
Pagi ini Azharin pamit pada keluarga Bernard.
"Kami menunggumu Barbie." Barbara berkata serius. Barbara lebih suka memanggil seperti Bernard memanggil Azharin. Dia hanya sesekali memanggil Azharin dengan sebutan aunt.
"Ya, kami senang mengenalmu Aunt," ujar Rodney.
"Semoga tidak ada hambatan untuk kembali ke sini. Terima kasih kalian berdua menerimaku," ujar Azharin tulus. Azharin tidak berani menjanjikan apa-apa.
Dia memeluk kedua keponakan Bernard. Terdengar Barbara berkata pelan, "Semoga tidak ada hambatan. Aku sangat menyukaimu Barbie Aunt."
Barbara mengalungkan tangan ke leher Azharin, dan meletakan kepala ke bahu Azharin. Barbara menangis.
Azharin mengetatkan pelukannya. "Jangan menangis sayang. Kau bisa datang kapanpun ke Indonesia, jika aku tidak bisa tinggal di sini. Jika kami menikah, aku janji akan tinggal bersama pamanmu dan akan sering datang ke rumah ini. Ya sayang."
"Baiklah. Tidak bisakah aku ikut mengantarkan ke apartemen paman?" ujar Barbara tanpa ada drama di dalamnya. Gadis kecil itu hanya merasa belum puas bersama Azharin.
"Tidak bisa sayang. Paman tidak bisa mengantarmu kembali." Bernard angkat berbicara.
"Sekali ini saja Paman. Aku janji tidak nakal," ujar Barbara kembali meminta. Glorya memandang ayah dan ibunya. Lalu beralih ke Bernard.
"Paman akan ikut Azharin ke Indonesia sayang. Bukankah kau sangat menyukai Barbie. Paman akan meminta pada keluarganya."
Keluarga Bernard memandang penuh arti pada Bernard, terutama Emilia. Si kecil Barbara tetap tidak mau mengerti. Dia begitu ingin tetap bisa ikut.
Glorya tak sampai hati melihat anaknya tetap gigih mau mengantar Azharin. Barbara tidak pernah bersikeras seperti ini sebelumnya.
"Bagaimana kalau aku menyusul kalian. Aku akan membawa Barbara pulang ke rumah." Glorya berpendapat.
"Ide bagus," ujar Bernard menyetujui.
"Iya, aku juga sudah lama tidak keluar kota," ujar Glorya lagi.
"Aku yang akan mengemudi. Kalian berempat berangkat lebih dulu. Kami bertiga akan menyusul." Axton tidak ingin melepaskan Glorya mengemudi.
"Baiklah Pa. Terima kasih," kata Bernard.
"Ganti baju sayang. Waktumu hanya lima menit," ujar Azharin mengingatkan.
"Barbie kejam." Barbara berkata sambil berlari cekikikan. Rodney juga telah berlari menyusul adiknya. Keluarga Bernard hanya saling pandang penuh arti. Bernard menggeleng kecil sambil melempar senyum pada Azharin.
__ADS_1
"Lets go Barbie." Barbara telah muncul dengan baju kasual dan celana jeans.
Bernard sudah tidak bisa protes dengan panggilan Barbara pada Azharin. Wajah kedua keponakannya sangat ceria. Dia tiba-tiba punya rencana untuk mengajak keponakannya bermain di kota. Mereka masih punya waktu hari ini. Mereka akan terbang besok siang.
"Papa nanti saja menyusul. Aku berencana mengajak mereka bermain dulu. Aku yakin Azharin tidak menolak." Bernard memandang Azharin. Azharin tersenyum dan mengangguk. Tak diragukan lagi, teriakan gembira keponakannya terdengar.
Bernard meminta kedua keponakannya masuk ke mobil. Azharin menyusul. Lambaian tangan-tangan mungil itu memberikan senyum berarti di wajah kakek dan neneknya.
Di mobil, Barbara terus saja berceloteh. Ada saja yang dia tanyakan pada Azharin atau terkadang pada Bernard. Di lain waktu, dia bercanda dengan abangnya, tawa-tawa bahagia membuat Azharin ikut bahagia. Tawa itu mengingatkan dia pada abangnya semasa kecil. Saat dia belum mengerti apapun tentang ayah dan ibunya. Terutama saat ibunya belum meninggalkan dirinya. Dia juga sering bergurau dengan abangnya tanpa ibunya memarahinya atau abangnya.
Sesampai di kota, Bernard tidak lantas membawa pulang ke apartemen. Bernard mengajak bermain ke pusat game dan perbelanjaan. Mereka kembali setelah kedua bocah tersebut puas. Kini, Azharin menginjakkan kaki di apartemen Bernard.
***
Indonesia ....
