Love Between Two Countries

Love Between Two Countries
Terbukalah Padaku


__ADS_3

"Kau menyesal pergi tanpa pamit? Kau menangis banyak sejak meninggalkan negaramu," tanya Bernard setelah Azharin selesai menceritakan bagaimana dia tahu ibunya.


"Aku tidak tahu. Entah menyesal ... merasa bersalah ... atau kecewa dan sedih oleh mama."


"Jadi setelah itu kau tidak lagi mencari tahu apapun?" tanya Bernard memastikan sesuatu.


"Tidak. Aku sudah pasrah bahwa aku tidak disayang ayah-ibuku. Semua sudah tak harus aku permasalahkan ketika tamat kuliah. Ya, aku mengira begitu, tapi tetap aku tak bisa menerima." Bernard menerima saja perkataan Azharin, meskipun dia tahu alasan ibu Azharin tidak mau bertemu.


Budaya berbeda membuat Bernard menerima perkataan Azharin dengan logika bukan perasaan. Di negara Bernard juga banyak yang orang tuanya tidak dekat pada anak atau bahkan tidak menginginkan anak. Jika harus ada anak, ada kalanya karena faktor lain, seperti salah satunya memerlukan pewaris saja.


Maafkan aku Barbie, aku memilih menutupi keadaan ibumu seperti yang mereka inginkan. Sekali ini aku ingin egois demi kebahagiaan kau dan aku. Aku yang akan menebus hari-hari sakitmu. Aku yang akan memberikan kau banyak kebahagiaan. Jadi jika kau tahu suatu hari, aku juga telah mengetahui keberadaan dan keadaan ibumu, semoga saat itu tiba kau bisa memaafkan aku.


"Apa kau ingin terus menangis?"


"Tidak. Hanya untuk hari ini saja."


"Baiklah. Hari ini puaskan hatimu. Aku minta setelah itu kau lupakan sedihmu. Mari kita bahagia."


"Ya. Aku janji."


"Aku telah memberitahu mama, kita telah di sini. Aku meminta mama dan yang lain datang sehari mau menikah. Jadi kau bisa istirahat penuh." Bernard menjelaskan bahwa dia mengatakan telah sampai, tetapi meminta waktu untuk Azharin beristirahat.


"Terima kasih sekali lagi sayang. Terima kasih untuk semuanya. Hari yang kau beri selalu indah."


"Benarkah?"


"Ya."


"Aku berdoa selalu bisa begitu. Apapun yang terjadi terbukalah padaku. Agar rumah tangga kita tidak tergoncang." Bernard meminta terus terang pada Azharin.


"Baik, akan aku ingat sayang."


"Aku belum menyediakan bahan pokok makananmu. Apakah kau bisa bertahan dengan apa yang aku makan?" ujar Bernard menarik perhatian Azharin agar tidak terlalu memikirkan apa yang telah terjadi.


"Aku bisa. Aku termasuk hobi makan. Aku bukan tipe penolak makanan. Meskipun ... ya aku sedikit tidak lengkap jika tidak menemukan nasi."


"Jika kau memutuskan tidak menangisi keadaan lagi, kita bisa pergi berbelanja malam nanti."


"Ide bagus. Aku rasa aku sudah cukup banyak tidur di pesawat. Aku juga sudah menumpahkan semuanya di dada dan lenganmu yang menarik ini."


"Wow, apa kau memancingku Barbie?"


"Ya, aku ingin kau ajak keluar menghirup udara di sini, sekarang juga."


"Aku bersedia. Ayo kita pergi." Bernard menjentikkan jari ke udara. Dia menjadi bersemangat.


"Aku akan menyegarkan diri sebentar dengan mandi."


"Aku bisa menemani Barbie?"


"Simpan romantisme sampai kita menikah." Azharin mengingatkan dengan tajam. Bernard tergelak.


"Aku bercanda Barbie. Aku tunggu di ruang tamu."


Tak sampai setengah jam, Azharin telah menyusul Bernard ke ruang tamu. Azharin tampil natural. Penampilan yang paling di sukai Bernard. Bernard tidak menyukai wanita pesolek. Apalagi yang memakai lipstik merah menyala. Bernard merentangkan tangan, menyambut dengan pelukan. Azharin tak menolak.


"Kau cantik sekali Barbie."

__ADS_1


"Pastinya begitu."


"Ayo, kita ke center Manchester. Di sana kau bisa berbelanja dan memilih makanan yang kau suka."


"Kau tipe romantis."


"Karena aku harus mengimbangi sifat kakumu," ujar Bernard dan Azharin mencubit kecil pinggang Bernard.


***


"Kau di mana?" Gilberto menghubungi Bernard. Dia telah berulang kali menekan bel apartemen.


"Aku masih menghibur wanita keras kepala ini. Awww." Terdengar Bernard berteriak kecil. Gilberto sudah bisa menebak apa yang dilakukan Azharin.


"Aku berencana mengambil berkas yang diperlukan."


