Love Between Two Countries

Love Between Two Countries
Saling Percaya


__ADS_3

Bernard tak punya banyak waktu untuk bersantai atau menikmati alam Indonesia. Setelah bertemu dengan Azharin dan melamar Azharin dengan hanya menyematkan cincin berlian di jari Azharin, hanya disaksikan Armian dan Sonia, Bernard kembali ke negaranya.


Sebelum Bernard kembali, Azharin telah mengutarakan akan menikah di negara Bernard. Alasan Azharin selain ingin membangun hidup baru di tempat baru dan tempat penuh kenangan indah, dia juga tak ingin hatinya sedih karena tak ada ibunya. Jauh di negara orang logikanya bisa berkata ibunya tak bisa hadir karena suatu hal.


Azharin kembali ke kantor menjalani rutinitas seperti biasa. Meskipun jari Azharin telah dilingkari cincin indah, bukan berarti Azharin terikat sepenuhnya. Azharin masih bisa menikmati hari-harinya. Bernard semakin percaya pada Azharin melihat sikap dan tingkah Azharin beberapa hari telah selalu bersama.


Bernard tidak lagi cemburu seperti awal berkenalan. Dia mulai memahami Azharin. Apalagi semenjak Armian menceritakan bagaimana jalan hidup Azharin. Azharin juga telah cerita bagaimana kandasnya hubungan dengan Hendri sebelum bertemu Bernard.


Hari-hari di mana Bernard menyapa hanya sekali sehari tetap tak bisa dielakkan. Bagi Azharin tidak ada masalah, setidaknya dia tidak hilang berhari-hari seperti dulu. Azharin juga memahami kesibukan Bernard. Mereka telah sepakat saling percaya sambil Azharin mulai mengurus berkas-berkas sebagai syarat pernikahan.


Alex telah mengetahui Azharin akan menikah dengan Bernard. Alex tetap berjanji akan selalu ada jika Azharin memerlukan bantuannya. Alex sebelumnya, sempat menyatakan cinta pada Azharin sebulan setelah Bernard kembali. Azharin memperlihatkan cincin di jari manisnya.


Alex sempat mengatakan dia patah hati, tetapi mereka tetap bercanda setelah itu. Alex sangat pandai membalikkan suasana kembali seperti tidak terjadi apa-apa. Azharin dan Alex sepakat jadi teman baik. Apalagi Bernard dan Alex telah menjalin kerja sama dalam bisnis.


Azharin telah meminta Armian untuk menikah dengan Sonia. Awalnya Armian tetap bersikeras tidak bersedia sampai Azharin menikah. Azharin memberikan pengertian pada Armian. Armian akhirnya luluh dan kini Sonia memeluk Azharin dengan bahagia. Dia semakin menyayangi Azharin sebagai adiknya sendiri.


Sebulan setelah persiapan, kini Sonia telah sah menjadi istri Armian. Sonia di bawah tinggal di rumah Armian dan Azharin. Sonia tidak mempermasalahkan. Dia juga senang bisa dekat dengan Azharin. Kini apa-apa aktivitas Azharin sering ditemani Sonia. Berbelanja dapur, ke mall, bahkan ke kantor. Mereka sering diolok Romi dan Sahara. Mereka hanya membalas juga dengan candaan.


Tak terasa sudah enam bulan berlalu, Sonia kini sedang hamil 2 bulan. Azharin sangat senang, dia akan mempunyai keponakan. Selama tiga bulan pertama, Sonia tidak bisa mencium bau masakan apalagi bau bawang goreng. Azharin menggantikan masak yang hampir diambil alih oleh Sonia sejak mereka menikah.


"Bagaimana pengurusan syarat pernikahanmu?" tanya Sonia ketika mereka makan siang berdua di rumah. Hari ini hari libur mereka, tetapi tidak dengan Armian. Armian sedang dalam dinas.


"Sejauh ini aku bersyukur semua lancar. Hanya saja, Bernard sedikit kesulitan karena urusan bisnis dan jarak. Namun aku mengerti. Aku jalani saja dengan tenang. Lagian dengan dia langkah semakin pasti. Jika ada kendala sedikit aku bisa memahami."


Sonia paham dengan maksud Azharin. Dulu, bertahun dengan Hendri, Azharin tak pernah dapat kepastian kapan akan bisa melangsungkan perkawinan. Kini dengan Bernard, tujuan itu telah semakin dekat, hanya menjalani Kerikil-kerikil kecil karena waktu dan jarak. Azharin bisa menjalani harinya dengan tenang sampai masa itu tiba.


"Aku merasa sepi nantinya tanpamu," ujar Sonia sedikit iba hati. Bisa jadi karena hormon hamilnya atau karena beberapa bulan terakhir ini mereka sangat dekat.

__ADS_1


"Aku juga. Mau bagaimana lagi, aku tidak tahu jika benar-benar tersangkut hati pada pria bule itu."


