Love Between Two Countries

Love Between Two Countries
Dibalik Hilang Azharin


__ADS_3

Di suatu rumah besar jauh dari perkotaan, "Apa rencanamu dengan menyekap aku di sini?" tanya Azharin. Kedatangan Alex adalah untuk kedua kalinya di hari ke lima Azharin menghilang.


"Aku tidak menyekapmu," jawab Alex.


"Kau tidak menyekapku, tetapi kau menahanku. Aku ingin bertemu dengan Bernard!" Nada Azharin menjadi ketus. Azharin masih ingat ketika akan menuju mobil dia melihat dua orang di belakang mobil seakan hendak menggores kaca belakang mobil.


Azharin baru selangkah hendak melihat apa yang dilakukan dua pria tersebut. Tiba-tiba dia merasa dibekap dan tak sadarkan diri. Ketika sadar dia telah berada di sebuah kamar tanpa bisa keluar sekalipun.


"Tenang. Setelah semua berjalan seperti rencanaku. Aku akan mengembalikanmu pada suami tercintamu itu." Nada pelan tanpa ada tersirat rasa bersalah menguar di sebuah kamar mewah dari bangunan rumah tersebut yang juga terlihat mewah.


"Alex! Kau bercanda melampaui batasan." Azharin terlihat sangat geram dengan sikap Alex.


"Aku tidak bercanda." Alex hanya menjawab seperti tidak ada masalah. Rasa geram di hati Azharin menjadi.


"Lalu ini apa namanya! Kau menculikku, bahkan kau tidak memikirkan aku yang sedang hamil. Kau tidak mengizinkan aku keluar kamar sedikitpun!" Azharin berkata dengan keras, melepaskan kekesalan.


"Aku akan melepaskanmu setelah usahaku tercapai." Alex kekeh dengan tujuannya. Tidak mempedulikan suara Azharin yang keras, tidak seperti biayanya. Alex terkesan tak ambil peduli.


Sikap Alex yang seperti itu menambah kegeraman Azharin. "Aku tidak mengira kau sepicik ini dan selicik ini." Azharin menghujamkan tatapan tajam pada Alex. Alex hanya menyeringai tanpa ada niat adu argumen terhadap Azharin.


Azharin tegak di tepi jendela yang tertutup rapat. Azharin hampir tak percaya siapa dalang yang menculiknya. Setelah hari ke empat, Alex dengan gagahnya datang dan menemui Azharin tanpa rasa bersalah dia menyapa tiada beban di hati.


Azharin hanya bersikap juga tidak terjadi apa-apa. Walau di hati kecilnya dia sangat ingin tahu dibalik rangkaian dia berada di satu kamar.


Tetapi, hari ini dia tidak bisa membiarkan penasarannya berlarut. "Apa maumu!" Tak ada nada persahabatan dari suara Azharin.


"Percayalah padaku. Sedikitpun aku tak berniat salah padamu." Alex berkata dengan memelankan suaranya.


Masih tanpa berbalik memandang Alex, Azharin berkata sinis," Percaya padamu? Pada orang yang memisahkan aku dengan suamiku?"


"Ya." Jawaban Alex sangat singkat.


Azharin berbalik dan menatap tajam pada Alex. Tatapan Azharin tetap tajam, namun hatinya melunak ketika melihat kesungguhan di bola mata cokelat pria tersebut.


"Baik. Aku percaya padamu ... apa kalimat itu yang ingin kau dengar?" tanya Azharin mencemooh, dia masih berpura sinis. Di hati kecilnya, melihat tatapan Alex dia percaya, Alex tidak akan menyakiti dirinya.


"Ya, kau harus percaya padaku." Alex meyakinkan lagi.


"Pada orang yang telah menculikku dari suami dan temanmu sendiri?" Azharin ingin memastikan lebih jauh.


"Maafkan aku. Untuk itu aku mengaku bersalah padamu dan Bernard."


"Keluarkan aku, dan mengakulah pada petugas di kepolisian." Azharin sengaja mempermainkan Alex. Masih tersisa kekesalannya ketika mengetahui jika Alex yang berada dibalik semua ini.


