Love Between Two Countries

Love Between Two Countries
Azharin Melaporkan ke Polisi


__ADS_3

Jika lelah bertahan, maka beri serangan atau mundur teratur. (Canda-canda serius)


______


"Aku tidak mau!" Azharin menolak tegas tanpa berpikir dua kali.


"Aku sangat mencintaimu."


"Jika begitu tinggalkan aku dan jangan ganggu hidupku."


"Rin, melunaklah sedikit. Demi kebahagiaan kita." Hendri merendahkan intonasi suaranya. Berharap Azharin bisa merubah pikirannya.


"Kau yang harus melunak. Kau anak lelaki. Pikirkan kebahagiaan ibumu. Jangan hanya memikirkan dirimu sendiri."


Hendri merasa sangat tertohok. Dia membenarkan kata Azharin di pikirannya. Namun tidak dengan hatinya.


"Kita punya hidup sendiri Rin. Aku tidak bisa mencintainya atau perempuan manapun. Kau juga tahu, dari dulu aku tidak menyukai kedekatanmu dengannya. Kenapa justru sekarang dia masuk dalam hidupku?" Hendri seakan bertanya dengan diri sendiri.


Bagaimanapun Azharin hanya seorang wanita. Apalagi hatinya masih mencintai lelaki di depannya. Dia terenyuh mendengar perkataan Hendri. Namun bayangan nyonya Megan bermain di kepalanya. Hatinya kembali keras.


"Jika kau tak suka, kau bisa menolaknya. Kenapa justru kau menerimanya." Bukan pertanyaan yang diajukan Azharin. Hanya berupa sebuah pernyataan belaka.


"Nyatanya, kalian sampai di tahap mengurus paspor. Berarti kau tidak menolak. Lalu apakah hati kau berubah ketika kembali melihat aku?" Azharin kembali menohok Hendri dengan kata-kata.


Hendri diam, bukan itu alasannya menerima perjodohan. Hendri tidak bisa mengatakan terus-terang.


"Sudahlah, aku lelah. Sebulan lebih aku berusaha mengatakan aku akan baik-baik saja tanpamu. Ketika aku hampir berhasil, mengapa kau mengacaukan. Apa kau begitu tidak ingin melihat aku bahagia?"


"Bukan begitu Rin. Aku akui, aku begitu egois."


"Kembalikan saja pada takdir. Kita telah mempunyai takdir sendiri-sendiri. Jika kau tidak ingin dengannya, batalkan. Namun jangan harap kita bisa bersatu. Aku tidak bisa. Apalagi harus menikah diam-diam. Aku tidak mau."


Hendri melihat luka menganga di mata Azharin. Hendri menyesali sikap egoisnya. Dia akhirnya menyadari, tak akan mungkin bisa bersama. Jika Azharin telah memutuskan untuk tidak akan pernah bersama.

__ADS_1


"Minumlah dan makan cemilanmu. Setelah ini, aku tidak akan mengganggumu. Satu pesanku, jika kau membutuhkan bantuan aku akan membantumu, apapun itu."


"Baiklah, terima kasih atas pengertiannya." Azharin justru menjadi lunak dengan sikap mengalah Hendri.


Azharin meminum minumannya dan memakan sedikit cemilannya. "Aku duluan."


"Baiklah," ucap Hendri pasrah. Jika bisa, dia ingin bisa lebih lama bersama Azharin. Hendri tak ingin menambah derita hati orang yang sangat dicintanya.


***


Siang ini, Azharin terlihat begitu sibuk, begitu juga dengan rekan lainnya. Kesibukan terhenti ketika dua wanita berbeda generasi di depan ruangan yang hanya diberi kaca pembatas, mengeluarkan teriakan nyaring. "Hei, apa kau begitu tidak tahu malu untuk mengejar lelaki!"


Azharin lalu keluar dari ruangan. Wajahnya telah merah padam menahan emosi. Dia merasa dua wanita ini melampaui batas dan sudah tidak tahu etika.


"Jangan memfitnah Nyonya. Saya bisa menuntut anda atas pencemaran nama baik." Azharin berkata tenang namun penuh ancaman. Dia merasa sangat dirugikan oleh sikap kedua wanita di depannya.


"Siapa yang menuntut siapa!" teriak Nuril tanpa malu.


"Ini kantor, katakan apa mau Anda berdua." Azharin sengaja tidak menggiring mereka keluar. Azharin ingin membalikkan perlakuan mereka secara tidak langsung.


"Hmm, lihatlah Pak, Bu dan teman semua, betapa tidak tahu etika wanita ini mengatai saya. Ini kantor Nyonya, jika ada masalah nanti malam kita bahas atau selepas jam kerja saya." Nada penuh merendahkan tak bisa memungkiri memenuhi ruangan tersebut.


