Love Between Two Countries

Love Between Two Countries
Kehilangan Rasional


__ADS_3

Sebuah kebetulan bisa merupakan rencana Tuhan, atau kita yang membuatnya seakan kebetulan.


_________


Azharin kini telah tiga hari di negara Spanyol. Alex meluangkan waktu tiga hari ini. Malamnya Azharin selalu diajak nongkrong di bar mewah Alex.


Azharin menikmati liburannya. Azharin duduk di sebuah sofa. Dia duduk sendiri dan hanya ditemani minuman tak beralkohol dan cemilannya. Azharin tidak suka minum yang beralkohol. Dia tidak terbiasa walau sering pergi ke bar bersama temannya ketika di Indonesia.


Malam ini Alex sedang kedatangan tamu. Alex pamit sebentar dan meninggalkan Azharin. Alex bergabung dengan tamunya di meja lain. Azharin dengan santai menikmati suasana. Tenaga dan pikiran yang selalu terkuras untuk bekerja, dia habiskan untuk merilekskan pikirannya.


"Boleh bergabung?" tanya seseorang dalam bahasa Spanyol.


"Maaf saya tidak mengerti bahasa Spanyol." Azharin berkata dalam bahasa inggris.


"Ohh, baik. Maafkan saya. Boleh bergabung?" tanyanya dalam bahasa inggris setelah meminta maaf.


"Silahkan," ujar Azharin datar.


Lelaki itu sejak dari tadi telah memperhatikan Azharin. Dia membawa segelas minuman ketika mendekati Azharin. Azharin memprediksi itu minuman keras. Bau alkohol tercium ketika dia duduk di samping Azharin.


Dia berbasa-basi menanyakan dari negara mana Azharin, dan sudah berapa lama. Azharin menjawab dengan jujur dan dengan nada selalu datar.


Pria itu juga menawarkan gelas berisi minuman kepada Azharin. Azharin menolak halus, karena dia tahu itu minuman keras. Walau dia tidak tahu berapa persen kadar alkohol yang terkandung.


Azharin menegaskan ketika pria tersebut makin tidak sopan. Dia memang hanya memegang bahu Azharin dengan remasan lembut. Azharin tidak suka diperlakukan demikian. Dia menepis kasar tangan pria tersebut.


Pria tersebut semakin agresif. Azharin mulai mengingatkan dengan keras. "Saya memang bertamu ke negara anda. Tetapi saya tidak akan tinggal diam jika anda memaksanya!"


Suara Azharin terdengar dingin di tengah hiruk-pikuk dan dentuman musik. Pria tersebut cukup jelas mendengar dan dia tertawa terbahak. Azharin tidak berniat meninggalkan tempat duduknya.


Pria tersebut berniat menggapai paha Azharin. Azharin memakai celana jeans dan hanya memakai baju kaos yang dilapisi jaket kulit. Azharin mencengkram pergelangan tangan lelaki itu. Sekali lagi dia memperingatkan, "Jangan menyesal Tuan. Anda melampaui batasan anda!"


Azharin berdiri dan hendak menghindari keributan. Lelaki tersebut tidak mau melepaskan Azharin begitu saja. Dia menangkap pergelangan tangan Azharin dan menarik dengan kuat. Azharin yang lengah terhempas ke dalam pelukan pria tersebut.


Dengan cepat dia bangkit. Emosi sudah di puncak kepala. Dengan gerakan cepat dia menampar pria tersebut. Tak berpuas hati, Azharin mengambil gelas minuman pria tersebut dan menuangkan dengan cepat ke kepala Pria tersebut.


Pria tersebut tidak terima. Dia ikut bangkit dan mencengkram kedua bahu Azharin. Azharin telah siaga. Azharin menghentakkan tangan yang memegangnya dan melayangkan tinju mentahnya.

__ADS_1


Pria itu cukup terkejut dan dia jatuh terjengkang ketika Azharin menambahkan tendangan mautnya. Seketika sekeliling Azharin menjadi ramai.


Merasa terganggu, Alex dan tamunya juga menoleh dan Alex meminta izin pada tamunya melihat apa yang terjadi. Posisi lantai yang lebih tinggi dari pada tempat Azharin berdiri, membuat kedua tamu Alex sempat menautkan alis. Samar-samar melihat Azharin bersiap akan menendang.


Pria tersebut memang hendak bangkit, tetapi beberapa orang telah menahannya. Mereka bodyguard keamanan bar tersebut. Mereka tetap membela Azharin, walau belum tahu apa yang terjadi.


"Ada apa?" tanya Alex pada Azharin.


"Dia memaksaku minum dan ketika aku tolak. Dia berusaha banyak menyentuh aku!" ujar Azharin dengan nada berapi-api.


Alex tidak membutuhkan waktu lama untuk mengusut. Dia lebih mempercayai Azharin.


"Usir dia keluar dan jangan pernah dia menginjakkan kaki di sini!" perintah Alex pada para bodyguard yang memegang pria tersebut.


"Kau tak apa?" Alex memperhatikan Azharin.


"Tak apa. Maaf telah membuat keributan di bar-mu," ujar Azharin tak enak hati.


"No problem."


"Pergi bersamaku. Nanti aku antar." Alex tak ingin membiarkan Azharin pulang dengan taksi. Dia juga tidak ingin Azharin pulang dengan supirnya.


