
Tiga bulan berlalu, Bernard telah berada di Indonesia. Azharin telah selesai mengurus pemberhentian kerjanya sebagai pegawai imigrasi. Banyak temannya yang menyayangkan keputusan Azharin. Berhenti bekerja ketika sebagian orang berusaha untuk menjadi pegawai tetap ataupun pegawai negeri sipil.
Namun mereka lupa, semua telah ada jalan masing-masing. Azharin telah yakin akan pilihannya. Azharin telah pamit seminggu sebelum Bernard datang untuk proses terakhir kalinya.
Armian memaksa Azharin untuk pamit pada sang ayah sekali ini. Azharin tidak jadi menemui ayahnya saat pertama kali Bernard menginjakkan kaki ke tanah air Azharin. Bernard saat itu tak punya banyak waktu, dan Azharin enggan untuk menemui ayahnya. Walaupun Azharin sudah memaafkan kesalahan ayahnya, sejak kejadian itu seperti ada tirai pembatas di antara mereka.
Azharin tidak pernah peduli pada ayahnya, apalagi sang ayah juga tidak pernah menghubunginya. Azharin menganggap sang ayah telah tiada dan dirinya telah memaafkan sang ayah.
"Ayah, aku berangkat. Aku memohon doa restumu. Ayah maafkan aku, aku tak pernah bertanya pada abang, apakah ayah baik-baik saja. Saat ayah tak ada kabar tiga tahun belakangan ini, aku mengira ayah telah bahagia bersama istri baru ayah dan melupakan aku anak ayah. Maafkan aku ayah, maafkan aku."
Hanya suara Azharin yang terdengar, Bernard, Armian dan Sonia hanya diam membisu. Air mata Azharin telah tumpah. Dia sekarang merasa begitu shock.
Azharin tak puas hanya dengan berkata-kata, tangannya terus memeluk batu nisan ayahnya. Azharin tidak percaya jika ayahnya telah tiada tiga tahun lalu. Armian juga tidak mengetahui jika saja istri ayahnya tidak menelpon dan mengabarkan ayahnya kritis di rumah sakit. Armian tidak mengatakan pada Azharin, karena pesan terakhir ayahnya.
Ayahnya meminta Armian mengatakan jika nanti Azharin akan menikah saja. Ayahnya masih sangat malu dan bersalah pada Azharin karena kasus malam itu. Biarlah Azharin bahagia hanya dengan perhatian Armian. Ayahnya selalu menanyakan kabar melalui Armian.
Kabar itu sempat terhenti ketika ayahnya menikah dan hampir tak pernah bertanya apa-apa lagi pada Armian. Bahkan Armian mulai kesulitan menghubungi ayahnya. Armian juga tidak mengetahui jika ayahnya terkena struk. Ayahnya melarang istrinya mengabari Armian. Mereka bahkan pindah rumah dan menitip pesan pada tetangga, mereka pindah keluar kota.
"Kenapa nasibku begitu tragis ayah. Aku merasa tak berayah dan tak beribu. Aku bahkan tidak tahu ayah sudah tiada. Apakah aku begitu tidak kalian inginkan di dunia ini. Maafkan aku ayah, jika aku tidak bisa berbakti."
Azharin terus berkata sambil mengalirkan air mata. Armian merasa tertampar dan merasa bersalah. Dia sangat dilema antara memikirkan perasaan ibunya dan adiknya.
Armian melihat Azharin merasa terpukul. Lalu bagaimana jika nanti Azharin mengetahui keadaan ibunya. Armian sudah tidak fokus dengan perkataan Azharin selanjutnya. Armian berusaha terus memikirkan baik-buruknya. Sementara, dua hari lagi, Azharin akan meninggalkan negaranya.
"Seharusnya, aku tidak boleh larut dalam ketakutan atau entah itu kebencian. Aku merasa bersalah pada ayah, di bibir aku mengatakan telah memaafkan ayah. Nyatanya, aku tidak. Terbukti dengan aku mengabaikan ayah dan menjauh secara halus. Maafkan Arin ayah. Arin telah jadi anak durhaka dan egois. Ayah, Arin harus bagaimana sekarang?"
Azharin semakin kuat memeluk batu nisan ayahnya. Perasan Azharin berkecamuk, antara penyesalan, kecewa dan kemarahan. Azharin tidak bisa menyalahkan abangnya. Walau abangnya baru mengatakan sekarang. Azharin tidak mau menyalahkan abangnya. Dia sudah pernah menyesal membabi buta menyalahkan abangnya ketika kasus Hendri.
Bernard memberikan kekuatan melalui usapan lembut di punggung Azharin. Dia juga mengelus bahu Azharin dan merengkuh Azharin ketika perasaan Azharin begitu berkecamuk.
__ADS_1
Azharin berusaha menenangkan diri melalui kehangatan pelukan Bernard. Azharin memandang mata biru kekasihnya. Mencari kekuatan di sana. Bernard mengangguk lembut dan menatap Azharin dengan penuh kasih.
Azharin mengirimkan doa pada ayahnya. Sekali lagi sebelum berdiri dan berniat meninggalkan makam, dia meminta maaf dan meminta restu. Azharin lalu melepaskan diri dari pelukan Bernard. Dia berdiri dan semua ikut berdiri. Gejolak emosi yang begitu kuat, membuat pandangan Azharin mengabur dan hitam. Azharin terhuyung dan pingsan.
