
Cinta bukan sekadar komitmen. Pupuk dan sirami agar terus bertumbuh subur dan bisa ceria menemani hari-harimu.
_________
Bernard sambil memegang tangkai gelas minuman kerasnya, menceritakan bagaimana Azharin mengacuhkannya ketika wanita lain membalas pesannya. Gilberto menjadi pendengar yang baik saja. Padahal cerita itu sudah berulang kali Bernard ceritakan.
"Kau akan mencari ke Indonesia?" tanya Gilberto.
"Ya."
"Indonesia sangat luas, kau tahu dia di mana?" tanya Gilberto lagi dan mendapatkan gelengan dari Bernard.
"Kau tahu dia kerja di mana?" Gilberto mempersempit pertanyaannya. Sekali lagi Gilberto mendapatkan gelengan.
"Kau sedang tak rasional. Kau tidak tahu apa-apa tentang gadis itu."
Gilberto telah merubah asumsinya tentang Azharin. Bernard telah cerita penyebab Azharin menghentikan hubungan mereka. Gilberto membenarkan apa yang dilakukan Azharin. Tak ada yang Bernard ingin tahu, selain hanya mengatakan akan datang dan mengatakan cinta. Gilberto merasa pantas Bernard mendapatkan keputusan untuk ditinggalkan.
Bernard terus meneguk minumannya. Dia minum bukan karena menghilangkan stres, dia melampiaskan kemarahan. Kebiasaan Bernard selalu begitu jika sedang marah.
"Belum cukup puas kau dengan gelas berisi minuman itu?" tanya Gilberto melihat temannya seperti tidak ingin berhenti. Bernard ditarik paksa untuk berhenti. Dia ditarik keluar dari bar setelah Gilberto menyelesaikan pembayaran.
"Awas kau gadis asing. Aku akan membunuhmu ke negaramu. Kau kira siapa dirimu ha," ujar Bernard mengutuk dan mengancam.
Bernard tidak kehilangan kesadaran. Dia masih melampiaskan marahnya karena tiba-tiba diputuskan begitu saja. Gilberto diam membisu. Dia fokus dengan mengemudi. Dia mengerti, tidak ada faedah membantah ucapan orang emosi.
"Tidak semudah yang kau katakan mau membunuh orang, apalagi kau tidak tahu apa-apa," olok Gilberto dalam hati. Dia tetap melajukan kendaraan dengan kecepatan standar.
Bernard akan kesulitan melacak Azharin di kota mana dan berprofesi apa. Azharin cukup misterius dengan media sosialnya. Azharin hampir tidak menulis status apapun atau memposting foto apapun. Bahkan foto profilnya hanya satu. Itupun hanya menyamping. Kontak temannya dia privat. Dia hanya membagikan Postingan tentang masakan. Satu-satunya pedoman hanya foto profilnya. Dia memakai foto profil asli.
Gilberto mengikuti Bernard ke dalam rumah. "Kau mau aku pergi?"
"Tidak, aku masih ingin berbicara dengan kau."
Mereka naik ke lantai atas dan menuju balkon rumah. Mereka mengeluarkan cerutu dan menyulutnya. Terlihat asap-asap mengepul. Gilberto tidak memulai percakapan apapun. Hingga Bernard membuka suara, "Aku ingin dia."
"Apa kelebihannya?"
"Aku tidak tahu. Awalnya aku hanya suka melihat foto profilnya. Lalu ketika aku melihat wajah aslinya, aku semakin menyukainya."
__ADS_1
"Apa itu bisa diterima logika?"
"Dia gadis yang smart dan misterius."
Bernard terdiam sejenak dan berkata, "Temperamen dia berbeda. Dia juga sangat keras kepala. Aku ingin menaklukkan dirinya." Jiwa lelaki Bernard tertantang.
Gilberto menimbang-nimbang. Akhirnya dia mengatakan, "Apa dia bukan pelampiasan karena Laurren?"
"Jangan sebut nama dia lagi. Aku sudah lama membunuh dalam hatiku." Nada Bernard penuh kebencian.
Bernard mempunyai wajah standar. Lelaki itu tidak terlalu tampan dan tidak pula terlalu jelek. Hanya saja mata birunya begitu teduh dipandang. Bibirnya tipis dan mempunyai filtrum tajam, membuat senyumnya begitu menawan. Gilberto justru lebih tampan.
"Tetapi waktu kau menyapanya tak jauh setelah wanita itu pergi dari hidupmu."
"Ya. Waktu itu entah bagaimana profil dia muncul di daftar saran teman. Aku suka melihat senyum indahnya. Pertemanan diterimanya, tetapi dia mengabaikan aku. Berbulan lamanya." Bernard tertawa sumbang.
Ketika Azharin membalas, Bernard sangat senang. Dia merasa lebih senang ketika Azharin bersedia memberikan nomor WhatsApp. Bernard bahkan meminta izin saat pertama kali akan melakukan sambungan video call. Kini tahu-tahu dirinya diputuskan begitu saja. Jiwa lelakinya meronta tidak terima.
