Love Between Two Countries

Love Between Two Countries
Hari ke Lima


__ADS_3

Hari ke lima tanpa petunjuk di mana Azharin. Sonia dan Azharin yang hampir sekali sehari berkabar walau hanya pesan teks, kini tak ada jawaban dari Azharin. Sonia lalu mengatakan pada Armian. Sonia mulanya ingin bertanya langsung pada Bernard, namun ada rasa sungkan untuk berkomunikasi langsung.


Armian akhirnya bertanya bagaimana keadaan Azharin Bernard tak ingin berbohong. Dia mengatakan apa yang terjadi dan minta maaf telah lalai menjaga Azharin. Kemarahan Armian tak bisa ditepis oleh Bernard. Armian marah karena terkejut dan panik.


"Ingin aku menyusul mencari adikku," ujar Armian seperti mengadu pada istrinya. Armian gamang membayangkan bagaimana keadaan adiknya.


"Pergilah. Bicarakan dengan Bernard jika dengan ke sana bisa mengurangi kerisauanmu."


Armian memandang mata istrinya, mengucapkan terima kasih dari lubuk hatinya. Sonia sempurna di mata Armian. Dia istri yang pengertian. Ibu yang penuh perhatian pada anak dan suami di tengah kariernya. Sonia kakak yang baik bagi Azharin. Dia juga anak yang berbakti pada ibu mertua semasa ibu Armian masih ada.


"Iya, pergilah." Sonia kembali meyakinkan ketika tatapan mata Armian terlihat bimbang.


"Lalu, Jafran bagaimana?" tanya Armian memandang balitanya yang tertidur nyenyak.


"Ada baby sitter. Aku bisa memantaunya, tenang saja." Sonia mengusap punggung suaminya.


"Baiklah, aku coba ajukan izin pada komandan. Semoga bisa."


"Bisa itu, sayang belum ada mengajukan cuti bukan?"


"Iya, tapi sama tahulah. Harus standby, bisa juga paling dua hari."


"Ceritakan saja. Selama ini kamu tidak pernah mengorbankan waktu untuk hal pribadi. Jika tidak bisa, aku tidak keberatan kau mundur dari pekerjaanmu, sayang."


Armian terkejut. "Sayang marah?"


"Loh kok marah?" Sonia memberangus lucu.


"Kenapa meminta mundur." Armian berkata sambil mencubit pipi istrinya.


"Ohh itu. Aku benar tidak marah sayang. Aku punya alasan," jawab Sonia setelah mengerti. Dia ingin melancarkan jurus ketika merasa momennya tepat untuk berbicara.


"Apa?"


"Aku tahu, dengan pergi ke sana belum tentu banyak memberikan arti, belum tentu Azharin ditemukan. Namun setidaknya, sayang ada di sana. Berusaha untuk dia."


"Ya, tapi jarak ke sana bukan dekat. Itu saja sudah makan waktu. Jika aku bepergian selama itu, aku pasti kena panggilan."


"Makanya, berhenti saja dari pekerjaan ini." Tak ada terdengar nada mendesak.


"Lalu aku kerja apa?" mimik wajah Armian terlihat serius.


"Cari peluang lain saja." Sonia dengan tenang menanggapi.


Armian merasa ada sesuatu yang tersimpan selama ini. "Sayang, apa kau selama ini tertekan dengan pekerjaanku?"


Armian melihat keraguan di mata istrinya. "Jujur saja aku janji tidak akan marah Aku janji kita akan bahas baik-baik."

__ADS_1


Sonia sebenarnya memang tidak tenang dengan pekerjaan suaminya. Dia merasa resiko terlalu besar. Dia menyadarinya setiap pekerjaan pasti ada resiko. Namun dia tidak nyaman. Ini kesempatan dia berbicara.


"Aku bukan tertekan, tetapi aku selalu ketakutan jika kau sedang bertugas. Meskipun cuma sekedar sedang piket malam, aku merasa takut kau tiba-tiba ditembak orang tak dikenal atau kau dianiaya atau apalah yang bisa membahayakan ketika banyak orang telah tertidur lelap. Aku ingin malam hari kau ada di rumah."


Armian menarik napas. Sonia mengira Armian kesal. Dia cepat menimpali. "Maafkan aku, jika aku egois."


"Aku tidak marah sayang. Aku memahami kecemasanmu. Aku hanya memikirkan jika aku berhenti, bagaimana aku membiayai hidup kita."


Mendengar ucapan Armian, ada secercah harapan bagi Sonia untuk membahas lebih lanjut. "Aku sudah memikirkan jauh hari jika kau berhenti."


"Ohh ya? Apa itu?"


"Bagaimana kalau kau buka usaha sendiri saja."


"Usaha sendiri?"


"Iya," jawab Sonia yakin.


"Usaha apa?"


"Kau bisa jadi distributor dari suatu produk. Syukur-syukur kita ada rezeki di sini dan bisa berkembang jadi perusahaan. Namun, tak usahlah muluk-muluk. Cukup saja kita jalani saja. Kau bisa punya banyak waktu malam untuk kami berdua."


"Kau kesepian?"


