Love Between Two Countries

Love Between Two Countries
Memutuskan Sepihak


__ADS_3

Ketika kamu memberikan sejuta rindu, namun tidak memberikan kesempatan untuk bertemu, detik itulah kamu kehilangan diriku.


________


Suatu malam ....


"Dengan siapa kamu melakukan panggilan telepon begitu lama?" tanya Bernard pada Azharin.


"Apa kamu mempunyai pacar selain denganku?" Bernard kembali mengajukan pertanyaan sebelum Azharin sempat menjawab.


"Jangan memutarbalikkan fakta, bukankah kamu punya wanita selain diriku?" Azharin juga menyerang pria yang berlabel kekasih. Kekasih tak jelas bagi Azharin ketika ini. Usia perkenalkan mereka masih seumur jagung kata orang banyak.


"Aku tidak punya wanita lain. Satu-satunya gadis yang menjadi pacarku, hanya kamu."


"Manis sekali kata-katamu tuan. Kau kira aku percaya padamu," batin Azharin berkata-kata. Namun kalimat yang keluar justru sangat berkesan, "Aku juga begitu. Hanya kau yang aku harapkan untuk mengisi hatiku. Aku ingin bisa hidup bahagia bersamamu, hanya bersamamu."


"Aku juga. Akan secepatnya datang ke negaramu. Tunggu aku."


"Jangan banyak berjanji darling. Takutnya itu akan merubah pandanganku padamu."


Mereka memang baru tiga bulan saling berkomunikasi. Bernard telah lama menyapa Azharin di messenger. Namun Azharin tidak pernah membuka satupun pesan darinya.


Hingga suatu hari, Bernard kembali menyapa dan tepat ketika Azharin sedang patah hati. Azharin menanggapi beberapa pesan secara random. Salah satu yang dibalas adalah pesan dari lelaki Eropa tersebut.


"Aku telah katakan padamu. Mari kita bertemu, ketika bertemu, jika kita tetap saling merasa nyaman, mari kita menikah. Jika tidak, kita akan menghentikan ketika itu." Bernard berkata dengan serius.


"Ok," jawab Azharin.


"Bisakah kau katakan, dengan siapa kau sibuk begitu lama dan mengabaikan panggilanku." Bernard kembali mendesak Azharin.


"Dengan teman masa sekolah. Dia sedang mencurahkan perasaan hatinya. Dia menanyakan pendapatku, maka kami saling berbicara lama." Azharin berbohong.


"Man or Women?"


"Women."


"Apa pekerjaan teman kamu?" Bernard menggali informasi.


"Bar."


"What?" Bernard tak bisa menutupi keterkejutannya.


"Kenapa? Apa masalah buatmu?" tanya Azharin tak senang. "Dia hanya sebagai kasir, dia juga bukan peminum ataupun punya banyak pacar." Azharin meletup seperti gunung berapi yang lagi aktif. Azharin mempunyai satu teman dekat di bar.


"Ohhh, okelah Barbie. Aku percaya padamu. Maafkan aku." Bernard berbalik minta maaf.


"Ok, no problem."


Mereka lalu kembali bercengkerama dan setelah hampir setengah jam, Azharin meminta waktu untuk tidur. Perbedaan waktu dua negara membuat mereka harus bisa mengatur waktu. Indonesia lebih cepat tujuh jam dari Manchester.


Terkadang ada masanya Bernard tidak memberi kabar berhari-hari. Jika begini, Azharin juga diam membisu. Dikatakan seperti monoton ada benarnya tentang sifat Azharin. Berhari tak ada saling memberi kabar, acap kali Bernard protes pada Azharin.

__ADS_1


***


"Apa kamu tidak merindukan aku?" tanya Bernard pada jam delapan malam waktu Indonesia, dia mengontak Azharin.


"Aku merindukan kamu."


"Lalu ke mana kamu tidak ada kabar?" Bernard menatap Azharin dengan menautkan alisnya.


