Love Between Two Countries

Love Between Two Countries
Menutup Mata


__ADS_3

Di kantor, Bernard baru saja menyelesaikan rapat. Kini Gilberto telah duduk dihadapan Bernard. Gilberto telah menjelaskan semua yang dia ketahui.


"Sebentar, aku kabari Azharin."


"Hubungi."


"Hallo sayang," sapa Azharin ketika Bernard menghubungi.


"Barbie, kau sedang apa?"


"Rencana aku ingin memasak. Ada apa?"


"Kau tak perlu memasak saat ini. Aku pesankan apa yang kau inginkan."


"Baiklah. Apa kau tidak jadi pulang lebih awal?" tanya Azharin.


"Kau benar, maafkan aku. Ada sesuatu yang harus aku urus. Apa kau tidak masalah sendiri?"


"Aku tak ada masalah. Aku akan tidur saja setelah makan siang." Azharin terlihat biasa saja menanggapi Bernard membatalkan rencana.


Bernard sekali lagi meminta maaf pada Azharin.


"Ayo, kita pergi sekarang." Bernard berdiri dan Gilberto mengekor.


***


Ting ... tong, ting ... tong.


Bel apartemen berbunyi. Tak lama pintu apartemen terbuka. Terlihat pria bertubuh tegap memakai kemeja berwarna putih yang begitu pas melekat di tubuh dan dua kancing kemeja teratas terbuka, menambah keseksian si empunya.


Mulut wanita tersebut ternganga tak percaya. "Kau ... kau bagaimana bisa ke sini?" tanya Laurren gugup.


"Bukankah kata Azharin kau mencariku?" kata Bernard membuat Laurren tergagap.


"Apa kau tidak mempersilakan aku masuk, setelah sekian tahun kita tak bertemu?" ucap Bernard kembali. Pria tersebut berkata dengan tersenyum miring.


"Masuklah," ujar Laurren memberikan jalan.


"Duduklah," ujar Laurren kembali, mempersilakan Bernard.


Bernard duduk dengan menyandarkan punggung di sofa dan melipat satu kaki di atas pahanya.


"Apa kau terkejut aku datang tiba-tiba?" tanya Bernard penuh arti. Laurren hanya mengangguk.


"Aku mendengar kau telah putus dengan pacarmu. Kau juga mencari dan mengirimkan aku email. Apa itu benar?" kembali Bernard bertanya.


"Ya. Dia memutuskan aku." Laurren berkata jujur. Dia memang diputuskan.


"Aku ingin kita kembali bersama. Apa kau menerimaku?" tanya Bernard serius. Laurren tak percaya mendengar kata Bernard.


"Kau serius?"


"Aku serius."


"Aku mendengar kau akan menikah dengan perempuan negara lain." Laurren tak bisa menahan rasa ingin tahunya.


"Kau tahu?"


"Ya, aku mengetahui baru-baru ini," ujar Laurren.


"Aku memang akan menikah dengannya. Tiga hari lagi."

__ADS_1


"Lalu, apa maksudnya dengan perkataan tadi?" tanya Laurren kecewa.


"Aku menikahinya hanya untuk balas dendam. Dia pernah menolakku. Aku tidak bisa terima penolakan."


Laurren berpikir keras. Dia ingin kembali mendapatkan Bernard karena tidak ada lagi yang mensuport keuangannya saat ini. Namun mendengar Bernard tetap menikahi wanita itu, menimbulkan rasa tidak puas di hatinya. Dia tidak ingin berbagi dengan siapapun.


"Kau tidak setuju?" tanya Bernard melihat Keterdiaman Laurren. "Ingat, kau juga bersalah padaku. Kau tidak bisa menuntut banyak padaku saat ini." Bernard mengingatkan dengan tajam.


"Lalu untuk apa kau minta aku bersamamu?"


"Aku ingin menyakiti hatinya ketika telah menikah. Aku ingin kau justru jadi simpananku." Bernard menatap tajam Laurren. "Tentunya kau tahu apa kompensasi yang aku berikan. Bukankah itu yang kau butuhkan?"


Laurren telah mengerti apa tujuan Bernard. Dia merasa kecewa dengan kedatangan Bernard. Namun, dia tak punya pilihan lain. "Baiklah, aku terima."


