
"Aku sungguh senang di sini Barbie....." Barbara terlihat antusias setiap diajak ke tempat-tempat wisata. Ini sudah hari ketiga mereka berkunjung ke tempat wisata. Armian masih setia menjadi pemandu dan mengantar mereka, sementara Sonia telah kembali bekerja.
"Jika kau ingin merasa lebih senang, ajak pamanmu ke Bali. Di sana kau akan lebih takjub dan menyukainya." Azharin berbisik dan mengundang mata Bernard untuk mengetahuinya.
Dia menatap dalam ke mata Azharin, tetapi Azharin sengaja melengos membuang pandangan.
Jika Azharin berbisik, Barbara terdengar menjawab dengan lantang, "Benarkah? Apakah Bali seindah itu?"
Armian tersenyum mendengar jawaban Barbara. Armian bisa menebak apa yang dibisikkan adiknya kepada Barbara. Dia ikut memberikan jawaban yang membuat Barbara semakin ingin tahu. "Sangat indah."
"Aku ingin ke sana. Bisakah kita ke sana Paman?" tanya Barbara pada Bernard.
"Kau selalu punya alasan merampokku Gadis Kecil." Bernard memencet hidung keponakan yang duduk di antara dia dan Azharin. Azharin tak urung juga ikut tersenyum. Membuat hangat hati Bernard. Walau dia tahu, senyum itu bukan untuknya.
Azharin dan Bernard masih banyak diam, tepatnya Azharin masih mendiamkan Bernard. Hatinya masih sangat kesal dengan sikap dan perkataan Bernard, meskipun satu sisi hatinya telah lembut ketika Armian telah mengajaknya berbicara.
"Itu artinya Paman setuju bukan?" desak Barbara.
"Baiklah."
"Hore, terima kasih Paman. Kau memang pria terbaik setelah kakekku."
"Jangan drama, ayahmu juga pria baik. Setidaknya untuk kalian berdua anak-anaknya." Glorya mengingatkan Barbara. Glorya tak ingin anak-anaknya tidak menganggap ayah mereka. Perpisahan yang terjadi kesepakatan mereka berdua dan tidak akan melibatkan anak-anak mereka.
Ayah anak-anaknya tetap menafkahi dan memberikan waktu untuk bertemu Barbara dan Rodney. Ya, meskipun tidak setiap hari.
"Ya ayah memang pria baik, tetapi setelah paman," ujar Barbara tersenyum.
Axton menimpali, "Itu karena kau mau merampok pamanmu." Axton terkekeh meniru kata-kata Bernard. Dia ingin mengusili cucu perempuannya.
"Kakek, jangan mengacaukan pikiran paman," timpal Barbara tersenyum jahil.
"Baik, aku akan meluluskan permintaanmu." Bernard memberikan kesenangan kepada keponakannya.
"Asyik." Barbara merasa sangat senang, tetapi itu hanya sesaat.
Terdengar kata-kata Bernard selanjutnya, "Ada syaratnya."
Terdengar perdebatan kecil dari Barbara dan pamannya. Barbara protes, mengapa harus ada syaratnya. Si paman kekeh akan permintaannya. "Baiklah Paman tersayang Paman terbaik. Apa syaratnya? Jangan berat-berat!" ujar Barbara sedikit berkeras pada pamannya. Barbara memilih mengalah.
"Azharin memberiku senyum indahnya."
__ADS_1
"Ok."
Azharin bukan tak mendengar apa yang dikatakan suaminya. Barbara dan Azharin saling pandang dan senyum Barbara tercetak manis sekali ketika mendapatkan kedipan dari Azharin.
Singkat kata mereka akhirnya benar telah tiba di Bali. Barbara dengan senangnya berlarian salah satu pantai terkenal di Bali.
Dia berguling-guling gembira bersama Rodney. Azharin berdiri menjulang di bawah kedua bocah bule yang sedang kegirangan. "Silahkan berjemur, agar kau tidak seperti mumi." Azharin berkata sambil tersenyum miring.
"Kau bermulut tajam Barbie." Gadis kecil itu berpura bersungut-sungut. Dia bangkit dan berjongkok hendak berkata sesuatu, tetapi dia membatalkan dan justru mengajak Azharin ke pinggir pantai. "Ayo berenang Barbie."
"Ohh tidak. Aku tidak ingin kulit tubuhku jadi gelap." Azharin duduk di salah satu payung yang telah mereka sewa.
Barbara akhirnya tertawa mengejek, dia yakin Azharin menjawab demikian. Lihat aku Barbie, aku akan berenang. Jika perlu aku akan menantang ombak."
"Silahkan, banyak yang akan membantumu jika kau gagal menantang ombak." Azharin mendapatkan tepukan halus dan melihat siapa yang datang. Sementara itu, Barbara telah berlari menyusul abangnya.
Bernard memilih duduk berjongkok di depan Azharin. Dia menatap dalam bola mata Azharin. Dia ingin menegaskan sekali lagi. Armian telah menjelaskan dan memberikan Azharin pemahaman atas sikap Bernard.
