
3 hari kemudian, Max baru pulang ke rumah. Keadaannya lebih menyedihkan daripada waktu dia pergi dari rumah. Max seperti ODGJ yang tidak terawat. Gina shock setengah mati ketika membukakan pintu untuk Max. Seorang Maxmillian yang selalu sempurna kini berubah seperti orang gila.
"Tuan Max, apa anda baik-baik saja?" tanya Gina hati-hati.
"Jangan biarkan siapapun masuk ke dalam kamar, Gin. Aku gak mau diganggu." Max memandang Gina dengan tatapan tajam.
Gina mengangguk tanda mengerti. Tapi, dia malah berjalan di belakang Max dan mengikuti Tuannya itu pergi ke atas.
"Gin, apa kamu tuli?"
"Tapi, Tuan Max.. saya khawatir." ucap Gina gugup.
Max berbalik. Dia menyeringai pada Gina. "Aku ga butuh simpati mu, Gin." "Semua orang sama saja."
"Apa Tuan gak bisa menemukan Nona Leana?"
"Diam Gin!" "Jangan sebut wanita itu lagi." bentak Max.
Gina langsung menutup mulutnya rapat-rapat. Max benar-benar marah. Dia bahkan bisa melihat dengan jelas urat-urat di wajah Max. Sudah pasti Tuannya itu tidak berhasil mendapatkan informasi tentang Leana. Kasihan sekali Max.
Max masuk dalam kamar tanpa mempedulikan Gina lagi. Dia langsung menuju meja kerjanya, dan duduk di sana. Dihadapan Max terdapat selembar surat cerai yang sudah ditandatangani oleh Leana.
Dia memandang surat itu begitu lama.
"Bee, kenapa kamu begitu mudah mengambil keputusan seperti ini?"
__ADS_1
"Karena dia gak mencintaimu, Max."
Sebuah suara yang berbisik di telinganya membuat Max refleks menengok ke samping.
Rani tersenyum lebar ketika pandangan mata mereka bertemu.
"Jangan masuk ke kamarku." ucap Max geram. Dia sudah tidak tahan dengan mahkluk yang berada di depannya itu.
"Sebentar lagi ini akan jadi kamar kita." Rani berkata dengan santai. Dia masih tersenyum lebar karena kemenangan sudah di depan mata.
"Dasar wanita gila!"
"Gila?" "Bukannya terbalik?" "Kamu yang gila?" "Seharusnya kamu bersyukur karena masih ada yang mau menerima kamu, Max." Rani menekankan tiap kata-katanya.
"Cepat kamu keluar sekarang juga, atau.." Max berdiri dari tempatnya dan mendorong Rani sampai tubuhnya terbentur ke tembok. Dia mengurung Rani dalam kedua tangannya yang mencengkram kuat bahu wanita itu.
"Ini alasan Leana kabur, kan? Dia gak mencintai kamu, tapi dia takut sama kamu."
Max sudah tidak dapat menahan emosinya lagi. Rani tau kelemahan Max.
"Jangan salahkan aku jika terjadi sesuatu sama kamu."
"Max, stop Max." Vero dan Gina menerobos masuk ke kamar Max yang tidak terkunci. Dia langsung melepaskan paksa tangan Max dari Gina.
"Mom.." Rani terlihat senang ketika Vero masuk. Dia segera bersembunyi di belakang Vero.
__ADS_1
"Mom heran sama kamu, Max. Kamu hanya perlu tanda tangan surat cerai. Jangan lukai Rani."
Max kembali menyeringai menunjukkan deretan giginya yg putih. Dia sudah sangat muak dengan semua ini.
"Kita selesaikan saja sekarang." ucap Marco yang tiba-tiba ikut masuk ke dalam.
"Semua ini gara-gara kamu, Ko." tuding Max. Dia mendorong Vero dan langsung mencengkram kerah baju Marco.
"Lebih baik kita bicara berdua, Max." jawab Marco tanpa merasa terintimidasi.
"Jangan." Vero coba menghalangi kedua anaknya dengan memegang tangan Max dan Marco. Dia tau kalau mereka berdua bicara sekarang, salah satu dari mereka akan berakhir di rumah sakit.
"Oke, aku tunggu kamu di ruang bawah tanah." Max melepaskan dengan paksa tangan Vero, lalu dia berjalan dengan gontai ke tempat tujuannya.
"Ko, plis.. ga usah bicara dengan Max dulu." "Kamu tau sendiri kalau Max kumat, dia lebih menyeramkan daripada harimau." cegah Vero. Dia bahkan sampai memeluk Marco dari belakang.
"Mom, belanja saja dengan Rani." Marco melirik pada Rani yang sejak tadi diam seperti patung. "Marco pastikan Max akan setuju."
Vero akhirnya dengan berat hati melepaskan Marco, menyisakan dirinya dan Rani berdua di kamar Max.
"Mom, Marco benar. Mom sangat stress akhir-akhir ini. Gimana kalau kita belanja aja?"
"Ran, tapi kalau.."
"Ada Gina Mom.. dia pasti akan turun ke bawah untuk mengawasi mereka."
__ADS_1
Vero masih diam saja. Tapi, Rani segera menarik Vero supaya Mom Max itu mau ikut dengannya. Dia sama sekali tidak tertarik dengan konflik dalam keluarga Scotts, karena tujuan Rani hanya ingin menikah dengan Max.