"Tidak ada, hanya sibuk dengan pekerjaan dan teman-teman saja."


"Pekerjaan? Teman? Atau pacar lain?" Bernard kembali menuduh Azharin.


"Bukankah kau yang punya banyak wanita didekatmu? Sehingga kau tidak punya banyak waktu untukku!" Azharin balik menyerang Bernard.


"Ehhh Barbie. Aku di sini tidak punya banyak teman. Aku punya banyak pekerjaan."


"Ohhh ya? Apakah kau tidak berbohong?" tanya Azharin dengan nada curiga.


"Itulah kebenarannya Barbie."


Azharin hanya diam. Azharin tidak percaya sedikitpun. Lebih tepatnya dia menjaga hati. Azharin tidak ingin lagi berada di titik di mana dia terluka tetapi tanpa tetesan darah. Namun rasa sakit dari luka itu sangat hebat.


"Kamu tidak ingin berbicara padaku?" tanya Bernard melihat Keterdiaman Azharin.


"Ya, ada yang ingin aku bicarakan." Azharin akhirnya membuka topik yang ingin dia bahas serius.


"Katakan padaku."


"Aku rasa kita bukan anak-anak lagi. Kita sudah berkomunikasi selama tiga bulan lebih. Aku bosan hanya kata cinta yang kau ucapkan setiap menghubungiku."


Bernard mendengarkan apa yang menjadi keluhan Azharin. Azharin walau menikmati hubungan jarak jauh, ada kalanya dia lelah. Dia ingin membangun hubungan yang lebih serius. Akan tetapi, Azharin terkadang seperti baling-baling bambu doraemon. Hatinya terbang ke sana dan ke sini.


Apalagi jika Bernard tiada kabar berhari-hari, sementara dia terlihat online. Bernard memang terkadang mengirim foto aktivitas dirinya, entah sedang di kantor, di jalan atau sedang makan. Namun bukan itu yang diinginkan hati Azharin.


"Baik. Sebelum aku menjawab, bolehkah aku juga bertanya padamu?"


"Boleh. Apa?" jawab Azharin.


Setelah puas Azharin mengungkapkan apa yang dia rasakan, kini Bernard malah balik bertanya, "Aku ingin tahu, apa tujuan hidupmu?"


Azharin tergagap, bukan karena tidak tahu tujuan hidupnya. Azharin hanya tidak yakin dengan keputusannya sekarang. Azharin tidak terlalu banyak berpikir tentang tujuan hidupnya setelah hubungannya kandas dengan Hendri.


"Kenapa diam Barbie? Jangan katakan kamu tidak mempunyai tujuan, selain hanya ingin bermain." Ucapan Bernard menjadi penuh tuduhan.


Azharin tidak menyangkal sepenuhnya perkataan Bernard yang penuh tuduhan, akan tetapi Azharin tetap membantah. "Kau menuduhku. Aku rasa itu kata hatimu."


Bernard tertawa dingin. "Menuduh atau tidak, kau yang lebih tahu Barbie."


Bernard mempunyai alasan untuk berkata demikian. Dia tidak merasa Azharin serius padanya. Bernard tidak pernah mendapatkan Azharin menyapanya lebih dulu. Komunikasi yang terjadi selalu Bernard yang memulai. Bernard merasa komunikasi itu hanya satu arah. Tanpa Bernard tahu apa yang terjadi dengan masa lalu Azharin.


Azharin pernah menawarkan untuk bercerita masa lalunya, namun Bernard mengatakan dia tidak peduli dengan hidup lama Azharin.

__ADS_1


"Kamu bertanya, aku menjawab. Aku bertanya, hanya diam balasan darimu." Bernard menatap penuh selidik ke manik mata Azharin.


Azharin merasa ucapan Bernard sangat pedas tanpa dia mau tahu apa perasaan Azharin. Azharin sakit hati.


"Aku ingin kita berhenti sampai di sini. Aku lelah," ujar Azharin tak terduga oleh Bernard. Azharin tiba-tiba mendapatkan suasana hati yang buruk. Bernard terkejut. Kata-kata Azharin baru saja, diluar ekspetasinya.


