
Ini malam pertama Azharin resmi menjadi istri. Kini di apartemen hanya tinggal pasangan pengantin baru. Ayah, ibu, kakak dan keponakan Bernard memutuskan pulang, setelah Bernard berjanji akan membawa Azharin ke rumah ketika libur bekerja. Begitu juga abang-abang Bernard, mereka kembali ke hotel, dan berniat terbang besoknya.
Tak ada malam panas seperti yang Alex katakan. Hanya ada peluk sentuh memanjakan Azharin. Bernard tak ingin menyentuh Azharin lebih karena beberapa pertimbangan. Meskipun demikian tidak mengurangi indahnya suasana pengantin baru.
Bernard menawarkan bulan madu setelah beberapa urusan dan bisnisnya diselesaikan. Negara sekitar Eropa juga menjadi tujuan bulan madunya. Mereka rencana berpetualang melalui jalan darat saja.
"Sayang, boleh aku bertanya?" tanya Azharin.
"Tanyalah." Bernard datang mendekati Azharin yang sedang berdiri termangu di tepi balkon apartemen. Bernard memeluk Azharin dari belakang. Memberikan kehangatan lain tidak hanya di raga Azharin, tetapi juga merasuk ke dalam kalbu.
"Apakah kau tidak akan memberikan aku kehangatan lebih malam ini?" tanya Azharin tanpa membalikkan badan. Bernard semakin mengetatkan pelukan.
"Apa hatimu siap Barbie?" tanya Bernard setelah lebih dulu mengecup pipi Azharin.
"Aku rasa tidak, tetapi tubuh bisa memberikan pengecualian," sahut Azharin pelan.
Bernard tidak merubah posisi Azharin. Dia berbisik di telinga Azharin, "Aku butuh hati dan tubuh yang sejalan untuk mereguk madumu Barbie."
"Kau tidak marah sayang?" Azharin memilih membalikkan badan dan berganti memeluk Bernard.
Bernard menarik lembut ke atas dagu Azharin sehingga Azharin terdongak. Menatap lembutnya mata biru laut tersebut. Azharin merasa tenggelam dalam lembutnya tatapan Bernard. Melalui tatapan serasa Bernard melabuhkan semua cintanya.
Bernard lalu berkata, "Aku tidak akan marah Barbie. Aku memberikan pengertian lebih padamu, sama hal seperti kau yang telah mengerti dengan waktuku dan diriku."
Azharin tersenyum haru. Dia semakin yakin untuk tidak ada penyesalan telah nekat dengan keputusan mengikuti pria yang kini telah bergelar menjadi suami.
Tak ada pembicaraan apapun, selain menatap dan berbicara dari hati ke hati. Azharin hendak membenamkan kepalanya ke dada Bernard. Bernard menahan. "Aku rasa satu ciuman di bibir indahmu tidak menimbulkan pemberontakan kecil darimu."
Bernard berkata bukan untuk meminta persetujuan istrinya. Terbukti dengan dia mengecup tanpa menunggu jawaban Azharin. Tidak cukup hanya mengecup, Bernard merasa kerinduan dan cintanya semakin menggeliat mengetahui untuk berciuman saja ternyata Azharin tidak berpengalaman.
Azharin merasa adrenalin di dalam dirinya terpacu dan melesat di sistem pembunuh darahnya, ketika mendapatkan cinta dan hasrat Bernard yang bersatu. Memberikan getar dan denyut yang berbeda di jantung hatinya. Azharin tanpa sadar merapatkan badan pada tubuh kokoh Bernard.
Bernard semakin memperpanjang durasi ciumannya. Azharin merasakan pasokan udara di rongga dadanya semakin berkurang. Dia mencoba melepaskan diri untuk mencari pasokan udara. Bernard tertawa kecil melihat pipi istrinya yang merona berpadu dengan wajah cemberut Azharin karena tersengal mendapatkan serangan cinta dari suaminya.
"Maaf Barbie, kau sangat manis." Bernard menyatukan dahinya dengan dahi Azharin.
"Kau sangat berambisi juga dalam melepaskan perasaan dan menunjukkan rasa cintamu." Azharin menyindir Bernard dengan senyum manisnya. Jauh di dasar hatinya, jantung Azharin berdetak dua kali lebih cepat. Semua yang baru saja terjadi adalah pengalaman baru baginya.