Azharin telah menginjakkan kaki di Indonesia. Azharin berjalan beriringan dengan Bernard. Dia telah meminta kerja sama Bernard untuk mengerjai abangnya dan Sonia. Mereka keluar tidak beriringan, tetapi Bernard berjalan di belakang Azharin.
"Haiii Abang, hai kakak ipar." Azharin menyapa dengan riang.
"Senang benar kelihatannya. Apa kamu bertemu pria luar angkasamu?" ujar Sonia spontan dan dia mendapat tatapan tajam dari Azharin.
"Apa kau mengenal lelaki bule itu?" Sonia tak tahan untuk tidak bertanya. Armian lalu mengikuti arah pandang Sonia.
"Ehmm," jawab Azharin dengan berdeham kecil.
"Serius?" ujar Sonia tak bisa menutupi rasa suprise.
Azharin tak tahan untuk terlalu lama menutupi rasa senangnya. "Sayang sini aku perkenalkan dengan mereka berdua."
Bernard tersenyum ramah pada Armian dan Sonia. Mereka saling berjabat tangan. Azharin langsung menggiring ke mobil begitu selesai berkenalan. Azharin masih berpuas diri melihat wajah-wajah penasaran abangnya dan Sonia.
"Kenapa wajahmu Bang?" tanya Azharin dari kursi belakang mobil.
"Tak ada." Armian mengelak.
"Abang pasti tidak percaya, aku membawa priaku pulang."
"Begitulah."
__ADS_1
Bernard tidak mengerti pembicaraan dua saudara tersebut, dia hanya diam menikmati gerak-gerik Azharin.
"Aku tak ingin kehilangan kakak iparku, jadi aku meminta kekasihku segera menemui Abang." Azharin sengaja mengatakan dalam bahasa inggris. Walaupun Sonia menjawab dalam bahasa Indonesia.
"Apa hubungannya coba?" tanya Sonia.
"Aku tahu, kalian belum menikah karena Abang memikirkan aku terlalu banyak. Benar bukan?" kata Azharin masih dalam bahasa inggris. Bernard mencerna kalimat Azharin yang sepenggal-sepenggal. Armian dan Sonia hanya terdiam. Armian mulai fokus mengemudi, karena jalanan mulai ramai.
"Don't worry. Aku akan segera menikah. Benarkan sayang?" tanya Azharin dengan mesra pada Bernard. Bernard sedikit heran dengan cara Azharin yang mesra, tetapi ia tetap menjawab dengan tegas dan yakin. Armian lega mendengar nada serius lelaki itu.
Mereka akhirnya diam dan larut dalam pikiran masing-masing. Mereka mencarikan Bernard hotel. Armian awalnya berniat mengajak Bernard menginap di rumah. Akan tetapi Azharin menolak. Azharin tidak ingin tetangga bergosip karena ada pria asing di rumah.
"Istirahatlah sejenak. Nanti aku akan kembali untuk menjemputmu." Azharin melangkah meninggalkan kamar hotel. Bernard hanya bisa tersenyum dipaksa. Dia menahan kesal melihat sikap Azharin yang berbeda.
"Aku rasa aku gila mencintaimu." Bernard tak tahan untuk mengeluarkan uneg-unegnya.
Azharin berbalik, dia bertanya, "Apa maksudnya?"
"Kau tidak pernah membiarkan aku menyentuhmu lebih," ujar Bernard dengan nada protes. "Aku kira, karena di negaraku. Kamu tidak percaya padaku."
Azharin memahami ke mana arah pembicaraan Bernard.
"Apa cintamu sebatas hubungan intim?" tanya Azharin tetap di posisi tegaknya. Dia tidak berniat mendekati Bernard.
"Aku mencintaimu. Apa satu ciuman juga tidak bisa aku dapatkan setelah sampai di negaramu?"
"Cinta, sayang dan gairah ... aku rasa sama saja." Azharin menjawab dengan datar.
"Apa kau tidak mencintaiku?" tanya Bernard juga bertahan di posisi tegaknya.
"Aku tidak tahu. Aku ingin dicintai untuk saat ini, bukan mencintai. Apa kau keberatan?" Azharin bertanya dengan lugas.
"Barbie, aku tidak mengira kau sekejam ini." Tak ada penekanan dalam nada Bernard.
"Apa kau menyesal untuk datang ke sini?" tanya Azharin. Percikan api pertengkaran seperti akan berkobar.
"Aku tidak menyesal datang ke sini. Aku sesali sikapmu." Bernard berterus-terang.
"Sikapku akan berubah jika kau bisa meyakinkan aku. Datanglah pada abangku malam ini. Aku akan menjemputmu. Bisa aku pulang sejenak untuk beristirahat?" tanya Azharin. Bernard mengangguk dengan terpaksa.
__ADS_1
***