Love Between Two Countries

Love Between Two Countries
Kekejaman Alex


__ADS_3

Alex menunda kepulangan demi mengatur siasat manis untuk meloloskan permintaan Bernard. Bernard berniat memberikan kompensasi pada Alex atas waktu yang tersita menjadi lebih lama. Alex menolak tegas berupa uang tunai tetapi menerima tawaran dalam bentuk bisnis lain.


"Hai sayang, apakah kau masih mengingatku?" tanya Alex menelepon Laurren.


"Tentu. Ada apa!" Laurren menjawab dengan ketus.


"Kau tidak semanis dulu," ujar Alex santai tanpa takut jika Laurren menutup telepon. Alex mendengar Laurren mendengus. Alex hanya tersenyum kecil.


"Tak usah berbasabasi dan mencoba mengemis kehangatan padaku!" Nada Laurren masih tidak bersahabat.


"Jika itu ingin aku lakukan, apa kau sanggup menolak sayang? Aku merindukan kehangatan darimu." Alex duduk dengan santai di sebuah kafe. Bola matanya bergerak ke kiri dan ke kanan memperhatikan sekelilingnya tanpa ada maksud tertentu.


Laurren terdiam. Dia sangat tahu, Alex pria menyenangkan dan sangat loyal jika dia puas. Laurren berpikir akankah meladeni Alex kembali. Alex semakin tersenyum lebar. Dia mulai memprediksi diamnya Laurren.


"Temui aku di kafe tak jauh dari hotel. Aku hanya punya tiga hari di negara ini. aku bisa pastikan kau tidak akan menyesal menemuiku."


"Apa yang kau butuhkan dariku?"


"Cintamu." Alex melancarkan rayuannya.


"Kau jangan berbicara tak masuk akal. Aku tahu kau hanya butuh kencan. Kau tak pernah mencintai siapapun selain kesenangan dirimu." Laurren membantah.


"Bagaimana jika kau temui aku sekarang. Kau bisa menilai langsung. Aku membawakan hadiah indah untukmu." Suara Alex semakin terdengar menggoda.


"Apa?"


"Satu set perhiasan tanpa ada duplikat. Bukankah kau inginkan dulu."


"Benarkah?" suara Laurren terdengar senang. Dia tahu harga perhiasan itu tidak murah.


"Ke marilah."


Laurren meminta waktu untuk bersiap dan tak lama dia telah berada di depan Alex. Pakaian yang begitu seksi telah melekat di tubuh indahnya.


"Dasar pelacur kecil. Tak butuh waktu lama memerangkap."


Alex merasa muak jika tidak berjanji pada Bernard. Dia tutupi dengan senyum dan tatapan hangat penuh kerinduan. Laurren telah luluh dan melepaskan sikap dingin dan ketusnya.


Alex menyodorkan bungkusan di depannya. Dia meminta bantuan temannya untuk mencarikan perhiasan yang di inginkan Laurren ketika pertemuan terakhir mereka. Alex juga tak mengira itu akhir dari pertemuannya.


"Lihatlah, apa aku berbohong padamu."


Laurren membuka. Senyum dan binar matanya tak bisa dipungkiri, jika dia berada dalam mode sangat senang.


"Apa kau sedang dekat dengan seseorang?" tanya Alex.


"Tidak." Dia menjawab jujur. Dia memang tidak dekat dengan siapapun.


Alex tidak ingin hadiah yang diberinya hanya cuma-cuma. "Aku memberikan itu tidak gratis."


Laurren mendongak menatap Alex. Seburuk-buruk kelakuannya, ada rasa kecewa ketika dia hanya dianggap seperti wanita malam. Alex cukup memahami ekspresi wajah Laurren.


"Jangan salah paham, aku butuh cintamu. Aku tidak bisa memungkiri, kau yang terbaik di ranjang. Rasa rindu telah mengubah tujuanku menjadi cinta."

