
Ketika seseorang melangkah karena suatu perselisihan. Percayalah, dia tidak akan meninggalkan seutuhnya. Jika kita penting dalam hati dan hidupnya.
_______
"Arin jenuh Bang. Kita tetap pergi ya," Azharin menolak dibatalkan.
"Ok kalau begitu." Lelaki itu menimbang-nimbang. Dia kembali berkata, "Kamu ikut kami saja Rom. Kami mau makan dan pergi nonton malam ini." Nadanya bukan bertanya, tepatnya memaksa.
Romi tersenyum dan menjawab, "Baiklah."
"Bagaimana kalau kalian berdua pulang. Lalu secepatnya kemari. Setelah kalian kemari, baru abang pulang mandi dan ganti baju." Lelaki itu enggan meninggalkan Azharin sendiri dalam keadaan kalut.
Sonia dan Romi menyetujui. Mereka menghabiskan minum dan pamit pulang.
"Kamu mandi sana dan bawa istirahat badan sebentar. Abang juga istirahat sebentar di sofa ini." Lelaki itu tidak ingin bertanya apapun dulu.
"Abang, tak usah pulang. Mandi di sini saja." Azharin juga keberatan ditinggal walau nantinya ada Sonia dan Romi.
"Abang tak bawa baju ganti. Biasanya abang ada membawa di mobil."
"Baju Abang masih ada di lemari di kamar depan. Masih tergantung dan terlipat rapi."
"Ohh ya? Kamu tidak jadi membakar baju abang?" tanya lelaki itu dengan senyum lebar.
"Rencana tinggal rencana. Arin tak sampai hati pada baju yang tidak bersalah itu." Nada Azharin hanya datar. Lelaki itu kembali tergelak mendengar penuturan Azharin.
"Oke, kalau begitu abang masih punya hak tidur di kamar depan. Abang tak jadi tidur di sofa." Lelaki itu masih saja membawa Azharin bercanda.
"Pergilah Bang. Abang berisik macam kumbang membuat sarang." Azharin berdiri akan menuju kamarnya.
Lelaki itu juga menuju kamar depan. Dia menyempatkan membalas Azharin. "Mulutmu masih saja pedas seperti dulu."
Azharin hanya mencibir. Dia meninggalkan lelaki yang dipanggilnya abang dengan hati lebih tenang. Lelaki itu tersenyum dan masuk ke dalam kamar.
__ADS_1
kilas balik.
"Bang, aku ada masalah ni. Aku mau buat pengaduan. Tetapi, aku malas ke kantormu. Abang bisakah ketikkan berkas-berkasnya dan abang yang datang antarkan ke kantorku."
"Setahun menghilang, datang-datang mengadu. Apa kau tidak malu?" Lelaki yang di telepon Azharin mengolok gadis itu.
"Abang yang seharusnya malu padaku jika membiarkan aku dihina dan dicaci maki. Bukankah abang paling tidak tahan jika aku disakiti orang." Azharin tak mau kalah. Dia tidak mau dijatuhkan begitu saja.
"Jadi, kini kau menyerah sayang. Kau tidak lagi membela mantan kekasihmu dan keluarganya?" Kembali lelaki itu berusaha mengejek Azharin.
"Hmmm, diam-diam abang memantau Arin ya. Arin belum cerita kalau dia jadi mantan." Azharin tidak menjawab pertanyaan lelaki itu. Azharin malah merasa menang.
"Mengaku juga akhirnya itu hanya mantan."
"Jangan banyak cerita bang. Mau bantu apa gak. Kalau mau datang ke kantor. Arin kirim kronologi kejadian dan buktinya." Azharin mematahkan nada mengejek lelaki itu.
"Yaa, kirimlah. Berarti kamu telah memaafkan Abang bukan?" Dia menyerah. Dia tahu Azharin tidak akan mengalah. Meskipun dia menyerah, dia menyempatkan menyindir Azharin.
"Jangan nyindir Bang. Aku tak akan minta maaf pada Abang." Azharin tanpa dosa menolak kalimat sindiran dari lelaki itu.
"Biarin. Arin matikan dan Arin kirim. Hari ini juga Abang proses."
"Ya, kirimlah."
Lelaki itu tersenyum ketika datang-datang Azharin meneleponnya. Gadis itu merajuk selama setahun dan mengusirnya dari rumah dan melarangnya ikut campur tentang hubungannya dengan Hendri.
Lelaki itu bernama, Armian. Armian berusia 34 tahun. Armian adalah abang Azharin satu ayah beda ibu. Dulunya Azharin mengira ibunya adalah istri pertama. Armian dan Azharin memang besar bersama. Azharin awalnya tidak mengira jika mereka bukan satu ibu.
