
Jika di Inggris, Azharin menikmati harinya. Di Indonesia, Armian meradang. Dia sedang bersama Sonia menanyakan Azharin.
"Sayang, kamu tahu jika gadis keras kepala itu sudah tidak di Spanyol?"
"Ya." Sonia menjawab dengan kalem.
"Anak itu semakin gila saja sejak putus dengan kunyuk itu. Bisa-bisanya dia melanjutkan perjalanan tanpa memberi tahuku," ujar Armian dengan mengepalkan tangan.
Pasalnya Armian baru mengetahui ketika Azharin memposting foto dirinya dan dua bocah bule dengan keterangan Aku bisa melihat semua ini setelah menyelesaikan suatu hubungan yang tak bermakna, dan Inggris lebih bisa memberi makna dalam hidupku.
"Sabarlah. Dia bukan anak kecil lagi." Sonia berusaha memberikan Armian pengertian.
"Iya aku tahu, tetapi apa dia tidak berpikir keselamatannya sejauh itu. Untuk ke Spanyol saja aku tidak setuju jika bukan karena sikap keras kepalanya. Apa dia bertemu dengan pacar dunia mayanya itu." Armian masih saja protes panjang lebar.
"Dia bukan wanita bodoh. Setidaknya dia bisa berkomunikasi dengan baik di negara itu." Sonia meyakinkan Armian, meskipun di dalam hati dia was-was dengan kenekatan Azharin.
Sonia juga tidak menyangka saat melihat postingan Azharin. Sonia lalu menanyakan langsung dan Azharin menceritakan dengan singkat. Sonia tidak tahu Armian bisa mengetahui. Setahu Sonia, Azharin tidak mengatakan pada abangnya dan abangnya juga tidak memakai media sosial apapun.
"Iya, kita berdoa dia baik-baik saja dan pulang dengan selamat. Aku sakit kepala dari dulu melihat kelakuannya itu." Sonia mengangguk tulus mendengar Armian setengah mengeluh.
"Hmmm bolehkan aku bertanya sesuatu?" tanya Sonia memberanikan diri.
"Boleh. Apa itu?"
"Apakah kita akan menikah jika Azharin telah menikah?" ujar Sonia pelan. Sonia terpaksa mengemukakan pada Armian.
"Apa kamu keberatan?" tanya Armian menyelidiki.
"Jangan salah paham. Maksudku tidak seperti itu. Aku hanya ingin tahu apa kamu mempunyai rencana pernikahan dengan hubungan kita ini."
"Aku minta maaf jika terkesan egois dengan hubungan ini. Kau dari awal tahu, Azharin prioritasku. Setidaknya hingga ada yang bertanggung jawab padanya."
"Iya, aku paham. Bolehkah aku tahu alasan mengapa kau begitu melindunginya di luar alasan sebagai abangnya."
__ADS_1
"Aku serius padamu. Baik, aku akan cerita. Aku harap dengan kau mengetahui jalan hidup dia dan aku, kau bisa menyayangi dia sepenuh hati."
Kilas balik ....
"Mama mau ke mana?" tanya Azharin masih dengan seragam putih dongker.
"Maafkan mama, mama harus pergi. Kau tinggallah dengan abangmu. Walau dia bukan anak kandungku, tetapi dia tetap abangmu dan dia menyayangimu. Mama tenang meninggalkan kamu dengan ada dirinya."
"Apa Mama bilang?"
"Ya kau harus tahu. Mama merawatnya dari masih menjadi bayi merah. Mama hanya istri muda ayahmu. Istri tua ayahmu pergi meninggalkan dia dan anaknya."
Di tengah keterkejutan Azharin, Azharin masih bisa melayangkan tanya. "Lalu Mama mau melakukan juga?"
"Maafkan mama. Mama juga berhak bahagia dengan lelaki yang mama cintai. Mama hanya terpaksa menjalankan rumah tangga ini demi kau dan abangmu. Kini kalian telah besar, kalian bisa menjaga diri."
"Ma, jangan tinggalkan aku. Aku mohon Ma."
Azharin remaja menangis memegang tangan ibunya siang itu. Azharin baru pulang dari sekolah dan menemukan ibunya menggeret satu koper besar. Tangan Azharin ditepis dengan pelan oleh ibunya. Azharin terduduk dan tergugu dalam tangisnya.
Wanita itu memeluk Armian. "Maafkan mama. Suatu hari kalian mungkin akan tahu dan mengerti. Mama hanya minta, jaga adikmu sepenuh jiwamu."
Wanita itu merenggangkan pelukannya. Dia juga menghapus air mata anak lelaki yang hanya anak sambungnya. "Kau lelaki, kau harus kuat. Jangan seperti ayahmu yang lemah. Mama tetap berdoa kalian berdua menjadi orang yang sukses." Armian tidak mengerti dengan maksud ibu sambungnya yang mengatakan ayahnya lemah.
