
Azharin masih berada jauh dari negaranya, di bawah langit di belahan bumi Eropa. Dia merasa nyaman-nyaman saja di rumah orang tua Bernard. Dia bahkan ditinggal Bernard beberapa waktu ketika Bernard mendadak harus pergi untuk mengurus bisnis.
Azharin menghabiskan waktu bersama Glorya dan Emilia dengan ikut memasak ataupun merapikan taman bunga. Terkadang dia harus meninggalkan dapur saat Barbara menarik tangannya dan mengajaknya bermain. Tak terasa sudah tiga hari Azharin di rumah orang tua Bernard. Selama itu juga, tak satu kalimat meluncur dari bibir Emilia dan Glorya menanyakan siapa Azharin.
Azharin juga tak ingin bercerita banyak. Dia merasa keluarga Bernard tidak perlu tahu bagaimana dia, keluarganya dan masa lalunya. Dia hanya berencana cerita pada Bernard jika tiba masanya.
"Apa kau menyukai negara Bernard?" tanya Glorya di sela membuat cake.
"Aku tidak tahu Glo. Satu yang aku tahu, aku menyukai di tengah keluarga ini." Azharin berkata terus terang.
Glorya melihat kegetiran yang samar ketika Azharin mengatakan keluarga. Melihat Azharin sangat dekat dengan anak-anaknya dalam hitungan hari, Glorya merasa juga dekat pada Azharin.
"Kau bisa lebih lama tinggal di sini."
"Apa aku tidak mengganggu kenyamanan keluarga ini?"
"Kami ingin kau secepatnya tinggal di sini, setidaknya di negara ini bersama Bernard."
"Terima kasih Glo telah menerima dan percaya padaku. Aku jadi ingin mengajakmu melihat pemandangan di Indonesia suatu hari nanti."
"Saat anak-anak liburan, mungkin aku akan mengajukan pada Bernard." Glorya mengerling penuh arti. Azharin membalas dengan menggedikan dahi.
"Aku mendengar semua pembicaraan kalian," ujar Bernard dari belakang mereka.
Mereka berdua spontan membalikkan badan dan melihat Bernard telah berjalan mendekati Glorya dan Azharin.
"Kau ingin melihat tempat tinggal wanitaku Glo?" tanya Bernard.
Bernard menuju kursi makan, begitu juga Azharin dan Glorya. Mereka menunggu kue masak di dalam oven listrik.
"Jangan banyak berharap Glo. Lelaki ini hanya bisnis di dalam pikirannya. Dia tidak akan punya waktu datang ke negaraku." Azharin mengulum senyum mengejek.
"Kau mengadu Barbie?"
"Aku bukan anak kecil. Aku hanya menjelaskan pada Glo, biar tak terlanjur berharap padamu."
"Oww, Barbie, kau selalu suka mengajakku berdebat. Apa kau tidak ingin mencoba hal lainnya?" pancing Bernard dengan menggoda.
Glorya hanya menyaksikan pertunjukan yang disuguhkan Bernard. Bernard terlihat berbeda ketika masih bersama Laurren.
"Apa itu? Jangan katakan kau memintaku naik ke ranjangmu." Azharin menyampaikan dengan berburuk sangka pada Bernard. Tidak hanya Glorya yang tersenyum lebar, Bernard juga begitu.
Bernard mempunyai ide untuk mengusik Azharin. "Aku rasa kau telah cukup paham Barbie. Kita telah sama dewasa."
"Aku paham, tetapi aku tidak bisa memahami." Azharin membalas dengan santai.
"Kau masih saja suka banyak alasan."
"Lihatlah Glo, adikmu hanya menginginkan cinta satu malam. Dia tidak berniat serius, terbukti dia tidak punya rencana untuk menemui keluargaku." Bernard mendelik mendengar Azharin mengatakan cinta satu malam.
__ADS_1
"Barbie, apa kau tidak takut aku bunuh?"
"Aku lebih takut untuk jauh darimu." Azharin berniat menggoda Bernard. Namun terasa janggal ketika dia mengucapkan langsung. Berbeda rasanya, ketika dia hanya membalas melalui pesan tulisan.
"Kau tidak piawai merayu sayang. Aku lebih suka kau mendebatku dari pada mengodaku," ujar Bernard dengan nada mengolok Azharin. Glorya tertawa begitu juga dengan Azharin. Dia juga merasa aneh saja ketika berkata merayu Bernard.
***
"Sayang, apa kau tidak bisa tinggal lebih lama lagi di sini?" tanya Emilia ketika Azharin akan kembali besok ke Indonesia.
"Aku harus bekerja Nyonya. Cutiku hanya tinggal 3 hari. Maafkan aku."
"Aku akan menikahi dia secepatnya Ma. Aku akan membawa dia ke sini," ujar Bernard dengan yakin.
"Aku tidak bersedia pindah ke sini. Aku tidak bisa melepaskan pekerjaanku," ujar Azharin. Bernard terkejut. Dia memang belum menanyakan kesediaan Azharin.
Azharin melihat wajah Emilia dan Glorya yang kecewa. Apa kalian begitu saja bisa menerima aku di sini? Lalu mengapa ibuku tidak peduli padaku? Bahkan tega meninggalkan aku yang butuh kasih sayangnya.