Alex menarik lembut tangan Azharin tanpa sempat Azharin tolak. Alex membawa Azharin menemui tamunya.


"Maaf, kenalkan dia tamuku juga teman baikku dari Indonesia. Aku merasa tidak bisa meninggalkan dia kembali sendiri di mejanya. Seseorang telah berniat lebih ingin memiliki kecantikan Nona ini." Alex memperkenalkan Azharin pada dua tamunya.


Azharin sudah tidak begitu menyimak perkataan Alex. Matanya terfokus tajam pada satu tamu Alex yang dikenalnya setahun lalu. Jika Azharin sangat terkejut tidak dengan Bernard. Bernard tersenyum datar.


Bernard berdiri, karena Azharin masih tetap berdiri melongo. Dengan senyum dingin, Bernard mengulurkan tangannya. "Bernard."


"Azharin." Suara setengah terbodoh keluar dari bibir indahnya.


Bernard memberi sedikit tekanan ketika bersalaman dengan Azharin. Dia memendam banyak emosi berbeda, ketika bertemu dengan Azharin.


"Gilberto." Jabat tangan Gilberto jauh lebih hangat dan bersahabat


"Azharin."

__ADS_1


Bernard telah kembali duduk begitu juga dengan Gilberto. Akan tetapi tidak halnya dengan Azharin. Gadis itu masih berdiri karena nervous.


"Nona Cantik, duduklah." Alex kembali menarik lembut Azharin dan dia lebih suka memanggil Azharin dengan nona cantik.


Alex dan Bernard kembali melanjutkan berbicara bisnis. Bernard telah dari siang hendak menjumpai Alex, namun Alex melalui tangan kanannya menunda. Dia menemani Azharin. Ketika mereka terlihat serius berbicara bisnis, Azharin hanya bersikap acuh tak acuh setelah pulih dari rasa terkejutnya.


Gilberto tersenyum kecil setelah melihat secara langsung gadis yang bernama Azharin. Gilberto yakin, Bernard akan mulai terkena tekanan darah tinggi. Gilberto menyukai sikap gadis itu. Gadis yang dengan santainya menolak temannya. Lalu kini dia duduk di depan Bernard tanpa peduli sedikit saja. Gilberto bisa melihat Bernard berulang kali mencuri pandangan. Gilberto juga yakin, Alex mengetahuinya. Bernard memang kehilangan rasional berhadapan dengan gadis itu.


Alex menawarkan Bernard untuk duduk santai sambil sedikit minum setelah mereka mencapai kesepakatan. Bernard tidak menolak. Dia ingin tahu, apa hubungan Azharin dengan Alex. Apa benar hanya tamu dan teman saja.


Karena hanya acara santai, Bernard tidak tahan untuk tidak bertanya. Dia tidak peduli dianggap tak sopan oleh Alex. Logika Bernard terbungkus rasa cemburu. "Apa anda sudah lama mengenal nona ini?"


Azharin yang tadinya acuh, menoleh secara spontan ketika dirinya dijadikan topik pembicaraan.


Alex tersenyum penuh pengertian. "Saya telah mengenalnya dua tahun lebih. Ketika saya berkunjung ke Indonesia."


"****, berarti aku kalah dua hal darinya," batin Bernard sedikit terpukul. Tadinya dia memperkirakan Alex dikenal Azharin melalui media sosial lebih dulu, sama hal seperti dirinya.


"Ohhh." Bernard hanya bergumam singkat. Namun dia mengetatkan rahang menahan cemburunya.


"Berapa lama rencana anda berada di sini Nona Azharin?" tanya Bernard mengalihkan pada Azharin. Nadanya terdengar seperti cemoohan ketika menyebutkan kata nona.


"Belum tahu Tuan." Azharin membalas Bernard dengan mengerling dan tersenyum manis. Bernard dan Gilberto menyadari Azharin berpura ramah. Bernard mengeram dalam hati dan Gilberto ingin terbahak.


"Aku rasa kau harus mengorbankan banyak waktu berhargamu, Bernard." Batin Gilberto penuh kesenangan. Gilberto tergelitik ingin tahu siapa Azharin.


"Apa anda bersedia diundang ke negara kami Nona Azharin?" tanya Gilberto. Gilberto ingin bertanya apa pekerjaan gadis tersebut. Gilberto tahu itu tidak etis untuk dipertanyakan awal perjumpaan dengan orang baru. Maka, Gilberto menanyakan kesediaan Azharin.


"Maaf saya bukan tamu penting. Saya hanya pekerja kantoran biasa di negara saya." Azharin menolak secara halus.


"Hahaha. Anda bisa saja Nona. Apa anda keberatan mengatakan anda sebagai pegawai kantoran apa?" Gilberto merasa mendapatkan momen untuk bertanya setelah mendengar jawaban Azharin.


"Tentu tidak Tuan. Pekerjaan saya bukan memalukan." Mendengar ucapan Azharin, mau tidak mau membuat tiga lelaki tersebut tersenyum. "Saya bekerja di salah satu kantor imigrasi."


"Wow, terdengar indah," ujar Gilberto. Azharin tidak terlalu memikirkan ke mana maksud Gilberto. Namun, Bernard cukup memahami makna kalimat temannya.


***

__ADS_1


__ADS_2