"Ayo kita tidur," ajak Bernard.
"Apa kau terbiasa tidur cepat?" kerling mata Azharin mengolok Bernard.
"Aku rasa itu lebih baik dari pada aku mencari surga darimu."
Azharin memukul punggung Bernard. Bernard membopong Azharin dan meletakkan dengan lembut di atas peraduan. Dia menyusul berbaring dan menarik pelan kepala Azharin untuk bersandar di lengannya. Satu tangan dia lakukan untuk memeluk Azharin.
__ADS_1
"Aku besok ada urusan sedikit, apa kau keberatan aku meninggalkanmu sejenak?" tanya Bernard dengan nada hati-hati.
"Tidak. Pergilah. Namun jangan seharian meninggalkan aku."
"Hanya dua atau tiga jam saja."
"Baiklah sayang, aku akan menunggu sambil memasak untukmu."
"Apa kau tidak lelah jika harus langsung memasak?"
"Jika lelah, aku tidak jadi memasak." Azharin menjawab dengan memiringkan badan menghadap pada Bernard. Senyum manis dia berikan pada lelaki asing yang masih sedikit terasa asing di dalam pelukannya.
"Aku sedikit tersiksa rasanya Barbie." Bernard mengeluh sambil mengusap pipi Azharin.
Dia ingin kembali merasakan kelopak bunga mawar yang tersaji di depan wajahnya. Bernard sadar, jika dia teruskan, maka dia tidak bisa konsisten dengan perkataan yang telah dia utarakan pada istrinya.
Azharin sadar, dia tidak hanya mempunyai hak baru, tetapi dia juga mempunyai kewajiban baru. Bahagian tubuh lain Bernard telah memberi sinyal. Dia tidak boleh egois, itulah setidaknya yang dia pikirkan. Keinginan dan keraguan membayang jelas di wajah dan tatapan lelah matanya.
"Jangan khawatir Barbie, aku akan membakar dirimu saat kita berbulan madu. Sampai saat itu tiba, persiapkan dirimu untuk kita mengejar malam panjang bersama." Bernard memencet lama hidung Azharin. Azharin mendorong tangan besar Bernard.
Uhh Barbie, kau wanita paling bisa membuat aku tersiksa. Jika bukan karena cintaku dan rasa sakitmu, aku akan egois malam ini.
"Azharin, lihatlah lelaki yang belum banyak engkau kenal ini, bisa begitu mengalah demi mendapatkan cinta dan dirimu." Azharin tanpa ragu memeluk Bernard. "Terima kasih sayang. Beri aku waktu sedikit lagi."
"Tentu. Tidurlah," ujar Bernard.
Bernard masih memandangi wajah Azharin. Dia masih tak habis pikir bisa memiliki Azharin yang hampir juga tak dikenali. Wajah tenang Azharin dalam tidur, memberikan Bernard keinginan untuk banyak bisa membahagiakan dan berbahagia bersamanya. Bernard akhirnya ikut berlayar bersama Azharin.
***
Pagi hari Azharin membuat sarapan. Segelas kopi hitam telah tersedia. Azharin telah mengetahui jika pagi hari Bernard lebih menyukai segelas kopi hitam dan sore hari menyukai minum teh hangat.
Bernard pamit setelah memberikan kecupan ringan di dahi dan bibir Azharin. Azharin tidak ikut mengantar ke lantai bawah apartemen.
Di suatu kafe, terlihat Alex telah memesan tempat dan tersenyum samar ketika Bernard dan Gilberto datang mendekat.
Alex memesankan kembali dua cangkir kopi dan dua potong roti bakar. "Silahkan duduk." Alex mempersilahkan mereka berdua. Bernard mengucapkan terima kasih dan Gilberto hanya mengangguk kecil.
"Aku menahan begitu banyak rasa ingin tahuku," ujar Alex tanpa basa-basi. Sudah sifat Alex seperti itu.
"Karena Azharin?" tanya Bernard tanpa ada kecemburuan di dalam intonasinya.
"Pastinya." Alex menjawab singkat dan padat.
