
Leana merasakan cahaya matahari menerpa wajahnya. Dia perlahan membuka mata. Sinar matahari yang menembus lewat gorden langsung membuat mata Leana sakit.
Leana berguling ke samping, lalu mengecek ponsel yang tak jauh darinya. Sekarang Jam 9 pagi. Ini berarti Leana tidur lama sekali. Leana mencoba mengumpulkan nyawa dan setelah sadar, dia teringat jika Leana berada di kamar Max.
Wanita itu bangun dan lagi-lagi mencari keberadaan Max. Tapi, kamar sudah kosong.
Leana lalu menengok ke arah nakas. Di sana ada sepiring omelet dengan croissant. Leana mengambil kertas yang terselip diantara piring dan gelas.
Morning, Le..
Aku sudah siapkan sarapan untukmu. Semoga kali ini kamu menghabiskan makananmu. Aku pergi kerja dulu.
Leana mengambil piring itu dan mulai makan. Perutnya sudah keroncongan karena kemarin dia hanya makan sedikit.
"Nona, apakah nona sudah bangun?" Gina mengetuk pintu kamar Max.
"Masuk aja Bi."
Gina tersenyum pada Leana yang sedang memakan sarapannya. Dia senang melihat pemandangan itu. Apalagi dari ekspresi wajah Leana, sekarang wanita itu terlihat jauh lebih baik.
"Nona, Tuan Max pesan untuk berikan hadiah ini pada nona." Gina menyerahkan satu box warna hitam pada Leana.
Leana membuka box itu, tapi keningnya berkerut melihat deretan kunci yang berjajar dengan rapi.
"Apa ini, Bi?"
"Nona boleh pilih satu mobil pribadi untuk nona. Apakah nona mau lihat dulu mobilnya di bawah?"
Leana menelan ludahnya. Pria macam apa yang dia nikahi? Apakah Max buka showroom di rumah ini? Kemarin juga Max punya mini sea world dengan ikan hiu. Pria itu luar biasa kaya.
__ADS_1
"Apakah aku boleh liat-liat rumah ini?" tanya Leana pada Gina. Leana penasaran dengan rumah Max yang luas ini.
"Dengan senang hati, nona."
Leana mengikat rambutnya, lalu dia dengan bersemangat mengikuti Gina yang membawa serta kotak kunci mobil yang diberikan Max.
"Wah, ada Tuan Putri baru bangun tidur." Vero yang tengah membaca berkas di ruang tengah, berdiri menghampiri Leana. Dia memandang Leana dari atas ke bawah. Leana masih menggunakan baju tidur dan tampaknya wanita itu juga belum mandi.
"Nyonya, nona Leana sedang sakit." bela Gina.
"Diam Gin. Aku gak bicara sama kamu."
Vero mendongakkan dagu Leana supaya wanita itu menatapnya.
"Aku tidak suka menantu yang malas." ucap Vero dengan penuh penekanan.
"Baguslah. Bangun jam 5 pagi, dan temui aku di bawah." Vero melenggang pergi setelah menggertak menantunya.
Gina mengusap punggung Leana sebagai tanda prihatin. Dia tau betul perangai nyonya besar yang tidak bisa dibantah.
"Kita lanjut jalan ya, nona." Gina menggandeng lengan Leana, takut jika wanita itu jatuh pingsan lagi.
Mereka mulai house tour dari dapur, tempat yang menarik untuk Leana. Leana meneliti dengan cermat perlengkapan dapur di rumah Max. Semua yang di dalam dapur Max terbuat dari stainless steel dengan kualitas terbaik. Dapur Max benar-benar dapur impian untuk Leana. Leana rasa dia akan nyaman berada di dapur.
Selesai dari dapur, mereka pergi ke taman sekaligus kolam renang. Kolam renang Max sangat lebar dengan menggunakan material kaca memberikan kesan mewah seperti yang ada di hotel-hotel.
"Ini tempat favorit Tuan Marco." jelas Gina.
"Biasanya dia berenang setiap pagi. Mungkin hari ini dia sedang keluar kota." lanjut Gina.
__ADS_1
Leana hanya mengangguk. Dia lebih banyak diam sambil mengikuti Gina menjelaskan bagian-bagian rumah yang luasnya hampir 1 hektar ini.
Setelah hampir semua bagian, akhirnya mereka sampai di garasi. Leana membuka mulutnya lebar-lebar melihat koleksi mobil dari Max dan Marco.
"Bi, apa mereka buka showroom?" tanya Leana kagum.
Mobil sport yang terdapat di garasi ada lebih dari 2 lusin. Semua berbeda tipe dan juga warna.
"Tuan Max sering kecelakaan kecil. Dan kalau mobilnya tergores sedikit saja, dia tidak mau pakai lagi. Jadi mungkin ini hanya cadangan."
"Wah, dia ternyata benar-benar gila." Leana mengecek satu persatu mobil yang sangat mengkilap itu.
"Ya, untung saja anda mau dengannya." ucap Gina lirih.
"Aku itu di jebak, Bi. Aku masih takut dengan Max." Leana mengungkapkan perasaannya pada Gina.
"Silahkan pilih, nona." Gina mengubah topik dengan menyerahkan box kunci yang tadi dia bawa kepada Leana.
Ya sejak pertama kerja, semua orang di rumah ini berkata supaya Gina tidak usah ikut campur urusan mereka. Tapi, Gina sedikit mendengar dari percakapan Marco dan Vero jika Max memperkosa Leana dan mereka terpaksa menikah. Itu juga yang jadi alasan kenapa Leana trauma dengan Max dan juga Vero tidak suka dengan Leana.
Sementara itu, Leana sibuk melihat satu persatu mobil Max yang semua tergolong mobil supercar. Tapi, pandangan Leana berhenti pada mobil yang paling dekat dengan pintu garasi. Dia mendekati mobil itu dan meminta kuncinya pada Gina. Sepertinya Leana menyukai sebuah mobil Porsche spyder warna silver yang terkesan sangat elegan itu.
"Pilihan yang bagus. Ini juga mobil kesukaan Tuan Max." ucap Gina sambil tersenyum lebar pada Leana.
Ponsel Gina berdering. Tuan muda 2 calling..
"Panjang umur sekali dia." batin Gina saat melihat Max meneleponnya.
"Sebentar nona, saya angkat telepon dulu.."
__ADS_1