Love Between Two Countries

Love Between Two Countries
Cinta Menjadi Pidana


__ADS_3

Cinta bisa memberi bahagia, atau sebaliknya. Cinta juga menjadikan hal indah. Cinta memberi warna perjalanan anak manusia. Cinta menyamarkan perbedaan dua insan. Namun, jika gagal menyikapi ... CINTA bisa menjadi pidana.


_______


Ketika Armian dan tim sedang berusaha melacak keberadaan Azharin. Azharin terikat di sebuah rumah kosong. Azharin meringkuk di lantai dingin.


"Hmmm, siapa yang melakukan ini denganku. Jika benar itu kau, awas saja," batin Azharin penuh luapan marah.


Tidak ada rasa takut dirasa Azharin. Dia yakin ini hanya masalah kecil. Azharin merasa tidak ada masalah dengan orang lain selain dengan dua keluarga yang sedang dalam masa penahanan.


Azharin menajamkan pendengaran saat mendengar langkah-langkah kaki. "Satu ... dua ... tiga." Azharin menghitung dalam diam. "Ohhh jadi mereka bertiga." Dia memperkirakan ini hanya kejahatan kecil karena kata cinta.


"Ceklek," terdengar gagang pintu ditekan.


"Kriiiet." Pintu terbuka. Lampu di ruangan itu dinyalakan.


"Lepaskan ikatan kakinya," ujar seseorang. Azharin lalu dibantu untuk duduk. Tangannya terikat ke belakang.


"Siapa kalian," tanya Azharin datar dan tanpa takut. Senyum kecut hadir di wajah tiga lelaki itu. Mereka mengira Azharin akan menggigil ketakutan, ternyata malah nada datar yang mereka dengar.


"Tidak perlu Nona tahu siapa kami. Kami hanya diperintahkan agar Nona mau menanda-tangani surat perjanjian damai.


Azharin semakin yakin, namun dia tidak mengetahui pihak siapa yang menyekapnya karena ini.


"Aku tidak peduli kalian dari pihak nyonya Megan atau Nuril. Bagiku kedua orang itu hanya ulat di tempat sampah!" Azharin melampiaskan kekesalannya.


"Jaga ucapan Nona! Apa Nona tidak takut pada kami?" tanya satu lelaki berbadan kekar setengah mengancam.


Azharin tertawa dingin. Lalu ia berujar, "Kalian tidak tahu masa laluku lebih mengerikan dari sekarang. Jika kau ingin tahu, aku lebih takut mengingat masa laluku."


Ketiga lelaki itu saling berpandangan. Mereka menganggap Azharin hanya menggertak. "Jangan menggertak kami Nona. Nona hanya perempuan lemah."


"Terserah.. Setidaknya aku tidak lemah mental seperti kalian semua!"


"Kami minta Nona mau bekerja sama. Jika tidak, kami diminta mengatasi Nona." Masih lelaki yang sama berbicara. Mereka berusaha tidak terprovokasi oleh sikap dan kata-kata Azharin.


"Hahahah, cinta telah menjadi pidana. Apakah ini permintaan ayah perempuan pecundang itu?" tanya Azharin dengan nada sangat melecehkan.


"Aku tidak akan menanda-tangani apapun tanpa aku tahu," ujar Azharin kembali.

__ADS_1


"Jangan menyesal Nona!" satu pria maju mendekati Azharin. Azharin tiada takut sedikitpun.


"Jangan teruskan, tuan berpesan dia tidak boleh tersakiti." Mau tidak mau satu pria memperingatkan dengan jelas. Azharin semakin tersenyum sinis. Dia mengetahui jika Hendri yang berada di belakang layar.


"Baik, aku akan menanda-tangani. Tetapi, apa jaminan aku bisa selamat setelah ini?"


