
Komunikasi tiang terkuat mempertahankan suatu hubungan. Jika itu tak ada, semua hanya berlarut dalam pikiran berbeda.
_____
Dua minggu berlalu. Pasangan suami istri itu tetap tak ada saling kabar. Larut dalam pikiran yang berseberangan. Azharin masih banyak mengurung diri. Dia teringat makam bayinya yang jauh dari negaranya bahkan dari negara ayahnya. Dia hanya melihat sekali ketika keluar dari rumah sakit.
Hingga pada suatu siang dia mendengar kegaduhan dari bibi yang mengasuh keponakannya dan tangisan keponakannya.
Suara panik minta tolong terdengar dari kamar lain. Azharin lalu bangkit dan berlari kecil menuju kamar keponakannya. Lupa pada perutnya yang masih menyisakan rasa nyeri ketika bergerak terlalu cepat.
"Non, tolong Den zein demam tinggi. Saya sudah berusaha menghubungi bapak dan ibu, tetapi keduanya tak ada yang bisa dihubungi." Kecemasan melanda wajah bibi pengasuh si kecil.
Azharin meraba kening keponakannya. Hawa panas langsung menjalar ke telapak tangan Azharin. Azharin tidak panik seperti sang bibi. Setelah mengetahui keponakannya terkena demam, langkah pertama dia mengatasi lebih dahulu dengan menuju ke kotak obat yang tersedia di rumahnya.
Azharin mencari obat penurun panas dan pergi ke kulkas mengambil bye bye fever yang tersedia. Dia kembali ke kamar dan meminta bantuan sang bibi. Setelah memberikan obat dan memasang kompres praktis di dahi Zein, Azharin memeluk keponakannya.
Pelukan pertama yang dia berikan setelah kepulangannya. Zein mulai terlihat tenang dalam pangkuan Azharin. Azharin memperhatikan keponakannya dengan seksama.
Hidung pesek namun alis yang tebal menghiasi wajah keponakannya. Ada rasa lain ketika menimang Zein. Rasa nyaman dan tenang di hatinya.
Azharin sadar, dia harus ikhlas demi arwah bayinya. "Aku tidak boleh terpuruk. Kepahitan ini adalah langkah awal aku untuk tetap menjalankan masa depan aku." Dia berkata pada diri sendiri.
Azharin meletakan Zein dengan hati-hati. Dia meminta bibi tetap di sisi Zein. Azharin ingin mengisi perutnya.
"Bi, aku makan dulu. Tolong bibi di sini saja melihat Zein." Bibi memberikan anggukan.
Azharin keluar kamar dan mengambil sedikit nasi serta lauk dan sayur. Azharin makan dengan sedikit menerawang. Tiba-tiba dia merindukan suaminya. Dia juga merasa bersalah dan mengabaikan kekecewaan karena Bernard tidak pernah menghubunginya.
Azharin menuju kamar Zein setelah menyelesaikan makan. Melihat Zein tertidur dan bibi pengasuhnya juga tertidur, dengan perlahan Azharin merapatkan pintu kamar lalu menuju ke kamarnya.
__ADS_1
Dia mengambil ponselnya. Dia hampir tak pernah menggubris ponselnya, lalu bagaimana bisa dia tahu pasti suaminya tak menghubungi.
Azharin menyalakan ponselnya, dia mengisi daya ketika mengetahui ponselnya tidak bisa menyala. Sambil menunggu ponselnya terisi, dia menyisir rambut dan memoleskan tipis-tipis bedak dan tidak memakai lips ke bibirnya. Dia merapikan tempat tidur yang acak-acakan.
Setengah jam kemudian dia menyalakan ponselnya. Membuka pesan WhatsApp dan membaca satu persatu. Di sana, ada Alex, Glorya dan bahkan pesan suara dari Barbara. Menanyakan kapan dia ke rumah dan mengatakan sangat merindukan dirinya dan adiknya yang tidak dia ketahui sudah tak ada.
Ada rasa kecewa ketika tidak mendapatkan satupun pesan dari suaminya, tetapi tertutupi dengan rasa heran di hatinya. "Hmm, apakah mereka tidak mengetahui bahwa aku di negaraku dan bayiku sudah tidak ada." Dia bergumam sambil terus membaca.
Azharin membalas pesan kakak iparnya. "Aku di Indonesia Glo, maafkan aku baru membalas. Aku kini sedang tidak baik-baik saja Glo." Tulisnya dengan jujur.