"Apa kau benar mempunyai teman lelaki lain? Dari negara mana?" tanya Bernard dengan nada tajam.


"Kau tak perlu tahu. Selamat tinggal!" Azharin tanpa ragu memutuskan komunikasi dan menyelesaikan hubungannya secara sepihak.


Azharin menolak panggilan Bernard tanpa ragu. Dia mematikan ponselnya dan pergi tidur.


***


Sementara di belahan negara lain ....


"Gadis luar biasa! Bisa-bisanya dia mempermainkan aku!" teriak Bernard memenuhi ruangan kerja.


Bernard bersandar di kursi eksekutif. Dia tak habis pikir dengan Azharin. Bernard tidak bisa terima. Dia juga tidak tahu apa yang membuat dia menyukai gadis yang dia kenal hanya lewat dunia maya.


"Apa yang aku suka dari gadis keras kepala itu? Apa temperamen berbeda itu yang aku sukai?"


Bernard mempunyai teman dekat. Malam harinya dia mengajak temannya ke sebuah bar mewah.


"Apa kau sedang frustrasi dengan gadis itu?" Gilberto mengolok Bernard.


"Aku mengajak ke sini bukan untuk memukulku." Bernard mengancam teman baiknya.


Gilberto banyak tahu Bernard bercerita seorang wanita dari negara lain. Sejak awal Gilberto telah melarangnya.


Gilberto tidak yakin hubungan itu akan berjalan lancar. Jarak terlalu jauh membentang di antara mereka. Meskipun dari segi finansial Gilberto yakin sahabatnya tidak akan terkendala.


"Lalu apa rencanamu? Kau tidak akan menjadi gila hanya karena seseorang wanita tidak dikenal?" Gilberto mencari tahu.


"Gila tidak. Tergila-gila iya." Bernard berkata dengan dingin.


Seorang bartender mengantarkan minuman beralkohol bercita rasa tinggi. Minuman dengan adukan yang sesuai dari tangan ahli tersebut telah mulai berpindah melalui tenggorokan Bernard. Gilberto hanya meminum beberapa teguk saja. Dia tidak mau mereka mabuk secara bersamaan.


"Apa kau akan mencari ke negaranya?" Gilberto menyelidiki.


"Aku pastikan itu," nada dingin Bernard masuk ke telinga Gilberto di tengah musik yang hiruk-pikuk.


"Apa dia tidak tahu kalau kau pebisnis sukses?" tanya Gilberto.


"Dia tahu, bahkan sangat tahu. Aku menunjukkan semua aktivitas di kantor dan selalu mengirimkan foto ketika di kantor. Aku bahkan meloloskan permintaan dia saat ingin melihat seluruh ruangan di kantorku. Aku sudah seperti budaknya saja, lalu dengan tanpa dosa dia menghentikan hubungan ini."


Gilberto mulai merubah sudut pandangnya. Jika sampai tadi dia tidak menyukai Azharin, ketika pertama kali Bernard memperlihatkan foto profil gadis itu, kini dia penasaran dengan gadis itu. Gadis yang bisa menolak sahabatnya ketika banyak gadis asal negara mereka menginginkan sahabatnya.


"Wow, gadis yang menarik. Aku kira kau lupa memamerkan kekayaanmu, sehingga dia mengira kau pria siluman miskin di negaramu sendiri." Gilberto tidak bisa menahan lidahnya.


"Aku tidak memamerkan. Gadis itu tidak percaya saat aku katakan pebisnis. Aku hanya ingin membuat dia percaya penuh padaku."

__ADS_1


Masih segar dalam ingatan Bernard di bulan ke dua perkenalan mereka. Azharin tanpa ragu menanyakan apa dia cukup kaya untuk dijadikan pacar. Pada akhirnya, itu juga tidak berarti bagi Azharin.


***


__ADS_2