Love Between Two Countries

Love Between Two Countries
Kehilangan Lagi


__ADS_3

Ada masanya kita merasakan sakit untuk tahu apa itu bahagia. Rasa sakit dan sakit akan menguatkan hati untuk bertahan pada suatu keadaan yang tidak sesuai dengan ekspetasi kita.


_____


"Bang, aku seperti mimpi abang datangi hingga ke sini," ujar Azharin senyum-senyum. Dia tak bisa menutupi rasa senangnya. Dia menjadi lebih bersemangat. Merasa tidak sendirian di tengah kemelut yang terjadi.


"Apa perlu abang pukul pipimu?" ujar Armian bercanda. Azharin memukul bahu Armian.


Jemari Azharin telah bergerak lebih dulu mencubit tangan abangnya dan mendengar teriakan kecil Armian, Azharin berkata, "Nah ternyata aku tidak bermimpi."


Mereka duduk manis dengan hidangan manis di kebun belakang rumah. Pelayan telah mempersilakan agar duduk di ruang makan. Mereka memilih duduk-duduk di luar. Azharin lebih tenang dan ingin menikmati udara di ruang terbuka.


Azharin menceritakan awal mula kejadian dan hingga dia berada di rumah ini. Azharin juga meminta Armian tidak ikut campur. Azharin tidak ingin kehadiran abangnya justru membuat rencana Alex berubah dan terjadi hal-hal yang tidak diinginkan.


Armian memahami apa yang Azharin khawatirkan. Dia sepakat berada didekat adiknya dan menemani hingga semua selesai. Bagi dirinya cukup mendapati adiknya dalam keadaan baik-baik saja.


"Baiklah, sudah mendapat kabar kamu saja, abang sudah sangat senang." Armian mengusap puncak kepala Azharin. "Sonia sangat merisaukan keadaanmu ketika tidak bisa dihubungi." Armian meneruskan perkataannya.


"Aku juga tidak menyangka akan begini Bang. Aku kira aku bisa tenang di sini."


"Sudahlah, tak perlu kamu sesali. Semua ini sudah jalan dari Nya."


"Aku tidak pernah merasa menyesal, Bang. Bernard sangat jauh berbeda dengan Hendri. Begitu juga keluarganya. Mereka menerima aku apa adanya."


"Syukurlah."


"Makanlah Bang, kau perlu energi besar untuk menjagaku, hingga Bernard menjemput kita."


"Kau merindukan pria asing itu?"


"Ihh pertanyaan bodoh." Azharin cemberut mendapati pertanyaan abangnya yang setengah bercanda.


"Tidak bodoh jika dulu abang tak menangkap tidak adanya cinta di matamu."


"Abang tahu?" tanya Azharin sambil mengusap pelan rambutnya. Azharin memandang abangnya penuh arti.


"Ya, kau itu tetap adik kecilku yang bodoh tentang berbohong." Armian menarik pelan rambut adiknya.


"Hmmm, mengapa abang tidak protes?"


"Abang ingin percaya dengan apa yang kau putuskan. Jika kau memilih dan pergi dengannya, berarti kau telah memikirkan masak-masak."


"Ya Bang. Terima kasih. Sampai hari ini aku tak pernah menyesali pergi mengikuti dirinya."


Mereka terus mengobrol apa saja setelah lebih dahulu mengabari Sonia. Tak banyak yang diucapkan Sonia. Wajah bahagia Sonia sudah lebih dari ucapan bagi Azharin.

__ADS_1


Azharin mulai merasa lelah. Dia juga mengantuk. "Bang, aku kembali ke kamar. Aku ingin istirahat." Azharin menepuk pelan punggung abangnya.


"Baiklah. Abang masih ingin di sini."


Armian walau tak begitu paham mengapa Azharin terlihat lelah, berbeda sekali ketika dia masih bekerja. Setidaknya itulah pikiran Armian. Dia mengetahui penyebab Azharin terlihat lelah ketika membicarakan pada Sonia. Tentunya tak ada hujatan apapun dari Sonia, Sonia mengatakan dia juga begitu saat hamil. Sayangnya Armian hampir tak punya banyak waktu kala itu.


***


Malam hari sesuai janji, Alex menelepon melalui ponsel kepala pelayan. Azharin berada di kamar setelah makan malam bersama abangnya.


"Hallo sayang, apa kabar." Alex bercanda menggoda Azharin.


"Kabarku buruk. Bayiku merindukan ayahnya." Azharin terlihat bersungguh-sungguh dengan kata-katanya.


Alex tergelak di ujung telepon. Baginya kata-kata Azharin terdengar sedikit aneh dengan pembawaan Azharin yang masih tetap sedikit kaku.


Alex tetap mengolok Azharin. "Bayimu atau dirimu?" Gelak tawa Alex masih terdengar setelah menyelesaikan kalimatnya.


"Aku dan calon bayiku. Puas kau Tuan Alex." Azharin merasa kesal mendengar Alex terus menertawakan dirinya. Dia tidak menyadari suasana hatinya yang mudah perasa dan mudah berubah.


Alex tidak begitu mempermasalahkan suara Azharin yang berteriak kesal. "Aku janji, paling lama dua kali dua puluh empat jam suamimu telah keluar dari penjara dan akan langsung terbang menjemputmu," ujar Alex santai namun serius.


Namun sikap santai itu tidak berlaku bagi Azharin. Azharin terkejut dan langsung menjerit mengatakan aduh. Dia memegang perut dan tertatih-tatih menuju ranjang. Azharin lalu terduduk di pinggir ranjang sambil terus memegang perut yang terasa semakin sakit.


Alex yang dari tadi telah berulang kali memanggil ketika mendengar Azharin mengeluh dan tak menjawab, langsung memutuskan sepihak dan menghubungi salah satu pengawalnya.


