Love Between Two Countries

Love Between Two Countries
Nuril Menyerang Azharin


__ADS_3

Di tengah masalah masih ada solusinya. Bisa dengan negosiasi atau menghilang dan menganggap tak pernah ada selamanya.Karena, setiap orang telah ada takdir tersendiri


______


Pagi ini Azharin libur. Dia mengisi merubah tata letak barang di kamarnya. Azharin membutuhkan waktu sejam. Dia memandang senang melihat suasana baru di kamarnya.


Azharin melirik ketika dering ponsel berbunyi. "Hallo," ujar Azharin. Dia melihat nomor telepon tanpa identitas.


"Masih ingat aku?" satu suara yang Azharin kenal bertanya.


"Ohhh, kamu. Ada apa?" tanya Azharin malas.


"Bukan menanyakan kabar sahabatmu malah nadamu seperti antipati begitu padaku."


Azharin enggan berbasa-basi. "Lama tak ada kabar, tahu-tahu menelepon. Apa mau menyampaikan kabar bahagia?"


"Kamu tahu kalau ak__" ucapan wanita di ujung ponsel terputus. Azharin langsung menyambar seperti bensin diberi api.


Azharin berkata, "Tak perlu bersandiwara. Selamat sudah berhasil menghancurkan hubungan aku dan selamat bahagia. Ini ke depannya, anggap kita tidak pernah saling kenal. Jangan ganggu hidupku!"


Azharin memutuskan sambungan telepon dan pergi memblokir kontak tersebut. Azharin juga segera mencari kontak Hendri dan memblokir. Azharin benar tak ingin mengetahui apapun dari mereka.


Azharin juga membuka media sosialnya. Dia mencari akun sahabat kuliahnya tersebut dan juga akun Hendri lalu memblokir. Azharin lama tidak berselancar di dunia maya. Libur kali ini dia juga memanfaatkan mengecek messenger.


Begitu banyak pesan yang belum dibaca. Mulai dari teman dunia nyata sampai hanya sekadar teman dunia maya. Azharin hanya membuka beberapa pesan secara random dan itu pesan mengajak kenalan. Azharin sedang bosan dan pikiran gila merasuki otak.


Azharin melihat satu iklan tentang online dating. Iseng-iseng dia memasang aplikasi tersebut dan membuat akun. Dia meletakan satu foto saja. Itupun foto yang dia edit sehingga tidak begitu mirip dengan dirinya. Dia melihat-lihat profil para pria luar negeri.


"Hmmm, ini gagah juga. Apakah aku mencari pria luar saja?" batin Azharin berbisik nakal.


Azharin Senyum-senyum sendiri. Jari lentik Azharin terus menggulirkan beranda aplikasi tersebut. Dia mencari tempat untuk merebahkan diri. Dia berbaring di lantai kamar. Dia merasa sayang menempati tempat tidur yang baru diganti dengan seprai baru.


"Wow ini seksi sekali," gumam Azharin terpesona. Azharin membuka profil dan membaca info lengkap.


Puas melihat-lihat dan tidak satupun yang diberi tanda suka, dia keluar dari aplikasi tersebut. Azharin berniat menyegarkan diri.


***


Tiga hari setelah sahabat lamanya menelepon. Mereka berdua datang di kantor Azharin. Bukan untuk bertemu Azharin, tetapi untuk memperpanjang paspor Hendri dan membuat paspor baru bagi calon istri, Nuril.


Azharin menutupi keterkejutan, dia melayani dengan baik. Hendri hanya menatap dalam pergerakan Azharin ketika sedang memperhatikan kelengkapan berkas yang disodorkan oleh Hendri. Hendri yakin dia akan berhadapan dengan Azharin.

__ADS_1


Awalnya dia ingin mereka pergi secara terpisah. Namun kedua orang tua mereka memaksa bersamaan saja mengurusnya. Nuril memperhatikan bergantian antara Hendri dan Azharin. Azharin terlihat tak acuh sementara Hendri begitu perhatian. Itu jelas membuat Nuril terbakar api cemburu.


"Bisa dipercepat memeriksa berkasnya," ujar Nuril menyerang Azharin.


Tidak hanya Azharin yang menoleh pada Nuril. Beberapa rekan Azharin juga menoleh heran. Beberapa orang ada yang mengetahui jika Hendri kekasih Azharin. Tetapi hanya sebatas tahu wajah. Hendri pernah menjemput Azharin, namun Azharin tidak pernah mengenalkan.


"Apa-apaan kamu," bisik Hendri.


"Kenapa, apa kamu masih ingin mendekatinya?" balas Nuril tak senang.


"Ingat, aku menikahimu hanya terpaksa. Jadi jangan ganggu urusan pribadiku." Hendri berkata sedikit keras, sehingga Azharin bisa mendengar. Nuril menatap tajam pada Azharin, sayang Azharin tidak melihat. Azharin tidak mau peduli.


"Silakan ke ruang sebelah untuk foto," ujar Azharin tetap ramah seperti melayani yang lain. Azharin menyodorkan kembali berkas yang sudah diperiksa dan diberi cap.


"Jangan sok ramah kamu!" Nuril berkata keras dan mempermalukan dirinya sendiri.


