
Semoga lelah kita hari ini menjadi amal ibadah.Sehingga tidak menjadi kesia-siaan belaka.
______
Tak butuh waktu lama, nyonya Megan dan Nuril menerima buah perilakunya. Tak lebih dari dua jam setelah Azharin melaporkan atas pencemaran nama baik dan mengganggu ketenangan, mereka telah dijemput oleh pihak polisi.
Azharin akan bersiap pulang kantor. Dia hendak membuka pintu mobil, seseorang mencekal pergelangan tangannya dengan kuat.
"Kau keterlaluan Rin!" Hendri hendak menampar pipi Azharin. Azharin menahan dan menghempaskan dengan cepat.
"Apa kau juga ingin merasakan tembok dingin itu!" sentak Azharin dengan dingin.
"Aku memang masih mencintai kau. Bukan berarti aku akan berdiam diri jika keluargaku apalagi ibuku kau permalukan!"
Azharin benar lepas kendali. Kekesalan, sakit hati, kecewa, sedih dan rasa marah menjadi satu. "Kau boleh laporkan aku juga setelah ini. Plaaakk." Satu tamparan mendarat di pipi Hendri. Hendri terkejut. Ini pertama kalinya, Azharin menunjukkan emosi berlebihan.
"Kalian semua membuat aku muak! Kalian semua seperti tidak terdidik! Apa bisa kalian tidak datang ke kantorku untuk masalah pribadi! Bisa tidak haa!!" Azharin berteriak-teriak seperti orang gila.
"Kau tanya pada mereka semua! Apa yang telah dilakukan ibu kau dan calon istri kau. Kau tanya!" Azharin masih berteriak histeris menunjuk teman-temannya yang memang telah mengelilingi, ketika Hendri terlihat melayangkan tangan ke pipi Azharin.
"Kau tahu, aku memutuskan kau, karena malam itu ibu kau datang padaku. Ibu kau tidak setuju karena ayahku suka kawin-cerai. Ibu kau tidak setuju karena ibuku hanya wanita biasa dan bukan wanita yang berpendidikan! Lalu apa yang ibu kau lakukan padaku seperti orang terdidik!"
Azharin tidak peduli lagi, setelah temannya tahu dari keluarga yang bagaimana dia. Apa akan dijauhi atau akan dihina setiap hari. Azharin tidak peduli lagi. Bahkan jika semua mengucilkan, dia tidak mau tahu lagi.
Azharin masih meluap dalam kemarahan. Hendri hanya terdiam. Sonia dan Romi telah berdiri di dua sisi badan Azharin. Sonia berinisiatif mendekati Hendri dan memberi lihat rekaman tentang Azharin yang dipermalukan tadi pagi.
Hendri bungkam seribu bahasa. Dia hanya mendapat informasi ibunya dan Nuril ditahan pihak berwajib. Azharin melaporkan mereka berdua. Hendri yang sedang lelah fisik dan pikiran, menjadi gelap mata ketika mendengar ibunya menangis di telepon. Tanpa pikir panjang dia menyusul ke kantor Azharin.
"Enyah kau selamanya dari hidupku! Aku akan mencabut tuntutan. Apa jaminan bagiku, jika kau dan keluarga kau tidak mengganggu aku! Huuh, apa kau bisa menjamin!" teriak Azharin lagi. Kini suaranya tidak lagi terdengar lantang. Suaranya mulai serak karena air mata telah menemaninya.
"Benar kata Azharin, apa kau bisa menjamin! Jangan-jangan keluargamu akan bertindak lebih dari ini?" tanya Romi akhirnya ikut campur. Dia tidak bisa menutup mata atas ketidakadilan yang diterima sahabatnya.
Romi tidak tahan melihat Azharin yang tidak seperti hari-hari biasa. Bagi mereka ini pemandangan pertama kali melihat Azharin berteriak dan menangis. Azharin yang mereka kenal begitu tenang dan pendiam.
__ADS_1
Hendri tidak sanggup menjawab. Keterdiaman Hendri, menambah keyakinan di hati Romi untuk kembali mendesak Hendri. "Jika kau yakin orang yang pernah kau cintai tidak akan lebih sakit dari sekarang, silahkan kau ancam dia mencabut gugatan."
Romi memberi kode ke Sonia untuk membawa Azharin masuk mobil. Sonia memberikan kunci mobilnya pada Romi. Hendri hanya diam menatap Azharin yang digiring masuk ke dalam mobil. Sonia mengambil alih mengemudi.
Sonia menjalankan mobil dan meninggalkan parkiran kantor. Romi menyusul dan yang lain bubar tanpa mempedulikan Hendri. Mereka merasa ikut merasa antipati pada Hendri. Mereka jadi menyadari, dibalik sikap tenang Azharin menyimpan banyak kesakitan. Mereka justru menjadi jauh berempati pada Azharin.