__ADS_1


"Benarkah?"


"Kau bisa merasakan jika kita melakukan malam bersama lagi. Kau akan merasakan perbedaan. Bagaimana?" Alex meyakinkan Laurren dengan begitu lembut. Dia tiba-tiba merubah rencananya.


Laurren terlihat ragu-ragu. Kedatangan dan pengakuan Alex yang tiba-tiba membuat dia tak langsung percaya.


"Ayolah sayang. Buang kecurigaanmu. Kita bisa mengulangi dari awal. Aku tidak pernah menyentuh wanita manapun setelah berakhir denganmu." Alex meremas hangat tangan Laurren yang sedang terletak di atas meja. Laurren kembali melihat mata Alex. Alex dengan ekspresi memukau, merayu Laurren.


"Baiklah." Laurren menyerah. Alex tersenyum kecil.


"Sekarang, atau kau ingin makan dulu?" tawar Alex.


"Aku sudah makan."


"Kalau begitu, kita bisa langsung ke hotel, tempat aku menginap." Alex telah mendorong ke belakang kursinya. Dia berdiri dan mengulurkan tangan pada Laurren. Laurren menyambut. Mereka hanya berjalan kaki menuju hotel. Jarak kafe dan hotel tidak begitu jauh.


Alex merangkul pundak Laurren. Tak ada pembicaraan apapun. Laurren berjalan tanpa memperhatikan wajah Alex yang mengeras. Dia terlena dengan sikap dan hadiah Alex.


Di kamar hotel, Laurren meletakan tas dan hadiah pemberian Alex di atas meja rias. Alex kembali melancarkan jurusnya. Dia menarik dan meminta Laurren duduk di depan meja rias. Dia membuka kotak perhiasan dan mengambil kalung.


Alex mengalungkan di leher jenjang Laurren. Laurren membantu dengan mengangkat rambut panjangnya. ketika Alex sudah mengaitkan kalung tersebut, Laurren menggerai kembali rambutnya. Namun Alex cepat menyingkirkan ke samping, sehingga satu sisi leher jenjangnya terbuka.


"Cup." Alex memberikan sensasi di sana. "Kau Suka sayang?" Laurren membalas dengan tatapan penuh senyum melalui pantulan kaca cermin.


Alex mulai menggoda titik-titik tertentu dari tubuh Laurren. Laurren tak menolak. Alex menarik Laurren ke ranjang. Dia merogoh kantong celananya.


"Apa itu?" tanya Laurren ketika Alex menghentikan aktivitasnya dan mengganti dengan aktivitas baru, yaitu membuka sebuah kalpet obat.


"Bukannya aku tidak pernah pingsan dulu?"


"Aku ingin sampai pagi bersamamu. Aku sangat merindukanmu, aku yakin kau tidak akan tahan sayang." Alex membuka mulut Laurren dan meminta Laurren menelannya. Alex mengambil sebotol bir yang telah tersedia di kamar hotelnya.


Dia menuangkan ke dalam gelas dan meminum perlahan. Sudut matanya memperhatikan reaksi Laurren. Laurren mulai gelisah menunggu Alex meminum minumannya.


Alex memperhatikan. Dia mendekati Laurren dengan membawa gelas minumannya. "Kau mau sayang?" tanya Alex sambil duduk di samping Laurren. Dia menyodorkan dengan mesra. Laurren meneguk beberapa teguk.


"Alex ...." panggil Laurren pelan.


"Ya sayang." Alex mencium pipi Laurren. Dia mendekatkan bibirnya ke telinga Laurren. "Apa yang kau rasakan sayang?" bisik Alex berubah dingin dan Laurren terlambat menyadari jika dia sudah terjebak.


"Apa yang kau lakukan padaku," bisik Laurren semakin pelan.


"Tidurlah sayang, aku ingin bermain denganmu tanpa kau sadari."


