
Malam itu berakhir dengan diamnya Azharin dan gagalnya Bernard meyakinkan kembali hati Azharin. Penyesalan karena ketidaktegasan sikapnya membuat benang cinta menjadi kusut.
Paginya sikap dingin Azharin yang tak dia tutupi mengundang tanya di mata kedua keluarga. Sarapan berjalan biasa walau Bernard berulang kali menyapa dan menawarkan sesuatu pada Azharin, namun Azharin tak menggubrisnya.
Azharin memang berniat akan meminta pendapat mertuanya jika ditanya. Apa yang direncanakan Azharin berjalan. Setelah sarapan selesai, Azharin menuju kamarnya.
Emilia yang biasanya tak mau ikut campur, tak bisa berdiam diri. Dia yakin ada sesuatu yang terjadi dan Emilia tak ingin hal buruk terjadi dalam rumah tangga anaknya.
"Azharin, mama ingin bicara, bisa?" kata Emilia menahan tangan Azharin. Senyum kepuasan sepintas tercetak di lekuk bibirnya.
"Baik Ma. Di kamar Mama saja."
Naluri Axton juga tergerak ingin tahu dengan dinginnya wajah Azharin. "Apa papa boleh ikut tahu?" katanya dibelakang Emilia. Azharin mengangguk. Bernard hanya memandang sayu pada Azharin. Setitik penyesalan hadir di sudut hatinya atas ketidaktegasan sikapnya dalam memahami pola pikir Azharin.
Niat hati Bernard hanya memandang kasihan pada satu nyawa yang tak berdosa, tetapi dia lupa pada kehidupan calon bayinya walau takdir yang memilih demikian.
Bernard memang telah memutuskan orang tuanya tahu dan apapun yang diputuskan mereka bertiga, Bernard akan terima dan berharap hati Azharin bisa kembali dia raih. Bernard sangat tahu bagaimana kerasnya hati Azharin jika tidak sesuai dengan yang dia inginkan.
Sementara itu, Armian dan Sonia juga mengetahui sikap Azharin yang mendingin dan memilih tak ikut campur. Dia mengajak dua ponakan Bernard untuk bermain di halaman depan.
Di kamar Azharin menceritakan tanpa ada yang dia sembunyikan. "Begitulah ceritanya Ma, Pa. Jadi aku memutuskan tidak akan ikut kembali. Aku mantap untuk di sini jika dia masih tidak tegas pada masa lalunya. Aku berpikir mungkin itu memang darah dagingnya dan aku tidak mau ada di antara masa lalunya." Azharin berkata tegas.
Emilia dan Axton terlihat marah. "Ternyata wanita itu tidak pernah bosan untuk masuk dalam hidup Bernard!" ujar Axton. Emilia menyetujui dengan mengangguk menahan emosi.
"Tak perlu menyalahkan orang lain Pa. Aku lebih suka menyalahkan Bernard yang tak punya sikap. Aku cukup terima dengan kebohongan dia di awal kedekatan kami."
"Kamu benar. Papa akan berbicara padanya." Axton mencari jalan keluar.
"Silahkan Pa. Namun aku tetap tidak akan kembali bersamanya."
"Pikirkan kembali baik-baik Nak. Pernikahan bukan untuk bertanding ego." Emilia berkata dengan lembut.
"Aku tahu Ma. Hanya saja aku bukan untuk menahan ego. Jujur, aku takut atas sikapnya untuk pergi ke negaramu kembali, Ma."
Emilia terdiam dan mencoba memahami Azharin dari sudut pandang lain. Emilia menyadari ketakutan Azharin. Namun, wanita bule itu tidak rela jika menantunya tidak bisa kembali bersamanya.
"Lalu apa kamu sudah mempunyai rencana lain untuk masa depanmu?" tanya Emilia.
__ADS_1
"Aku belum berpikir jauh Ma. Kemarin aku begitu terpukul dengan semua yang terjadi, sehingga aku berada di titik terendah Ma."
"Ohh ya Ma, aku rasa kita lupakan dulu permasalahan ini. Dua keponakanku, mungkin sudah tidak sabar ingin berkeliling. Ayo kita wisata dulu Ma, Pa." Azharin merasa tidak ingin untuk membahas dia ikut kembali atau tidak. Baginya sudah cukup mertuanya tahu apa alasan dia, jika dia tidak ikut kembali nantinya.
"Ayo, ide bagus." Axton menepuk lembut pundak Azharin. Mereka bergegas kembali keluar kamar dan menuju halaman rumah.
"Barbara ... Rodney, ayo aku kita liburan." Azharin memanggil dengan penuh semangat, seperti tidak terjadi apa-apa. Axton dan Emilia menghela napas kecil setelah saling berpandangan.
Bernard duduk di bangku beranda depan dan memandang meminta penjelasan atas sikap Azharin yang dingin padanya tetapi tetap bersemangat pada kedua keponakannya. Emilia menggeleng pelan dan Bernard seakan mengerti, kini dia ikut menghela napas.
