Love Between Two Countries

Love Between Two Countries
Kisah Sang Ibu


__ADS_3

Armian yang masih menunggui ibunya, tidak berniat mendesak. Dia duduk di kursi di samping ranjang rumah sakit tempat ibunya terbaring lemah. Ingatannya kembali saat bertemu langsung.


Saat itu dia dan rekannya mendobrak pintu dan melihat darah segar di mulut dan hidung ibunya.


"Siapa kalian! Apa urusan kalian!" teriak pria itu ketika Armian dan rekannya masuk dengan paksa dan rekannya meringkus suami ibunya.


Wanita itu walau berpuluh tahun tidak melihat Armian dia masih mengingat anak yang telah dia besarkan dengan penuh kasih kala itu. Dia terkejut dan lalu memalingkan wajah. Air mata telah meleleh di wajah pucat dan lesunya.


Jika tidak mengingat ranah hukum, ingin Armian meninju dengan tangannya sendiri hingga babak belur seperti pria itu melukai ibunya.


"Ma, kenapa jadi begini." Armian berkata sambil memeluk tubuh lemah ibunya. Air matanya telah membanjiri pundak renta ibunya. Tak ada jawaban dari ibunya selain juga tangisan yang terdengar. Anak dan ibu tersebut menangis. Dua rekannya telah pergi membawa lelaki tersebut.


"Ma kemas baju Mama. Aku akan membawa Mama pulang."


"Tidak, mama tidak ingin pulang dan bertemu Azharin. Mama tidak bisa bertemu dengannya. Dosa mama terlalu banyak pada kalian."


Armian kalah dengan sikap keras ibunya. Armian mengalah. Wanita itu berkata akan pergi jika pulang ke rumah. Namun Armian tetap mengajak ibunya pindah dengan mencarikan rumah lain. Ibunya bersedia. Dia juga tidak sanggup lagi jika harus terus dipukuli jika tidak bisa memberikan apa yang diinginkan suaminya.


Armian membawa ibunya mengobati luka bibir dan hidung di klinik terdekat. Armian membelikan ibunya bubur dan menyuapkan di dalam mobil. Bulir bening kembali meleleh di pipi ibunya. Armian menyeka dengan tisu dan berkata, "Jangan menangis lagi Ma. Hatiku sakit melihat Mama menangis."


Perkataan Armian yang begitu menyayanginya, malah membuat air matanya semakin deras. Dia sangat menyesal meninggalkan anak-anaknya. Armian membiarkan sejenak. Setelah sedikit reda, dia kembali menyuapkan ibunya. Setelah beberapa suap, dia meminta ibunya meminum obat. Armian menyuapkan hingga bubur tersebut habis.


Lalu ia dengan membawa ibunya mencarikan rumah sewa yang jauh dari tempat tinggal lama. Di rumah sewa tersebut, Armian tidak bertanya apa alasan ibunya meninggalkan dia dan Azharin. Dia memutuskan nanti setelah ibunya tenang dan pulih.


"Aku memohon, Mama tidak pergi lagi dari sini dan dariku. Aku akan memenuhi semua kebutuhan hidup Mama. Walaupun Mama belum mau bertemu Azharin. Jika Mama masih punya rasa sayang padaku, walau mungkin hanya sedikit, tolong jangan kecewakan aku lagi."


Ibunya mengangguk, melihat tatapan anak lelakinya yang penuh harap dan terlihat terluka. Dia tak mengira anak sambungnya bisa begitu mencintai dirinya. Ternyata cinta yang dia beri dengan setulus hati tersimpan rapi di hati Armian. Armian bahkan tidak pernah mencari tahu ibu kandungnya setelah dia tahu dari ayahnya. Dia hanya tahu ibunya, ibu yang membesarkan dia sepenuh hati. Walau akhirnya ibunya melakukan kesalahan dengan meninggalkan dirinya dan Azharin.


Sejak itu, Armian selalu menyempatkan menjenguk ibunya, mengantarkan keperluan dan kebutuhan dapur ibunya. Armian masih belum bisa membujuk ibunya agar memberi tahu keadaan ibunya pada Azharin.


Armian masih menimbang-nimbang perkataan ibunya. Alasan ibunya tidak mau menjumpai Azharin, dia belum siap dengan penolakan Azharin. Lebih tidak siap lagi melihat Azharin terluka dengan keadaannya yang memprihatinkan. Ibunya di diagnosa terkena kanker rahim walau belum stadium akhir. Armian terus mengupayakan pengobatan ibunya.


Bagi ibunya, kedatangan yang sesaat hanya akan menghancurkan hati dan hari anaknya. Biarlah mereka menganggap ibunya hilang selamanya. Meskipun takdir berkata lain, dia bertemu dengan Armian, tanpa dia tahu Azharin masih merindukan ibunya diam-diam.


"Kapan adikmu meninggalkan negara ini?" tanya ibunya menyentak lamunan Armian.


"Secepatnya Ma. Dia sedang mempersiapkan semua persyaratan."


"Ohhh begitu," kata ibunya bergumam pelan.

__ADS_1


"Apa Mama yakin, tidak akan menjumpai Azharin sebelum dia pergi. Dia tidak menikah di sini tetapi menikah di negara calon suaminya." Armian berusaha melunakkan hati ibunya.


"Ohhh, dia tidak menikah di sini?" tanya ibunya terkejut.


"Tidak Ma."


"Kenapa begitu?"


"Kata dia, dia ingin membangun rumah tangga di tempat baru yang penuh kenangan indah."


