirnya mengguyur dirinya di bawah kran shower kamar mandi.


Tak lama, dia telah berpakaian lengkap. Dia memakai jaketnya. Dia berjalan kaki mencari tempat makan. Dia duduk termenung menyesap kopinya. Jarang-jarang dia minum kopi di malam hari sejak menikah.


Mata birunya dengan tajam mengawasi sekelilingnya, sambil berpikir dengan rekan bisnis mana dia bermasalah. Bernard mengingat tiga orang yang dia tolak mentah-mentah. Salah satunya adalah lelaki yang bersama Laurren saat dilihat Gilberto. Maxwell.


Bernard tidak bisa menemukan alasannya untuk disangkut-pautkan atas hilangnya Azharin.


Bernard berjalan setelah duduk berjam-jam di sana. Dia berjalan dengan langkah kecil dan matanya tak lepas mengawasi sekelilingnya. Sesekali dia bertanya, "Permisi Tuan, apakah ada melihat wanita Indonesia di sini?"


"Orang Indonesia? Siapa dia?" Pria ini bertanya penuh keheranan. aku tidak pernah melihat orang yang anda maksudkan."


"Istri saya."

__ADS_1


Orang yang ditanya terkadang menggeleng, terkadang menjawab tidak tahu bahkan ada yang terlihat begitu keheranan karena pertanyaan Bernard yang terkesan aneh bagi mereka.


Bernard melihat beberapa anak muda berkumpul. Dia menuju ke sana dan bertanya. Beruntung satu orang dari mereka mengerti bahasa yang digunakan Bernard. Bernard kembali bertanya, apakah ada melihat wanita dengan ciri-ciri tinggi, rambut panjang hitam dan sedikit bergelombang. Dan yang paling penting wanita itu sedang hamil.


Bukannya mendapatkan jawaban, namun Bernard mendapat pemerasan oleh sekelompok anak muda tersebut Bernard tak takut. Dia berkata, "Jika kamu ingin uang, maka bekerjalah!" ujar Bernard sambil mengapit antara leher dan dada anak muda yang tadinya menjawab.


Bernard merogoh celana jeansnya dan melambaikan beberapa lembar uang, setelah menghempaskan tubuh pria yang berniat memerasnya.


"Ini ambillah untuk membayar waktu yang diganggu. Jika kalian ingin uang lebih, dapatkan wanita tersebut dan bawa padaku tanpa segores lukapun."


Bernard tidak mengatakan pada mereka jika yang dicarinya adalah istrinya. Dia tidak ingin salah satu dari mereka memanfaatkan situasi.Ketika mereka menyetujui, Bernard memberi nomor kontak yang bisa dihubungi.


Bernard kembali ke hotel dan hanya bisa memejamkan mata setelah dini hari. Dia terbangun ketika ponselnya berdering. Dengan cepat dia mengangkat tanpa memperhatikan siapa yang menelepon.


"Ya, halo."


"Sebaiknya kau kembali ke sini."


"Ada apa?"


"Kita tidak bisa melapor sampai batas waktu. Ada baiknya kau selesaikan urusan dengan wanita masa lalumu. Dia tiba hari ini."


"Kau yakin?"


"Madam Jill memberiku kabar."


"Bagaimana jika Azharin di sini membutuhkan aku?" Bernard bangkit dari tidurnya dan duduk penuh dilema di pinggir ranjang.


Alex terdiam. Dia setuju dengan pemikiran Bernard. Walau tidak tahu di mana keberadaan pastinya, setidaknya jika Azharin masih di sana, masih besar kemungkinan bagi Bernard untuk bergegas.


"Kau saja yang memastikan, dia terlibat atau tidak dengan hilangnya istriku. Walau aku yakin dia tidak terlibat."


"Kau masih saja membela wanita itu," suara Alex terdengar sinis.


"Jangan salah paham. Aku hanya tidak ingin tidak rasional. Waktu dan jarak sangat jauh.Rasanya tidak memungkinkan."


"Terserah kau. Aku akan mengurusnya." Alex tidak berdebat panjang dengan Bernard. Alex memutuskan langsung sambungan telepon. Bernard terpaku, dia ingin menemui Laurren. Namun karena logikanya mengatakan Laurren tidak ada hubungan atas hilangnya Azharin, Bernard merasa tak ada gunanya menemui Laurren. Dia menyerahkan sepenuhnya pada Alex.


Setelah dua kali dua puluh empat jam tidak juga diketahui kabar Azharin, Bernard melaporkan perihal menghilangnya Azharin pada polisi setempat. Setelahnya, ia kembali ke kota Alex sendirian karena Alex tak bisa datang seperti janjinya dan menyerahkan sementara pencarian istrinya pada polisi dan orang kepercayaan yang telah tiba tepat waktunya..

__ADS_1


***


__ADS_2