
"Kau melupakan janjimu," ujar Laurren mempertaruhkan keberanian terakhirnya. Dia masih ingin mencari pembenaran.
"Jangan kau tagih janjiku. Janji itu telah batal, ketika malam itu aku melihatmu masuk ke hotel dengan Alex."
"Tetapi anak itu juga perlu ayahnya!" Laurren terpancing emosi mengatakan. Bernard tidak terkejut. Dia yakin Laurren akan mengeluarkan kalimat ini. Namun, keterkejutan Alex tidak bisa dipungkiri. Dia memandang Bernard dengan tatapan tajam dan Bernard mengabaikan.
"Anak? Aku selalu memakai pengaman. Jika aku bertanggung jawab selama kau tidak selingkuh, hanya karena rasa kemanusiaan dengan bayi suci itu."
"Dia anakmu. Aku tidak pernah tidur dengan lelaki lain saat itu. Aku selingkuh karena kau tidak mau menikah dan hanya bertanggung jawab tiap bulan pada anakmu."
"Anakmu, bukan anakku. Jangan mengulur waktu, aku ingin jawabanmu, di mana istriku!"
"Apa tidak ada sedikitpun hatimu untukku? Mengapa kau sangat berbeda memperlakukan aku dan wanita itu." Laurren mencoba mendramatisir suasana.
"Tak perlu drama. Kau dan dia sangat berbeda."
"Apa bedanya. Kau terlihat begitu mencintainya. Kau menikahinya dan kau menolak menikahiku."
"Di mana Azharin. Aku jijik mendengar suara dan rayuan palsumu!" Alex angkat bicara. Dia sudah tak sabar.
"Alex benar. Jangan membahas masa lalu yang tak ada artinya bagiku." Bernard menambahkan dengan kejam.
"Aku benar tidak tahu. Aku memang merencanakan dengan meminta bantuan Maxwell untuk menghancurkan kau. Maxwell juga punya dendam sendiri denganmu. Dia setuju."
"Lalu, bagaimana bisa kau tidak tahu?"
"Karena saat bertemu, aku baru membicarakan dirimu dan istrimu. Kami belum berencana apapun. Aku bahkan tidak tahu kau di sini," ujar Laurren berbohong.
"Aku tiba-tiba dipanggil madam Jill dan dia berkata, ada orang yang ingin bersamaku selama seminggu dan bayarannya sangat besar. Aku tidak tahu jika madam Jill menjebak atas permintaan Alex," Ia memandang Alex sinis. Madam Jill juga mengira Laurren berada di Manchester.
"Ya, aku meminta Alex mengatasimu. Aku tidak ingin Azharin tahu masa lalu kelamku bersamamu. Kini aku tidak peduli. Setelah bertemu dengannya, aku akan katakan kenyataannya. Aku akan memulai hal baru bersamanya, tanpa bayang-bayang kau."
Hati Laurren rasa tertikam belati. Tak ada arti dirinya bagi Bernard sedikitpun, baik dulu apalagi sekarang. Laurren begitu terpukul mendapatkan tak ada belas kasihan Bernard sedikitpun. Hatinya lebih sakit ternyata orang yang dimaksud penting dalam hidup Alex adalah Azharin.
"Semoga sukses dan itupun jika istrimu kembali padamu." Laurren berujar memendam emosinya.
__ADS_1
"Apa maksudnya!" Bernard meradang.
"Jika istrimu ditemukan. Kita tidak tahu di mana keberadaannya. Sudah dua hari lebih, itu bukan waktu yang singkat untuk banyak hal terjadi apalagi istrimu sedang ham__" Laurren tersadar dan membekap mulutnya sendiri.
"Bagaimana kau bisa tahu dia hamil?!" Alex mengejar Laurren. Dia menjambak rambut Laurren. Alex tak segan untuk bertindak kasar dan kontak fisik dengan Laurren. Tidak seperti Bernard yang menghindarinya.
"Ak__ akhhh." Laurren terpekik, Alex menyeret Laurren keluar kamar.
"Kau terlalu banyak bicara." Alex menyeret Laurren. Bernard mengikuti tanpa ada iba melihat Laurren yang berusaha membebaskan diri dari cengkraman Alex.
"Buka ruangan bawah tanah!" perintah Alex pada bawahannya.
"Baik Tuan." Orang suruhannya bergerak dengan cepat.
Begitu ruangan terbuka, Alex mendorong dengan kasar tubuh Laurren. Dia terlempar dan jatuh tersungkur.
"Bunuh saja aku. Bunuh!" Teriak Laurren histeris. Tungkai kaki dan lengannya terasa sakit.
"Jika itu pilihanmu, aku tidak ragu." Alex berkata dingin dan bergerak ke lemari. Dia membuka lebar pintu lemari kayu tersebut.
Bernard terperanjat melihat berbagai benda tajam ada di sana. Laurren menggigil ketakutan lalu menoleh pada Bernard. Dia memohon secara tidak langsung pada Bernard. Hati Bernard sedikit mencelos, menimbang Laurren punya anak.
"Kau tidak tega wanita yang menjadi ibu anakmu ini mati!" ketus Alex mengetahui fakta baru masa lalu Bernard.
