Love Between Two Countries

Love Between Two Countries
Izinkan Aku Egois


__ADS_3

Tidak butuh waktu lama, setelah dua hari Bernard mengurus perusahaan seperti tanpa mengetahui ada masalah, tepat di hari ke tiga, polisi khusus datang menjemput Bernard atas laporan penipuan.


Bernard ditahan tanpa ada perlawanan. Bernard mengikuti saja alur permainan Alex. Alex telah berjanji hanya membiarkan Bernard tak lebih dari dua kali dua puluh empat jam untuk memutarbalikkan fakta sebenarnya.


Sekretaris Bernard juga bekerja keras untuk mencari tahu siapa pengkhianat bagi bosnya. Jika Gilberto memantau pergerakan perusahaan, Alex lebih fokus dengan keadaan Bernard secara diam-diam. Orang-orang Alex bergerak sesuai instruksinya.


Di lain pihak, Azharin merasa sangat bosan. Dia sangat merindukan Bernard. "Sayang, apakah kau yang sangat merindukan papamu, atau memang mama yang merindukannya?" ujar Azharin setengah bersedih hati. Azharin duduk termangu di depan jendela kamar.


"Sayang, sepertinya aku yang merindukanmu. Meskipun banyak hal yang Laurren katakan di dalam pesan teksnya, aku akan egois sekali ini sayang. Aku tidak akan membiarkan tujuannya tercapai. Aku tetap akan memperjuangkan rumah tangga kita jika kau memang memilih memiliki aku." Azharin terus berkata-kata, sambil memandang jauh keluar jendela.


Air matanya mulai menggenang di pelupuk mata. Perlahan tapi pasti mulai mengalir di pipinya. "Sayang, selama ini mama selalu kuat untuk menghadapi apapun, namun kini mama rasanya lemah jika tanpa papamu. Mama ingin papa bisa menyayangi dan memilih kita berdua. Mama tidak tahu, apakah mama akan bisa tegar jika tanpa papamu."


Azharin menghapus derai air matanya. Sekelebat bayangan abangnya hadir dalam pikiran Azharin. "Abang, aku membutuhkan abang saat ini. Andai ini Indonesia, aku akan menghubungi abang. Hanya nomor telepon abang yang aku ingat selain nomor ponsel suamiku. Abang aku takut sebenarnya tanpa orang yang aku kenal di sini. Walau Alex menjanjikan akan baik-baik saja. Aku tidak boleh terlalu mempercayainya begitu saja. Apa yang harus aku lakukan bang?"


Azharin mengalihkan perhatian ketika terdengar ketukan pintu. Dia berharap Alex yang datang. Ternyata yang datang kepala pelayan mengantarkan sarapan. Azharin pagi ini terasa sangat malas untuk keluar kamar.


Kepala pelayan meletakan sarapan di meja kecil. Lalu berkata, "Jika ada yang Nona inginkan, katakan pada saya."


"Tuan, aku sangat bosan. Bolehkah aku meminjam ponselmu untuk menelepon tuan Alex." Azharin terlihat memelas.


Kepala pelayan tidak bisa menolak ketika melihat wajah memelas Azharin. Apalagi ditambah melihat Azharin mengusap perutnya yang dia ketahui sedang hamil. Usia dan kehamilan Azharin mengingatkan pada putrinya kala itu.


"Nona berjanji hanya tuan Alex yang dihubungi. Tuan bisa sangat marah, jika Nona melarikan diri dari sini." Kepala pelayan dengan tegas mengingatkan Azharin.


"Tuan jangan khawatir. Aku tidak mungkin merusak rencananya. Dia menjanjikan kami bertiga akan baik-baik."


Kepala pelayan memberikan ponselnya, dan pamit undur diri setelah Azharin berjanji yang akan mengembalikan kepadanya.


"Sebaiknya Nona makan dulu."


"Baik."


Kepala pelayan meninggalkan kamar. Azharin bukannya makan, namun memilih berbaring mencari posisi nyaman. Jari lentiknya dengan cepat menekan nomor abangnya dan mengetik pesan di WhatsApp.


Azharin tentu saja tak percaya ketika abangnya menelpon balik, dan meminta Azharin memberikan lokasinya. Azharin langsung melakukan mengganti sambungan telepon video call.


Azharin tak berlama-lama berbicara menimbang-nimbang kepala pelayan datang kembali karena terlalu lamanya ponsel dikembalikan.


Azharin menghapus riwayat sambungan dan mengembalikan ponsel setelah abangnya berjanji akan menyusul. Azharin merasa tidak ada masalah jika yang datang abangnya.

__ADS_1


Armian mengatakan ingin berjalan-jalan di daerah sekitar hotelnya, mencari baju ganti sambil mencari info tentang hilangnya Azharin. Tentunya dia tidak mendapatkan halangan apapun. Prioritas mereka bukan Armian.


"Tuan tidak perlu saya bantu?"


"Tidak, saya hanya bosan menanti suami adik saya. Saya ingin mencari baju ganti dan makanan sambil mencari info di mana adik saya."


"Baiklah."


"Oh ya, jika aku kehilangan arah, Anda bisa menjadi tempat aku menghubungi bukan?"


"Tentu."


Armian tak percaya pada siapapun, dia akan mencari sendiri sesuai titik alamat yang diberikan adiknya. Dia bisa bertanya dan yakin bisa menemukan.


Armian pergi sesuai dengan katanya. Dia tak ingin dicurigai. Dia masuk dan memutari toko pakaian tak jauh dari hotelnya. Dia membeli satu steel pakaian yang tak terlalu mahal. Lalu menjauh seolah mencari tempat makan.


