Love Between Two Countries

Love Between Two Countries
Selamat Jalan


__ADS_3

Hari ini adalah keberangkatan Azharin dan Bernard. Azharin diantar oleh Armian dan Sonia juga mengantar dengan meminta izin ke kantor setengah hari saja.


Mereka telah sampai ke parkiran bandara udara Soekarno-Hatta. Satu mobil telah ikut parkir di samping mobil Armian. Kaca gelap mobil tersebut tidak bisa menembus pemandangan di dalam mobil. Pandangan pilu seorang ibu mengantarkan kepergian anaknya untuk jauh darinya dan negaranya.


"Selamat jalan Nak. Semoga mendapatkan kebahagiaan yang tidak bisa aku atau ayahmu berikan." Tetes air mata ibu tersebut mengaburkan pandangannya. Dia cepat mengusap air mata yang jatuh di pipi tirusnya ketika melihat anak gadisnya menyalami abang dan kakak iparnya.


Tangan sang ibu menempel di balik kaca mobil tersebut, seakan dia ingin meraba wajah putrinya yang bertahun-tahun tidak dia lihat.


Armian memeluk adiknya erat. Tangis dua beradik itu tak bisa dibendung. Terpampang jelas di penglihatan sang ibu, membuat isak tangis sang ibu bertambah kuat. Dia membekap mulutnya. Teman Armian tak tahan mendengar tangis ibu temannya. Dia turun perlahan dari mobil dan bersandar di dinding mobil.


Teman Armian baru mengetahui jika gadis yang dulu diminta Armian jaga adalah adiknya dan ibu di belakang jok mobilnya adalah ibu mereka.


"Aku berangkat Bang. Jaga diri baik-baik dan jaga Nia dan calon keponakanku. Jangan terlalu banyak waktu di luar Bang. Bagi bersama Nia. Dia akan kesepian jika Abang tak punya banyak waktu," ujar Azharin masih penuh dengan isak tangis. Armian hanya bisa mengangguk.


"Kamu juga Dek. Jaga dirimu. Abang jauh dan tak mungkin bisa secepatnya ada di dekatmu jika kamu kenapa-kenapa."


"Jangan khawatir Bang. Percayalah padaku. Aku akan kuat dan baik-baik saja. Jangan lupa, aku adik seorang intel. Aku adik aparat yang bertanggung jawab."


Armian tertawa kecil disela air mata yang jatuh berlinang. Dia merasa lucu dengan cara sang adik menghibur dirinya. Azharin melepaskan pelukan dari abangnya. Berpindah pada Sonia.


"Aku berangkat ya. Jaga abang dengan penuh cinta. Walau dia suka mengesalkan dengan mengabaikanmu. Jangan banyak bersedih, tak baik buat calon keponakanku." Tangis Sonia juga tak bisa dielakkan.


"Tante berangkat ya sayang. Kamu baik-baik di dalam. Setelah keluar jadilah anak baik dan sayang dengan papa-mamamu." Azharin mengusap perut Sonia yang mulai semakin membuncit.


Azharin sekali lagi memeluk Sonia. Dia mencium pipi Sonia. "Maafkan aku jika banyak menyusahkan."


"Tidak. Aku bahagia bisa mengenalmu dan mendapatkan adik ipar sepertimu. Beri kabar padaku tiap hari. Jangan sembunyikan apapun padaku."


"Iya."


Azharin mendekati Bernard. "Ayo, sayang," ajaknya. Dia menerima rangkulan Bernard. Azharin merasa nyaman dan mendapatkan kekuatan. Sejenak matanya menatap dalam ke arah mobil yang terparkir di sampingnya. Tatapan dalamnya membuat ibunya bergetar. Seakan dia melihat Azharin mengetahui jika dia yang berada di dalam mobil.


Ingin rasanya sang ibu keluar menerobos keluar mobil untuk memeluk terakhir anaknya. Ingin dia menumpahkan tangis di bahu anaknya untuk terakhir kali. Dia menguatkan hati dan memalingkan wajah, bertepatan dengan Azharin yang menarik napas dan memalingkan wajah memandang abangnya lalu beralih ke Bernard.


Armian merasa jantungnya diremas saat melihat Azharin menatap dalam ke arah mobil yang memang berada ibu mereka. Armian membalas lambaian adiknya yang mulai melangkah meninggalkan mereka.


Azharin memeluk kuat lengan Bernard, mencari kekuatan di sana. Bernard yang tahu jika ibu gadisnya berada didekat mereka, sangat bisa memahami. Jauh di sanubari, Bernard juga ingin menangis. Dia tidak mengira begitu banyak kesakitan yang ditahan gadis yang terlihat keras kepala dan kaku di sampingnya ini.


Dalam hati, Bernard berjanji membahagiakan Azharin selalu. Dia melambaikan tangan pada Armian dan tanpa sepengetahuan Azharin, Bernard melambaikan tangan ke arah mobil di samping Armian. Sang ibu yang melihat membalas dan berdoa banyak untuk kebahagiaan putrinya.


Setelah Azharin dan Bernard menghilang dari pandangan. Tangis sang ibu benar-benar pecah. Dia mengeluarkan teriakan kesakitan yang tertahan di dada. Armian memastikan jika pasangan itu telah memasuki ruang keberangkatan.


Armian langsung berjalan menuju mobil ibunya. Sonia mengikuti. Armian membuka pintu mobil dan melihat kesakitan ibunya. Ibunya memukul-mukul dadanya dengan kuat. Dia memeluk ibunya. Sonia memperhatikan tanpa memahami ada apa, siapa wanita yang penuh kelukaan yang dipeluk suaminya.

