
Waktu bukanlah obat penyembuh rasa sakit, karena waktu yang gagal disikapi, justru bisa memperburuk rasa sebuah hati.
________
"Apa kau punya banyak waktu sekarang?" Azharin menyindir.
Bernard tidak membalas pesan Azharin. Dia langsung menelepon. Azharin mengangkat. Terdengar Bernard berkata, "Kau menguji kesabaranku?"
"Baguslah jika kau paham." Azharin semakin menyebalkan.
"Apa kau tidak ingin bertanya kabar terbaruku?" ujar Bernard justru mencoba memancing.
"Apa yang aku lihat sudah lebih dari cukup mengetahui kabarmu." Azharin menjawab sesuai fakta yang dia lihat.
"Kau tidak berubah. Masih saja menjadi wanita dingin. Apa masalahmu?" Bernard bertanya dengan mencengkram kuat ponselnya.
"Tak ada."
Bernard tidak mengambil pusing jawaban Azharin yang tidak memuaskan. "Bisa?" tanyanya. Dia menurunkan ego.
"Jika kau mau menunggu hingga aku bangun." Azharin tersenyum puas. Bernard bisa tahu arti senyuman Azharin.
"Enak saja kau mau dengan mudah bertemu."
Azharin merasa Bernard sedang beruntung bisa bertemu di negara ini. Azharin tidak akan memberikan apa yang Bernard inginkan. Bukan karena merasa tinggi hati. Namun yang diinginkan Azharin perjuangan yang gigih dan bersama saling berjuang.
Azharin dulunya selalu berjuang gigih mempertahankan Hendri. Begitu gigih saja dia tidak bisa meraihnya. Apalagi dengan Bernard yang begitu jauh. Azharin menentukan pilihan baru memberi kode kepada Bernard untuk bisa bersama.
Azharin sudah tidak ingin memakai perasaan. Benar kata Alex, dia harus memakai logika. Agar suatu hari tidak lagi terjatuh di lubang yang sama, yaitu patah hati hanya karena cinta. Azharin sudah tak ingin merasakan sakit itu.
"Tidak bisa?" tanya Bernard.
"Bisa, ketika aku telah bangun. Aku ingin tidur hingga siang." Azharin menguji kesabaran Bernard.
"Oke. Jika kau tidak ingin, tidak masalah. Jangan hubungi aku lagi." Sekali lagi emosi Bernard terpancing. Dia gagal menangkap sinyal halus Azharin.
Azharin tertawa miring. Dia menjawab, "Ok. Bye."
Azharin memutuskan lalu membuang ponselnya di atas ranjang. Tak ada rasa sakit. Dia merasa itu jauh lebih baik. Membangun rumah tangga tidak semudah yang ia bayangkan. Azharin terbayang bagaimana masa kecilnya. Dia tidak ingin itu terjadi pada anaknya kelak. Dia harus mencari lelaki yang mau berjuang bersama, sepahit apapun jalan yang akan mereka tempuh.
Azharin memejamkan mata. Fisiknya sudah sangat lelah. Akan tetapi hatinya tidak. Azharin berniat bahagia dengan datang ke negara Alex. Azharin tidak menjadikan Bernard alasan ketidakbahagiaan kali ini.
Jika Azharin mulai berlayar ke alam mimpi. Bernard meremas tangannya setelah meletakan ponsel di atas meja di kamar hotel.
"Dasar gadis keras kepala!"
Gilberto yang tegak di pinggir balkon cukup mendengar umpatan Bernard.
"Dia menolak?" tanya Gilberto tanpa memandang Bernard.
__ADS_1
"Begitulah. Bahkan dengan mudah dia mengatakan selamat tinggal."
"Kau terlalu keras. Cinta bukan bisnis." Gilberto mengalihkan tatapan pada Bernard.
"Aku selalu tidak sabaran melihat dia."
"Itu kesalahanmu. Kau belum mengenal dia, tepatnya tidak mau mengenal dia." Gilberto berdiri di pihak Azharin.
"Kau hanya sekali bertemu, apa kau tahu dia banyak?"
"Bukan satu wanita yang aku kencani. Sedikitnya aku tahu dia. Wanitamu tidak bisa ditekan. Dia terlihat dingin, padahal jiwanya hangat. Apa pernah kau bertanya perasaannya?"
"Maksud kau?" tanya Bernard. Dia menyusul ke balkon.
"Apa kau jalan hidupnya? Tentang cinta yang aku maksudkan." Gilberto menyulut rokoknya.
Bernard tidak lantas menjawab. Dia duduk mengingat sesuatu. Azharin memang pernah berkata padanya. Bahwa dia tidak tahu apapun. Hari itu, mereka adu argumen. Bernard mengatakan Azharin egois dan hanya memikirkan diri sendiri.
Azharin dengan kesal mengatakan, "Kau tidak mengenalku dengan baik. Jadi simpan caci makimu!" Setelah itu, Azharin langsung menonaktifkan ponsel. Ketika Bernard menyapa, Azharin tidak membalas pesan selama dua hari.
"Kau benar." Bernard mengakui di depan Gilberto.
"Terkadang, kesempatan tidak datang dua kali. Siapa menduga, kau bisa berjumpa di sini."
"Hmmm, mengapa aku bisa jatuh hati pada wanita keras kepala."
"Bukankah wanita seperti itu yang kau butuhkan. Keras dan setia. Tidak mudah tergoda karena uangmu?"