"Tunggu kabar dariku, sebelum itu kau tidak boleh mengacaukan rencanaku!" Bernard memperingati dengan tegas.


"Ya."


"Berapa yang kau butuhkan?" tanya Bernard semakin membuat Laurren memendam kecewa. Pasalnya, Bernard berkata dengan nada sinis.


Laurren terpaksa menyebutkan nominal yang dia butuhkan. Gaya hidup menjerat dia dalam hutang yang besar, dan dia harus bisa mencicil hutangnya setiap bulan.


"Ok, aku akan transfer, tetapi kau tidak akan bisa mendapatkan setiap saat. Jadi kau bisa mengaturnya."


Tanpa menunggu jawaban Laurren, Bernard meninggalkan apartemen Laurren.


Di mobil Gilberto telah menanti. Dia dipaksa Bernard untuk menjadi supir pribadi. "Berhasil?" tanya Gilberto. Mereka telah meluncur jauh meninggalkan apartemen.


"Sangat mudah menaklukkan dirinya. Dia masih wanita yang sama. Hanya butuh kesenangan tanpa berpikir jauh." Bernard melirik Gilberto.


"Mengapa kau melakukan cara ini? Kau bahkan bisa melakukan cara kejam." Gilberto tak mengerti cara Bernard.


"Tak ada waktu, cara ini lebih mudah untuk menghambat langkahnya. Pernikahanku hanya tinggal tiga hari. Urusan kantorku banyak. Aku tidak punya banyak cara untuk sekarang."


"Ya, tapi aku takut melihat sifat keras kepalanya. Bagaimana jika dia membatalkan pernikahan tiba-tiba."


"Apa mungkin dia akan seperti itu. Dia sudah tidak bekerja lagi di sana." Gilberto mengalihkan pandangan ke Bernard sesaat lalu kembali fokus ke jalanan.


"Mungkin bagi dia."


"Kau begitu yakin?"


'Dia bahkan bisa meninggalkan pekerjaan dan negaranya tanpa mencintaiku."


"Apa kau kata?" Gilberto tetap fokus pada jalanan.


"Kau tak salah dengar, aku tak perlu mengatakan lagi." Bernard menjawab dengan wajah meringis. Gilberto jelas tidak melihat.


Bernard menceritakan bagaimana cara Azharin bersamanya. Dia tahu Azharin tidak mencintainya. Bernard juga tidak mengerti bagaimana bisa Azharin menerima untuk menikah dan ikut ke negaranya. Bernard sering tak habis pikir. Hasrat ingin memiliki Azharin lebih besar. Bernard menutup mata atas semuanya.


Gilberto mendengar lalu berkomentar, "Kau tahu. Lalu kenapa kau tetap menikah dengannya."


"Aku mencintainya," jawab Bernard pasti.


"Hanya karena itu?"


"Apa aku punya alasan lain? Setelah semua yang kulakukan."


"Kau yang lebih tahu. Aku sudah tak mengerti dirimu sejak kau mengenal dia."


"Bisa jadi." Tak ada bantahan keluar dari bibir Bernard.

__ADS_1


Tak ada pembahasan apapun lagi. Gilberto terus menyetir. Dia kembali ke kantor dan terpaksa meninggalkan Azharin sampai larut malam.


Bernard bahkan tidak sempat mengabari selain tadi siang saja. Urusan kantor begitu banyak menumpuk. Gilberto juga kembali ke kantor setelah urusan pribadi Bernard selesai.


Jika Bernard larut dalam kesibukan bisnis, Azharin fokus mengistirahatkan badan. Fisiknya terasa sedikit lelah karena pikiran Azharin sedikit terbagi. Akan tetapi, Azharin berjanji untuk menata baik-baik hidupnya. Dia yakin cepat atau lambat dia akan bisa mencintai Bernard setulus hati seperti dulu dia mencintai Hendri. Dia bisa melihat Bernard begitu menginginkan dirinya. Azharin berharap, jika cinta Bernard bukan berupa hasrat semata.