__ADS_1


"Sudah Ma. Ini keputusan Mama. Mama tak boleh menyakiti diri seperti ini." Perkataan Armian membuat Sonia terperangah. Dia mulai mengerti dan spontan dia melihat ke arah Azharin pergi. Lalu kembali menatap Armian dan ibunya.


"Ayo kita pulang ke rumah seperti janji Mama."


Armian menarik ibunya ke dalam pelukan dan memapah ibunya turun dan menuju mobilnya. Sang ibu menurut masih dengan isak tangis. Armian meminta Sonia memeluk ibunya sejenak. Dia ingin berbicara pada temannya, Rafi.


"Fi, makasih banyak ya. Mama sudah aku pindahkan ke mobilku."


"Sudahlah, kalau begitu aku duluan ya." Armian mengangguk dan meninggalkan Rafi yang masuk ke dalam mobilnya. Terlihat mobil Rafi meluncur meninggalkan parkiran.


Armian masuk ke mobil dan juga mulai ikut meluncur meninggalkan parkiran bandar udara. Sonia tetap duduk di belakang. Dia masih memeluk wanita paruh baya yang masih terisak. Sonia tidak berkata apapun pada Armian.


Setiba di rumah, tangis ibunya kembali terdengar. Melihat rumah yang telah begitu lama dia tinggalkan, memutar memori lama saat masih menjaga dua anaknya.


Armian menggantikan posisi Sonia. Dia memeluk ibunya dan Sonia membuka pintu yang terkunci. Armian mendudukkan ibunya di ruang tamu.


"Nia, ini ibu abang," ujar Armian mengenalkan. Sonia menyalami ibu mertuanya dan memeluk.


"Ma ini Sonia, dia lagi hamil jalan enam bulan."


"Sekarang, Mama harus kuat. Ini yang terbaik buat Azharin. Mama jangan khawatir, dia sangat kuat dan dia juga berjanji akan memberikan kabar selalu pada Sonia." Armian menggenggam erat tangan ibunya.


"Iya."


"Nia," panggil ibu mertuanya menghentikan langkahnya.


Dia menoleh. "Ya, ada Ma?"


"Boleh mama di kamar Azharin?"


Sonia melihat dan menatap suaminya meminta persetujuan. Armian mengangguk setuju.


"Baik Ma. Biar Nia ganti seprai dulu."


"Jangan diganti dulu, mama masih ingin mencium bau Azharin di sana."


Air mata Sonia kambali meleleh. "Baik Ma. Nia buatkan Mama teh hangat sebentar ya."


"Tolong bawa ke kamar mama saja ya sayang. Aku tunggu di kamar mama." Sonia mengangguk dan Armian kembali memapah ibunya ke kamar Azharin.


Sonia memegang ponsel. Dia telah mengetik, " Kamu sudah terbang Rin?" terlihat centang satu.


Sonia mengerjapkan matanya. Dia tak habis pikir dengan apa yang terjadi. Ingin dia mengatakan pada Azharin apa yang terjadi. Namun dia belum bertanya alasan ini semua. Sonia mengirim pesan hanya ingin memastikan Azharin sudah mulai terbang atau belum. Satu sisi dia berharap pesawat Azharin menunda keberangkatan.

__ADS_1


"Ini tehnya, Ma." Sonia meletakan di nakas samping ranjang Azharin.


"Terima kasih, Nak."


"Ada yang Mama perlukan yang lain?" tanya Sonia penuh perhatian.


"Tidak ada. Mama mau istirahat. Kamu juga sebaiknya istirahat."


"Tidak bisa Ma. Nia harus ke kantor. Nia izin setengah hari saja, karena ingin ikut mengantarkan Azharin."


"Ohhh begitu."


"Nia kembali ke kamar dulu ya Ma. Armian yang nemani Mama. Dia libur."


"Ohhh."


"Bentar ya Ma. Aku ke kamar dulu."


"Pergilah."


Armian menyusul Sonia. "Apa yang terjadi sebenarnya?" tanya Sonia.


"Nanti malam aku ceritakan ya. Nanti kamu terlambat kerja. Aku antar ya?" ujar Armian perhatian.


"Tak usah. Jaga mama saja. Aku tidak yakin mama baik-baik saja."


"Apa kamu baik-baik saja?" tanya Armian.


"Aku terbiasa menyetir sendiri, walau sejak hamil, Azharin yang menyetir. Jadi aku baik-baik saja. Aku hanya memikirkan apa perasaan Azharin jika tahu."


"Fokuslah dulu untuk pergi kerja. Malam aku akan ceritakan semua. Maafkan aku menyembunyikan darimu. Jangan salah paham. Aku melihat kau sangat dekat dengan Azharin, aku takut kau tak sampai hati melihatnya." Armian cepat menjelaskan, tak ingin Sonia salah paham.


"Pilihanmu sudah tepat. Aku bahkan tadi sempat ingin mengabari Azharin apa yang terjadi. Ceklis satu menghambat niatku dan membuat aku berpikir panjang."


"Syukurlah. Jika iya kau bisa membuat cerita jadi berbeda."


"Baiklah, aku berangkat ya." Sonia menyalami dan mengecup pipi Armian. Armian mengecup puncak kepala Sonia dan mengecup perut istrinya. Dia berpesan pada anaknya, "Jangan nakal ya sayang. Kasihan mama sedang sibuk bekerja."


"Ya Papa, dedek enggak akan nakal. Dedek sayang Papa dan Mama." Sonia mewakili anaknya berkata.


Armian mengantarkan Sonia ke halaman. Setelah Sonia meninggalkan halaman, Armian menyusul ibunya. Dia melihat ibunya bergelung dan mencium seprai yang telah dia tanggalkan. Armian meninggalkan ibunya, memberi waktu untuk ibunya. Dia sengaja membiarkan pintu kamar tetap terbuka.


***

__ADS_1


__ADS_2