Cinta terkadang memang di atas segalanya. Cinta bisa membuat seseorang berpikir jernih atau sebaliknya. Terkadang banyak orang melakukan di luar logika hanya karena satu kata ... CINTA.
"Aku berjanji aku akan lebih terbuka padamu." Kata itu yang mengawali pembicaraan Bernard.
"Kita lihat saja. Terlalu sakit jika kita percaya janji manusia. Aku telah banyak memakan janji manusia." Azharin membalas ucapan Bernard dengan santai, namun terdengar tajam oleh Bernard.
Azharin mengelak. Dia menahan wajah Bernard dengan tangannya. "Ini Indonesia, bukan hal yang layak bermesraan di tengah umum."
"Lihat mereka, me__", ucapan Bernard terpenggal.
"Itu mereka, bukan aku. Kau harus bisa membedakan dan mengenali secara baik bagaimana istrimu."
Sekali lagi Bernard menghela napas. Azharin masih saja selalu bisa memancing emosinya. " Kau selalu sulit kumengerti Barbie." Bernard lelah berjongkok dan dia duduk di samping Azharin.
"Tidak sulit jika kau tidak selalu merasa jadi pemilik perusahaan. Ingat, di dekatku, kau hanya seorang suami yang selalu akan aku cintai."
Bola mata Bernard sedikit membulat mendengar perkataan Azharin. "Benarkah itu?" tanya Bernard penuh harap.
"Ya benar." Jawaban Azharin begitu pasti. Bernard tentu saja bersemangat. "Namun, itu tergantung bagaimana cara kau memperlakukan aku setelah kita kembali nanti di rumah kita."
Ternyata kalimat Azharin masih bersambung dan Bernard sedikit terdiam. Hingga Azharin bersuara. "Kau tak bisa?"
"Bukan tak bisa."
__ADS_1
"Lalu apa ada masalah lain?"
"Tidak. Aku hanya bingung, apa yang kau inginkan dariku?"
"Aku ingin kau tidak berbohong sepahit apapun."
"Itu saja?"
"Ya itu saja."
"Kau tidak masalah jika aku sibuk bekerja?"
"Aku tidak masalah, selagi kau bisa membuktikan jika di luar jam kerja kau memang masih bekerja."
"Ok."
"Baiklah, kau bisa membuat daftar aturan yang kau inginkan. Asalkan kau kembali ke pelukanku. Aku sungguh seperti orang gila kau tidak berada di dekatku."
Azharin tergelitik hatinya untuk mengganggu keseriusan ucapan Bernard. Diam-diam dia kembali mengusik perasaan Bernard. "Aku rasa, aku di dekatmu justru membuat kau gila."
"Tidak, kau salah. Kau pergi diam-diam menghancurkan hatiku." Bernard berkata begitu serius. Tawa kecil hadir dalam hati Azharin.
"Setidaknya kau tidak gila. Kau gila jika aku di dekatmu hanya menggunakan lingerie bukan?" Azharin berbisik.
Bernard menyadari jika Azharin telah kembali bercanda. "Kau mulai memancingku Barbie?"
"Tidak. Aku akan memberikan kau hukuman atas sikap diammu, sikap tidak tegasmu dan waktu yang kau sia-siakan karena membiarkan aku sakit sendirian." Nada sedih sepintas terasa dari suara Azharin.
"Aku mengerti. Maafkan aku sekali lagi. Mari kita ganti hari-harimu yang hilang." Bernard merangkul pundak Azharin.
Gerak-gerik mereka tidak lepas dari kedua kedua orang tua Bernard. Masing-masing bersyukur. Mereka yakin anak-menantunya akan kembali menata rumah tangganya.
Emilia tidak bisa membayangkan jika kedua anak-anaknya berpisah Cukup Glorya yang masih sering bersedih atas perpisahan rumah tangganya. Walaupun Emilia tak pernah bertanya apapun.
"Apa kau tak ingin bermain bersama dua bocah lucu itu Barbie? tanya Bernard mengalihkan perhatian Azharin yang sedikit berkabut karena sedih.
"Ayo sayang. Aku akan membuang kesedihan di sini. Aku akan kembali bangkit saat kita pulang bersama." Azharin memutuskan untuk bersemangat menapaki hari-hari yang akan dilaluinya.
"Ayo. Kita bangun kembali rumah tangga kita dengan pondasi yang lebih kuat."
Bernard telah menarik tangan Azharin dan tawa-tawa bahagia hadir di wajah mereka. Azharin masih sempat menoleh pada Emilia dan Axton. Dia melambaikan tangan mengajak bergabung di tepi pantai. Emilia hanya balas melambaikan tangan. Dia dan suaminya memberikan ruang pada anak menantu dan cucunya.
__ADS_1
Glorya juga hanya ikut duduk di samping orang tuanya. Tawa-tawa bahagia anaknya terlihat ketika adik dan iparnya menyusul mereka.
***