Bernard mengeluarkan ponselnya dan membuka galeri. "Kau kenal dia?" ujar Bernard memperlihatkan sebuah foto.
__ADS_1
Alex masih sangat hapal dan ingat siapa wanita itu. "Kenal. Ada apa dengannya?"
"Apa arti dia bagimu?" tanya Bernard. Ada rasa keterkejutan bagi Gilberto ketika melihat foto Laurren diperlihatkan Bernard pada Alex. Dia hanya menduga-duga.
Alex mengerutkan dahi dan menelisik tatapan Bernard yang dalam.
"Ada apa dengannya?" tanya Alex sekali lagi dengan pertanyaan yang sama. Alex tak langsung menjawab pertanyaan Bernard. Gilberto sejauh ini tetap menjadi penonton dan pengamat.
Pada dasarnya Bernard bukan pribadi yang penyabar. Dia menekan suaranya dan meminta Alex menjawab terlebih dahulu. "Jika kau ingin cepat mendapatkan jawaban, jawablah pertanyaanku lebih cepat.
"Dia hanya teman ranjang. Aku sudah tidak bersamanya karena dia juga tidur dengan pria negara kalian, dan aku tidak suka berbagi tempat ketika aku sedang dalam suatu hubungan. Aku mengenalnya ketika mengunjungi salah satu klub malam di negaramu." Alex menceritakan dengan cepat.
Gilberto mulai mengerti apa yang terjadi. Pikirannya mulai menduga-duga kembali dan merangkai peristiwa demi peristiwa.
"Hanya teman ranjang?" tanya Bernard kembali memastikan.
"Ya, hanya teman ranjang tak lebih. Dia hanya suka uang dan kegiatan di atas ranjang."
Alex menatap Bernard dan Gilberto bergantian. Dia mengusap dagunya. "Aku telah menjawab apa yang ingin kau tahu. Sekarang, aku ingin tahu, apa hubungannya dengan Azharin?"
"Aku bersamanya sebelum aku melihatmu dan dia masuk ke hotel malam itu," kata Bernard tenang. Namun Gilberto sangat terkejut. Dia tak menyangka jika Alex yang dilihat Bernard.
"Lalu apa tujuan kau datang ke Spanyol dan menjalin kerja sama Bernard? Azharin atau Laurren yang menjadi alasanmu?" Gilberto mulai menduga-duga.
"Wow begitu." Alex tak butuh waktu lama untuk mencerna pengakuan Bernard. "Apa tujuanmu memintaku datang dan mencariku?"
"Aku tidak suka masalah kecil menjadi besar. Aku ingin kau menyingkirkan dia dariku dan Azharin." Nada Bernard terdengar dingin.
Bernard lalu menceritakan bagaimana Laurren kembali datang dan ingin mengacaukan hubungannya dengan Azharin. Bernard juga menceritakan apa yang dia janjikan dan katakan untuk menghambat sementara langkah Laurren.
"Kenapa kau memilih aku?" tanya Alex.
"Aku tahu, kau menyukai Azharin lebih. Kau juga menyayangi dia banyak dan bahkan kau sadar, kalau kau mencintainya. Apa aku benar?"
"Ya kau benar. Aku mengalah karena kau sangat menyukai dan mencintai nona cantik itu, dan dia juga lebih memilih kau sebagai pasangan hidupnya." Alex dengan gentle mengakuinya.
"Aku terima dan hargai kejujuran kau. Aku juga sangat yakin kau punya cara yang manis untuk menyingkirkan dia tanpa harus berurusan dengan polisi."
"Kau datang di alamat yang tepat. Baiklah akan aku bereskan."
"Aku tak salah memilih partner bisnis dan teman." Bernard mengangkat alis dan tersenyum samar.
"Jadi ini alasannya kau datang berbisnis saat itu? Kau telah tahu Azharin datang padaku?" Alex ingin tahu pasti.
"Tidak sepenuhnya salah juga tak sepenuhnya benar. Aku mencari tahu lebih dulu siapa kau. Aku percaya pada kehandalan bisnismu."
__ADS_1
"Terima kasih. Kau tidak merusak harga diriku." Alex berkata santai.
***