
Max mengantarkan Ericka ke depan pintu. Leana sudah jauh lebih tenang dan kini dia sedang istirahat di kamar Max.
Max memang tidak salah memilih Dokter. Ericka terbaik di bidangnya. Terbukti sekarang Leana jauh lebih tenang. Perkataan Ericka seperti mengandung obat. Selalu bisa membuat orang jadi berpikir positif.
"Max, kamu harus perlakukan Leana dengan baik." pesan Ericka sebelum pergi.
"Ya, aku coba..Salam untuk suamimu." Max memberikan senyuman kecil untuk Ericka.
Dia hanya bisa tersenyum pada Ericka dan beberapa orang yang membuatnya nyaman. Selain mereka, Max akan memasang tameng wajah dinginnya.
"Oke, aku sampaikan salam mu untuk Timothy." Ericka menepuk pundak Max. "Aku juga akan ceritakan masalahmu pada Timothy. Siapa tau dia bisa bantu menemukan orang jahat itu."
"Suamimu seperti penumpas kejahatan." puji Max sekaligus menyindir suami Ericka. Timothy adalah seorang detektif swasta yang kerjaannya mengurus masalah orang lain. Sedangkan Ericka membantu mengurus mental orang lain. Mereka adalah pasangan yang sangat cocok.
Max menunggu Ericka sampai dokter itu masuk ke mobil dan pergi dari halaman rumah Max yang seperti lapangan bola.
Seperginya Ericka, sebuah mobil Alphard masuk ke dalam. Max memandang Vero dan Marco bersama pengawal mereka yang tiba-tiba turun membawa begitu banyak koper.
"Wah, mobilku selamat." Marco mengelus mobil sport barunya.
"Ada apa ini, Mom?" Max bertanya penuh kebingungan.
"Mom akan tinggal di sini bersama kalian." ucap Vero senang. Sudah puluhan taun dia menetap di Inggris. Kali ini dia senang karena bisa tinggal bersama anak-anaknya lagi.
__ADS_1
"Kalau begitu, Max dan Leana yang keluar."
"Max, jangan begitu. Dokter bilang jika harus ada yang mengawasi kamu 24 jam."
"Leana yang akan mengawasi aku."
"Mom akan tetap tinggal di sini, Titik." Vero tidak mau mengalah.
"Sudah.. sudah.. Max baru sembuh dan baru menikah. Bukankah kita harus merayakan semua ini?" Marco melerai Max dan Vero yang terlibat dalam percakapan cukup sengit.
Sebenarnya Marco pun tidak setuju jika Mom nya berada di rumah. Dengan sifat Vero yang arogan dan pemarah, pasti akan membuat rumah ini semakin tegang. Tapi, Marco ingat jika Vero juga sekarang sendirian setelah Dad mereka meninggal 5 tahun lalu. Jadi, Vero pasti kesepian.
"Mana istrimu?" tanya Vero sembari merebahkan badan di sofa yang nyaman.
"Dia di atas."
"Mom, dia belum sembuh. Kenapa suruh dia? Suruh pembantu saja." Max memprotes Vero yang seenaknya saja menyuruh Leana memasak.
"Justru kalau dia di kamar terus, dia akan semakin sakit."
"Mom.." Marco memberi kode supaya Vero diam. Dia tidak ingin mengobarkan api dalam diri Max.
"Ya sudah. Bilang pembantu untuk menyiapkan makan malam spesial. Mom mau semuanya kualitas premium." Vero menyuruh anak-anaknya bubar dengan memberi kode dengan tangannya.
__ADS_1
Max langsung naik ke atas dan tidak mempedulikan perintah Mom nya. Jadi, seperti biasa, Marco yang mengalah untuk pergi ke dapur dan memberi pesan pada pembantunya.
"Nyonya minta makanan yang spesial. Pastikan semua tanpa kesalahan, Gina." ucap Marco pada pembantu yang tadi membantu Leana.
"Baik, Tuan. Saya akan segera siapkan." Gina membungkukkan badan dan segera pergi menyiapkan apa yang majikannya itu minta.
"Apa Nyonya akan tinggal di sini?" tanya salah satu pembantu yang lebih muda dari Gina.
"Maybe." Gina mengangkat bahu sambil mengerucutkan bibirnya. Dia sudah cukup lama bekerja dengan Keluarga Scotts, tapi baru beberapa kali bertemu dengan Vero. Dan dari pertemuan mereka itu, Gina selalu mendapat omelan dari Vero.
"Astaga. Aku bisa mati berdiri. Menghadapi Tuan Marco dan Max saja sudah mengerikan. Ini di tambah biangnya ikut di sini." keluhnya.
Pembantu itu tidak seperti Gina. Dia baru bekerja 4 bulan di sini. Tapi, setiap harinya berasa seperti tempat penyiksaan daripada tempat bekerja.
"Hey, aku dengar percakapan mu. Jangan kurang ajar dengan majikan sendiri." Marco tiba-tiba kembali muncul ke dapur.
Kedua pembantu Marco sampai memegangi dada mereka karena terlalu kaget dengan kemunculan Marco yang tiba-tiba.
"Keluarga aneh." ucap Gina dengan super lirih.
Kenyataannya, Keluarga Scotts adalah keluarga yang paling antimainstream. Tuan Scotts adalah orang yang super keras. Dia mendidik Marco dan Max dengan didikan ala ninja warrior. Sedangkan Nyonya Veronica Scotts adalah jenis wanita yang sangat arogan dan cerewet. Dia juga perfeksionis dan tidak suka dibantah. Lalu, anak pertama mereka, Marcellino Scotts adalah yang kelihatannya paling waras. Tapi, jangan salah. Marco juga tipe orang ambisius yang harus mendapatkan apa yang dia inginkan.
Sedangkan anak kedua mereka, Maxmillian Scotts adalah yang paling parah. Dia mengalami gangguan mental dan bisa meledak kapanpun seperti bom waktu. Maka dari itu, Gina cukup prihatin dengan istri baru Max. Gadis itu tampak sangat rapuh. Apakah jantungnya tidak rontok ketika mendengarkan teriakan atau amukan Max?
__ADS_1
"Gina.. cepaaat." teriak Marco dari luar.
"Iya Tuan." baru 5 menit di perintah, Marco sudah berteriak-teriak. Akan jadi apa rumah ini dengan kehadiran 2 orang baru dengan karakter yang berbeda-beda.