Love Between Two Countries

Love Between Two Countries
Apa Salahku?


__ADS_3

Laurren masih tidak beranjak dari tempat tidur. Dia menatap Alex dengan nanar. Alex begitu jauh berubah dalam ingatannya.


"Aku tidak mau! Laurren berteriak histeris. Alex tak memandang Laurren sebelah matapun.


"Ikuti kataku. Kau akan menyesal jika membantahku!" Alex berkata dengan nada penuh ancaman.


"Siapa orang yang kau maksud? Aku tidak merasa mengganggu siapapun." Nada bicara Laurren mulai terdengar lemah dan putus asa. Dia tidak sepenuhnya memahami apa yang terjadi.


Alex tak suka untuk memperlama pembicaraan. Dengan kasar dia melemparkan baju Laurren dan berkata, "Pakailah!"


Laurren tak punya pilihan lain, "Izinkan aku membasahi tubuhku."


"Segera. Waktumu hanya sepuluh menit."


Alex telah mengatur segalanya serapi mungkin. Laurren tidak mendapatkan jawaban apapun. Kini dia telah berada dalam pesawat. Setelah melalui penerbangan berbelas jam, dia telah berada di mobil bersama Alex dan beberapa orang yang tak dia kenal.


Laurren sama sekali tidak mengerti bahasa negara Alex. Dia terdiam dalam ketakutan dan kegelisahan. Dia tak punya ponsel untuk meminta bantuan siapapun. Alex telah menyita ponselnya saat di hotel. Alex juga tak berbicara sepatahpun lagi padanya.


"Tempat apa ini?" tanya Laurren menahan tangisnya. Dia mulai menyadari ke mana Alex membawanya.


Laurren mencengkram lengan Alex. "Apa salahku! Kesalahan apa yang aku lakukan! Kau tega padaku!" Laurren menggila di sebuah kamar kosong. Kamar itu terlihat rapi. Meskipun tidak begitu besar, hanya bisa untuk satu tempat tidur dan satu lemari kecil.


"Dasar bajingan kau!" ujar Laurren ketika Alex mendorongnya ke kasur. Laurren jatuh terlentang. Alex mengejar dan menahan ke dua tangan Laurren.


"Kau mau uang? Di sini kau bisa mendapatkan apa yang kau butuhkan. Uang dan kebutuhan biologis kau!"


"Aku tidak mau. Berikan ponselku. Aku ingin menghubungi kekasihku!"


"Kekasih? Kau bilang kau tidak dekat dengan siapapun." Alex meremehkan Laurren.


"Aku berbohong padamu. Aku tidak butuh hadiahmu. Aku akan kembalikan. Berikan ponselku." Laurren mencoba membujuk Alex.


"Aku tidak peduli kebohongan kau!"


Alex bangkit dari tempat tidur. Dia menuju pintu. Laurren dengan cepat menyusul, namun langkahnya terhambat di pintu. Dua lelaki berbadan besar telah menahan dan mendorongnya hingga jatuh terjerembab. Dia dikunci di dalam kamar barunya.


"Bajingan kau Alex. Aku akan balas kau!"


Laurren meremas rambutnya. "Apa salahku." matanya telah merah dan penuh air mata.


***


Di lain tempat, Azharin menjalani hidupnya dengan tenang. Dia menjalankan peran istri yang baik. Menyiapkan keperluan Bernard, mulai dari sarapan hingga makan malam.


Bulan madu yang dijanjikan Bernard masih ditunda karena kesibukan Bernard. Azharin tidak pernah protes bahkan mau mengerti. Membuat Bernard tenang dan semakin mencintai Azharin.


Namun bukan berarti mereka tidak pernah ribut. Jika dulu Bernard yang selalu memulai karena cemburu, kini Azharin yang suka ribut karena pola kebiasaan budaya.

__ADS_1


Sepulangnya kerja, Bernard selalu memakai sepatunya hingga ke ruang tamu. Azharin tak terbiasa begitu. Azharin selalu protes dan Bernard hanya memberikan senyum manis serta kecupan di pipi Azharin. Walau tak menolak Azharin tetap kesal.