Bernard yang telah curiga melihat Azharin sempoyongan saat berdiri, telah pasang badan. Bernard menyambut dan membawa Azharin ke dalam pelukan. Dia menggendong Azharin dan melangkah meninggalkan komplek makam.
Di mobil, Sonia membuka tasnya dan mencari minyak angin. Sonia selalu membawa minyak angin akhir-akhir ini untuk menghilangkan mual dengan membaui.
Bernard membaui ke hidung Azharin. Azharin tak lama tersadar, dan air matanya kembali luruh. Bernard merengkuh dan mengecup puncak kepala Azharin. Tak berpuas hanya melakukan demikian, Bernard juga berkata, "Aku tahu perasaanmu Barbie. Hanya, apa yang telah terjadi tidak bisa dielakkan. Kau harus kuat demi masa depan kita. Aku akan memberikan kau banyak kebahagiaan."
Armian yang mendengar perkataan Bernard, merasa jauh lebih baik. Diam-diam dia berdoa semoga setelah menikah, adiknya banyak mendapatkan kebahagiaan seperti ucapan Bernard.
Kedatangan Bernard kali ini, tidak lagi tidur di hotel. Ada kamar ayah dan ibunya yang telah jadi kamar tamu sejak mereka hanya tinggal berdua. Azharin ingin pamit dan mengenalkan calon suaminya pada tetangga dekatnya saja.
Sesampai di rumah, Bernard turun lebih dulu dan berputar ke arah Azharin duduk. Dia membukakan pintu dan meraih Azharin dalam pelukannya.
Bernard tidak mempedulikan. Dia tetap membawa Azharin dalam gendongan dan membawa Azharin ke kamarnya. Dia meletakan Azharin dengan pelan dan mengecup dahi Azharin.
"Barbie istirahat sebentar ya. Aku masih ada perlu dengan abangmu." Azharin yang masih merasa lemah dan lelah, mengikuti saran Bernard. Dia memejamkan mata dan Bernard mengusap kepala Azharin. Setelah sekali lagi dia mengecup dahi Azharin, Bernard meninggalkan kamar Azharin dan menyusul Armian yang di ruang tamu bersama istrinya.
"Sayang, aku ada perlu sebentar dengan Bernard. Kau tolong lihat-lihat Azharin ya."
"Jangan khawatir, pasti aku lakukan."
Bernard mengangguk penuh terima kasih. Sonia merasa jauh semakin tenang melepaskan Azharin pergi bersama Bernard. Sonia melihat Bernard begitu penuh perhatian dan kasih sayang.
Sonia menutup pintu dan mengunci ketika mobil telah meninggalkan halaman rumah. Sonia menyusul Azharin ke kamar.
"Rin, apa kau tidur?" tanya Sonia membuka pintu kamar Azharin. Dia tidak masuk, melainkan hanya berdiri saja di depan pintu kamar.
__ADS_1
"Masuklah." Azharin meminta Sonia mendekat.
Sonia duduk di tepi ranjang. Azharin menyibakkan selimut yang tadi dipasang oleh Bernard. Azharin menambah bantal dan memandang Sonia. Air matanya kembali meleleh.
Sonia tidak menyeka air mata Azharin, dia hanya membelai rambut panjang Azharin . "Aku bisa memahami apa yang kau rasakan. Menangislah sepuasnya, lalu bangkit dan bangunlah masa depanmu."
"Aku hanya merasa bersalah dan menyesal."
"Itu tak bisa kita hindari. Namun, apakah rasa itu harus menghancurkan masa depan kita yang masih panjang?"
"Percayalah, dari suatu tempat, ayah juga tidak ingin melihatmu terpuruk dan menghancurkan masa depanmu. Ayah melakukan ini pasti ada alasannya. Itu juga pastinya demi kebaikanmu. Jadi jika kau benar telah memaafkan ayah, percayalah pada apa yang telah ayah lakukan." Sonia kembali merayu hati Azharin agar tak larut dalam penyesalan.
"Kau benar. Aku akan ingat kata-katamu."
"Baguslah jika kau masih mau mendengar kata-kataku. Itu artinya kau mengakui aku kakak iparmu," ujar Sonia sambil membawa Azharin bercanda. Sonia berhasil. Senyum kecil hadir di bibir Azharin.
"Aku akan merindukanmu kakak ipar."
"Aku tidak yakin. Kau pasti mabuk dalam dekapan pria raksasa itu."
"Kau tega mengatakan dia awalnya dengan pria luar angkasa dan kini kau menyebut dia pria raksasa."
"Kau salah tuduh. Gelar pria luar angkasa, abangmu yang memberikan, ketika kau tiba-tiba telah di negara Bernard."
"Pantas kalian jodoh. Mulut kalian sama tajamnya."
Sonia tertawa, dia mengusap rambut Azharin sekali lagi. "Kau mau aku buatkan jus Barbie?" kata Sonia penuh candaan. Azharin tidak bisa memukul seperti waktu Sonia belum hamil. Dia tidak ingin Sonia terkejut dengan tindakan yang berlebihan.
***
__ADS_1