Tak ada yang bisa menjawab. Azharin kembali berbicara, "Katakan pada dia, jika dia masih menganggap aku orang yang dia cintai, minta untuk mempercayai aku dan aku akan memberikan yang dia inginkan."


Mereka tak punya pilihan lain. Lelaki yang dari awal berbicara, mengangkat telepon dan mengatakan kemauan Azharin. Tak lama, terlihat anggukan kepala pada rekannya. Mereka membantu Azharin berdiri.


"Lepaskan ikatan tanganku. Aku tidak akan melarikan diri!" Perintah Azharin. Mereka mengikuti. Azharin kembali digiring ke dalam sebuah mobil. Azharin masih menolak ketika diminta membubuhkan tanda tangan. Mobil telah menembus jalanan gelap. Azharin tidak bisa tahu di mana posisi mereka.


"Aku mau kalian mencarikan aku tempat aman." Azharin memilih cara terbaik untuk mencari aman.


"Baik Nona."


Azharin mulai melihat beberapa warung di pinggir jalan. Azharin memperhatikan tempat tersebut terlihat sedikit asing. "Carilah tempat menepi yang aman. Aku akan tanda-tangani dan pergilah tanpa menoleh lagi."


Mereka menepikan mobil. "Turunlah satu orang saja untuk mengambil surat itu. Jangan membuat aku tidak nyaman." Azharin masih mengatur semuanya. Mereka menurut, karena tuan mereka meminta untuk mempercayai gadis itu.


Satu orang turun dan Azharin memegang surat perjanjian yang belum ditanda-tangani. Azharin ikut turun. Lalu dia mengembangkan surat tersebut di atas kap mobil.


"Berikan cahaya dari ponselmu!" Azharin memerintahkan dengan ketus. Azharin membaca, setelah dia memperhatikan tidak ada yang merugikan dirinya, dia memutuskan memberi dua wanita tersebut kesempatan. Azharin menanda-tangani dan memberikan. "Ini dan pergilah. Jangan urus aku!"


"Katakan padanya, aku telah selamat. Dan ingatkan dia untuk menjauhkan ibu dan calon istrinya. Jika mereka masih mengganggu aku tidak segan untuk menyakiti mereka."


"Sekarang pergilah!" Azharin mendorong keras lelaki yang memegang surat. Lelaki tersebut terdorong dan masuk ke dalam mobil dengan sedikit bingung.


Azharin berlari cepat ke sebuah warung hanya bertelanjang kaki. Dia tidak punya uang ataupun ponsel ditangannya. Azharin mendapatkan tatapan heran dari beberapa pengunjung yang ada dan pemilik warung kaki lima itu sendiri.


"Ibu, maaf ... bisakah aku meminjam ponsel ibu, untuk menelepon abangku agar menjemput di sini?" Azharin menutupi kejadian sebenarnya. Ibu itu jelas tidak percaya. Meskipun warungnya terlihat ada pengunjung, tetapi dia takut ada apa-apa.


Pandangan mencurigakan ibu tersebut membuat Azharin hanya tersenyum kaku. "Tidak apa, jika ibu tidak percaya dan mencurigaiku. Zaman sekarang memang tidak bisa mudah percaya pada orang baru." Azharin berlapang hati. Dia tidak berniat cerita. Azharin hendak berlalu meninggalkan tempat itu.


"Maafkan saya," ujar ibu tersebut tetap tidak ingin memberikan pertolongan. Padahal suaminya telah mengatakan tidak akan apa-apa.


"Tak apa Bu. Saya cukup paham apa yang ada dalam pikiran Ibu."


"Ini Dek, pakailah ponsel saya." Satu pria di dalam warung tersebut memberikan jasa.

__ADS_1


Langkah Azharin terhenti ketika ibu warung tersebut menahan niat baik satu pengunjungnya. "Jangan Mas. Nanti Mas pergi setelah ini. Lalu kami akan tinggal berdua dan bertiga dengan wanita ini." Ibu itu terlihat begitu ketakutan.