Di hari santai Bernard, mereka selalu bekerja sama membersihkan rumah dan memasak. Bernard juga membawa Azharin untuk berbelanja mengisi lemari es atau sekadar mengunjungi suatu tempat.


Azharin tidak pernah menyesali keputusan nekatnya melihat cinta Bernard padanya. Pelan-pelan hatinya mulai berlabuh pada cinta Bernard dan suatu malam yang ditunggu Bernard, dia mengatakan "Sayang, aku mencintaimu. Aku menginginkan kau.'


Bernard tentu senang sekali mendengar perkataan Azharin. Walau Azharin selalu tidak menolak secara lisan, namun bahasa verbal tubuhnya, cukup menjadi jawaban untuk Bernard menunda kewajiban lainnya.


Bernard rela tersiksa batin selama tiga bulan. Baginya itu belum seberapa dibandingkan hati istrinya yang penuh derita. Malam itu Azharin menumpahkan semua cintanya dan semakin yakin Bernard tulus mencintai dirinya.


Dua hati dua tubuh bersatu mengecap dan memberikan kasih sayang. Menenggelamkan diri atas nama cinta, gairah dan rasa sayang. Sejak itu malam-malam mereka lalui dengan saling mengisi, bercanda dan tidur dengan nyenyak.


Azharin selalu berkabar pada Sonia dan hanya sesekali berkabar pada Armian. Itupun jika Armian yang bertanya lebih dulu. Azharin selalu menyampaikan salam untuk abangnya melalui Sonia.


Saat Sonia melahirkan, Azharin hanya bisa memberikan ucapan dan menjanjikan kado ketika dia datang ke kampung halamannya. Azharin mengatakan ongkos kirim mahal dan membuat Sonia cemberut sedangkan Azharin tertawa kecil. Sonia tak senang hati, dia minta mentahan. Azharin mengangguk setuju. Dia akan mentransfer untuk keponakan semata wayangnya. Tentunya dengan izin Bernard.


Semua berjalan tenang dan teratur dirasa Azharin, Bernard juga merasa begitu. Semakin hari dia semakin memahami Azharin sangat pengertian dan dewasa. Bernard sangat mencintainya.


Suatu hari setelah enam bulan pernikahan mereka berjalan, Bernard berkata pada Azharin, "Barbie, aku besok pagi ada jadwal bisnis ke Indonesia, apakah engkau ingin ikut?"


"Benarkah? Tentu aku mau." Azharin sangat senang. "Bolehkah aku berjumpa dengan teman-temanku?"


"Boleh." Bernard mendapat hujan ciuman dan pelukan. Azharin begitu gembira..


Esok hari, mereka langsung terbang ke negara Azharin dan dijemput oleh Armian.


"Abang kira kau sudah tak membutuhkan abang." Ada nada menyindir didengar Azharin. Azharin melepaskan pelukannya dan mencubit pinggang abangnya.


"Apa kabar ipar?" tanya Armian sambil menjabat tangan Bernard.


"Seperti yang kau lihat."


"Terima kasih sudah membawa adikku pulang."


"Ya."


Armian melaju di jalanan. Lalu ketika dia berbelok, Azharin bertanya, "Kita mau ke mana?" Azharin mengetahui ini bukan jalan arah ke rumah lamanya.


Armian hanya menoleh sepintas melalui kaca spion tengah. Armian kembali mendapatkan pertanyaan dari Azharin. "Kita mau ke mana? Apa itu saja Abang tidak bisa menjawab."


"Kita ke rumah sakit." Armian menjawab singkat.


"Siapa yang sakit?" Azharin terkejut. Dia merasa Sonia dan keponakannya sehat-sehat saja ketika Azharin berkabar akan ke Indonesia.


"Mama." Armian kembali berkata.


Azharin menegang dan terdiam memandang dalam pada Armian. Walau sepintas, Armian bisa melihat kebingungan adiknya.

__ADS_1


Setelah beberapa waktu dan Azharin pulih dari rasa terkejutnya, dia bertanya pada Bernard, "Apa ini sandiwara kalian berdua?" kata Azharin kecewa.