"Aku tak bisa mengeluarkan sekarang. Aku tak ingin semua sia-sia." Alex terdengar menyesal.


"Aku tak mengerti denganmu." Azharin memojokkan Alex.


"Lebih baik begitu untuk waktu ini," ujar Alex.


"Terserah kau. Hingga kau mencapainya, kau harus menjaga dan memastikan Bernard baik-baik saja. Apapun itu, kau harus memprioritaskan dia." Azharin berkata tenang dan serius.


Alex hampir lupa jika di depannya ini wanita yang sama ketika dia pertama kali mengenalnya. Azharin bisa begitu percaya padanya dan tenang membawakan diri.


"Apa kau tidak mendengarkan perkataanku?" tanya Azharin menuju ranjang dan menepuk bahu Alex sebelum berlalu melewati.


Azharin lalu duduk bersandar dengan rileks. Dia merasa tenang setelah meyakini bahwa Alex tetaplah Alex yang dia kenal, meskipun Alex tetap tidak menjelaskan secara rinci tujuannya. Hatinya tetap mempercayai Alex sepenuhnya.

__ADS_1


"Aku mendengar. Baik, aku janji padamu." Alex terdiam setelah mengatakan itu.


Azharin justru memamerkan senyum tipis. Dia berkata sambil meraih minumannya. "Kenapa?"


"Kenapa tentang apa?" sahut Alex sedikit terbodoh, dia menarik kursi. Dia duduk tepat di samping Azharin yang bersandar di kepala ranjang dengan memegang satu kaleng minumannya.


"Kau seperti banyak memikirkan sesuatu. Ada apa? Tentang Bernard?" tanya Azharin beruntun ketika Alex banyak diam.


Alex masih terdiam. Dia menimbang-nimbang, apakah Azharin harus tahu atau tidak tentang Bernard.


Azharin memperhatikan raut wajah Alex yang bimbang. Azharin menyenggol bahu Alex dengan menekankan jari telunjuk. "Cerita saja. Kau masih teman terbaikku dan mungkin tak ubahnya seperti saudara bagiku." Azharin meyakinkan.


Alex terlihat menghela napas berat. "Aku tidak ingin ikut campur, tetapi aku juga tidak ingin kau terlihat bodoh dan tak tahu apa-apa." Alex menyuarakan isi hatinya.


"Kalau begitu aku memilih terlihat bodoh saja. Aku tidak ingin banyak tahu, jika itu hanya membuat sakit terlalu banyak untuk hatiku. Bagaimana? Kau setuju?" Azharin memberikan pilihan.


"Baik. Aku setuju jika itu pilihanmu."


"Berapa lama lagi aku di sini? Aku ingin bersamanya." Azharin merasakan rindu dengan perhatian suaminya.


"Seminggu paling lama."


"Lama sekali." Azharin terdengar sedikit mengeluh.


"Sekali lagi, maafkan aku."


"Apakah ini tentang bisnis kalian? Bisakah kau sedikit memberikan aku ketenangan."


"Ya. Aku tak ingin kau dijadikan titik lemah bagi Bernard."


"Terima kasih. Kau harus tahu aku tetap memandang kau wanita spesial dalam hidupku."


"Aww, jangan sampai suamiku mendengar ini. Dia bisa menghilangkan dirimu, dan aku tak ingin kehilangan aset berhargaku." Azharin bercanda. Dia paham ke mana maksud Alex. Bukan untuk merebut dirinya dari Bernard.


Mendengar Azharin bercanda, keresahan Alex berkurang, dia ikut tertawa kecil. "Apa kau menyesal menikah dengan Bernard dengan adanya peristiwa ini?"


"Jika aku katakan menyesal, apa kau ingin menggantikan posisi Bernard?"


"Nona Cantik, aku yakin kau paham dengan maksudku?" Alex meminta Azharin untuk menjawab serius.


"Ya ya ya, aku paham. Aku tidak menyesal. Bernard sangat memanjakanku dan menyayangi aku. Aku rindu padanya."