"Kau ja__" Laurren tak bisa meneruskan mengatakan jahat pada Alex. Laurren telah jatuh terlentang dan tak sadarkan diri setelah merasakan kepalanya begitu berat.


Alex berdiri dan meletakan gelas minumannya. Dia mengambil ponselnya dan menghubungi seseorang.


"Ke marilah!"


Tak lama pintu kamarnya di ketuk. Alex membukakan. "Masuklah."


"Buka pakaianmu dan buka pakaiannya! Lalu kau tahu apa yang harus kau lakukan." Nada perintah terdengar begitu tegas. Pria yang diminta tersebut dengan cepat melakukan dan telah mengerti apa yang harus dilakukan selanjutnya.

__ADS_1


"Cekrek ... cekrek ...." Entah berapa kali lagi terdengar petikan dari suara kamera. Tubuh polos yang malang tersebut telah terekam dalam jejak digital.


"Biarkan dia seperti itu!" Alex kembali memerintahkan dengan nada dingin.


Pria tersebut telah meninggalkan kamar Alex, seperti permintaan Alex.


Alex menatap Laurren yang terbungkus sebagian selimut. Alex membuka pakaian dan tidur memeluk Laurren.


"Ketika pagi Laurren terjaga dengan kepala sedikit sakit."


"Sudah bangun?" tanya Alex merasakan pergerakan Laurren. Dia tak melepaskan pelukannya.


"Apa yang kau lakukan padaku?" tanya Laurren serak.


"Aku hanya memberikan obat anti hamil."


"Kau berbohong." Laurren ingin melepaskan diri, tetapi Alex menahan.


Alex dengan satu tangan menjangkau ponselnya. "Kau bisa lihat, betapa indah tubuhmu saat kita bersatu." Alex menggeser layar ponselnya dan memperlihatkan.


Laurren memperhatikan, dia menyadari ada perbedaan dengan postur tubuh yang menghimpitnya di dalam gambar-gambar tersebut.


"Siapa dia! Ini bukan kau." Nadanya mulai panik dan dia mulai memberontak.


Alex lelaki normal, pergerakan Laurren yang berlebihan membuat adrenalin terpacu di pagi hari.


"Kau ingin aku yang mengisinya?" bisik Alex dengan serak. Dia mulai memposisikan dirinya pada diri Laurren.


Laurren memberontak sebisa mungkin. "Lepaskan aku. Menyingkir dariku!" Laurren histeris.


"Kau sudah menerima banyak hadiah sayang. Kau belum membalasnya. Aku menagih pagi ini, itupun karena kau yang menggodaku."


Tak disangka, dibalik kelembutan dan perhatian Alex pada Azharin di Spanyol, jiwa dan sifat Alex bisa begitu kejam dan dingin. Dia tidak tak peduli dengan penolakan dan teriakan Laurren. Dia membekap mulut Laurren dan menenggelamkan diri pada Laurren. Setelah dia mencapai tujuannya, baru dia melepaskan Laurren. Laurren menangis.


"Apa salahku padamu!" dia menutupi tubuhnya dengan selimut dengan cara memeluk selimut.


"Kau tidak bersalah padaku, tetapi kau bersalah pada seseorang!" ujar Alex dingin.


"Aku akan menuntut karena telah memperkosaku."


"Silahkan. Fotomu akan jadi konsumsi publik. Satu hal lagi, tidak ada yang percaya di kamar hotel mewah ini dengan hadiah istimewa kalau kau diperkosa!"


"Kenapa kau lakukan ini padaku!" isak tangis Laurren tak menggoyahkan hati Alex.


"Karena kau telah mengusik orang yang penting dalam hidupku!"


"Mandi dan bersiaplah. Aku akan membawamu keluar dari negara ini!"


"Aku tidak mau!" teriak Laurren.


"Kau tidak punya pilihan sayang!"


***

__ADS_1


__ADS_2