Armian lalu bergegas menuju kamar Azharin ketika salah satu pengawal Alex mengatakan keadaan Azharin.


"Arin, kau kenapa?" Armian terlihat panik ketika melihat adiknya menangis sambil memegang perutnya.


"Cepat bawa ke klinik terdekat!" perintah Alex yang masih terhubung dengan salah satu pengawal.


"Baik Tuan. Tuan tidak lupa bukan, rumah ini sangat jauh dari jangkauan." Pengawal berkata mengingatkan dengan takut-takut.


"Ya, lakukan sebisanya dan secepatnya!" ujar Alex terdengar bergetar. Alex dilanda kecemasan. Pertama kalinya Alex merasakan ketakutan dan memikirkan lebih.


Alex mulai menyadari kesalahan terbesarnya. Dia menyesali tidak melengkapi Azharin dengan bantuan dokter didekatnya. Pemikiran Alex tidak sampai jika ada apa-apa terhadap kandungan Azharin. Alex tak memikirkan perjalanan jauh dan masalah bisa membuat Azharin terbelenggu secara diam-diam.


Armian telah mengangkat adiknya dan pengawal telah mengeluarkan mobil. Dengan cekatan mereka membawa Azharin. Armian merengkuh adiknya dalam pelukan. Air mata Azharin bercampur dengan keringat yang mulai membasahi wajah pucatnya.


"Abang, sakit sekali," rintihan samar terdengar.


Armian tak tahu harus berkata apa. Hanya usapan di punggung dan mengetatkan pelukan yang bisa ia lakukan.


Tak kurang dari setengah jam darah mulai merembes. Azharin shock ketika merasakan cairan mengalir antara pahanya. Di tengah rasa sakit, dia meraba pahanya. Merasa tangannya basah dia mencoba menghidu. Bau anyir tercium. Azharin tahu itu bau darah.

__ADS_1


"Bang, sepertinya aku berdarah," ujarnya menangis menahan sakit sekaligus rasa terkejut. Armian semakin terdiam.


Azharin sudah merasa tak punya harapan. Dia yakin akan keguguran, walau terselip doa di hati kecilnya agar tidak terjadi. Azharin pasrah pada apa yang terjadi. Meskipun begitu hati kecilnya kecewa.


"Mengapa aku tidak diizinkan untuk bahagia, Bang?" Tak urung kalimat kecewa itu terlontar di tengah rasa yang semakin sakit.


"Tak baik berkata begitu. Tenangkan pikiranmu." Armian melontarkan kalimat palsu. Hatinya saja tidak bisa tenang, bagaimana mungkin dia bisa meminta adiknya tenang.


"Apakah klinik masih jauh?" tanya Armian pada pengawal Alex.


"Masih sekitar sepuluh menit, Pak." Kalimat itu terucap dengan perlahan. Pengawal juga ikut berempati pada Azharin. Baginya beberapa waktu yang telah dihabiskan menjaga Azharin, menemukan sosok Azharin yang tak banyak mengeluh.


Azharin hanya terisak. Dia tak lagi berkata apapun hingga dia ditangani pihak medis. Selang infus telah terpasang dan Azharin masih tertidur dalam pengaruh obat. Armian hanya menatap dalam wajah adiknya yang tertidur.


Air matanya menitik melihat wajah adiknya yang seperti tanpa beban. Terngiang kembali kata-kata adiknya yang bertanya," Mengapa aku tidak diizinkan untuk bahagia, bang?"


Armian menghapus air matanya. Dia menunduk dan mengusap kepala Azharin penuh kasih. "Semoga setelah semua ini, kau bisa kuat dan kembali bahagia, dek."


Armian merapikan posisi selimut adiknya dan berlalu dari ruangan. Dia hanya ingin mengabari Sonia.


"Apa sayang?" Sonia terkejut mengetahui Azharin keguguran.


"Ya. Tak bisa diselamatkan. Dokter mengatakan, Azharin mungkin sudah merasakan tanda-tanda kehamilannya bermasalah."


"Bisa jadi, dan gadis itu pasti tak banyak mengeluh."


"Ya, kita sama tahu sifatnya." Armian menambahkan.


"Semoga dia kuat."


"Ya. Bagaimana anak kita?" tanya Armian merasakan ketakutan lain. Kejadian Azharin memberikan perasaan takut akan kehilangan anak.


"Dia baik-baik saja. Kata bibi dia masih tidur siang. Tadi tidurnya agak telat karena asyik main. Telepon saja bibi kalau mau melihatnya," ujar Sonia yang masih berada di kantor.


"Tidak perlu sayang. Biarlah dia tidur. Aku ingin menunggui Azharin. Takutnya ada apa-apa ketika dia sadar." Armian meminta pengertian istrinya.


"Ya, kembalilah ke kamar. Izinkan aku melihat dia sebentar. Aku tidak akan berbicara." Pinta Sonia ingin melihat langsung keadaan Azharin.


Armian memenuhi permintaan istrinya. Dia masuk perlahan dan menyorot wajah Azharin. Terlihat istrinya menghela napas kecil lalu menunduk sesaat. Dia tahu istrinya bisa merasakan apa yang dirasakan adiknya ketika bangun.


Sonia kembali mengangkat kepala, dan memberikan anggukan kecil pada Armian. Menandakan cukup untuk sementara ini. Armian mengangguk dan memberikan senyum hangat pada istrinya. Dia memutuskan sambungan dan meletakan ponselnya di saku.


Dia duduk di dekat adiknya dan kembali menatap wajah adiknya. "Ma, beri doamu untuk Arin. Biar dia bisa bahagia setelah semua ini," gumam Armian menghibur diri.


***

__ADS_1


__ADS_2