"Baguslah. Tahanlah rindumu beberapa hati ini. Setelah itu berbahagialah bersamanya dan lupakan apapun yang terjadi di masa lalu."


"Tentang dia dan Laurren?" tanya Azharin tajam.


Alex terkejut, tetapi dia berhasil menenangkan diri. "Apa yang kau tahu tentangnya?"


"Hahaha, kau juga telah mengetahuinya. Itu artinya info yang kuterima benar adanya." Azharin tertawa sedikit sumbang.


"Apa maksudnya?" Alex berlagak bodoh dan memikirkan apa yang Azharin tahu, tepatnya sejauh mana Azharin mengetahui sesuatu.


"Sudahlah sayang. Kau tidak perlu menutupi masa lalu Bernard yang berbohong padaku." Azharin tersenyum tipis.


"Kau tahu? Dari mana?"


Azharin berkata menukar pertanyaan, "Tepatnya berapa lama aku mengetahuinya?"

__ADS_1


"Aku tidak peduli itu. Dari mana?" Alex serius dan tanpa sadar menekan sedikit keras bahu Azharin.


"Kau menyakitiku Lex." Azharin meringis dan menepiskan pelan tangan Alex yang mencengkram bahunya.


"Maaf."


"Laurren sendiri yang bercerita padaku melalui pesan mesengger. Aku awalnya tidak mempercayai dan tak ingin peduli. Namun kini aku tahu dia tidak berbohong."


"Kau kecewa?"


"Pastinya itu ada terbersit dalam hatiku." Azharin tak berbohong.


"Lalu?" tanya Alex.


"Lalu aku tidak tahu, apakah aku bisa mengobati rasa kecewaku atau tidak. Aku tidak bisa menjawabnya sekarang. Tanyakan nanti saja ketika kau mengembalikan aku pada suamiku."


"Baiklah. Semoga kau bisa berpikir baik. Itu hanya masa lalunya." Alex begitu tulus berkata pada Azharin. Dia berharap Azharin bisa berbahagia tanpa bayangan masa lalu."


"Bukankah kau berharap aku kecewa?" tanya Azharin menatap Alex.


"Aku tidak sekejam itu."


"Lalu mengapa kau kejam pada Laurren?"


"Apa dia juga mengatakan sesuatu?"


"Begitulah."


"Dia pantas mendapatkannya bahkan jika lebih kejam dia juga pantas." Suara Alex terdengar dingin. Azharin merasakan bulu tengkuknya meremang. Baru Azharin menyadari sisi lain Alex. Alex ternyata bisa begitu dingin dan kejam.


"Kau takut padaku?" tanya Alex setelah menyadari reaksi berbeda dari Azharin.


"Sejujurnya, ya." Azharin menjawab perlahan.


"Tak perlu takut. Aku tidak mungkin bisa melakukan padamu. Padanya itu hal berbeda. Kau harus tahu, dia sangat licik."


"Begitukah?"


"Nantilah kita bahas itu. Kau baik-baik di sini. Apa yang kau perlukan minta pada kepala pelayan."


"Aku boleh keluar kamar?"


"Baik, tapi berjanjilah jangan macam-macam. Jangan mengacaukan apa yang telah aku susun."


"Baik. Kau juga berjanji, jagalah ayah calon bayiku. Hidupku sudah sangat berat aku lalui di negaraku. Aku ingin bahagia dengannya." Azharin melupakan pesan-pesan dari Laurren.


"Ya. Aku janji. Baiklah aku pergi, aku masih banyak urusan."


"Ya."


Azharin tersenyum manis setelah Alex melangkah meninggalkan kamar.


***


MAAF JIKA LAMA DAN TIDAK LAGI TERATUR TERBITNYA. BANYAK HAL YANG MENJADI PEMICUNYA.


BUAT YANG KASIH SUPORT, TERIMA KASIH BANYAK. TERUTAMA BUAT KAK EMILIA, KAK TUTI, KAK SANTI DAN KAK YENI. 🙏😍

__ADS_1


__ADS_2