"Dia bukan ibu anakku." Bernard menyangkalnya. Dia mendekati Alex dan berbisik, "Jika kau membunuhnya, kita akan kehilangan jejak mencari Azharin."
Alex terdiam. Dia membenarkan perkataan Bernard. Alex tetap mengambil satu benda tajam kecil. Ya, Alex mengambil belati. Dia menuju Laurren yang masih terduduk di lantai marmer yang dingin.
"Kau boleh berbangga hati, karena Bernard secara tidak langsung memohon untuk nyawamu." Alex menempelkan pisau belati itu ke pipi Laurren. Laurren ketakutan.
"Jangan." Laurren memohon.
"Katakan dengan cepat apa yang terjadi. Aku tidak punya banyak waktu luang. Pekerjaanku masih banyak." Alex memindahkan belati itu ke leher dan menekan perlahan. "Katakan!"
"Baik." Alex menjauhkan belati itu dari leher Laurren. Laurren mengusap lehernya yang terasa perih. Jarinya terasa basah oleh cairan dari bekas goresan yang tak lain adalah darah. Tengkuk Laurren meremang melihat sikap Alex yang diam membeku memandang dingin.
__ADS_1
"Lima menit untuk mengatakan!" Alex masih mendominasi pembicaraan.
Laurren berkata cepat. Dia diminta memata-matai langkah Bernard. Oleh sebab itu, Maxwell setuju membebaskan Laurren dengan harga tinggi. Laurren memang ikut kembali pulang bersama Maxwell. Dia telah memata-matai langkah Bernard akhir-akhir ini.
Laurren juga tahu, Bernard dan Azharin ke Madrid. Laurren juga langsung ikut terbang di penerbangan selanjutnya. Dugaan Bernard benar. Orang yang dilihat Gilberto adalah adik kembarnya yang berada di Italia. Dia juga yang mengasuh anak Laurren begitu bayi itu lahir. Tanpa Bernard tahu selama ini. Semua karena Bernard tidak mau tahu. Dia kembali seminggu sebelum Laurren mengikuti Bernard ke Madrid.
Saudara kembar Laurren memang akan tinggal lebih lama. Rumah tangganya sedang bermasalah. Dia memutuskan kembali dan tinggal di rumah orang tua mereka.
Dia setuju menjadi kaki-tangan Laurren dan Maxwell. Tentunya Maxwell mengiming-imingi dengan bayaran mahal. Jika dengan Laurren terlibat hubungan pribadi, bersama Lorrena murni hubungan kerja sama, kerja sama menghancurkan Bernard.
Laurren tak berkutik ketika Alex meminta menunjukkan di mana Azharin dikurung. Nasib dirinya kini sama seperti Azharin. Dia dikurung karena termakan umpan madam Jill.
Setelah Laurren berterus-terang, dia berkata, "Jadi aku tidak tahu di mana wanita itu. Kau telah menangkap aku sebelum Azharin menghilang. Aku hanya memberi kabar kau ada di sini saat itu." Laurren tak berbohong kali ini, dia mengabari Maxwell kala itu.
Alex kembali menyeret Laurren keluar dari ruang bawah tanah dan kembali ke kamar. Bernard tidak lagi ikut kembali ke kamar. Dia menunggu Alex di ruang tamu. Dia menelepon seseorang untuk menyelidiki keberadaan Maxwell.
Di kamar, Laurren berteriak nyaring, "Lepaskan aku. Aku telah katakan semuanya. Mengapa kau masih mengurungku."
"Kau idiot, jika dia menjadikan Azharin tameng, kau juga sama. Aku tahu, lelaki tua itu bukan hanya pelanggan vip, dia mencintaimu bukan? Dia tertipu dengan wajah bodohmu."
Alex mendapat info sejauh mana hubungan Laurren dengan Maxwell. Tanpa sepengetahuan Bernard, Alex telah melacak siapa Maxwell, ketika Bernard melibatkan dirinya. Tanpa sepengetahuan Bernard juga maksud Alex menangkap Laurren dan menyekapnya, dia punya tujuan lain. Alex ingin menekan Maxwell untuk berinvestasi pada bisnis baru yang akan dirintisnya. Siapa sangka Azharin justru ikut menghilang, dan mengacaukan secara tidak langsung rencana Alex.
"Kau keterlaluan Alex. Wanita sialan itu merusak hidupku!"
"Plaak." Satu tamparan mendarat di pipi Laurren.
"Kau tidak berhak menyumpahinya dengan mulut kotormu itu."
"Mengapa! Mengapa kalian tergila-gila pada dia!!"
Alex berbalik badan tanpa menjawab. Meninggalkan Laurren dan mengunci. Melemparkan kunci pada penjaga. "Jangan sampai dia melarikan diri."
"Baik Tuan." Dia menunduk penuh hormat. Berjalan di belakang Alex yang menuju ke ruang tamu. Mendengar langkah mendekat, Bernard menoleh dan menyimpan ponselnya ke dalam saku bajunya.
"Ayo kita lacak Maxwell," ajak Alex.
__ADS_1
"Ya."
***