Ketika waktu menunjukkan pukul sembilan malam, Bernard tersadar dari pembicaraan santai dengan rekan bisnisnya. Itupun setelah Gilberto menghubungi dirinya. Bernard melirik jam tangannya dan dia terpaksa pamit pada rekan bisnisnya.


Bernard telah berjanji akan membahagiakan Azharin. Namun malam ini adalah penyesalan pertamanya karena mengabaikan Azharin. Dia menyetir dan bergegas pulang.


Tanpa membunyikan bel, Bernard menekan password dan menuju ke kamar utama. Dia membuka pintu kamar tersebut dan melihat Azharin bergelung dalam selimut.


Perlahan dia mendekati Azharin dan berjongkok di tepi tempat tidur. Tak berpuas hati, dia duduk di tepi ranjang. Bernard mengusik tidur Azharin.


"Barbie," panggil Bernard lembut. Tidak hanya memanggil lembut, dia juga mengecup dahi Azharin penuh perasaan. Azharin membuka mata perlahan, dan memberikan senyum manis.


"Kau lama sekali," kata Azharin terus terang. Bernard mengusap rambut Azharin.


"Maafkan aku."


"Tak apa, aku paham. Kau memang pria sibuk." Azharin berkata pelan, tanpa ada niat memojokkan.


"Apa kau masih mengantuk?" tanya Bernard masih mengusap-usap rambut Azharin.


"Tidak, aku banyak tidur dari siang." Azharin menyibakkan selimutnya dan menatap dalam mata biru Bernard. Mencari cinta Bernard di dalamnya.


"Kau sudah makan malam Barbie?" tanya Bernard meraih Azharin ke dalam pelukannya.


"Belum. Aku lebih memilih tidur menunggumu."


"Ayo kita makan, aku masakan sesuatu."


Azharin mengangguk senang. Bernard mengganti baju tidur. Azharin tetap di kamar, pandangan dia alihkan ke arah jendela kamar. Bernard menggoda Azharin.


"Kau tidak ingin menikmati pemandangan indah Barbie ?"


"Tidak. Aku tidak mau khilaf dan membuat Bernard junior tidak pada waktunya," ujar Azharin serius membuat Bernard tergelak dengan sikap kaku Azharin.


"Kau memang menarik Barbie. Jika ini Laurren, dia pasti dengan suka rela memberikan apa yang aku inginkan."


Bernard tak butuh waktu lama untuk menyalin pakaian. "Ayo kita ke dapur," ujar Bernard.


Bernard membuatkan Azharin makanan berbahan ikan dan kentang. Ikan yang telah dihaluskan itu digoreng dan diberi saus. Bernard mengerjakan dengan rapi dan cekatan. Tidak ada dapur berantakan karena Bernard memasak. Azharin memperhatikan saja sesuai dengan keinginan Bernard.


Bernard mengatakan menebus janji yang terabaikan tadi siang. Azharin pada dasarnya tidak mempermasalahkan, namun Bernard tetap ingin menebusnya. Akhirnya di dapur ini Azharin hanya duduk manis sambil menikmati perhatian Bernard.


Bernard menemani Azharin makan dengan memakan makanannya dalam porsi kecil. Azharin sempat protes, mengapa Bernard hanya makan sedikit. Bernard mengatakan telah makan dengan rekan bisnisnya. Azharin merasa sentuhan tak kasat mata di hatinya, melihat sikap Bernard yang sangat menghargai dirinya.


"Makasih ya sayang." Ada rasa bersalah hadir di hati Azharin.


Selesai makan, Azharin juga dilarang oleh Bernard mengemaskan sisa makanan. Bernard dengan gesit membereskan dan mengajak Azharin menonton.


Di depan televisi, dengan merangkul pundak Azharin, Bernard berkata, "Barbie, aku perlu berbicara."


***


Ada apa sayang? tanya Azharin penuh kemesraan.


Tolong ingatkan Readers tersayang kita untuk memberikan kita vote, atau setidaknya komen dan like.


Kau benar sayang, takutnya penulis kita membawa cerita kita tidur setiap harinya dan tidak melanjutkan menulis kisah cinta kita yang penuh lika-liku ini. Padahal aku sudah jauh-jauh ke negaramu sayang. 😍

__ADS_1


😂😂😘😍🙏🙏🙏


__ADS_2