"Beralih dari gadis itu, aku ingin tahu sesuatu." Gilberto memilih duduk didekat Bernard.
"Apa?"
"Bar mewah yang terkenal banyak di sini, mengapa kau memilih bar Alex untuk mengimpor bir?"
Bernard tersenyum misterius. "Dia pria baik dan jujur dalam berbisnis."
"Kau yakin hanya karena itu?" tanya Gilberto.
"Lalu menurutmu ada hal lain yang aku sembunyikan darimu?"
"Entahlah. Kau lebih tahu." Gilberto enggan memperpanjang pertanyaan.
***
Ketika pagi menyapa, Alex ikut menyapa Azharin. "Pagi Nona Cantik, apa kau masih belum meninggalkan ranjangmu?"
"Hmmm, aku masih ingin tidur," jawab Azharin serak, tanda dia bangun tidur. Azharin juga menjawab dengan nada malas.
"Tidak baik melewatkan sarapan Nona. Buka pintu kamarmu." Alex berkata lembut.
__ADS_1
Azharin setengah terkejut. "Kau serius?" tanyanya dengan suara yang mulai jernih. Namun Azharin tidak memerlukan jawaban ketukan di pintu kamar hotel merupakan jawaban.
Azharin meletakan ponsel. Dia bergegas bangkit dan turun dari ranjang. Azharin menuju pintu dan membuka. Terlihat Alex memakai celana jeans dan baju kemeja longgar bermotif dengan dua kancing yang terbuka di atas. Dia terlihat sangat seksi di mata Azharin. Alex menenteng dua bungkusan.
"Wow, kau ingin memperlihatkan keseksian pria Spanyol?" gurau Azharin tak menutupi rasa kagum.
"Tebakan anda tepat Nona."
"Masuklah," kata Azharin. Azharin melangkah lebih dulu. Alex mengikuti dan meletakkan dua bungkusan di atas meja. Dia menunggu Azharin keluar dari kamar mandi.
Ponsel Azharin berdering, Alex bergerak ke ranjang Azharin. Alex ingin tahu siapa yang menelepon Azharin. Alex tersenyum kecil ketika nama Bernard tertera. Alex kembali duduk di sofa kamar itu.
Tak lama Azharin keluar dari kamar mandi. Wajahnya telah jauh lebih segar. Dia duduk menyusul Alex. Tanpa basa-basi dia membuka bungkusan sarapan paginya.
"Kau tidak perlu berbuat banyak begini. Kau juga tahu, hotel ini menyediakan sarapan pagi."
"Aku tak ingin kau bosan dengan rasa dari satu koki yang sama setiap paginya." Alex tersenyum.
"Wow, kau romantis. Apa kau merayuku?" ujar Azharin dengan raut wajah lucu. Alex tertawa.
"Apa kau yakin kau bisa dirayu Nona?" tanya Alex. Azharin menyodorkan makanan tersebut ke arah Alex. Dia juga mulai meminum jus yang dibawakan Alex. Azharin mulai menyuap sarapannya. Alex belum menyentuh makanan maupun minumannya. Alex memperhatikan Azharin dengan serius.
Beberapa menit kemudian, Azharin baru menyadari, jika Alex belum menyentuh makanan dan minumannya. Azharin menoleh dan menemukan sepasang mata cokelat itu menatap dalam.
Azharin tidak memungkiri pesona Alex. Dia cepat mengalihkan. Setengah bercanda dan dengan tangan melambai pelan, dia berkata, "Hello Tuan. Apa perutmu bisa kenyang dengan memandang wajah cantikku?"
Alex belum sempat menjawab. Terdengar dering telepon dari ponsel Azharin. Azharin ingin mengabaikan. Dia teringat, mana tahu abangnya yang menelepon. Dia bergerak ke ranjang. Alex hanya menatap tajam. Dia sudah bisa menebak siapa yang kembali menelepon Azharin setelah melihat Azharin hanya memandang layar ponsel.
"Perlu aku mengangkatnya?" canda Alex. Azharin mencebik dan kembali ke sofa dengan membawa serta ponsel. Dia meneruskan sarapan setelah mengatur ponsel ke mode silent.
Alex duduk menyamping di pinggir sofa dan menyilang satu kaki ke atas paha. Satu tangan menyandar ke kepala sofa. Satu tangan memegang sekaleng espresso dingin yang telah dibuka. Azharin menikmati wajah tampan itu sambil meneruskan sarapan.
Azharin berkata, "Apa kau tidak berniat memakan sarapanmu?"
"Ambillah jika kau mau." Alex berkata serius.
"Aku sudah makan sepotong roti tadi." Alex menyodorkan ke dekat Azharin.
Azharin tak menolak. Dia tersenyum manis pada Alex. Perasaan hatinya tidak pernah sangat senang begini. Azharin merasa hidup tanpa beban tanpa tekanan.
"Kau begitu bahagia hanya karena makanan?" tanya Alex menautkan alis.
"Kau bilang aku tidak pernah makan?" ujar Azharin salah tanggap. Dasar wanita, lain yang ditanya lain tanggapan.
"Bukan, kau sangat bahagia." Alex menjelaskan dengan cepat.
"Ya aku bahagia. Aku merasa dekatmu hidup begitu ringan. Tak ada tekanan tak ada beban." Azharin menatap hangat mata Alex.
"Kalau begitu hiduplah denganku!"
__ADS_1
***