
Max masuk ke dalam kamar di mana Leana sedang tidur. Ericka sudah pergi 10 menit yang lalu setelah dia kembali memberi wejangan pada Max.
Max memberanikan diri untuk duduk di pinggir ranjang. Dia menatap dalam-dalam wanita asing yang menjadi istrinya itu. Ya, Max hanya dapat melakukan ini saat Leana sedang tidur.
"Le, apakah kita bisa saling mencintai jika ada anak di antara kita? atau akankah kita makin jauh?" ucap Max sembari menyelipkan tangannya pada jari-jari kecil Leana.
Ada perasaan hangat yang mengalir dalam diri Max. Ini pertama kalinya dia bergenggaman tangan dengan seseorang. Mungkin Max terdengar sedikit lebay, tapi itulah kenyataannya. Max dan keluarganya tidak dekat.
Leana yang merasakan kehangatan yang sama menggenggam tangan Max, membuat pria itu terperangah. Tapi, di detik berikutnya Max mencoba untuk tenang dan tidak membuat banyak pergerakan.
"Rick, bisakah kamu pijit punggungku? Punggungku pegal sekali." ucap Leana tanpa membuka matanya. Dia mengira orang yang di sampingnya itu adalah Ericka.
Max menelan ludahnya. Memijit? Bagaimana cara memijit punggungnya? Max salah tingkah sendiri. Dia menarik nafas dalam-dalam, lalu mulai memegang pungung Leana dan memijitnya dengan pelan.
"Nyaman sekali."
Senyum Max perlahan terkembang. Dia senang bisa membantu Leana meskipun selalu saja dalam kondisi Leana tidak sadar.
Max memijit Leana selama 30 menit, lalu dia mulai merasakan matanya berat. Dan karena Leana belum melepaskan tangan Max, akhirnya Max tidur di pinggir ranjang dengan bersandar di head board.
"Kamu sungguh luar biasa, Le. Bisa membuat seorang Maxmillian tidur sambil duduk begini." ucap Max sembari mengelus puncak kepala Leana.
*
*
*
Leana membuka matanya. Kemarin tidurnya nyaman sekali. Tapi belum selesai mengulet, dia tersadar akan sesuatu. Tangan Leana sedang menggenggam tangan orang lain. Mata Leana membola begitu melihat Max di sampingnya. Dia menengok ke sekeliling. Bukankah semalam Ericka yang tidur dengannya? Tapi kenapa Max yang ada di sini? Dan sepanjang mata Leana menjelajahi kamar Max, dia tidak melihat Ericka di manapun.
Leana menutup mulutnya supaya dia tidak berteriak. Jadi, semalam yang memijitnya itu siapa? Apakah Max?
__ADS_1
Pertanyaan demi pertanyaan muncul dalam benak Leana.
Jantung Leana mulai berdegup kencang. Dia tidak percaya jika dia bisa bergenggaman tangan dengan Max seperti ini. Leana mencoba untuk tenang dan menarik nafas dalam-dalam. Ericka sudah mengajarkan beberapa hal supaya Leana bisa sembuh dari traumanya. Hal pertama yang pertama perlu Lea lakukan adalah menghadapi ketakutannya dengan sering berinteraksi dengan Max. Ya, dia sudah berjanji dan memutuskan untuk mencoba menerima Max. Jadi dia harus membuang jauh-jauh rasa traumanya dan memulai segala sesuatu dari nol.
"Dia suamiku sekarang." ucap Leana lirih. Dia mencoba memegang pipi Max dengan ragu-ragu. Tapi, Leana langsung menarik tangannya karena merasakan badan Max begitu panas. "Apa dia sakit?"
Leana melepaskan genggaman tangan Max pelan-pelan. Dia langsung bangun dari ranjang sambil memandangi Max yang terlihat pucat.
"Apa yang harus aku lakukan sekarang?" tanya Leana sambil mondar mandir kesana kemari. Masalahnya dia tidak mungkin merebahkan Max dalam posisi yang benar. Leana juga tidak mau membangunkan Max.
