
Bahagia itu bukan bagaimana pola hidup tetapi bagaimana pola pikir.
______
Jika Azharin sedang bersama Sonia, Bernard diajak Armian ke suatu tempat. Melihat Azharin terpukul dan terpuruk, Armian tak punya solusi lain selain berbicara pada Bernard. Armian menceritakan keadaan ibunya dan alasan ibunya tidak mau bertemu Azharin. Armian tak sanggup memikul sekali lagi rasa bersalah pada Azharin.
"Ini alasan aku bercerita padamu. Aku tidak tahu lagi harus bagaimana. Tubuh dan hatiku rasa terbagi dua," kata Armian di sebuah kafe.
Bernard berpikir keras. Dia meneguk secangkir kopi hitam tanpa ampas. Bernard memandang Armian setelah memilih demi kebaikan Azharin. Bernard sedikit egois dengan memikirkan kegagalan pernikahan mereka, jika Azharin harus terpukul sekali lagi.
"Aku setuju dengan pemikiran ibumu." Bernard berkata dengan tegas.
Terlihat raut wajah Armian kecewa. Melihat itu, Bernard cepat menyambung kalimatnya. "Kau jangan kecewa. Setidaknya pikirkan Azharin. Dia telah tidak berkarier. Jika dia tergoncang sekali lagi, besar kemungkinan dia menunda atau lebih besarnya, dia membatalkan perkawinan kami."
Armian membenarkan dalam hati pemikiran Bernard. Dia menghembus napas penuh kesesakan. Tak ada satupun kata yang terucap. Juga tidak ada satupun yang terpikir olehnya untuk masalah ibunya yang tak mau bertemu Azharin.
Bernard kembali berpikir dan dia berkata, "Bagaimana kalau aku saja yang bertemu dengan ibu kalian?"
Armian menyetujui dengan cepat. "Kau benar. Begitu lebih baik. Ayo kita ke rumah mama. Sebelum kita pulang kemalaman dan Azharin mencari dirimu."
Mereka bergerak cepat dan meninggalkan kafe. Armian melaju menuju rumah ibunya. Butuh waktu sejam juga untuk sampai di rumah ibunya.
Armian tak perlu mengetuk pintu. Mendengar deru mobil di halaman rumah, ibunya telah tahu siapa yang datang. Walau ibunya tak lupa mengintip terlebih dahulu memastikan. Dia masih merasa aman, selain suaminya masih dalam penjara, Armian telah mengurus dan mengajukan gugatan cerai untuk ibunya. Ibunya meminta karena tak sanggup lagi hidup dengan pria suka memukul.
Pintu telah terbuka, dan Armian bisa melihat senyum ibunya. Armian turun dan diikuti Bernard. Senyum ibunya hilang dan berganti dengan keheranan. Dia menebak-nebak, jika pria bule ini calon suami Azharin yang berarti calon menantunya.
Wanita itu sedikit was-was. Dia memastikan tidak ada penumpang lain yang turun dari mobil. Tentunya itu Azharin.
Armian mengetahui apa yang dipikirkan ibunya, ketika sang ibu melirik lagi ke mobil.
"Aku tidak membawa Azharin ataupun Sonia Ma. Aku hanya membawa calon menantu Mama."
Terlihat sedikit kelegaan di raut wajah ibunya. Armian menyalami ibunya dan memeluk serta mencium pipi ibunya.
"Mama sehat?" tanyanya dan mengenalkan Bernard.
__ADS_1
"Bernard."
Ibunya mengajak masuk. Mereka duduk di ruang tamu dan duduk hanya di karpet permadani. Tak ada kursi tamu, karena ibunya tak menginginkan.
Armian menceritakan singkat bagaimana mereka tiba di rumah ini. Armian juga menjadi penerjemah antara Bernard dan ibunya karena Bernard tidak bisa berbahasa indonesia sementara ibunya tidak bisa berbahasa inggris.
"Bernard berkata Ma, izinkan dia menikah dengan putri Mama dan dia berjanji akan membahagiakan Azharin." Ibunya mengangguk setelah mendengar kata Armian.
"Dia juga bertanya pada Mama, apakah mama yakin tidak mau menjumpai Azharin sebelum dia membawa Azharin jauh dari negara ini?"
Awalnya Bernard tidak ingin melontarkan pertanyaan ini. Pikiran Bernard berubah melihat wanita rapuh di depannya. Namun jawaban ibu Azharin membuat Bernard berpikir, itu jauh lebih bijaksana.