Masih tidak mendapatkan balasan, bahkan Glorya belum terlihat aktif. Dia membalas pesan Alex. "Aku kemarin cukup kecewa dengan semuanya Lex. Maaf aku pergi tanpa memberitahumu."
Alex langsung merespon ketika mendapatkan notifikasi dari ponsel pribadinya. Mengetahui dari Azharin, dia langsung menelepon. Dia bertanya ke mana saja Azharin. Bertanya keadaan dan tak lupa meminta maaf. Azharin tidak menyalahkan Alex ataupun suaminya. Keadaan yang sedang tak berpihak padanya.
Azharin juga jujur saat Alex bertanya Bernard. Alex dan Bernard tak berkomunikasi urusan pribadi setelah keluarnya Bernard dari masalah. Dia hanya berbicara bisnis dan masing-masing sibuk dengan urusan bisnisnya.
Azharin mencoba menghubungi Glorya ketika masih mengetahui Glorya belum membaca pesannya. Panggilan kedua kalinya, Glorya mengangkat telepon dan meminta langsung ke sambungan video call. Tanpa bertanya keadaan Azharin, Glorya langsung bertanya, Azharin kapan mengunjungi mereka.
Azharin berkata, "Aku di negaraku, Glo."
Tatapan tak percaya Glorya dan mulut ternganga mengundang ibunya mendekati sang putri. "Ada apa?" tanya sang ibu yang sedang meletakan sarapan untuk suaminya.
Glorya mengarahkan ponsel ke ibunya dan sang ibu terlihat bahagia melihat wajah Azharin. Masih dengan permintaan yang sama seperti Glorya dan wajah yang sama dengan Glorya, ketika Azharin berkata tidak di Britania Raya.
Sang ibu meminta waktu sesaat untuk kembali ke dapur lalu mengambil ponsel Glorya ketika kembali dan duduk berdampingan dengan Glorya di ruang makan.
"Ada apa sayang?" tanya ibu mertua Azharin lembut dan terus terang.
Azharin lalu menceritakan singkat dari awal dia mulai kesakitan ketika terpisah dari Bernard. Air mata kesedihan mulai menggenang saat ceritanya makin jauh. Azharin juga berkata terus terang Bernard tidak pernah menghubungi dan Azharin maklum karena kesalahannya yang pergi tanpa pamit.
__ADS_1
"Begitulah Ma ceritanya. Aku minta maaf karena saat itu hatiku benar takut tanpa dia Ma. Sedangkan abangku harus pulang."
"Tak perlu menyesali dan menyalahkan dirimu Nak, mama mengerti keadaanmu. Apakah mama yang harus menjelaskan pada suamimu?"
Binar bahagia terlukis di mata Azharin. "Terima kasih mama mau melakukannya. Dia pasti lebih bisa menerima jika mama yang menjelaskan. Aku tahu sifatnya Ma, kini dia kecewa dan marah padaku. Sulit untuk aku menjelaskan Ma. Sedangkan keadaanku masih belum pulih untuk kembali ke sana Ma."
"Baiklah Nak. Kita akhiri dulu pembicaraan ini. Nanti mama hubungi kamu lagi. Mama akan langsung menghubungi suamimu."
"Makasih sekali lagi ya Ma. Ya sudah, sampai nanti Ma. Aku sayang padamu Ma." Air mata Azharin kembali menggenang di pelupuk matanya. Dia rindu ingin berada dalam pelukan sang ibu mertua yang tidak membedakan kasih sayangnya antara dia dan putri kandungnya, Glorya.
"Mama juga rindu kamu. Mama akan meminta Bernard menjemputmu." Azharin mengangguk dan sambungan di akhiri.
"Terima kasih ya Allah atas jalan yang kau berikan. Semoga suamiku memaafkan dan mau mengerti." Doa Azharin dalam hati. Dia merasa sangat bersyukur mendapatkan kasih sayang yang utuh dari ibu mertuanya.
Jika Azharin membaringkan dirinya sejenak melepaskan beban yang masih tersisa, sang ibu mertua langsung menghubungi putranya.
"Hallo sayang, apakah kau sudah bangun?"
"Sudah Ma. Ada apa pagi-pagi menghubungi?"
"Mama minta kau ke mari sekarang juga, papamu masuk rumah sakit."
"Papa sakit apa Ma!" Bernard terkejut. Di usia ayahnya yang sudah senja, dia tahu ayahnya tidak mengidap sakit apapun.
"Dalam penanganan medis. Mama minta kau sekarang juga ke mari!" pinta ibunya tegas.
"Baik Ma."
***
__ADS_1