'Ting..tong..' bel pintu kamar Max berbunyi.
Leana berjalan ke arah pintu dan segera membukanya. Pasti Gina datang untuk mengecek keadaannya. Dia akan minta tolong pada Gina untuk membantu merebahkan Max di ranjang.
"Pagi adik ipar." sapa Marco ramah. Marco tersenyum lebar pada Leana yang berdiri di depan pintu. "Selamat atas kehamilanmu."
Leana tersenyum kaku. Dia sedikit kecewa karena Marco yang datang dan bukannya Gina.
"Dia sepertinya sakit." Lea akhirnya membuka mulutnya juga. Tidak ada Gina, Marco pun jadi. Marco tentu bisa membantu untuk mengurus Max.
"Max sakit?" Marco menyeruak masuk. Dia mengecek dahi Max dan memang badannya panas. Marco membantu memindahkan Max supaya Max bisa tidur di ranjang. Dia juga menyelimuti Max dan memasang AC yang paling dingin.
"Aku akan panggil Dokter Andre dan minta Gina untuk membuatkan Max sarapan." ucap Marco pada Leana yang masih berdiri di tempat yang sama.
"Aku saja yang buatkan untuk Max." kata Leana cepat.
"Serius?" Marco cukup terkejut mendengar Leana yang dengan sukarela membuatkan sarapan untuk Max. Ini adalah suatu keajaiban.
Leana mengangguk. "Aku akan buat samgyetang untuk Max."
"Wah, adik ipar..selain cantik, kamu juga berbakat." Marco bergerak untuk merangkul pundak Leana.
__ADS_1
"Hoek" Leana merasakan mual setelah mencium bau parfum Marco.
"Kenapa semua pria di sini baunya tidak enak." keluh Leana. Dia menyingkirkan tangan Marco, lalu berlari ke toilet untuk muntah di sana.
"Gak mungkin gak enak." Marco mencium sendiri ketiaknya. "Adik ipar ada-ada saja."
"Tolong cepat pergi." teriak Leana dari kamar mandi.
Marco menghentikan langkahnya. Dia sudah siap menyusul Leana ke kamar mandi, tapi Leana malah mengusirnya.
"Ini sungguh lucu. Sepertinya Max dan Leana sangat cocok." gumam Marco sembari melangkah keluar. Max selalu mengusir Marco jika dia pergi ke kamarnya. Sekarang istri Max pun mengusir dia.
Setelah mulanya reda, Leana keluar dari toilet. Leana mengelap bibirnya dengan punggung tangan. Sekali lagi Leana memandang Max yang sedang tertidur.
"Max..aku harus berusaha keras untuk menerimamu demi anak ini." ucap Leana lirih.
"Nona.. anda baik-baik saja?" Gina mendatangi Leana sambil berlari. Dia langsung memegang lengan Leana.
"Max sakit, Gin." "Aku akan buatkan sarapan untuk dia. Kamu bantu aku."
"Apa, nona?" Gina memastikan jika dia tidak salah dengar.
"Aku ingin masak." ulang Leana dengan kata-kata yang berbeda, tapi maksudnya sama.
"Tapi anda harus istirahat. Dokter bilang supaya anda jangan kelelahan dulu, karena trimester pertama itu sangat rentan."
"Kenapa aku gak boleh masak untuk dia yang sedang sakit?"
Gina berpikir sejenak sambil memandangi Leana yang terlihat ngotot ingin memasak. Dia lalu akhirnya mengangguk. Jika dipikir, ini adalah langkah awal yang bagus untuk memperbaiki semuanya.Gina ikut senang karena Leana sudah mulai melunak pada Max dan dia tentu senang ada yang bisa memperhatikan Max.
"Tuan Max pasti senang jika anda memasak untuknya." Gina mempersilahkan Leana untuk jalan lebih dulu, sedangkan dia berjalan di belakang Leana.
__ADS_1