
"Aku bisa gila, Alex." Bernard berjalan mondar-mandir di apartemen Alex. Tangannya sesekali mengurut batang tengkoraknya. Alex hanya diam memperhatikan.
Kekhawatiran dan kegelisahan Bernard semakin kuat setelah dua hari berlalu. Terbayang wajah istrinya yang selalu menatapnya dalam akhir-akhir ini. Azharin yang tenang, tidak banyak menuntut. Rindu dan takut membayangi wajah Bernard.
Bernard kemudian memilih duduk dihadapan Alex. Dia duduk sedikit mencondongkan badan ke arah depan. Sikutnya bertumpu pada pahanya. Tangan terkepal. Kepalan tangannya menemani bahasa tubuhnya yang cemas.
"Apa perkembangan Laurren? Dia terlibat?" Terlihat sikap tak sabar menanti jawaban Alex.
Alex menggeleng. "Seperti yang kau kira. Dia tidak tahu apa-apa."
"Hmmm. Apa yang terjadi sebenarnya?" Bernard terlihat berpikir keras.
"Kota itu sangat kecil, tidak ada petunjuk apapun." Bernard menggumam.
Sekuat apapun Bernard berpikir, dia tidak memikirkan hilangnya Azharin karena masalah pribadi atau bisnis. Azharin tidak pernah mau diajak untuk ikut dalam acara-acara perusahaan. Azharin juga tidak pernah mampir ke kantor. Azharin murni hanya menjadi istri di rumah. Satu-satu yang terpikir oleh Bernard, ini murni penculikan tanpa alasan pribadi.
"Aku harus ke bar, kau ikut atau tidak?" Alex telah berdiri dan menunggu jawaban Bernard. Bangkit dari sofa jawaban Bernard dia setuju ikut ke bar.
"Di mana Laurren?" tanya Bernard membuka suara. Alex telah melaju di jalanan.
"Aku mengurungnya di suatu tempat. Kau ingin bertemu?"
"Ya."
"Untuk apa?"
"Aku hanya ingin memastikan tujuan isi emailnya."
"Bukan untuk mengulang kisah cinta?" tanya Alex sinis.
"Kau salah paham. Aku sangat mencintai Barbie."
"Baguslah."
"Kapan kau bisa mengajak bertemu dengannya?"
"Nanti, setelah aku berjumpa dengan seseorang di bar."
Keheningan membentang di antara mereka. Sibuk dengan pemikiran sendiri. Hingga Bernard tersentak ketika Alex berkata, "Kau ingin di sini saja?"
Bernard tanpa banyak kata mengikuti langkah Alex. Alex terus menuju ke ruangannya. Terlihat Alex tersenyum dan mengangkat tangan, ketika orang yang mengenal Alex menyapanya.
Alex menuju ke balik meja kerjanya, sedangkan Bernard menuju ke sofa. Bernard langsung memilih membaringkan tubuhnya. Dia menelepon seseorang dan ketika terdengar kata ya pak, Bernard bertanya, "Apa ada petunjuk?"
Lantas Bernard terlihat kecewa. Alex tak perlu bertanya banyak melihat gurat kecewa di wajah Bernard.
Tok ... tok ... tok ....
"Masuk."
Anak buah Alex bersuara kecil karena melihat Alex tak sendiri dalam ruangan.
__ADS_1
"Di mana dia?" tanya Alex dengan biasa saja. Bernard tanpa menoleh mendengar perkataan Alex.
Alex ke luar ruangan, setelah meminta Bernard menunggunya. Bernard tidak ingin tahu urusan Alex. Baginya, memikirkan dan mencari hilang secara mendadak istrinya adalah urusannya.
Bernard kembali menghubungi orangnya, dia hanya ingin bertemu Laurren dan akan kembali ke daerah di mana hilangnya Azharin.
Tak lama, Alex kembali. Bernard tak sabar ingin kembali ke kota kecil di mana Azharin belum ada kabar. "Alex, aku merepotkan kau. Bisakah malam ini kita berjumpa Laurren?"
"Begitu tidak sabaran?" Alex selalu saja terpancing bersikap sinis jika Bernard menyebut nama Laurren.
Bernard tak ingin berdebat. "Ya, karena aku ingin malam ini kembali ke kota kecil itu."
"Malam ini?"
"Ya, kau kira aku bisa tenang. Istriku entah di mana sekarang." Wajah gelisah Bernard membuat Alex merasa bersalah karena masih saja mencurigai Bernard ada perasaan pada Laurren.
"Sorry. Lets go."
***
Sejam perjalanan, Alex tiba di sebuah rumah yang terlihat cukup besar. Pagar rumah otomatis terbuka sendiri. Alex memarkirkan mobilnya di depan halaman. Seseorang telah keluar dan menyambut.
"Bagaimana dia?" tanya Alex sambil terus melangkah ke dalam rumah.
"Dia tidak mau menelan makanannya. Saya mengabaikan seperti permintaan anda Tuan," jawab lelaki itu dengan hormat.
"Buka pintunya," titah Alex.
"Kau lagi! Apa maumu he!" Laurren membentak Alex dengan kasar.
Alex langsung mencapit dagu Laurren. "Kau tidak bisa membentakku!"