"Ohhh begitu."


Armian tak sadar dengan ucapan itu ibunya merasa semakin merasa bersalah pada Azharin. Dia merasa Azharin tidak bahagia karena dia. Padahal dia salah, Azharin merasa hubungan dengan Hendri faktor awal dia ingin menikah di negara kekasihnya. Waktu tujuh tahun ini dia merasa sebuah kesia-siaan.


"Ya. Apakah Mama juga tidak ingin bertemu istriku?"


"Nantilah setelah Azharin meninggalkan rumah dan pergi ke negara suaminya."


Armian tak bisa berkata apapun. Ibunya tetap kekeh melepaskan Azharin tanpa tahu apapun. Armian mengikut kehendak ibunya. Bagi Armian, pemikiran ibunya mungkin lebih tahu untuk anak-anaknya.


Tak memungkiri, Armian sendiri merasakan, jika ibunya tidak pergi mungkin dia tidak akan sekuat dan sesukses ini. Dia tidak akan bisa berlaku jadi abang yang baik. Dia pasti tak pikir panjang untuk mengikuti kenakalan temannya. Semua teredam, ketika mengingat pesan ibunya. Melihat adiknya betenggang hanya padanya. Bukan dia bersyukur ibunya pergi, tetapi setidaknya dia mengambil sisi positifnya, sehingga tiada kebencian pada ibunya.


"Dia di mall bersama Sonia."


"Bisakah mama mendengar suaranya?"


Armian menelpon Azharin. Tak lama Azharin mengangkat. Belum sempat Armian berkata apapun, Azharin berkata, "Ada apa Bang? Aku di mall bersama kakak ipar."


"Aku tahu. Apa kau menjaga istriku dengan baik?" Armian sengaja memancing Azharin kesal. Jika kesal, Azharin akan berkata banyak.


"Tenang saja, aku sayang kakak ipar dan calon keponakanku. Aku menjaga dengan baik. Namun cobalah diasingkan waktu untuk kakak ipar. Abang hampir tak punya waktu selain kerja dan kerja. Kakak ipar akan sendirian setelah aku berangkat meninggalkan negara ini."


Armian memang selalu mengatasnamakan kerja ketika dia menjumpai ibunya atau menunggu ibunya di rumah sakit.


"Kau lama lagi untuk terbang kepelukan kekasihmu. Jadi temankan Sonia ketika aku lembur mengumpulkan pundi-pundi."


"Abang salah, aku hanya tiga bulan lagi paling lama. Aku sedang menunggu dia datang untuk proses akhir. Setelah itu aku akan ikut langsung dengannya."


"Kau sudah mengurus pemberhentian kerjamu?" tanya Armian serius.

__ADS_1


"Sudah."


"Kau sadarkan Rin. Kau akan kehilangan pekerjaan dan kau belum tentu jadi menikah." Armian hanya merasa sayang dengan karier adiknya.


"Aku sudah memikirkan Bang. Kau jangan menyumpahi begitu."


"Abang bukan menyumpahi."


"Tenang saja, jangan khawatir. Aku masih bisa jadi pengusaha jika gagal dengan Bernard."


"Apa maksudnya?"


"Masih ada pria Spanyol yang mau menikah denganku dan bahkan menjamin hidupku."


"Ahhh terserahlah, mana Sonia aku ingin berbicara dengannya."


Sang ibu hanya mendengarkan pembicaraan kedua anaknya. Rasa rindunya semakin besar mendengar suara putrinya. Air matanya mengalir dan cepat menyekanya sebelum Armian melihat.


"Abang punya nomor kakak iparku, silahkan telepon dia. Aku menunggu kabar kekasihku." Usai berkata demikian, Azharin mematikan sambungan telepon. Dia terkikik dan Sonia cuma bisa geleng kepala. Tak lama teleponnya berdering. Sebelum mengangkat, Sonia melihatkan pada Azharin sambil tertawa. Azharin menggedikan alis.


Armian hanya menanyakan dan berpesan hati-hati serta tidak pulang magrib. Lalu Armian kembali fokus pada ibunya.


"Mama bahagia hanya dengan mendengar suaranya?" Armian mengelus tangan ibunya.


"Mama bahagia. Mama tidak boleh lagi egois. Apalagi suara adikmu begitu riang dan ringan. Mama tidak mau memberikan beban baru padanya dan membuat dia dilema dengan rencananya yang telah tertata."


"Baiklah Ma. Aku percayakan pada Mama."


"Pulanglah dulu. Beri waktu pada istrimu. Apalagi dia kini hamil muda. Tidak baik membuat dia stres."


"Dia tidak pernah mempersoalkan aku pulang kapan Ma."


"Itulah yang terjadi pada mama dulu. Mama tak pernah mempersoalkan apapun tentang ayahmu yang tak punya waktu. Mama hanya memendam dan akhirnya mama membenci ayahmu yang tak punya waktu dan menilai dia tak bertanggung jawab walau dia memberikan mama uang berlebih." Ibunya berkata terus terang. Dia tak ingin kejadian terulang pada rumah tangga anaknya.


"Tapi alasan itu tidak cukup kuat Ma, untuk meninggalkan kami begitu saja."


"Mama sudah katakan, mama ego saat itu."


Armian tidak mau mendesak apa alasan dibalik ibunya meninggalkan mereka. Dia tidak mau mempermasalahkan itu lagi. Cukup baginya dia bisa menemukan ibunya.

__ADS_1


***


__ADS_2