Azharin baru mengetahui ketika awal masuk sekolah menengah pertama. Ibunya pergi dengan lelaki lain dan meninggalkan ayahnya, Armian dan dirinya begitu saja.
Azharin terpuruk ketika teman-temannya tahu dan mengolok dirinya. Azharin mengurung diri di kamar dan tidak mau pergi ke sekolah. Armian terpaksa mendobrak pintu ketika sehari semalam Azharin tak kunjung keluar.
Ayahnya juga tidak peduli pada kedua anaknya. Ayahnya sejak ditinggal ibu Azharin, hampir jarang pulang. Hanya Armian yang ada untuk Azharin.
__ADS_1
Malam itu, Armian mendapatkan Azharin sangat menderita dan berantakan. Azharin hanya duduk memeluk lutut di samping ranjangnya.
"Apa yang terjadi?" Armian dengan cepat merapikan rambut Azharin dan menarik Azharin agar duduk di tepi ranjang. Dia melihat mata adiknya telah membengkak. Badan Azharin menggigil. Armian lalu berlari ke dapur dan membuatkan adiknya segelas teh hangat. Dia juga membawakan Azharin sepiring nasi.
Armian menyuapkan Azharin makan setelah memberikan teh hangat. Azharin awalnya menolak. Armian saat itu terpaksa mengeraskan adiknya. "Makanlah! atau abang akan membawamu ke rumah sakit!"
Azharin dari kecil sangat takut dengan rumah sakit. Dia membuka mulut dan menerima suapan dari tangan abangnya. Azharin hanya menghabisi separuh isi piring.
Armian mulai bertanya, "Ceritakan dengan abang, ada masalah apa, hingga kamu tidak sekolah dan seperti ini?"
Azharin menceritakan semua, bagaimana perlakuan teman-temannya bahkan beberapa ibu gurunya menyalahkan dirinya ketika dia mengajak berkelahi temannya.
Armian yang kala itu masih duduk di kelas dua sekolah menengah atas, mau tidak mau menjadi berpikir lebih dewasa. Ayahnya hanya pulang meninggalkan uang biaya hidup dan biaya sekolah.
Armian memutuskan mencarikan adiknya sekolah lain. Armian mengatakan pada ayahnya dan meminta biayanya. Ayahnya memberikan apa yang diminta Armian. Namun tak sekalipun memperhatikan dirinya dan adiknya.
Suatu malam, ayahnya pulang dalam keadaan mabuk dan hampir memperkosa Azharin. Ayahnya menyangka itu ibu Azharin. Armian menarik ayahnya dan mengeluarkan malam itu juga.
Paginya Armian meminta ayahnya mencari rumah sewa lain. Armian tidak mau menimbulkan masalah lebih besar pada adiknya. Ayahnya mengerti dan keluar dari rumah. Mereka seperti anak yatim-piatu.
Azharin sejak itu takut bertemu ayahnya. Dia selalu histeris jika ayahnya datang untuk meminta maaf. Akhirnya, ayahnya memutuskan tidak menemui Azharin. Sejak itu juga ayahnya tidak pernah lagi menjamah minuman keras.
Ayahnya akhirnya menikah lagi dan Azharin tetap tidak mau bertemu. Dia baru bisa menerima ayahnya ketika duduk di bangku kuliah.
Armian yang kembali ke masa lalu, tersentak ketika mendengar suara Azharin berteriak meminta tolong. Armian meloncat dan bergegas mencari sumber suara. Pintu depan telah terbuka. Azharin telah hilang seiring menderunya sebuah mobil hitam. Armian mengejar keluar.
"Cari mati kalian!" Armian mengumpat menghilangkan rasa paniknya. Dia menarik napas dan membuangnya dengan kuat.
Dia mengangkat teleponnya dan mencari satu kontak. "Tolong carikan siapa pemilik plat mobil ini. Dia menyebutkan nomor plat yang dilihatnya tadi.
Armian kembali ke kamar. Dia mengambil jaket dan senjatanya. Armian dengan cepat kembali ke kantor.
***
__ADS_1
Hai pembaca terkasih. Sekali lagi bolehlah ya, me-reques Like, Vote dan Hadiah. Hitung-hitung obat lelah dari begadang. Walau aku katakan lelah, bukan berarti diri ini mengeluh. Diriku menulis mengeluarkan kata-kata yang memenuhi ruang pikiranku 💃💃😘😍🙏🙏🙏🙏