
Ada baiknya jadikan masa lalu yang pahit sebuah pelajaran berharga, bukan perjalanan dendam semata.
________
Bernard langsung menuju ke rumah orang tuanya setelah pergi sejenak ke pusat perbelanjaan yang tak jauh dari hotel Azharin menginap. Azharin membawa sedikit buah tangan. Kebiasaan Azharin jika bertamu atau mengunjungi nyonya Megan masih terbawa jauh ke negara lain.
Bernard telah melarang Azharin untuk merepotkan diri membawa buah tangan. Azharin tetap bersikeras dan sekali lagi Bernard tak bisa menolak.
Azharin telah mengetahui siapa saja yang tinggal dengan ibu Bernard. Bernard telah bercerita ketika mereka menikmati sarapan pagi.
Kini mereka telah sampai di depan rumah orang tua Bernard. Rumah itu cukup besar. Pekarangan tanpa ada pagar menyatu dengan tetangga lain. Rerumput hijau menghiasi pekarangan sekitar rumah.
Orang tua Bernard memang memilih ke pinggiran kota untuk masa tuanya. Begitu mendengar mobil Bernard memasuki pekarangan, ibu dan kakak serta keponakan Bernard menyongsong mereka di beranda rumah.
Mata-mata berwarna serupa dengan Bernard telah memandang Azharin. Azharin sedikit nervous. Azharin menatap Bernard. Bernard mengangguk pasti. Bernard meremas lembut tangan Azharin.
Azharin dan Bernard terus melangkah pasti menuju ke beranda. Azharin semakin canggung ketika semakin mendekati keluarga Bernard. Kecanggungan itu mulai sirna ketika si kecil Barbara berteriak dan melompat ke dalam pelukan Bernard.
"Paman, kenapa lama tidak berkunjung." Barbara bertanya setelah Bernard mencium kedua pipinya.
"Paman sangat sibuk, sayang." Bernard berkata sambil menurunkan Barbara kembali.
"Hallo Ma, apa kabar?" tanya Bernard sambil memeluk dan mencium ibunya. Azharin kemudian menyalami dan sedikit membungkuk badan. Azharin masih bersikap kaku dan formal.
"Salam kenal Nyonya, saya Azharin," ujar Azharin sambil menjabat hangat tangan ibu Bernard.
"Emilia."
Dia melanjutkan berkenalan dengan kakak perempuan Bernard. "Azharin."
"Glorya," ujar kakak Bernard ketika Azharin memperkenalkan diri. Senyum manis tersungging.
"Halo Nona Kecil, perkenalan namamu pada wanita cantik ini." Bernard kembali menggendong Barbara.
__ADS_1
Barbara menjabat tangan Azharin yang telah terulur. Azharin membalas senyum ramah Barbara. Azharin bisa merasakan tidak ada penolakan dari keluarga Bernard. Ada rasa menghangat di hati. Ibu Bernard mengajak Azharin masuk. Azharin memberikan bingkisan kecilnya pada Glorya.
"Papa ke peternakan Ma?" tanya Bernard ketika tidak melihat ayahnya. Ayahnya memang mempunyai peternakan kecil untuk mengisi masa tua. Letak peternakan tak terlalu jauh dari rumah mereka.
"Begitulah, dia bersama Rodney. Dia meminta kau mengabari ketika di sini," ujar ibunya. Mereka telah duduk di kursi tamu.
Bernard tak membuang waktu, mengabari ayahnya. Ternyata ayahnya telah arah pulang. Bernard masih memangku keponakan perempuannya. Keponakan lelakinya sedang bersama ayah Bernard.
Azharin masih terlihat diam selain hanya menebar senyum kecil dan terkadang samar. Sifatnya semakin terlihat pendiam dan itu membuat Bernard senang. Azharin seperti wanita penurut.
"Apa kau menyukai Azharin, Ara?" tanya Bernard memanggil nama kesayangan keponakannya.
Gadis kecil itu mengangguk. Lalu ibunya bertanya, "Mengapa matamu hanya memandang dia, hai Nona Kecil?"
"Mengapa dia berbeda dengan kita?" tanya gadis itu heran. Mereka semua tidak menyangka dengan pertanyaan Barbara.
Bernard lebih dulu tanggap. "Azharin dari negara jauh. Bukan dari negara kita."
"Lalu mana Laurren?" tanya polos gadis itu.
Glorya hanya bisa menatap tajam pada Barbara. Namanya anak-anak, Barbara tidak paham tatapan ibunya. Melihat pamannya diam, dia kembali bertanya, "Apa Paman tidak bersama dia lagi?"
