
"Katakan, apa?" Azharin mengalihkan tatapan dari layar kaca.
"Tentang Laurren." Bernard memperhatikan raut wajah Azharin. Tak ada keterkejutan diperlihatkan Azharin.
"Ada apa dengan dia?" suara tenang Azharin menimbulkan keresahan tersendiri bagi Bernard.
Bernard menceritakan dari awal sampai akhir dengan perasaan was-was. "Itu yang aku lakukan. Aku tak ingin kau salah paham mendengar dari yang lain," ujar Bernard.
Azharin juga menceritakan bagaimana Laurren datang dan mengompori Azharin. Namun yang terbakar justru Laurren. Bernard tertawa lebar mendengar perkataan Azharin untuk Laurren.
"Aku tak punya cara lain, agar dia tidak datang mempermalukan aku dengan tangisan palsunya."
"Tak apa sayang. Setelah menikah, atasi dan jangan beri dia apapun. Aku tidak rela uangmu untuknya." Azharin berkata dengan setengah bercanda.
Bernard tentu menyanggupi. Dia juga tidak berniat untuk memberi lebih. Setelah mereka menikah dan sah secara agama dan hukum negara, Bernard berniat menyingkirkan Laurren jika dia terus mengusik Azharin ataupun dirinya.
"Tak ada lagi masalahkan sayang?" tanya Azharin. Dia sekarang lebih nyaman memanggil dengan sayang dari pada menyebut nama Bernard.
"Dariku hanya itu. Apakah kamu ada masalah Barbie?" pancing Bernard.
Azharin menimbang-nimbang sejenak. Dia akhirnya memutuskan tak ingin menjadi pengecut. Dengan hati-hati dia berkata, "Sayang. Aku akan menerima keputusanmu. Aku tidak ingin curang dalam membangun rumah tangga ini. Ada yang aku sembunyikan darimu."
"Apa?" jawab Bernard lembut.
"Maafkan aku, aku nyaman didekatmu. Namun, aku tidak tahu, apakah itu cinta atau tidak padamu."
"Aku tahu." Jawaban Bernard mengejutkan Azharin. Azharin menatap Bernard tak percaya. Bernard membalas dengan senyum hangat. Senyum yang mampu mencairkan sedikit kebekuan hati Azharin.
"Aku mencintaimu. Saat ini, cukup bagiku untuk alasan aku memilikimu. Aku akan sabar untuk kau mengetahui pasti hatimu sendiri." Bernard meyakinkan Azharin.
"Terima kasih sayang. Satu yang aku janjikan, aku yakin akan merasakan cinta yang sama seperti kau mencintaiku. Beri aku waktu."
"Ya. Aku menanti hari itu."
"Aku akan setia padamu, itu satu janji yang pasti untuk saat ini."
"Aku percaya padamu."
Semua terasa indah dengan kejujuran dan keikhlasan dalam penerimaan. Hingga hari paling bahagia dan ditunggu datang.
Azharin terlihat sangat cantik dalam gaun pernikahan. Mereka hanya mengadakan akad nikah dan mengundang saudara dan kerabat dekat saja.
__ADS_1
Alex memenuhi janji pada Azharin untuk datang dan memberikan kado mewah satu set perhiasan. Bernard mengucapkan terima kasih pada Alex. Secara terpisah, Bernard juga telah meminta Alex datang. Tak ada lagi kecemburuan, karena Azharin telah menjelaskan segalanya tentang Alex dan bagaimana hubungan serta perasaannya pada Alex.
Keluarga inti Bernard sangat berbahagia. Akhirnya Bernard telah melabuhkan hati dan berlayar dalam bahteranya. Peluk cium diterima Azharin dengan ikhlas dari ayah, ibu dan keluarga Bernard. Abang Bernard yang berada di luar negeri juga datang.
Armian dan Sonia menyaksikan langsung melalui video call. Bukan saja Armian dan Sonia, Sahara, Romi dan beberapa teman satu kantor mengikuti acara tersebut karena Sonia menyambungkan dengan Sahara.
Sonia memang meminta izin, karena Armian juga sudah mengajukan cuti hari bersejarah bagi adiknya. Azharin juga sudah mengatur waktu agar bertepatan dengan jam pulang teman kantornya dulu, sesuai permintaan para teman lamanya. Mereka ingin ikut menyaksikan.
Azharin menyatukan dua telapak tangan memohon doa restu pada abangnya dan Sonia dan para temannya. Sonia juga tak bisa menahan rasa harunya. Bukan karena tangis Azharin saja, di depan Sonia ibu mertuanya juga membekap mulutnya menahan tangis. Dia sempat melihat langsung. Armian dengan lihai mencari kesempatan ketika Azharin berfokus pada ijab kabulnya.