"Jadilah pria sejati dan jangan berjanji palsu jika kau serius." Gilberto hanya bisa memberi saran itu.
"Maksud kau, aku ke sana secepatnya?"
"Yeah, apa lagi. Kau tidak cukup miskin bukan?"
"Gadis itu benar meninggalkan kau. Kau egois dan tidak bisa berkorban."
Gilberto menekan api rokoknya ke asbak. Dia berdiri dan meninggalkan Bernard dengan kesal. Sikap plin-plan Bernard belum juga berubah. Dia selalu tidak bisa mengimbangi cinta dan pekerjaan. Itu juga alasan Laurren berpaling darinya.
Namun cara Laurren tidak terpuji. Dia berselingkuh dan masih mempertahankan Bernard. Hingga Bernard memergoki Laurren dengan lelaki lain memasuki sebuah hotel. Berbeda dengan Azharin. Azharin lebih berkelas kini di mata Gilberto, walaupun memutuskan sepihak secara spontan, dan Gilberto semakin ingin mengetahui siapa gadis itu sebenarnya.
***
Jika dibelahan dunia lain Bernard sedang dilema, Azharin telah bangun bahkan telah selesai membuat sarapan dan bersiap pergi bekerja.
"Bang, antar Arin donk." Azharin menggedor kamar abangnya dengan keras.
Armian membuka pintu kamar dan juga terlihat telah memakai pakaian kerja. "Kau bisa feminim sedikit jadi wanita?" Armian kesal, terakhir ini kelakuan adiknya semakin menjadi-jadi.
"Feminim sekalipun, aku di tinggal orang." Azharin melenggang ke meja makan. Armian menyusul adiknya.
__ADS_1
"Apa kamu berubah karena Hendri?" Armian bertanya setelah meneguk kopi hitamnya.
"Aku bukan anak kemarin sore. Jangan sebut nama itu lagi Bang. Aku muak mendengarnya. Apapun yang aku lakukan sekarang, tidak ada sangkut pautnya dengan dia. Aku hanya ingin menikmati hidupku."
Armian tidak lagi mendebat Azharin. Walau dia merasa perubahan cara Azharin bersikap jauh berubah. Azharin kecilnya, tidak pernah ber-aku sekalipun berbicara padanya.
"Ya deh, abang minta maaf. Tidak akan lagi membicarakan dia. Lalu bagaimana dengan kekasih Eropa itu?" Armian mencoba bertanya langsung pada adiknya.
"Bilang sama informan Abang, aku sudah memutuskannya."
"Haaa!"
"Ya, aku bosan dengan lelaki yang banyak janji dan kata-kata saja. Aku mencari lelaki sejati. Jika Abang mau menjadi lelaki sejati, cepat menikah. Jangan obral janji manis saja!"
"Malah abang yang kena imbasnya." Armian merutuk.
"Aku rasa, Sonia juga bukan gadis remaja lagi. Dia sudah siap dinikahi dan dibuahi."
"Bahasamu semakin aneh ya sejak mencari kekasih bule."
"Harus itu. Di sana tidak tabu untuk berbicara hubungan dua jenis manusia yang berbeda."
"Iyaa, tapi kau masih di Indonesia. Dan aku adalah abangmu."
"Alaa, toh Abang bukan juga anak kecil lagi. Abang juga paling sudah banyak memerawani gadis." Azharin mengatakan dengan santai.
Akan tetapi tidak dengan Armian. Dia semakin kesal melihat adiknya. "Enak saja kau. Kau kira abang penjahat kelamin. Perjaka ini semua, termasuk bibir abang."
Azharin tertawa terbahak. Dia sangat senang mengganggu abangnya akhir-akhir ini. "Sip, aku bisa menyampaikan kabar gembira buat kakak ipar. Abangku ternyata masih original."
"Kau ikut tidak, cepatlah." Armian meneguk habis kopinya dan berdiri. Azharin dengan cepat menghabiskan jus jeruknya dan menentang bekal makan siangnya. Azharin sedang tidak ingin beranjak dari kantornya ketika jam istirahat.
Azharin duduk di samping abangnya. Dia mengecek ponselnya satu pesan hadir dari Bernard. Pesan itu datang ketika Azharin lelap dalam tidur malamnya.
Azharin membukanya. "Hei, ratu hatiku, kau telah mengubah semua mimpi buruk menjadi mimpi indah dan memoles ketakutan dengan cintamu. Selamat pagi dengan banyak ciuman!"
"Hebat sekali cara dia menyindirku." Azharin bergumam. Armian bertanya dan Azharin membacakan pesan Bernard.
"Wow, romantis sekali kata-katanya. Pantas kau menyukai pria luar."
__ADS_1
"Aku rasa Sonia juga menyukainya. Abang berusahalah seperti Bernard."
***