"Sudahlah jangan pikirkan, aku terbawa perasaan karena kita sangat sering bersama sejak aku menikah dengan abangmu."


"Ya. Aku yakin, awalnya juga akan berat bagiku. Apalagi aku mungkin tidak bisa melihat kau melahirkan. Inilah kehidupan yang kita harus jalani."


"Kau benar. Apapun itu, kita harus kuat dan semangat." Sonia berkata sambil tersenyum lebar.


"Setidaknya, saat aku melahirkan, kau bisa menjengukku bersama keponakanku," ujar Azharin sambil berimajinasi. Dia tersenyum kecil membayangkan perutnya ada jiwa lain.


"Dasar gadis egois." Sonia melempar lap tangan tepat di wajah Azharin yang lagi penuh lamunan. Azharin terkejut dan akhirnya tertawa melihat wajah iparnya yang melotot tajam melihat Azharin tersenyum-senyum sendiri.


"Jangan bilang kau sedang menghayal aneh-aneh tentang organ Bernard?" tanya Sonia konyol. Membuat tawa Azharin tersembur.


"Kau jangan aneh-aneh kakak ipar. Aku sedang menghayal aku juga sedang hamil sepertimu."


"Simpan pikiran kotormu kakak ipar. Jaga juga tuh mulut supaya keponakanku tidak ikut mesum." Azharin dan Sonia tertawa lepas.


"Aku merasa jenuh siang ini, bagaimana kalau kita ke mall," ajak Azharin.


"Boleh. Aku kabari dulu abangmu."


"Duh istri yang baik dan berbakat pada suami," ujar Azharin sambil mengemaskan piring kotor. Dia melarang Sonia membantu.


"Berbakti kok malah berbakat." Sonia sempat protes sebelum beranjak ke kamar.


Azharin hanya mencebik dan dengan lincah merapikan meja makan lalu mencuci piring. Setelah itu dia menuju kamar Sonia dan mengetuk pintu sebelum masuk.

__ADS_1


"Boleh?" tanya Azharin


"Boleh dengan pesan yang segudang." Sonia menyengir kuda poni.


Azharin sudah tidak heran, dia sangat paham bagaimana protektif sikap Armian. Azharin dulu juga pernah merasakan itu. Semua sedikit berkurang sejak Azharin mengajak abangnya berdebat beberapa tahun lalu dan berujung dengan pengusiran dari Azharin.


"Ok, aku juga bersiap. Aku ingin membeli beberapa pakaian baru dan pakaian dalam untuk kubawa ke sana."


***


Di lain tempat ....


"Ma, sampai kapan Mama akan menyembunyikan keadaan dari Azharin?" tanya Armian.


"Sampai mama mati. Biarkan saja dia menganggap mama telah tiada." Ibunya Azharin terlihat lemah di ranjang rumah sakit.


Armian diam-diam sering bolak-balik mengantarkan bahkan kadang menjemput ibu sambungnya itu secara diam-diam. Armian tidak sengaja menemukan sang ibu setahun lalu. Armian bukan tidak mencari keberadaan wanita tersebut setelah bekerja di dinas kepolisian.


Saat itu, Armian akan menginterogasi seorang saksi yang sedang berada di rumah sakit besar di kotanya. Armian melihat ibunya dalam kursi antrian. Armian lalu minta tolong pada rekannya menggantikan dirinya. Dia fokus memperhatikan ibunya.


Armian menunggu saat wanita itu dipanggil oleh perawat untuk memasuki ruang dokter. Ruang itu adalah ruang dokter dengan spesialis penyakit dalam. Armian melihat wanita itu menebus obat. Air matanya meleleh saat wanita yang dulunya terlihat begitu sehat, bugar dan ceria di depan anak-anaknya, kini terlihat rapuh dan lemah.


Armian terus mengikuti wanita tersebut. Ketika wanita itu menyetop taksi, Armian telah menunggu di dalam mobilnya. Perlahan dia mengikuti taksi dan mengetahui di mana ibunya tinggal. Hatinya teriris ibunya tinggal di rumah kecil.


Armian tidak lantas menjumpai ibunya. Dia memata-matai ibunya untuk beberapa hari. Armian juga mendapatkan info, ibunya sering mendapat kekerasan dalam rumah tangga oleh suami barunya. Ternyata ibunya telah menikah lagi dua tahun lalu dengan pria lain, bukan pria yang membawa ibunya keluar dari rumah berpuluh tahun lalu.


Pada hari kelima Armian memata-matai ibunya, terdengar pekikan sang ibu meminta ampun. Lagi-lagi pria tersebut memukul ibunya seperti info yang dia dapat dan dia lihat sendiri di hari pertama dia tahu keberadaan ibunya. Armian mendekati dengan dua rekannya. Armian telah berencana akan menjebloskan lelaki itu dan membawa pindah ibunya.

__ADS_1


***


__ADS_2