Tangis haru dua beradik itu disaksikan keluarga dan kerabat Bernard serta teman Azharin yang mengikuti melalui video online tersebut, sehingga banyak dari mereka juga tak bisa menghindari meneteskan air mata melihat pernikahan dua insan itu.
Azharin juga menyapa kembali teman-temannya di akhir acara. Ucapan serta senda gurau diterima Azharin, sehingga sisa isak tangis Azharin terselip senyum manis Azharin karena lelucon para temannya.
"Sampai nanti semuanya, aku ingin bergabung dengan suami dan keluarga baruku," ujar Azharin penuh kebahagiaan. Dia melambaikan tangan dan memberikan peluk cium jarak jauh.
"Jangan lupa carikan juga biang rusuh suami bule. Di sini tidak ada yang berani melamarnya," teriak Romi sebelum Azharin memutuskan sambungan telepon. Sahara mencubit Romi dengan kuat. Mereka semua tertawa mendengar teriak minta ampun dari Romi.
"Datanglah ke sini Ara, teman Bernard ada yang lajang," ujar Azharin. Sahara mendapatkan dukungan para temannya.
"Bang, Nia, nanti aku telepon lagi." Azharin melambaikan tangan lalu memutuskan sambungan teleponnya.
Azharin bergabung dengan suaminya dan Alex serta yang lain untuk makan bersama. Setelah itu Alex pamit lebih dulu. Dia kebetulan juga ada perlu di negara ini.
"Terima kasih atas hadiah indahnya Lex."
"Sebentar Barbie. Aku antar Alex ke bawah."
"Ya sayang." Azharin pergi mendekati mertuanya.
Bernard mengantar Alex sampai ke mobil. Bernard memang meminta supir pribadinya mengantar jemput Alex selama berada di Manchester.
"Apa besok kau ada waktu luang, Lex?"
"Ada apa? Aku rasa bukan masalah bisnis bukan?" tanya Alex santai sesantai gerak-geriknya. Dia menyandarkan badannya pada badan mobil.
"Kau benar."
"Apa penting?"
"Aku rasa sangat penting. Demi Azharin."
__ADS_1
Mendengar demi Azharin, pemikiran Alex bercabang. "Ada apa? Tidak bisa dibahas sekarang?"
"Tak bisa."
"Baiklah, kau kabari aku setelah kau bangun. Aku tidak mungkin menunggu tanpa pasti, setelah malam panasmu." Alex menepuk penuh persahabatan pada Bernard. Bernard membalas dengan meninju kecil lengan Alex.
Alex lalu membuka pintu mobil dan Bernard menunggu mobil tersebut meluncur hilang dari pandangan. Bernard mengetatkan rahang lalu dia mengusap dagunya.
"Aku merasa ada yang aneh!" suara tegas Gilberto membuyarkan lamunan sesaat Bernard.
Gilberto telah berdiri di belakang Bernard. Bernard membalikkan badan dan berkata, "Tentang apa?"
"Kau dan Alex."
"Kau mencium apa?" ujar Bernard sengaja memancing Gilberto.
"Aku tidak tahu pasti. Aku akan pastikan mencari tahunya, jika kau tidak ingin mengatakan apapun." Ada nada kesal tersirat di suara Gilberto. Dia merasa Bernard menyembunyikan sesuatu.
"Kau tidak perlu membuang energi. Besok ikut aku bertemu Alex, kau akan tahu. Aku pastikan kau akan banyak mendapat kejutan," ujar Bernard dengan senyum misterius. Tanpa menunggu Gilberto bersuara kembali, Bernard kembali menuju apartemennya.
"Kau sengaja memancingku menanggung rasa ingin tahuku." Gilberto berteriak sebelum Bernard menjauh.
"Begitu tepatnya."
Bernard tidak menghiraukan umpatan Gilberto. Dia sudah tak sabar ingin memanjakan wanita yang kini telah menjadi istrinya.
"Kau akan lihat Barbie, aku akan membayar mahal orang yang mengganggu hidupmu."
Gilberto memilih pulang. Dia juga telah pamit pada Azharin dan keluarga Bernard.
"Hai Barbie. Maaf sedikit lebih lama. Gilberto menghambatku." Satu ciuman sekilas dia berikan di bibir Azharin. Azharin terlihat malu di depan keluarga Bernard.
"Kenapa pipi Barbie berubah merah?" tanya polos Barbara. Dia selalu menempel pada Azharin saat Bernard mengantarkan Alex.
Azharin merasa wajahnya semakin menghangat ketika para abang iparnya menoleh dan memberikan senyum.
"Aku rasa, Barbie malu terlalu banyak orang. Bagaimana kalau kau ajak pulang kakek, nenek dan ibumu."
"Paman curang. Aku masih mau bersama Barbie."
"Tidak. Aku akan memulangkan Barbie jika kau tidak memberikan aku waktu berdua saja." Bernard mengancam serius keponakannya. Barbara cemberut.
__ADS_1
***