"Ya, sejak tak ada mama, aku merasa sepi di rumah ini hanya berdua dengan sikecil. Aku sering bercerita isi hatiku pada mama. Sama seperti Azharin, mama meminta untuk berbicara padamu. Namun aku tetap takut menyampaikan. Aku takut kau tidak terima dan akhirnya kau tidak enak hati padaku."


"Ya, pastinya."


"Lalu, apa kita punya modal untuk itu? Aku tak punya simpanan uang sebanyak itu." Armian tersenyum tipis.


Berbeda dengan istrinya, Sonia memberikan senyum lebar. "Aku punya."


"Ohh ya?" Armian mengerutkan kening. Dia memang tidak pernah bertanya tentang keuangan istrinya. Bahkan tentang gaji istrinya, dia tidak pernah menganggu sama sekali. Baginya, uang kerja istrinya adalah hak istrinya.


"Iya, aku punya. Keberanian mengatakan jauh hari aku tak punya. Azharin padahal juga telah memintaku untuk mengatakan dan membahas denganmu. Namun aku takut kau salah paham. Di mataku, kau begitu menikmati dan mencintai pekerjaanmu."


Armian menyentil dahi istrinya. "Kau salah. Aku lebih mencintaimu dan anak kita. Aku kerja demi kalian. Dulu aku kerja demi kebahagiaan Azharin. Kini untukmu dan anak kita."


"Terima kasih sayang. Aku beruntung memilikimu." Sonia memeluk Armian.


"Akulah yang lebih beruntung memilikimu."


"Jika begitu, pergilah dulu ke dekat Bernard. Aku sangat risau membayangkan Azharin. Aku juga merasa bersalah mengambil momen kesusahan ini untuk berbicara padamu. Aku berdoa semoga dia cepat ditemukan dan baik-baik saja." Air wajah Sonia terlihat keruh. Pikiran seketika kembali melayang teringat Azharin.


"Terima kasih sayang. Aku bahagia kau sangat sayang pada adikku. Jangan merasa bersalah. Semoga dia baik-baik dan ada hikmahnya dibalik ini semua."


"Baiklah, aku akan pikirkan dan akan kita rencanakan setelah pulang. Besok aku akan mengurus paspor dan visa."

__ADS_1


"Datang padaku saja sayang. Kau lupa aku di mana." Sonia cemberut.


"Hahaha, maaf sayang. Rasa panik membuat aku tak ingat kau mengumpulkan rupiah di sana." Armian mengacak-acak rambut istrinya.


"Bukan panik tepatnya, tapi kau lupa karena hanya memikirkan pekerjaanmu selama ini."


"Segitukah aku sayang?"


"Ya. Semenjak ibu meninggal kau semakin sibuk dan seakan tak banyak waktu untuk kami berdua."


"Maafkan aku kalau begitu. Baiklah aku rasa kita jalani saja idemu. Jadi kau tetap semangat ketika aku pergi."


"Ya, kau benar. Kau janji sayang?" tanya Sonia memastikan. Dia tak menyangka akan semudah ini meminta pada suaminya. Azharin benar, Armian lelaki lembut hatinya


"Iya, janji. Namun kau sudah pikir panjangkan? Buka usaha ada resiko lain. Aku tak ingin kau marah-marah jika aku tak bisa memberikan uang bulanan?"


"Memangnya aku pernah meminta? Jika kau tak berikan aku hanya diam dan memakai uangku." Sonia mencubit perut Armian. Armian meringis.


Armian memang pernah beberapa kali tak memberikan uang bulanannya sepeserpun, ketika ibunya sakit dan membutuhkan perawatan dan dana lebih. Armian tak mengatakan apapun pada Sonia. Dia yakin Sonia bisa mengatasi biaya rumah. Armian tidak lupa itu.


"Maafkan aku sekali lagi, aku tidak berunding padamu kala itu. Aku beranggapan kau juga sama dengan Azharin, mandiri."


"Tak apa. Aku tak pernah mempersoalkan."


"Kalau aku punya wanita lain, apa kau juga tak mempersoalkan?" tanya Armian


"Tidak. Jika itu keinginanmu aku tak akan pernah menang. Maka pengadilan jalan terbaik." Enteng sekali Sonia mengucapkan. Dalam hati dia banyak berdoa, jangan sampai terjadi.


"Amit-amit ah sayang. Hanya kau untukku."


"Ala gombal saja."


"Aku serius sayang. Aku tak punya wanita lain yang aku cintai, selain mendiang mama dan Azharin."


"Oh ya? Apa kau tak pernah punya kekasih dulunya?" Sonia tertarik dengan topik ini. Dia telah lama ingin tahu.


"Jangankan punya kekasih sayang. Punya yang mau aku incar saja tak ada. Sampai aku bertemu dirimu."


"Benarkah?" Sonia hampir tak bisa percaya. Lelaki seperti Armian bisa tak pernah punya kekasih.


"Aku sibuk memikirkan adikku. Aku sibuk mencari ibuku. Ketika berhasil aku temui, aku sibuk mengurus beliau. lalu pekerjaan aku selalu banyak."


"Wow, aku benar beruntung."


"Iya, ayo tidur. Besok, aku akan mencoba membicarakan dengan atasan."


"Ya sayang. Terima kasih."

__ADS_1


***


__ADS_2