Pria itu sedikit mendengus. "Bu, di sekitar sini banyak penjual lain dan akan datang pengunjung lain. Ibu jangan khawatir, saya akan menunggu sampai gadis ini dijemput. Ok!" kata pria tersebut menegaskan. Dia mengulurkan ponselnya.


"Terima kasih Mas," ujar Azharin. Pria tersebut tersenyum.


Satu-satunya nomor ponsel yang dihapalnya selain nomornya, adalah nomor abangnya. Dia menelepon abangnya. Azharin mengembalikan ponsel pria tersebut dan mengucapkan terima kasih sekali lagi.


"Duduklah di sampingku. Kamu mau makan apa?" Pria tersebut menawarkan Azharin.


"Terima kasih sekali lagi Mas. Nanti akan saya bayar setelah dijemput abang saya." Azharin lalu duduk di samping pria itu dan menyebutkan pesanannya.


"Tidak usah pikirkan bayarannya." Nada pria itu begitu tulus.


"Ini ... dan maaf." Tak lama ibu warung tersebut memberikan Azharin secangkir teh hangat dan semangkuk mie rebus sesuai pesanan.


"Terima kasih Bu." Azharin tetap ramah.


Azharin telah selesai makan. Ia sedang memperhatikan. Pria tersebut tetap menunggu seperti janjinya pada ibu warung. Dia juga tidak ingin banyak tahu apa yang terjadi pada Azharin.


Setelah hampir satu jam menanti, telepon pria di samping Azharin kembali berdering. Dia melihat nomor yang tadi Azharin hubungi. Dia memberikan pada Azharin. Azharin menjelaskan posisi pastinya.


Satu mobil pribadi berhenti dan terlihat abang dan dua rekan abangnya keluar. Azharin bisa melihat ketegangan pemilik warung dan pengunjung yang ada, bahkan pria di sampingnya. Penyebabnya, abang dan rekannya berbadan tegap dan memakai jaket hitam kulit.


Azharin bangkit dan mendatangi abangnya. Armian melihat adiknya tanpa alas kaki. Hatinya sakit dan marah. Armian memeluk adiknya. Armian belum tahu apapun cerita dibalik adiknya diculik. Rasa panik masih menyisakan takut di hatinya. Pelukannya semakin erat.


"Kau tidak apa-apa sayang?" mata Armian berkaca-kaca. Ibu warung terlihat menyesal setelah melihat Azharin menangis dipelukan Armian.


"Arin tak apa Bang." Azharin yang tadinya tegar, menangis dipelukan erat abangnya. Dia menangis karena menyesal pernah begitu membela lelaki itu hingga mengajak abangnya ribut.


Satu temannya telah kembali dari mobil dan berkata, "Pakai ini Rin," ujar teman abangnya memberikan sendal Armian yang jelas kebesaran di kaki Azharin.


"Makasih Bang." Azharin melepaskan pelukan dan memakainya.


"Bang, mas itu yang memberikan Arin pertolongan untuk menghubungi Abang dan membayarkan makan Arin."


Armian mendekati dan bermaksud mengeluarkan dompet. Lelaki tersebut langsung menolak halus. Armian mengucapkan banyak terima kasih. Mereka pamit dan berlalu dari sana.


Di dalam mobil ia menceritakan semuanya. Abangnya berencana akan mengusut serta menuntut atas pasal 328 Kitab Undang-undang Hukum Pidana yaitu penculikan. Azharin menenangkan abangnya dan mencoba memberikan sekali lagi kesempatan pada mereka. Pada dasarnya, Azharin tidak ingin memperpanjang masalah selagi bisa.

__ADS_1


Armian memutuskan untuk mengajak temannya beristirahat di rumah. Hari telah hampir subuh. Teman Armian juga berpikir demikian. Mereka telah cukup lelah. Dinas pagi juga menanti mereka.


***


__ADS_2