Azharin bisa menilai Bernard salah tingkah karena pertanyaan keponakannya. Azharin hanya penasaran, mengapa Bernard belum juga menjawab. Azharin mengabaikan rasa penasaran dan berdiam diri dengan bersikap seakan tidak terjadi apa-apa. Sikap tenang Azharin malah membuat pikiran Bernard berkecamuk.
Emilia sudah mengetahui jika anaknya telah tidak ada hubungan dengan Laurren. Emilia hanya pernah sekali bertanya, ketika berapa bulan terakhir Bernard hanya pulang sendiri. Emilia memang tidak bertanya banyak setelah Bernard mengatakan telah selesai. Emilia tidak pernah ikut campur tentang percintaan anak-anaknya.
Melihat Bernard terdiam, sedikit membuat hati Emilia gundah. Ini pertama Emilia melihat anaknya salah tingkah di depan wanita. Apalagi wanita itu diperkirakan Emilia baru dikenalnya. Emilia hanya tahu beberapa hari yang lalu ketika Bernard akan kembali dari Spanyol. Bernard hanya mengatakan dia akan mengenalkan wanita yang dikenalnya dari Indonesia.
Emilia mau tidak mau ikut campur. Instingnya sebagai ibu mengatakan anaknya sangat ingin memiliki wanita Asia ini. Entah itu karena cinta atau ada unsur lain. Emilia juga bisa merasakan gadis yang tenang ini justru lebih keras dari Laurren yang telah dikenalnya bertahun-tahun.
"Pamanmu tidak bersama dia lagi." Bernard masih menatap penuh arti pada diamnya Azharin. Suara ibunya menyadarkan keterdiaman dirinya.
"Iya, paman sudah setahun lebih tidak bersamanya."
__ADS_1
Bernard sengaja mengatakan dengan bilangan tahun. Walau dia yakin keponakannya tidak memahami apa itu waktu setahun. Baginya cukup Azharin bisa merangkaikan apa yang terjadi. Dugaan Bernard terbukti, Azharin merasa sedikit lebih lega. Itu artinya Bernard mengenalnya setelah tidak berhubungan dengan Laurren.
Namun, sekali lagi keluarga ini dan Azharin terhenyak ketika mulut mungil gadis kecil itu mengatakan kalimat dengan nada keras. "Bagus!"
"Why? What's wrong?" tanya Bernard.
Bernard langsung merespon perkataan gadis kecil itu dengan segudang keingintahuan, dan ketika dia menyadari cukup terlambat bagi dirinya untuk menyesali. Kembali mata birunya menatap Azharin. Mata biru itu semakin panik ketika melihat Azharin sedikit mengerutkan dahi.
"Mati aku, gadis ini pasti berpikiran lain padaku."
"Kau jangan salah sangka, Barbie. Aku hanya ingin tahu, mengapa Ara baru banyak berkata sekarang." Dengan cepat dia menjelaskan.
"Barbie? Bukankah namanya Azharin?" tanya polos Barbara membuat senyum hadir tidak hanya di bibir Azharin.
"Paman suka memanggilnya demikian. Bukankah dia seperti boneka?"
"Paman benar. Dia cantik dan kulitnya juga cantik." Barbara merentangkan dua tangannya. Dia bermaksud membandingkan dengan kulit tangannya.
"Dia juga tidak menakutkan seperti Laurren." Barbara lagi-lagi membandingkan dengan Laurren.
Bernard hanya bisa mengusap pelan tengkuknya. Dia ingin melarang Barbara menyebut nama Laurren, tetapi Bernard lebih khawatir jika Azharin tambah salah paham. Mengira Bernard ingin menutupi sesuatu.
Azharin tidak bisa menyimpan perasaan yang mengganjal nantinya. Akhirnya, Azharin buka suara. Dia nekat bertanya berpulang apa penilaian keluarga Bernard pada dirinya. Dia ingin jawaban yang belum terjawab.
"Maaf jika aku bertanya. Apa Ara tidak suka Laurren?" tanya Azharin terus terang pada Barbara.
Dia sengaja memancing Barbara. Matanya menatap Barbara dengan lembut. Walau nada Azharin lembut, namun memberikan rangsang kejut pada syarat otak Bernard mendengar pertanyaan Azharin.
"Tidak."
"Kenapa?" Kejar Azharin cepat sebelum ada yang menyela perkataan Barbara.
"Aku pernah melihat dia menelepon dan mendengar dia mengatakan aku sangat mencintaimu sayang. Padahal paman ada di sini."
__ADS_1
Jika Azharin dengan cepat menoleh pada Bernard. Emilia malah memperhatikan Azharin begitu juga dengan Glorya.
***