Bernard cepat merangkul Azharin. "Maafkan aku Barbie. Aku tidak ingin kau menyesal suatu hari nanti."


"Aku tidak ingin bertemu mama."


"Mama ingin bertemu denganmu." Armian mengarahkan mobil memasuki parkiran rumah sakit besar tersebut.


"Kenapa kalian begitu egois padaku? Kenapa hanya memikirkan perasaan mama, tetapi tak pernah memikirkan perasaanku?" tanya Azharin dengan pilu. Air matanya telah berkumpul dan akan segera mengalir.


"Maafkan abang, dan maafkan mama. Mama sangat menyayangimu. Mama tak ingin kau merasa menderita setelah tahu keadaannya."


"Mama kenapa?"


"Nanti abang ceritakan semua. Kini kita jumpai mama dulu. Abang takut sudah tak ada waktu. Mama hanya menunggumu saja."


Mereka bertiga bergegas menuju ruangan rawat. Armian mendorong pintu kamar ruangan ICU dan Azharin melihat Sonia di samping ranjang.


Azharin melangkah perlahan dengan berbagai emosi yang hadir. Wanita yang bertahun tidak dia lihat dan hanya sempat dia lihat sebentar ketika setelah sekian lama tidak bertemu, kini wanita tersebut terbaring tak berdaya di ranjang rumah sakit.


Badannya kurus, hanya tinggal kulit pembalut tulang, pipinya begitu cekung. Bernard memberikan kekuatan melalui remasan lembut di bahu Azharin. Melangkah semakin dekat ke tepi ranjang.


Batin Azharin kembali berperang, antara rindu dan benci, antara kasihan dan marah. Benci dan marah itu sirna ketika mata sayu wanita itu terbuka dan menatap Azharin dengan rasa bersalah dan air mata telah mengalir di pipi ibunya. Hanya sejenak, mata itu kembali tertutup.


Tangan yang tinggal tulang dan kulit itu terulur hendak menjangkau tangan Azharin. Namun tak ada daya untuk mengangkatnya. Hati Azharin berdenyut perih. Kegetiran begitu terasa menusuk relung hatinya. Kemarahan dan kebencian tak lagi tersisa di hati Azharin. Tubuh wanita itu ditempeli beberapa alat bantu.


"Mama ...." panggilnya pilu dan mencium punggung tangan ibunya. Air mata Azharin telah tumpah membasahi kulit keriput ibunya.


"Mama ...." panggil Azharin kembali memeluk tubuh kering ibunya. Azharin mencium pipi ibunya.


"Maafkan mama." Azharin mendengar bisikan sangat lemah dari ibunya. Azharin mengangkat kepalanya dan melihat kembali kelopak mata ibunya terbuka sedikit.


"Maafkan Arin juga Ma." Azharin kembali mencium pipi ibunya. Air mata terus mengucur dari pelupuk matanya. Ibunya tak menjawab dengan kata, hanya mata yang berkedip dan air mata mengalir jawaban dari ibunya. Lalu monitor mulai berbunyi datar dan menandakan wanita tersebut pergi untuk selamanya.


"Mama ... kenapa mama lakukan ini padaku?" tanya lemah Azharin masih tetap memeluk tubuh ibunya.


"Apa salahku Ma?"


Wanita yang dia panggil mama tak lagi menjawab bahkan tak memberi respon lagi. Wanita itu telah tidur selamanya.


"Arin, ikhlaskan. Mama menunggu maafmu. Mama sudah enam hari di ruangan ICU." Suara Armian terdengar ketika dokter dan perawat memastikan dan mulai menanggalkan alat medis yang melekat di tubuh ibunya.


Bernard merangkul dan membawa Azharin keluar dan mencari tempat duduk. Sonia pergi dan kembali membawa sebotol air mineral dan memberikan pada Bernard. Bernard membuka tutup botol tersebut dan meminta Azharin minum. Azharin menelan dan itupun hanya seteguk.


Azharin terbelenggu dalam penyesalan. Dia duduk membisu, memandang kosong, sekosong hatinya.


***

__ADS_1


__ADS_2