Armian bertanya, "Mengapa Mama tidak memilih kami? Mengapa Mama tidak mengajak kami?" Suara Armian telah semakin parau menahan tangis yang ingin meledak. Azharin hanya bersimpuh penuh isak.
Namun, wanita yang mereka panggil dengan sebutan mama, keras seperti batu karang. Tak ada air mata tak ada kelemahan hati sedikitpun. Wanita itu menjawab dengan pasti, "Mama ingin bahagia tanpa kalian dan ayah kalian!"
Dia menepuk pundak Armian ketika mendengar deru mobil memasuki pekarangan rumah. "Mama pergi. Jaga dirimu dan adikmu. Setidaknya, jagalah adikmu sampai ada yang bertanggung jawab pada dirinya. Jangan berharap pada tanggung jawab ayahmu."
Wanita tersebut melangkah dengan pasti. Armian tidak bisa melihat wajah lelaki yang menolong mengangkat koper sang ibu. Air mata yang turun deras telah mengaburkan matanya. Setelah mobil meninggalkan pekarangan rumah, Armian masih terpaku dalam tangisnya. Kesadaran Armian datang saat Azharin memanggil dengan satu kata, lalu pingsan.
Armian bergegas menghapus air matanya dan mempercepat langkah mendekati Azharin. Armian menggendong adiknya dan membaringkan di sofa tamu. Dia mencari minyak angin dan menunggu adiknya sadar.
__ADS_1
"Bang, mama kenapa tega pada kita?" tanya Azharin. Air mata kembali luruh di pipinya. Armian tak bisa berkata apapun. Dia juga masih sangat terkejut dengan apa yang terjadi dan didengarnya.
***
"Sekarang setidaknya kau tahu gambaran tentang keluargaku dan alasan aku memprioritaskan Azharin. Masih banyak kesakitan yang dia terima setelah mama meninggalkan kami." Armian berkata setelah menceritakan sebagian masa lalunya.
Air mata Sonia juga tumpah ketika mengetahui bagaimana pahitnya masa lalu Azharin. Sonia tidak mengira jika ibu Azharin pergi begitu saja dan bahkan sampai sekarang tidak tahu di mana keberadaan ibu kandungnya setelah meninggalkan mereka.
"Terima kasih sudah percaya untuk berbagi cerita padaku. Aku akan simpan cerita ini hanya untuk kita saja. Aku tidak akan mendesak."
"Apa tidak jadi masalah bagimu. Usiamu sedikit di atas Azharin dan gadis itu entah kapan menemukan pendampingnya. Apalagi putus dari kunyuk itu malah mencari pria luar angkasa."
Sonia di sisa isak tangisnya tak bisa menahan tawa mendengar kekasihnya mengumpat tiga orang sekaligus.
"Kita doakan yang terbaik buat dia. Dia berhak bahagia setelah menahan hati dengan pria kunyuk yang kamu katakan."
Armian merasa tenang mendengar nada Sonia yang begitu tulus.
"Apakah kau tahu siapa pria luar angkasa itu?"
Sonia menggeleng. "Kamu juga tahu dia tidak begitu terbuka dari dulunya. Hanya saja aku merasakan ada sedikit perubahan setelah dia tidak bersama Hendri. Dia berjanji akan menceritakan petualangan dan ada cerita terhangat di Inggris katanya."
Armian mengetahui suatu hal baru, ternyata Azharin lebih terbuka pada Sonia untuk masalah pribadi. Armian semakin yakin untuk bersama Sonia. Armian hanya tidak ingin egois jika harus menggantungkan masa depan Sonia. Armian beruntung Sonia akan menunggu.
"Ternyata setelah dewasa, dia butuh figur kakak perempuan untuk berbagi cerita hidupnya. Aku bersyukur memilikimu." Armian memuji Sonia penuh ketulusan.
"Tidak usah berterima kasih. Ada tidaknya dirimu dalam hidupku, aku menyayangi Azharin dari awal bertemu. Adikmu wanita serius dalam bersikap, namun dia wanita sangat baik hati dan mudah berempati dengan teman kantornya. Jika terlihat seperti tidak ada teman, itu karena pembawaannya yang kaku dan pendiam."
"Ohhh, jadi begitu dia di kantor," gumam Armian lebih ditujukan pada diri sendiri.
"Ya. Berita barunya, kami melihat dia lebih ceria dan terbuka sekarang. Semoga pria luar angkasa yang kamu maksud bisa membahagiakan dia."
Tawa Armian akhirnya lolos melihat cara Sonia menirukan ucapan Armian yang mengatai pria luar negeri Azharin dengan sebutan pria luar angkasa.
__ADS_1
***