Wajah Azharin terlihat sendu. Kenangan ketika ibunya pergi begitu saja terlintas kembali. Azharin termenung dengan mata berkaca-kaca.
"Ada apa denganmu, sayang?" tanya Emilia langsung menyadari perubahan wajah Azharin.
"Tidak apa-apa Nyonya. Maaf." Azharin tetap menyembunyikan jalan hidupnya. Dia tidak ingin dikasihani. Dia ingin kasih sayang, bukan perasaan iba belaka.
"Maaf jika aku tidak bertanya pendapatmu. Aku akan serahkan keputusan padamu." Bernard salah paham dengan kesedihan Azharin. Dia mengira karena keputusan sepihak darinya.
Azharin masih diam. Diamnya Azharin membuat Bernard kembali berkata, "Kita akan bahas nanti. Bagaimana kalau kita makan malam saja?"
"Barbie, maafkan aku tidak memikirkan perasaanmu." Bernard menggenggam tangan Azharin yang terasa kecil di tangannya.
"Aku tidak marah."
"Kau memang tidak marah, tetapi kau sedih karena itu."
Azharin menoleh dan mendapatkan keseriusan di tatapan Bernard. Azharin masih menimbang-nimbang, haruskah dia membuka hati untuk lelaki asing ini. "Aku bukan sedih karena permintaan sepihak darimu."
"Ada apa?"
"Apakah benar kau mencintaiku?"
Bernard menghela napas pelan. Sampai detik ini, dia masih tidak mengerti dengan jalan pikiran gadis di sampingnya.
"Jika aku tidak menyukaimu, aku tidak akan datang padamu. Tidak memanggilmu. Aku tidak akan memintamu menikah denganku. Apakah tidak cukup aku mencintaimu dengan cara itu?"
Azharin mencerna perkataan Bernard. Dia masih ingin bertanya, maka dia melakukannya. "Jika aku bilang tidak cukup, bagaimana?"
Tangan Azharin masih digenggam oleh Bernard. Bernard menekan tangan Azharin lebih kuat, bukan untuk menyakiti, namun memberi kehangatan pada tangan yang dingin dan hati yang seperti membeku.
"Apa yang kau inginkan dariku?" tanya Bernard.
__ADS_1
"Aku ingin kau datang ke negaraku jika serius. Tidak hanya janji-janji."
"Hanya itu?"
"Saat ini, hanya itu yang aku butuhkan darimu." Azharin menjawab dengan mantap.
"Baik, aku penuhi. Aku akan pulang bersamamu."
Azharin menatap tak percaya mendengar jawaban Bernard. "Kau serius?"
"Aku serius Barbie. Sama serius dari awal aku melihat wajahmu langsung."
"Aku senang mendengarnya, Bernard."
"Harus, dan kau akan banyak menerima kesenangan dariku. Aku akan membahagiakanmu, di sepanjang hidupku."
"Jangan berjanji yang tidak bisa kau tepati." Azharin memberi peringatan.
"Kita lihat saja. Aku tidak pernah berniat menyakiti kau sedikitpun sayangku."
"Bernard ...." panggil Azharin kemudian. Setelah mereka kembali terdiam seakan larut dalam lamunan masing-masing.
"Ya. Ada apa?"
"Apa kau tidak ingin tahu masa laluku?" pancing Azharin.
Bernard merasa ini momen yang tepat untuk meraih hati Azharin sepenuhnya. Bernard mengetahui jika ada keraguan di hati Azharin. Dia mengerti, meskipun ada rasa kesal karena Azharin tidak percaya pada keseriusan Bernard.
"Awalnya aku tidak ingin tahu. Aku merasa itu hanya setengah dari cerita hidupmu. Aku hanya tahu, aku mencintaimu dan menginginkanmu untuk sekarang serta masa depan. Namun, sekarang aku ingin tahu, agar bisa mengerti dirimu."
"Ya. Aku ingin kau tahu, supaya suatu hari masa laluku tidak menjadi sandungan dalam perjalanan hidup kita berdua." Azharin menegaskan.
"Kau benar. Ceritakan sayangku. Aku akan dengan senang hati mengetahuinya."
Azharin mengatakan siapa dirinya, bagaimana ayah dan ibunya, lalu siapa yang ada dia miliki dan menyayanginya. Azharin tidak bisa menahan air mata ketika bercerita bagaimana dengan tega, ibunya meninggalkan dia dan sang abang.
"Kini kau telah tahu latar belakang aku dan keluargaku. Jika kau ingin mundur, aku bisa memahami." Azharin tidak berani berharap banyak.
"Kau salah Barbie, aku tidak bodoh untuk melepaskan dirimu hanya karena masa lalumu. Simpan pikiran bodohmu itu. Aku akan menemui abangmu."
"Terima kasih, Bernard," ujar Azharin yang bersandar di dada bidang Bernard. Bernard memeluk Azharin, ketika kegetiran dan kesakitan tersalur ke tubuh Azharin yang bergetar.
"Sama-sama Barbie." Bernard mengecup puncak kepala Azharin.
"Sekarang kita masuk. Besok pagi kita kembali ke kota. Kita berangkat bersama."
"Aku bahagia mengenalmu."
"Aku juga."
__ADS_1
***