Ketika merasa aman, dia mulai bertanya lokasi ini di mana dan memakai kendaraan apa ke sana. Armian di sarankan memakai bis dan memberi tahu bis tujuan mana. Armian bergerak cepat.


Hanya hitungan jam dia telah sampai di kota kecil tujuannya, walau tempat pasti di mana adiknya belum ditemui. Armian tak kehilangan akal. Dia bertanya pada beberapa orang, meski kadang mendapatkan kendala orang yang dia tanya hanya bisa berbahasa setempat.


Armian akhirnya mencari taksi yang bisa dia sewa sampai ke tujuan. Akhirnya dia mendapatkan taksi dan supirnya bisa berbahasa inggris. Armian memang menolak ketika supir tidak mengerti bahasa inggris. Dia tidak ingin kesulitan ketika berkomunikasi untuk menanyakan detail tempat itu.


Armian mengatakan, iparnya sedang berlibur ke sana bersama istrinya yang adalah adiknya dari Indonesia. Setelah itu, tidak ada lagi pertanyaan. Supir taksi cukup tahu untuk tidak melanggar privasi penumpangnya.


"Sesuai loaksi, ini rumahnya Tuan," ujar supir taksi. Armian membayar sesuai dengan tarif yang tertera. Tak lupa mengucapkan terima kasih.


"Apakah Tuan yakin saya tinggalkan." Supir taksi hanya berniat baik.


"Apakah Anda bersedia menunggu sampai saya memastikan mereka di rumah?" tanya Armian. Terlintas bagaimana jika dia masih salah alamat, sedangkan kendaraan umum hampir tak terlihat sama sekali.


"Baik."


Armian berjanji akan memberikan tips jika mereka ada, dan akan membayar ongkos taksi jika memakai kembali jasanya.


Armian melihat rumah besar tersebut sepi. Dia berjalan hati-hati menuju rumah tanpa berpagar tersebut. Armian cukup heran dengan keadaan rumah yang besar dan halaman luas tanpa ada pagar pembatas. Berbeda di Indonesia baginya, rumah kecil saja bisa berpagar mewah. Di sini, jarak rumah ke rumah sangatlah jauh tetapi terkesan tenang.


Azharin mondar-mandir ke jendela. Dia telah menunggu kedatangan abangnya. Tepat ketika kembali melihat keluar, Azharin melihat satu taksi parkir jauh dari halaman rumahnya. Azharin yakin abangnya menemukan dirinya.


Azharin bergegas keluar kamar tanpa hambatan. Sejak Alex berbicara dengan Azharin, pengawasan tidak lagi ketat. Azharin juga telah bisa keluar kamar bahkan rumah tanpa dilarang.

__ADS_1


Azharin membuka pintu depan dengan santai. Tepat ketika Armian tiba di depan pintu besar tersebut.


"Arin," ujar Armian tak percaya bisa melihat adiknya baik-baik saja tanpa kurang apapun.


"Bang." Azharin langsung memeluk abangnya. Tepat ketika bodyguard datang dan menodongkan pistol ke arah Armian.


"Jangan sentuh. Dia abangku. Telepon Alex maka kalian tidak akan berlaku tak sopan pada abangku!" suara Azharin terdengar tajam. Jauh di dalam jiwanya dia gemetar karena abangnya tiba-tiba ditodongkan pistol. Azharin tak pernah melihat para bodyguard membawa pistol. Azharin juga lupa, jika di Barat siapapun bebas memiliki pistol asal punya surat izin.


"Turunkan senjata kalian jika tidak ingin terlihat oleh taksi yang aku minta menunggu." Armian ikut mengingatkan. Walau dia belum paham benar bagaimana jalan ceritanya. Dia tak ingin supir taksi pergi dan melapor hingga membuat masalah baru untuknya dan Azharin.


Mereka menurunkan pistol yang tadinya telah ditodongkan. Satu bodyguard menghubungi Alex dan berkata dengan cepat dan jelas. Terlihat bodyguard tersebut memberikan ponsel pada Azharin.


"Armian telah sampai padamu?" tanya Alex memastikan.


Azharin tak ingin banyak bicara dan menuai salah paham. "Ya, dan aku berjanji tetap di sini bersamanya, hingga kau membawa Bernard dengan selamat ke sini."


"Bagus. Aku hargai janjimu. Kau mungkin lebih tenang adanya abangmu."


"Tentu."


"Baik, ceritakan pada abangmu. Minta dia hanya menjagamu."


"Berapa lama lagi aku di sini?"


"Nanti malam aku hubungi anda Nona Cantik. Aku sangat sibuk. Sekali lagi, percayalah padaku dan Bernard, sayang."


"Tentu aku percaya."


"Baiklah, berikan ponselmu pada anak buahku." Azharin memberikan dan tak lama dia mendapatkan anggukan.


"Cepat Abang minta taksi tersebut pergi dan percayalah pada Bernard dan Alex." Azharin sengaja tetap menggunakan bahasa inggris agar tidak menimbulkan pemikiran lain bagi anak buah Alex karena bahasa yang tidak mereka pahami.


Armian tak ingin banyak membantah. Dia pergi dan memberikan tips sesuai dengan janjinya.


"Ada masalah Tuan?" tanya supir taksi.


"Tak ada, hanya sedikit salah paham." Armian memberikan alasan.


"Pergilah, dan terima kasih."

__ADS_1


***


__ADS_2