Love Between Two Countries

Love Between Two Countries
Takdir


__ADS_3

Malam hari saat langit ditemani kilauan bintang, Azharin ditemani kilauan hangat tatapan biru mata Bernard. Mereka duduk di beranda depan.


"Paman, apakah kau tidak ingin membelikan sesuatu untukku di sini?" ujar Barbara ketika akan pergi untuk jalan-jalan malam seperti yang dijanjikan tadi siang. Barbara meminta uang jajan secara halus pada pamannya.


"Kau selalu memeras sekalipun ini di negara orang," ujar Bernard dengan gemas melihat sikap keponakan yang sudah dia pahami.


"Entah kapan aku ke sini kembali. Aku ingin membeli apapun yang aku anggap menarik." Bibir mungil Barbara memberikan alasan.


"Bagaimana jika itu tidak bisa kau beli?" tanya Azharin dengan gaya serius.


"Maka aku tidak akan membelinya." Barbara menjawab dengan santai.


Azharin menarik Barbara kepelukan dan menggelitik pinggang gadis kecil itu. "Sudah pandai menantangku gadis kecil."


Barbara tertawa dan meminta Azharin melepaskan. "Lepaskan aku Barbie. Nanti langit akan semakin gelap."


Azharin tak menahan lama. Mereka telah bersiap pergi karena papa mertuanya telah mengajak pergi. Papa mertua Azharin tak kala semangat dari Barbara.


"Cepat pulih, papa juga ingin melihat pemandangan di sini bersamamu," ujar Axton pada Azharin.


"Iya Pa, besok pagi kita pergi liburan." Azharin merasa sehat dan baik-baik saja sejak Bernard datang. Malam ini dia ingin ikut tetapi Bernard meminta dia di rumah saja dengan alasan tubuh Azharin masih perlu istirahat.


"Baik besok kita kelilingi Indonesia ini." Mata tua Axton berbinar bahagia.


"Jika Papa ingin mengelilingi negara Azharin, perusahaan aku siapa yang mengurusnya?" tanya Bernard.


"Kau punya banyak orang kepercayaan terutama sahabatmu, Gilberto."


"Nanti saja dibahas, jika tidak benar kata Barbara, langit akan semakin gelap dan adik bayi itu akan tertidur." Rodney protes merasa tak sabar.


"Ayo kita pergi." Armian mengajak dan melangkah ke mobil. Axton dan Emilia mengikuti setelah melambaikan tangan pada Azharin.


"Paman tidak lupa dengan permintaanku bukan?" ujar Barbara dengan muka tanpa dosa dan merentangkan satu telapak tangannya.


Bernard dan Azharin tersenyum. Bernard merogoh dompetnya dan memberikan apa yang diminta Barbara.


Kening Barbara mengernyit memandang kertas yang dia tak pahami. "Paman aku meminta uangmu bukan kertas-kertas merah yang tak aku pahami." Dia cemberut merasa dipermainkan pamannya.


Azharin langsung terbersit untuk mengolok Barbara, menyadari gadis kecil itu tidak mengetahui nilai mata uangnya. "Kamu di negaraku sayang. Uangmu walau nilainya tinggi, tidak berlaku di sini untuk membeli apa yang kau inginkan."


Glorya yang masih di dekat putrinya berkata, "Ayo kita pergi, nanti kamu ditinggal."


Barbara memberikan uang tersebut pada Glorya. Dia merasa tidak berguna memegangnya. Dia melirik cemberut pada pamannya.

__ADS_1


Di dalam mobil, Barbara masih tetap cemberut. Emilia bertanya pada cucunya. "Ada apa?"


Glorya menjelaskan dengan singkat dan membuat Emilia paham. Axton lalu menjelaskan pada Barbara.


Barbara paham tetapi dia tetap tidak mengerti dengan nilai lembaran yang diberikan pamannya.


"Tak perlu bingung, nanti katakan saja apa yang ingin kau beli. Biar mamamu yang membayarnya." Axton kembali menenangkan cucunya. Terlihat Barbara puas dengan ide kakeknya.


Armian mulai melaju ke pusat kota, sementara itu Azharin mendengarkan apa yang terjadi pada Bernard ketika dia ikut pulang bersama Armian.


Bernard telah bertekad mengatakan apapun resikonya. Dia tidak ingin Azharin merasa dibohongi.


"Jadi benar yang bersama Laurren itu bukan darah dagingmu?" tanya Azharin memastikan. Walau samar dia merasa kecewa dengan kebohongan dan kelakuan Bernard. Azharin masih bisa menepis perbuatan Bernard dengan dalih itu hanya masa lalu. Namun anak tidak akan pernah jadi masa lalu.


"Tidak, percayalah. Aku sudah membuktikan. Sebentar aku ambilkan suratnya." Bernard menuju kamar dan Azharin tetap duduk menunggu di beranda.


Tak lama Bernard kembali dan memberikan, "Ini lihatlah. Aku tidak berbohong padamu."