"Ini lihatlah Bapak-Ibu. Mereka masih saja bermesraan." Nyonya Megan dan Nuril berlomba memperlihatkan foto Hendri sedang memegang tangan Azharin tadi malam.


Bisik-bisik mulai terdengar, ada yang pro dan ada yang kontra. Azharin bukan wanita sembarangan. Dia sudah memprediksi akan ada fitnahan. Sayangnya prediksi Azharin sedikit meleset. Azharin tidak menyangka mereka akan menghancurkan dirinya dan sekaligus membuat masalah untuk kariernya.


"Kalian akan menyesal, telah mempermalukan saya," ujar Azharin masih dengan tenang.


Azharin si wanita perfeksionis, dia tidak perlu banyak berbicara, bukti lebih penting dari segalanya. Azharin mengambil ponsel dari saku celananya. Dia lalu memutar rekaman pembicaraan dia ketika bersama Hendri tadi malam. wajah-wajah salah tingkah dari kedua wanita itu tertera jelas.


"Sekarang, keluar anda berdua dari sini. Jangan pernah mengganggu hidup saya. Anak anda hanya debu tak berharga dalam hidup saya. Pecundang memang lebih tepat untuk penghancur hubungan orang." Azharin mengatai dengan kejam.


Tidak perlu bantuan sekuriti, ekspresi wajah-wajah di ruangan sanggup mengusir pergi mereka secepat kilat. Azharin tak lupa meminta maaf pada konsumen yang hendak berurusan di kantor. Mereka mengangguk dan tersenyum ramah. Azharin berterima kasih sekali lagi.

__ADS_1


Kembali bekerja seperti tidak ada kejadian, tetapi itu ternyata hanya di depan para konsumen dan rekannya. Tanpa sepengetahuan rekan lain, selain Sonia, seseorang pria berbadan atletis datang dan berbicara dengan Azharin dan Sonia di kafe dekat kantor mereka saat jam makan siang.


Azharin menandatangani beberapa lembar kertas dan mengembalikan pada pria tersebut lengkap dengan satu amplop putih.


"Apa ini Rin?" tanya pria tersebut menatap tak senang.


"Untuk biaya akomodasi dan pengaduan Bang." Azharin setengah bercanda mengatakan agar pandangan lelaki di depannya tidak setajam silet.


"Simpanlah, abang tak suka dengan caramu. Jika kau ingin membayar, silahkan kau datang ke kantor dan buatlah pengaduan di sana." Lelaki itu terlihat menahan marah.


"Maafkan Arin Bang. Iya deh, Arin serahkan pada Abang. Lengkap dengan segala biayanya." Azharin tersenyum menggoda lelaki di depannya agar tidak lagi kesal padanya.


"Maafmu diterima dengan satu sarat, kau traktir abang nonton dan makan nanti malam."


"Okelah, Arin bawa Sonia ya. Kasihan donk teman sejati hanya sebagai pelengkap penderitaan dalam suatu cerita. Apalagi dia sudah bersusah payah jadi kamera-women," ujar Azharin melirik pada Sonia. Sonia hanya memanyunkan bibir.


"Oke, abang setuju. Biar nanti jika berjumpa teman abang, abang bisa katakan abang punya istri dua," ujar lelaki itu dengan konyol.


"Masih seperti dulu. Tak tahu malu." Azharin berkata sambil mencibir. "Abang benar tak makan?"


"Nanti malam saja abang makan sepuasnya. Abang mau proses hari ini juga. Biar nanti malam abang tidak makan gaji buta." Lelaki itu mendapat tonjok manis dari Azharin.


"Kau perempuan, tetapi pukulan kau menyakitkan. Abang bisa menuntut kau dengan pasal kekerasan dalam rumah tangga."


"Ahh suka hati Abang. Sekarang Abang benaran pergi, atau Arin bogem Abang di sini?" ancaman Azharin membuat lelaki itu menyemburkan tawa lebar. Dia tahu, Azharin tidak main-main jika telah mengancam.


"Dasar perempuan kaku. Pantas saja ditinggal nikah!" olok lelaki itu tanpa takut Azharin tersinggung.


"Mulutmu ya Bang. Jangan sampai Arin mendoakan Abang jadi perjaka tua!"


"Okelah, abang permisi. Jangan lupa bawa temanmu ini. Agar doamu tidak terkabul." Lelaki itu mengerling Sonia dan berlalu dengan mengacak rambut Azharin.


"Abang, Arin bukan anak kecil lagi!" Azharin memberikan tembakan dengan membentuk dari jari telunjuk dan jempolnya.

__ADS_1


***


__ADS_2