"Maaf Bu, di sini anda nasabah kami," ujar Azharin ramah. Namun tidak hanya sampai di situ, dia berkata, "Di luar mungkin iya anda perusak hubungan orang." Azharin tidak memikirkan sangsi yang akan dia terima. Dia tidak ingin ditindas. Kata-kata nyonya Megan masih terngiang di telinga. Menyulut hati kecilnya.


Azharin sengaja bersuara lebih keras. Sorot mata penasaran terlihat di mata rekan yang mendengar. Nuril kehilangan wajah.


"Apa maksudmu!" suara Nuril menggelegar di ruangan yang masih lumayan sunyi.


"Sudah! Jika kau membuat keributan di sini, aku tak segan membatalkan pernikahan dan mengatakan kau yang memicu keributan!" Hendri berbisik tajam pada Nuril. Nuril semakin merasa sangat kehilangan wajah. Azharin melontarkan senyum mengejek ketika Nuril melirik padanya.


Setelah urusan mereka selesai dan keluar dari ruangan. Sonia mendekati Azharin, beberapa rekan lain telah pasang telinga. Mereka penasaran namun tidak berani banyak bertanya pada Azharin. Beruntung Sonia memancing.


"Wanita itu yang aku lihat di mall tempo hari. Kau mengenalnya?"


"Iya, dia sahabat baikku di masa kuliah dan dia juga yang menghancurkan hubungan aku dengan ibunya Hendri." Azharin berkata sedikit keras. Dia sengaja, dia tahu rekannya penasaran. Azharin tidak ingin dituduh yang tidak-tidak. Jika dia dipanggil atasan setidaknya ada yang tahu keadaan sebenarnya.


Mendengar ucapan Azharin, jelas Sonia dan yang lain menjadi berempati pada Azharin. Mereka tidak tahan untuk nimbrung.


"Kalau begitu, kenapa tidak kau serang habis-habisan tadi!" ujar Sahara ikut kesal.


"Kau kira Azharin sama seperti kau yang suka bikin rusuh," ujar Romi bercanda. Romi terkenal dengan sifat jahil dan suka bercanda.


"Ciee, membela. Mentang Azharin jomblo," ujar Sahara sambil mengerling pada Azharin. Azharin hanya tersenyum tipis. Hanya Sahara dan Sonia yang berani mengusili Azharin.


Terlihat beberapa orang mulai meramaikan ruangan mereka. Mereka kembali ke belakang meja masing-masing. Kembali melayani masyarakat yang berurusan dengan pembuatan paspor dan izin lain.


Ketika jam istirahat datang, Azharin bersama Sonia dan juga Romi berbarengan hendak ke kantin. Langkah Azharin terhenti ketika Hendri telah berdiri di depan kantor.

__ADS_1


"Maaf, aku ingin berbicara padamu."


Azharin hendak bersiap meninggalkan Hendri. Hendri memegang tangannya. Sonia dan Romi mau tidak mau harus pengertian.


"Kami tunggu di kantin ya," ujar Sonia. Azharin mengangguk pelan.


Azharin berkata dengan dingin, "Katakan cepat, aku tidak punya waktu banyak."


"Aku minta maaf jika Nuril mempermalukan dirimu. Aku tahu kau paling pantang urusan pribadi dibicarakan di ruang kerja.


"Sudahlah, kita semua bukan anak remaja kemarin sore. Harus ribut karena satu lelaki. Aku minta jangan pernah datang lagi dalam hidupku. Aku tidak mau difitnah karena mendekati calon suami orang!"


Azharin melangkah meninggalkan Hendri. Dia berniat menuju kantin. Namun tangannya dicekal dan dipaksa berbalik melihat Hendri.


Azharin menepis dengan kasar. "Tolong jangan mempermalukan aku di sini."


"Kalau begitu temui aku di kafe tempat kita biasa jumpa setelah jam kerja."


"Oke."


"Jika kau ingkar, aku pastikan akan datang kembali besok siang ke kantormu!" nada mengancam begitu kuat terasa.


Azharin tidak menjawab. Dia meninggalkan Hendri tanpa ragu.


Sepulang kerja, Azharin menekan gas mobilnya dengan stabil. Dia tidak terburu-buru, walau dia tahu ia sangat terlambat menemui Hendri sesuai janjinya.


Dia memasuki parkiran kafe yang terlihat sepi. Matahari telah jauh tergelincir dan telah menampilkan bias merah kekuningan.


Azharin menuju ke dalam kafe. Sejenak di pintu masuk dia celingak-celinguk mencari keberadaan Hendri. Dia melihat lambaian tangan Hendri. Azharin mendekati dan menarik kursi di depan Hendri.


"Ada apa?" tanya Azharin to the point.


"Mau pesan apa?" tanya Hendri lembut.


"Tak perlu berbelit-belit."


"Pesanlah dulu."


Azharin tak bisa mengelak ketika Hendri memanggil pramusaji. Hendri tanpa bertanya langsung memesankan minuman dan makan ringan kesukaan Azharin.


Ketika pramusaji pamit, Hendri memalingkan tatapan matanya yang tadinya mengikuti arah pramusaji berjalan. Kini dia menatap tajam pada Azharin.

__ADS_1


"Bagaimana kalau kita menikah dan meninggalkan kota ini. Jika perlu negara ini." Kata-kata Hendri begitu yakin dan pasti.


***


__ADS_2