Azharin membuka amplop yang diberikan oleh Bernard. Dia mengeluarkan kertas yang berlipat dan membukanya. Azharin membaca baris demi baris dan memperhatikan angka-angka yang tercetak. Senyum simpul hadir di bibirnya dan membuat Bernard menarik napas lega.


"Baiklah. Tidak perlu kita permasalahkan masa lalumu yang tak meninggalkan jejak." Azharin menyindir dengan nada bercanda. Bernard memberikan senyum terpaksa dan Azharin akhirnya merayu suaminya agar tersenyum hangat.


"Aku janji, tidak akan lagi meninggalkan dirimu." Terlihat janji yang begitu kuat dari Bernard.


"Lalu di mana Laurren?" Tanya Azharin kemudian.


"Aku tak tahu. Alex yang mengurusnya." Bernard tak tahu pasti setelah dia kembali dan masalah Azharin pulang diam-diam ke negaranya menguras energi dan pikiran. Sehingga dia tidak pernah bertanya apapun lagi tentang Laurren.


Azharin menelisik mencari kebenaran atas ucapan Bernard. Bernard mengangguk yakin. "Tanyakan saja pada Alex, jika kau ingin tahu."


"Kau yakin tak ingin tahu?"


"Tidak." Jawaban Bernard sangat tegas.


"Apa kau juga tidak peduli lagi padanya?" tanya Azharin kembali memancing.


"Tidak. Selamanya aku tidak peduli."


"Sekalipun aku meminta Alex untuk melenyapkannya?" tanya Azharin tajam.


Ada rasa keterkejutan di wajah Bernard. Bagaimana bisa Azharin berkata tanpa perasaan dan penuh kesungguhan. "Kau benar akan meminta Alex melakukannya?"


"Kau berubah pikiran sayang?" tanya Azharin menantang Bernard.

__ADS_1


"Jangan salah paham. Aku tidak peduli padanya, hanya bagaimana anaknya?"


"Lalu bagaimana aku dan anakku yang di kubur di negara lain?" tanya Azharin dingin dan menusuk hati.


"Apa maksudmu?"


"Aku tahu, takdir memang akan seperti itu. Namun kau pikir penyebab keguguran karena berita yang Alex sampaikan tentangmu?"


"Lalu?"


"Entah dari mana dia mendapatkan jejak digitalku, dia terus meneror mengatakan banyak hal tentang dirimu dan dia. Bahkan tentang anaknya yang katanya adalah anak bersamamu."


Azharin terdiam sejenak mengatur napas yang mulai memburu. Bernard menunggu dengan rasa ingin tahu yang begitu kuat.


"Aku berusaha seakan semua baik-baik saja dan tak mengganggu pikiran, nyatanya aku salah. Aku selalu memikirkan akankah terus bersamamu atau berhenti saat itu juga. Lalu kejadian aku di selamatkan Alex membuat aku semakin berpikir keras, satu sisiku aku rindu padamu dan tetap akan memperjuangkan rumah tangga kita, tetapi satu sisi aku kecewa dan ingin mundur."


Azharin berkata tanpa ada emosi. Tidak sedih tidak juga marah. Datar tanpa ekspresi apapun.


Bernard menatap lama pada raut wajah Azharin. Rasa sakit istrinya dan rasa kasihan pada anak Laurren sempat membuat dia dilema.


Azharin melihat kebimbangan di mata Bernard. "Jika kau kasihan pada anak itu, kau bisa membiayai hidupnya diam-diam. Namun hatiku tidak akan bisa tenang, jika Laurren tidak mendapatkan ganjaran apapun."


"Kau tahu, Alex telah menjadikan dia wanita malam di negaranya."


"Aku tahu, dan dia masih terus membalaskan sakit hatinya padaku karenamu. Dia selalu membayang-bayangi hidupku secara halus."


Bernard masih tetap diam membisu dan Azharin kembali berkata, "Baiklah, atau kau bisa kembali pada Laurren." Azharin berkata tenang dan meninggalkan beranda.


Bernard terhenyak mendengar nada tenang Azharin. Dia masih mematung melihat Azharin menjauh.


"Tunggu," ujarnya ketika sadar sesuatu hal. Dia bergegas menuju kamar menyusul Azharin.


Azharin diam dan memilih berbaring. Azharin tak mengerti dengan pikiran Bernard. "Hmm, apa betul kata Laurren dia tak akan bisa melupakan wanita itu?"


"Baiklah, kau telepon Alex, atau aku yang menelepon Alex?"


"Aku tidak peduli lagi. Aku sudah cukup tahu isi hatimu. Kau tidak bisa melupakan wanita itu seperti katanya padaku!" Azharin berubah jutek.


"Kau salah paham, Ak__"


"Tidak usah kau bahas. Aku sudah tak berminat. Ohh ya, aku juga tidak peduli lagi dan berapa lama kau akan di sini?" nada Azharin semakin sinis.


Dia merasakan percikan api cemburu membakar dadanya perlahan. Hatinya sakit mengingat hubungan Laurren dan Bernard yang sudah jauh. Kebimbangan hati Bernard menimbulkan percikan api dan menyerang dalam hati Azharin.

__ADS_1


***


__ADS_2