Bernard tak lupa hanya saja Azharin masih menikmati suasana di luar. Bernard juga enggan membawa Azharin pulang. "Kau masuk saja. Kau bisa ambil di atas meja kerjaku."


"Baiklah."


Bernard tidak menyadari sepasang mata telah mengawasi mereka berdua.


***


Pagi Azharin telah bangun. Dia telah membuat sarapan. Segelas kopi dan sepotong roti yang mereka beli di toko roti. Azharin membuat sepiring nasi goreng dicampur telur orak-arik.


"Sepertinya sarapanmu terlihat menggiurkan Barbie," ujar Bernard.


"Kau mau coba sayang?" Azharin tidak sekadar berbasa-basi. Dia menyuapkan Bernard. Bernard menerimanya. Telah lima suapan diterima Bernard.


"Kamu ternyata tidak hanya bisa membuat cake. Memasak juga ternyata pintar." Bernard berkata sambil menyeruput kopinya.


"Apa kau akan seharian di kantor?" tanya Azharin tidak menghiraukan pujian Bernard.


"Kau merindukanku?"


"Tidak juga. Aku hanya belum nyaman kau tinggal terlalu lama."


"Aku tidak lama Barbie. Ada rapat yang tak bisa aku tunda."


"It's ok honey, no problem. I'm waiting for you."


"Thanks Barbie. I love you so much. I miss you." Bernard mencium punggung tangan Azharin.


"Love you too. Miss you too."


Azharin mengantar Bernard sampai ke depan pintu. Lalu dia kembali ke meja makan dan membereskan sisa sarapan. Azharin tidak perlu terlalu merapikan apartemen dan isi kulkas. Semua telah tertata rapi. Bernard juga termasuk pria yang perfeksionis.


Azharin menuju kamar. Dia mengambil ponsel dan mencari nama Sonia.


"Hallo Nia. Aku yakin kau sedang bersiap pulang ketika di sini masih jam sembilan pagi."


"Ya, dan apa yang kau lakukan? Kau masih di tempat tidur? Apa kau telah malam pengantin duluan?" olok Sonia. Dia yakin Azharin tidak akan melakukannya.


"Kakak ipar, mulutmu masih saja usil." Azharin merutuk dan Sonia tertawa.Tak cuma Sonia, Romi dan Sahara juga berbicara dan mengolok Azharin.


"Jangan lupa, video call saat kau melangsungkan pernikahan. Kami ingin menyaksikan siaran langsung. Jika perlu siaran langsung malam pertamamu. Kami penasaran."

__ADS_1


"Jangan konyol kakak ipar. Ingat keponakanku sudah punya telinga dan memori."


Sonia tertawa sejenak. Lalu berubah serius. "Kau baik-baik saja di sana?"


"Aku baik."


"Kau yakin?" tanya Sonia.


"Ya, jangan khawatir jika tentang pria itu. Dia sangat menyayangi dan menjagaku. Aku bahagia."


"Syukurlah jika begitu."


"Ada yang lain ingin kau ceritakan?" tanya Sonia.


"Aku ingin menyimpannya, tetapi hanya padamu aku bisa ceritakan."


Sonia mengerti. "Tunggu setengah jam lagi. Ketika di mobil aku hubungi kau kembali."


"Baiklah, aku tunggu."


Azharin tak beranjak dari tempat tidur. Dia iseng menyapa Alex sambil menunggu Sonia.


"Hallo sayang. Aku mengira kau tak akan mau menghubungi aku duluan."


"Aku tidak begitu Lex. Apalagi kau juga teman terbaik."


"Apa tidak bisa melalui video call, aku merindukan wajahmu." Alex bercanda dan Azharin mengalihkan ke video call.


"Kau masih di ranjang?" gurau Alex seolah mencurigai Azharin.


"Kau seperti kakak iparku. Aku menunggu waktu untuk memasak makan siang."


"Wow, beruntung sekali rekan bisnisku mendapatimu."


"Sudah ah Lex. Jangan iri begitu. Nanti hatiku goyah."


"Mana aku percaya itu terjadi." Alex mengedipkan mata. Azharin tersenyum. "Kapan kau menikah?"


"Tiga hari lagi. Aku menghubungimu, apa kau punya waktu untuk datang dan memberikan aku kado mahal?"


"Kau memerasku Nona Cantik?"


"Ya untuk pertama dan tidak janji yang terakhir." Azharin tersenyum hangat.


"Kau justru berubah ketika menjadi istri pebisnis."


"Aku harus pintar memposisikan diri." Azharin tak mau kalah.


"Okey, sehari sebelum kau menikah aku akan ke sana."


"Terima kasih Lex. Aku merasa punya keluarga. Abangku tak bisa datang. Aku merasa sendirian di belahan lain dunia ini." Azharin serius, itulah yang ia rasa, sehingga dia memang berharap Alex bisa datang.


"Jangan berterima kasih. Aku sudah janji padamu, akan selalu ada saat kau butuhkan."


Azharin mengangguk dan memutuskan sambungan telepon.


***

__ADS_1


__ADS_2