"Katakan pada pria ini, mama yakin dan tetap pada keputusan mama. Mama titip pesan, tolong jaga dia, sayangi dia dan jangan sakiti dia setelah begitu banyak rasa sakit yang dia terima akibat ayah dan ibunya. Jika dia salah, didik dia dengan baik. Jika tidak lagi mencintainya, tolong pesankan, antarkan adikmu padamu kembali." Armian menterjemahkan apa yang ibunya katakan dan Bernard menyetujui.
"Nyonya jangan khawatir, aku akan mencintai dia sepenuh hatiku. Aku sudah banyak tahu, kesakitan dia terima. Aku tak akan memberikan dia kesakitan lagi."
"Kapan kalian berangkat?" tanya ibunya.
"Lusa paling lama, Nyonya."
"Baik Ma, aku akan atur." Armian menjanjikan pada ibunya.
"Ma, kami permisi dulu kalau begitu. Ini sudah hampir dua jam kami pergi. Aku tidak ingin terlalu lama meninggalkan Azharin. Dia masih sangat terkejut ketika tahu ayah sudah tak ada." Armian pamit pada ibunya.
"Nyonya, aku tidak tahu kapan bisa bertemu kembali denganmu. Aku berdoa, suatu hari Nyonya bisa datang ke negaraku dan melihat kami. Jangan tolak pemberian aku, aku memberikan atas nama Azharin. Semoga bisa membantu Nyonya walau tidak membantu banyak."
Bernard memberikan masih berupa mata uang dari negaranya. Armian langsung mencegah ibunya untuk menolak. Armian tidak ingin Bernard tersinggung. Tidak mudah bagi pria luar untuk berbagi, kecuali dengan kerabat dekat dan sanak famili Itu setidaknya yang Armian tahu dari cerita Azharin.
"Ma, nanti aku kabari ketika mereka memutuskan berangkat. Mereka masih ada sedikit urusan untuk terakhir kalinya."
Di dalam mobil, sambil fokus memandang jalanan, Armian berujar, "Terima kasih. Uang yang kau tinggalkan untuk mama tidak sedikit,"
"Saat ini, hanya itu yang bisa aku bantu untuk keluarga wanita yang sangat aku cintai."
Telepon Armian berdering. Terlihat dari Azharin. Armian menyambungkan ke Bluetooth mobil.
__ADS_1
"Di mana Bang? Kenapa lama sekali membawa Bernard? Kalian ke mana?" tanya Azharin beruntun.
"Ada urusan antara lelaki. Ada apa?"
"Tolong belikan roti gandum Bang, dan yang banyak. Calon suamiku belum pandai memakan nasi. Aku tidak ingin dia kelaparan. Aku juga tidak ingin pergi ke manapun Bang."
Armian mendengar nada Azharin yang tak bersemangat. "Ya, baiklah. Kau mau apa?"
"Tak ada Bang. Tanya Sonia, barangkali dia ada yang di inginkan."
"Apa dia tidak di dekatmu?"
"Tidak, dia telah kembali ke kamar setelah membuatkan aku segelas jus."
"Ya, abang akan telepon dia. Apakah kau ingin berbicara dengan Bernard terlebih dahulu? Jika iya bicaralah. Abang telah sambungkan dengan Bluetooth mobil."
"Sayang, ada baiknya kau meminta supir pribadimu berhenti di toko roti. Aku tidak ingin melihatmu terlihat aneh memakan nasi." Bernard tertawa menoleh pada Armian.
"Baiklah Barbie. Terima kasih perhatiannya."
"Sama sayang. Aku ingin tidur sejenak. Cepat pulang. Aku merindukanmu."
"Dasar tak tahu malu." Armian mengumpat adiknya dengan nada bercanda. Dia sengaja berbahasa inggris agar Bernard mengerti.
"Dari pada Abang, malu-maluin. Mesra dikit saja tidak bisa pada kakak ipar."
"Tidurlah, pada kau berisik saja. Abang lagi fokus membawa calon pengantin."
"Ya. Jaga baik-baik kekasih hatiku. Sampai nanti sayang." Azharin langsung memutuskan pembicaraan. Armian menatap Bernard yang tersenyum hangat.
"Semoga kalian bahagia."
"Thanks."
***
__ADS_1