Azharin kembali ke kamar untuk berganti baju, begitu juga yang lain. Tak lama semua telah berada di dalam mobil dan meluncur ke jalanan yang mulai terlihat ramai.
Tawa-tawa bahagia hadir di dalam mobil mendengar celoteh dua bocah dan terkadang berdebat bahkan dengan Azharin. Satu-satu makhluk yang hanya diam adalah Bernard. Azharin tak memberikan ruang sedikitpun untuk berbaik dengannya. Azharin berkata seperlunya saja pada Bernard.
Hari ini mereka menuju museum sejarah dan melanjutkan ke tempat-tempat berkesan di sekitar Jakarta saja, seperti ke Ancol, Tugu Monas dan lainnya jika masih ada waktu.
Tak terasa mengitari tempat tujuan sesuai rencana, hari sudah semakin senja. Mereka kembali ke rumah.
Ketika malam setelah selesai makan, Barbara menarik tangan Azharin dan menjauh dari meja makan. Barbara menarik hingga ke ruang tamu dan mengajak Azharin duduk. Azharin hanya diam dan mengikuti.
Dia sudah terbiasa ditarik Barbara dan diajak bermain. "Cukup bocah cantik. Aku lelah dan besok kita melanjutkan bermain. Aku bisa pingsan Gadis Kecil." Azharin berkata sambil mengelus rambut pirang Barbara.
"Lalu?" tanya Azharin tak mengerti.
"Aku tidak tahu masalah Tante dan paman. Aku hanya melihat Tante diam pada paman."
Azharin diam dan Barbara melanjutkan perkataannya, "Apapun masalahnya, aku ingin Tante ikut bersamaku. Aku sangat menyukaimu. Aku selalu merindukanmu ketika kau tak pernah menelepon."
Barbara berkata sambil masuk ke pelukan Azharin. Entah itu dramanya atau isi hatinya, namun bulir bening hadir di wajah putihnya yang berbintik kecokelatan. Dia mendongak dan menatap penuh harap pada Azharin.
Azharin bisa melihat kesungguhan kata-kata gadis kecil tersebut. Ada sesak di hati Azharin menyaksikan pemandangan ini. Dia teringat bagaimana dia berharap ketika ibunya tidak pergi meninggalkan dirinya. Bedanya, Barbara justru berharap dia tidak tinggal di sini dan ikut bersamanya.
"Berjanjilah padaku Tante. Aku tidak peduli kau bersama paman atau tidak. Aku ingin kau ada dekatku." Barbara masih terus berkata ketika melihat Azharin hanya diam memandangnya.
Azharin mengusap air mata Barbara yang masih bergulir satu demi satu. "Jangan menyiksaku sayang. Kau belum memahami dunia kami orang dewasa."
"Kau benar, aku tidak paham dunia orang dewasa, setidaknya kau bisa memahami dunia anak kecil," ujar Barbara membalikkan perkataan dengan cerdas.
__ADS_1
Azharin tersenyum mendengar perkataan Barbara. Azharin sudah tidak heran dengan kepiawaian Barbara dalam berkata.
"Kau tersenyum, itu artinya kau menyetujui permintaanku," ujar Barbara penuh harap.
"Aku tersenyum mendengar kau berkata."
"Itu artinya aku tak bisa berharap lebih?" jawab Barbara.
"Aku mungkin terlihat kejam di matamu, tetapi kau benar, aku tak bisa memberikan harapan yang menyakitkan padamu." Azharin berkata dengan lembut namun penuh ketegasan.
"Baiklah, aku mengerti."
"Kau membenciku, Ara?"
"Aku kecewa, tetapi tidak membencimu."
"Terima kasih, suatu saat kau akan mengerti alasan hari ini."
"Ya."
Mereka di ruang makan bisa cukup mendengar pembicaraan antara Azharin dan Barbara. Armian jadi mengetahui jika adiknya berencana tidak kembali. Meski dia senang jika Azharin ada didekatnya, Armian tahu itu bukan yang terbaik untuk Azharin.
Armian memandang Bernard dan Bernard mengangguk, seolah mereka melakukan telepati. Armian bangkit dari kursi makan dan menuju ke halaman belakang.
"Ada masalah apa lagi?" tanya Armian tanpa basa-basi walau tanpa ada kemarahan ataupun rasa kesal. Bernard berkata apa adanya yang telah terjadi.
"Lalu apa ini yang kau inginkan?" tanya Armian.
"Tentu tidak. Namun kau tahu Azharin bagaimana. Apapun kini, aku rasa aku sangat terlambat untuk meyakinkan dia.
"Kau mungkin terlambat, tetapi tidak denganku," ujar Armian. Bernard merasa mendapatkan angin segar.
"Kau yakin?" tanya Bernard mendapatkan harapan baru.
"Aku tahu cara melunakan hati adikku."
"Terima kasih."
__ADS_1
"Bukan kata terima kasih ingin kudengar. Janji lelakimu yang kutagih. Apa tindakanmu ke depan, jika adikku tetap bersamamu dan kembali ke negaramu bersama?"
***