"Kenapa kau mengurungku?" Laurren menurunkan nada bicaranya, dia memelankan suaranya. Dia tidak ingin memancing kemarahan Alex lebih jauh.
"Aku ada hadiah untukmu."
"Aku tidak butuh hadiahmu. Cukup kau membebaskan aku. Aku tidak pernah mengusikmu, mengapa kau selalu menyusahkan aku?"
"Aku rasa, kau sangat menyukai hadiahku kali ini."
"Aku tid__"
"Masuklah."
Bernard mendatangi dengan langkah pelan. Aura dingin memancar dari tubuhnya. Langkah kakinya yang pelan seakan terdengar berat di telinga Laurren maupun Alex. Sikap curiga Alex langsung hilang begitu melihat aura Bernard yang begitu dingin. Ini kali pertama Alex melihat sikap Bernard yang penuh kebencian.
"Bern ... Bernard?? Kau ... kau datang?" suara Laurren terdengar putus-putus. Dia terkejut dan juga sangat senang dengan kedatangan Bernard.
Laurren tiba-tiba mendapatkan angin segar dan merasa bisa terbebas dari kurungan Alex.
"Ya aku datang." Bernard tegak menjulang di depan Laurren yang cuma beberapa langkah. Alex telah bergeser dan tegak di samping Bernard.
__ADS_1
"Tetap di tempatmu!" Bernard menahan dengan mengembangkan telapak tangan ke arah Laurren melihat Laurren hendak berlari ke arahnya. Laurren tercekat. Dia baru menyadari ekspresi Bernard sangat dingin dan pandangannya seakan ingin membunuh.
Alex semakin terkejut melihat reaksi Bernard bertemu Laurren. Sikap dan bahasa tubuhnya sangat berbeda ketika bersama Azharin. Tak ada keramahan sedikitpun. Sangat berbeda dari ekspetasi dalam pemikiran Alex.
"Kau mengenal Alex? tanya Laurren mengalihkan perhatian.
"Aku tak perlu menjawab apapun darimu, tetapi kaulah yang harus menjawab apa yang perlu aku tahu."
"Apa aku menjadi parasit di sini?" tanya Alex pelan tertuju hanya pada Bernard.
"Kau berhak tahu. Agar kau tidak selalu menuduhku." Wajah Bernard terlihat mengeras.
Bernard telah menimbang jauh sebelum dia akan berbicara pada Laurren. Dia telah melibatkan Alex, jadi Alex juga harus tau masalah apa yang terjadi di balik cintanya dengan Laurren pada masa lalu.
Laurren terdiam seperti patung hidup. Dia sadar keinginannya untuk bebas sekadar mimpi di siang bolong. Bernard yang dulu sudah tidak ada lagi.
"Kau terlibat dengan hilangnya istriku? Sudah berapa lama kau rencanakan!" tanpa banyak basa-basi dia mengajukan pertanyaan dan pernyataan. Sikap Laurren yang terlihat gelagapan membuat kening Alex berkerut. Sikap itu jauh berbeda saat Alex yang menanyakan beberapa waktu lalu.
"Aku tidak mengerti apa yang kau bicarakan."
"Aku bisa membuang mayatmu di sini. Tak ada yang tahu, tak ada yang bisa menemukanmu. Mereka hanya mengira kau pergi dengan lelaki kaya. Bukankah saudara kembarmu yang dilihat Gilberto di pusat perbelanjaan malam itu!"
"Aku semakin tidak mengerti, Lorenna masih di Italia setahuku."
"Oh ya? Apa kau yakin?" Bernard berkata dengan mencemooh.
"Ya."
"Terlatih sekali lidahmu berbohong. Di mana istriku!"
"Aku tidak tahu apa yang kau bicarakan." Sebisa mungkin Laurren tetap mengelak.
"Kau tidak tahu atau tidak mau memberi tahu!"
"Aku tidak tahu. Aku benar-benar tidak tahu." Laurren mengulang kata-kata dan justru memperlihatkan dia semakin panik.
"Apa salah istriku padamu?" Bernard maju mendekati Laurren. Laurren ketakutan. Secara spontan Laurren bangkit dan berdiri merapat ke dinding kamar.
"Apa salah dia?" ulang Bernard lagi.
"Tidak ada." Laurren menjawab singkat. Bernard tersenyum dingin.
"Lalu siapa orang di belakangmu?"
"Lepaskan aku. Aku akan berkata terus terang." Laurren menyerah. Dia sangat takut melihat sikap Bernard sekarang. Belum lagi reaksi Alex yang juga terlihat marah. Wajah Alex telah menegang dan rahangnya mengeras.
Alex tak sabar, dia memanggil Laurren untuk kembali duduk di tepi ranjang. Laurren melangkah dengan penuh ketakutan. Kepalanya tertunduk, tangannya gemetar.
Alih-alih dari rasa takutnya, dia menangis. Kedua lelaki itu tak ada yang berempati. "Aku sangat membenci kalian berdua."
"Itu hak kau. Aku tak peduli," jawab Bernard. Bernard kembali berkata, "Aku hanya butuh tahu, di mana istriku!"
__ADS_1
***