
Max mondar mandir di kamarnya. Dia menatap Leana dengan frustasi. Max hanya mengelap keringat Leana, dan wanita itu malah pingsan.
"Ada apa Max?" tanya Ericka di ujung telepon.
"Rick,, Leana semakin parah saja. Aku hanya mengelap keringatnya, dan dia pingsan. Katamu dia akan membaik jika aku memperlakukannya dengan baik."
"Max.. kamu kira Leana itu luka gores? 2 hari sembuh?"
"Yang luka itu batinnya, Max. Meskipun tampaknya sudah sembuh, di dalam masih ada lukanya." "Butuh waktu lama Max sampai dia tidak takut melihatmu." "Memangnya kenapa? Kamu sudah gak sabar untuk bermesraan dengan dia?" goda Ericka sambil tertawa.
"Aku tidak berniat menyentuhnya, Er." ucap Max lirih.
"Yakiiiin?" "Tapi istrimu sangat cantik. Tidak mungkin kamu tidak tertarik."
"Er.. tidak usah bicara yang aneh-aneh. Bagaimana caranya supaya Leana cepat sembuh?" Max mulai tidak sabar dengan Ericka.
"Ada satu cara. Tapi aku rasa kamu tidak akan mampu."
"Apa? Sepertinya tidak ada yang tidak bisa untuk Max lakukan." ucap Max dengan penuh keyakinan.
"Buat Leana jatuh cinta padamu."
Max terdiam. Yang terdengar kini hanya suara tawa Ericka yang menggelegar.
"Aku sudah bilang itu sulit."
"Aku tampan dan berbakat." Max mempromosikan dirinya dengan bangga.
"Ya, tapi kamu harus berubah Max. Coba kendalikan dirimu." "Belajarlah untuk mengendalikan pikiranmu juga supaya kamu juga tidak perlu minum obat lagi."
Max menutup teleponnya. Segala yang diucapkan Ericka itu benar. Max tidak dapat memungkiri kalau dia juga perlu memulihkan diri dari penyakitnya.
Max beralih mendekati Leana dengan perlahan. Wanita itu memang cantik. Wajah asia Leana begitu sempurna. Max mengingat pertama kali bertemu Leana dan menculiknya. Max awalnya hanya ingin menggertak Leana saja karena wanita itu berisik sekali dan terus berteriak. Tapi begitu mendekatkan wajahnya, Max hampir lupa diri. Tapi tepat pada saat itulah Max tidak sadar apapun lagi karena seseorang memukulnya dari belakang.
__ADS_1
"Apakah kamu bisa mencintaiku setelah apa yang aku lakukan, Le?" Max bermonolog sendiri.
Leana mulai tersadar.
Max mengambil topi dan masker, lalu menjaga jarak dari Leana.
"Apakah aku sudah mati?" tanya Leana sambil memandang langit-langit.
"Belum. Kamu tidak boleh mati."
Leana menengok. Dia menatap sosok tinggi tegap yang menggunakan masker dan topi.
"Sorry jika perbuatanku itu membuatmu takut. Aku hanya ingin mengelap keringatmu."
"Tolong berikan obatku. Aku butuh obat itu." pinta Leana.
"Kita tidak boleh mengkonsumsi obat tanpa pengawasan Ericka." jelas Max.
"Leana Scotts.. tenanglah. Kita ini sama. Aku pun sakit. Bukan hanya kamu yang sakit."
Leana menatap Max dengan mata nanar. Air matanya sudah hampir jatuh.
Max sangat ingin memeluk Leana, tapi Max sama sekali tidak mendekat. Dia tidak ingin Leana pingsan lagi.
"Le, kita sudah menikah. Aku akan membantumu dan kamu juga harus membantuku. Ingatkan aku jika aku juga kebablasan. Aku sudah 3x penyalahgunaan obat. Sekali lagi mungkin aku akan mati."
"Aku tidak bisa memahami situasi ini." Leana sungguh tidak ingin mengetahui tentang Max.
"Le, aku tidak akan memaksakan apapun padamu lagi. Terserah kamu ingin pergi kemana. Tapi kalau kamu kabur, aku akan mencari kamu meskipun sampai ujung dunia. Aku tidak akan membiarkan kamu pergi karena kamu itu istriku."
Deg. Apakah Max bisa membaca isi hati Leana? Dia memang ingin berencana untuk kabur malam ini.
"Bagaimana aku bisa bertahan dengan situasi ini?" kata Leana putus asa.
__ADS_1
"Aku akan membantumu, dan kamu juga akan membantuku. Kita lakukan simbiosis mutualisme. Dan anggaplah aku ini teman lama mu."
"Aku tidak bisa melupakan apa yang sudah kamu lakukan." Leana akhirnya mulai mengungkapkan isi perasaannya pada Max, dengan jauh lebih tenang.
"Le, apakah kamu percaya kalau bukan Aku yang melakukan itu sama kamu?" tanya Max hati-hati.
Leana menggeleng. Dia tidak tau siapa yang melakukannya, yang jelas Leana ingin menyingkirkan bayangan siang itu dari otaknya.
"Le, meskipun bukan aku yang melakukannya, tapi Aku..." Max berhenti sebentar. "Minta maaf soal itu. Aku salah dan menyesal." dengan segala kesadarannya, Max meminta maaf pada Leana. Seumur hidup Max tidak pernah meminta maaf pada orang lain meskipun dia yang salah.
"Tidurlah. Aku akan istirahat di sofa." Max menyelesaikan pembicaraan dengan Leana. Dia tidak ingin terlalu membebani pikiran wanita itu lagi. Akhir-akhir ini pasti sangat berat untuk Leana. Apalagi perubahan statusnya.
Max mengambil bantal dan selimut cadangan di lemari. Dia lalu menaruh itu di sofa yang agak jauh dari ranjang.
Mata Leana mengikuti pergerakan Max. Dia harus waspada, takut Max akan menyentuhnya lagi.
"Jika tidak bisa tidur, tekan tombol di sebelah nakas. Gina akan datang dan membuatkanmu obat herbal." jelas Max sebelum masuk ke kamar mandi.
Max memutuskan untuk mandi karena dia berkeringat setelah mengejar Leana. Dia tidak akan bisa tidur jika tubuhnya lengket.
Leana mulai mencerna perkataan Max. Pria itu sakit? Lalu apa yang dia tawarkan? Simbiosis mutualisme? Menganggap Max teman lama? Bagaimana bisa setelah apa yang dia lakukan? Tapi Pria itu sudah minta maaf.
Lama Leana berpikir sampai dia tidak sadar jika Max sudah keluar dari kamar mandi. Max melewati Leana dengan handuk yang melilit di pinggangnya. Leana bisa dengan jelas melihat roti sobek milik Max. Tapi, dia juga bisa melihat goresan-goresan panjang pada punggung pria itu.
Apakah Max bertarung dengan serigala?
Max melihat dari pantulan cermin pada Leana yang sedang terbengong melihat badannya. Sudah pasti dia tidak bisa tahan melihat roti sobek Max. Semua tidak pernah melihat Max bertelanjang dada seperti ini. Leana adalah yang pertama.
"Le, apakah kamu ingin mandi?"
"Enggak.. eh, iya." Leana bangun dari ranjang dan langsung berlari ke kamar mandi.
Tanpa sadar, Max tersenyum kecil melihat Leana yang sepertinya sudah mulai tidak takut padanya.
__ADS_1