Azharin Ravenna, walau sifatnya kaku. Teman kantornya mengetahui dia gadis yang ringan tangan dan tidak banyak perhitungan dalam bekerja maupun dalam lingkungan sosial. Dia tidak segan membantu temannya. Baik dari segi materi maupun tenaga. Banyak teman yang sudah menikah meminjam uang di akhir bulan untuk menombok biaya rumah tangga. Azharin tak pernah mengatakan tidak ada.
Dia juga dengan senang hati menolong temannya mencari kado untuk para pasangan suami atau istri yang ingin memberikan kejutan di momen-momen spesial, sementara mereka tidak tahu hendak membelikan apa pada pasangannya.
Di tengah perjalanan, ponsel Azharin berdering. Azharin tidak menggubris. Berulang kali ponselnya berdering, dia tidak ada niat sedikitpun untuk mengangkat. Sonia fokus menyetir.
Azharin memejamkan mata dan menyandarkan badan pada sandaran jok mobil. Dia merasa lelah lebih banyak dari hari-hari biasa. Tanpa dia sadari, Azharin jatuh tertidur. Sonia melirik dari kaca spion tengah. Dia tahu Azharin tertidur. Sonia juga melalui kaca spion tengah, melirik ke belakang. Dia melihat Romi mengikuti.
Tiba di rumah Azharin, Sonia melihat satu mobil telah terparkir. Keningnya berkerut, Sonia sedikit was-was. Hatinya sedikit merasa tenang karena mengetahui ada Romi di belakang mereka.
Sonia jauh lebih tenang, melihat pengemudi mobil tersebut keluar, ketika melihat mobil Azharin memasuki pekarangan. Sonia menjadi tahu, jika itu ternyata lelaki yang tadi siang dan lelaki yang akan pergi nanti malam dengan mereka. Meskipun, Sonia belum tahu apa hubungan Azharin dengan lelaki tersebut.
"Ada apa?" tanya lelaki itu dengan nada cemas pada Sonia. Dia sedikit terkejut ketika bukan Azharin yang keluar dari pintu pengemudi. Romi telah menyusul mendekati Sonia dan lelaki itu.
Sonia melirik pintu Azharin. Tak ada tanda-tanda pergerakan pintu mobil terbuka. Sonia menceritakan singkat dan cepat apa yang terjadi.
"Keluarga tak tahu malu! Awas kalian!" Lelaki itu bergumam penuh kemarahan.
Dia menyusul Azharin dan membuka pintu mobil perlahan. Azharin terkejut mendengar pergerakan pintu mobil di sisinya terbuka.
"Abang?" tanyanya masih berusaha mengumpulkan kesadaran.
"Iya. Abang telepon, tapi kau tak kunjung mengangkat. Abang kebetulan di sekitar komplek rumahmu."
Sonia membuka kembali pintu pengemudi, dia memutar kunci kontak ke tombol off. Sonia sengaja tidak mematikan kontak, agar air conditioner mobil terjaga, dan suhu mobil tetap dingin ketika Azharin masih tertidur.
Lelaki itu membantu Azharin turun dengan merangkul pundaknya. Sonia dan Romi mengikuti. Azharin merogoh tas dan memberikan kunci rumah pada Sonia.
__ADS_1
Mereka duduk di ruang tamu. Lelaki itu terlihat berpikir keras. Dia memijat pelipisnya, terkadang terlihat mengusap dagunya.
"Rom, mau aku buatkan teh hangat?" tawar Sonia memecahkan kebisuan.
"Bolehlah." Romi tidak menolak.
"Abang mau aku buatkan juga?"
Lelaki itu menatap Sonia sekilas. "Boleh. Tolong buatkan abang kopi. Apa Azharin mempunyai kopi?" tanyanya pada Sonia.
"Ada. Ok, tunggu sebentar."
Sonia memanaskan air dan tak lupa membuatkan Azharin teh tarik. Dia tahu Azharin juga suka meminumnya saat pulang kerja. Sonia juga menyukai minuman itu.
"Ini siapa?" selidik Lelaki itu pada Romi.
"Saya Romi, Bang. Teman kantor Azharin dan Sonia. Rumah kami kebetulan searah, jadi saya dan Sonia sering pergi bersamaan."
"Saya tidak pernah melihat kamu dan Sonia dulunya dekat dengan Azharin?"
"Kami dekat dengan Azharin baru setahun ini Bang. Saya dan Sonia baru setahun lebih sedikit di kantor imigrasi sini." Romi menjelaskan dengan singkat.
"Ohhh."
"Iya Bang. Arin merasa cocok saja berteman dengan mereka berdua." Azharin menambahkan.
"Bagaimana keadaan Arin sekarang?"
"Arin tak apa Bang. Arin tadi hanya sangat emosi. Jadi lelah saja."
"Kalau begitu, istirahat saja. Kita batalkan saja nanti malam."
***
__ADS_1