Love In Trauma

Love In Trauma
Hamil?


__ADS_3

Vero langsung masuk kamar begitu sampai di rumah. Dia ingin segera mandi karena bajunya berbau amis setelah Leana menempel padanya di supermarket.


Sedangkan Leana bingung harus pergi ke mana. Dia hanya berdiri di depan pintu sambil melamun.


Gina yang baru saja dari lantai 2 dan berpapasan dengan Vero, segera menghampiri Leana yang tampak pucat.


“Anda tidak apa-apa, nona?” tanya Gina seraya menggandeng lengan Leana.


Leana menggeleng. “Temani aku di dapur, Gin. Aku ingin memasak.”


Dia sebenarnya tidak mood dan ingin tidur saja, tapi tadi di mobil Vero mengancamnya untuk memasak makan malam untuk mereka.


“Ini, jas Tuan Max?” Gina memandang jas yang di pakai Leana. Dia tau itu milik Max dari bau parfum Max yang begitu khas.


Leana lupa melepaskan jas Max. Dia berhenti sejenak, lalu melepaskan jas milik suaminya itu dan kemudian Leana memberikan pada Gina.


“Buang ini. Baunya sangat tidak enak, membuatku pusing.”


Gina memanggil pelayan lain, untuk membawa pergi jas milik Max. Dia sedikit bingung dengan Leana. Leana sampai lupa dengan jas milik Max yang menempel di badannya, tapi dia bilang kalau mual mencium bau parfumnya.


“Kalau sakit, biar saya saja yang masak, nona.” Ucap Gina pada Leana.


“Tidak usah. Mom akan marah jika kamu yang masak.” Leana melenggang ke dapur diikuti oleh pengawal Vero yang membawa belanjaan mereka yang begitu banyak.


Leana mengikat rambutnya secara asal. Dia mulai mencuci ikan yang tadi sudah dia pilih sambil membersihkannya. Leana juga memberikan instruksi pada Gina untuk menyiapkan beberapa sayur yang dia butuhkan.


“Nona, apa yang ingin anda sajikan malam ini?” tanya Gina yang tertarik dengan ide Leana dalam memasak.


“Saya hanya akan bikin steam fish bi.” Jawab Leana yang masih sibuk membuang isi perut ikan yang sudah dia bersihkan.


“Ya, jangan menggunakan banyak minyak, karena orang di sini darah tinggi semua.” Ucap Gina setuju.

__ADS_1


Leana tertawa mendengar ucapan jujur dari Gina. Selama berada di rumah Max, Leana tidak pernah melihat keluarga ini santai. Suasana selalu tegang bahkan ketika mereka sedang makan.


“Anda hebat sekali, nona.” Gina kagum dengan kecepatan Leana dalam mengolah makanan. Dia sangat mahir menggunakan pisau dan hasil potongannya sangat rapih.


Dalam sekejap saja, Leana sudah memasukkan ikan beserta bumbu-bumbunya di dalam kukusan.


Sementara menunggu itu selesai, Leana menyiapkan appetizernya. Leana berencana untuk membuat canape. Dia mengeluarkan beberapa crackers bulat, lalu menata di piring. Setelah itu Leana mengambil beberapa lembar smoked beef, lalu mencetak itu sesuai dengan ukuran crackers, lalu mulai menggoreng beef itu dengan olive oil.


Sementara itu, Gina membantu Leana untuk merebus telur.


“Nona, apakah anda masih takut dengan Tuan Max?” tanya Gina hati-hati.


Leana memandang Gina sesaat, lalu kembali pada pekerjaannya. “Apa begitu terlihat?” Leana malah balik bertanya.


“Iya.. anda histeris ketika melihat Tuan Max.” Jawab Gina jujur.


“Sulit Gin untuk memaafkan perlakuan pria itu.” Ucap Leana sambil menerawang dengan pandangan kosong.


“Ya, maaf nona. Saya tidak bermaksud untuk ikut campur urusan anda.” “Tapi, saya harap anda bisa bersabar dengan Tuan Max.”


Gina tidak melanjutkan lagi percakapannya dan hanya mengikuti instruksi Leana.


Leana begitu penuh karisma jika sedang memasak dan itu membuat Gina senang. Leana menjadi orang yang percaya diri ketika sedang di dapur. Itu sangat berbeda dengan Leana ketika berada di kolam, ruang bawah tanah, meja makan atau juga di kamar Max.


“Perfect.” Leana begitu senang ketika melihat hasil kuning telur yang dia rebus. Leana merebus selama 10 menit dan itu menghasilkan kuning telur yang keemasan. Leana lalu melakukan hal yang sama dengan mencetak telur rebus itu sesuai dengan ukuran crackers. Dia lalu tinggal menyusun telur dan smoked beef itu di atas crackers. Terakhir dia menambahkan seasoning dengan menaburkan salt paper dan oregano.


“Canape siap. Steam fish nya juga tinggal di angkat.” “Sisa dessert nya aku serahkan padamu, Gin.” “Sajikan saja puding dan masukkan itu pada gelas yang cantik.” “Taruh fla di atas puding itu, lalu beri hiasan dengan buah yang ada di kulkas.” Jelas Leana sambil melepas apronnya.


Gina bertepuk tangan karena Leana menyelesaikan 2 hidangan dalam waktu hanya kurang dari 1 jam. Leana memang benar-benar chef profesional dan sangat kreatif.


“Aku akan istirahat dulu, karena sepertinya aku tidak enak badan.” Leana memegang dahinya sendiri. Badannya sedikit hangat dan kepalanya masih pusing.

__ADS_1


“Apa aku perlu bilang pada Tuan Max untuk memanggilkan Dokter Andre?”


“Jangan. Aku tidak ingin Mom menyebutku penyakitan. Aku akan istirahat saja di kamar.”


Gina menatap Leana yang sudah meninggalkan dapur. Ada yang aneh di sini. Leana tampak pucat. Dia pusing dan demam juga. Jangan-jangan...


Gina menutup kedua mulutnya.


"Apa Leana hamil?" ucap Gina shock.


*


*


*


Leana


masuk ke dalam kamar dan langsung merebahkan diri di ranjang. Dia sangat lelah dan pusing. Tidak biasanya dia kelelahan seperti ini.


Ya, sejak kecil Leana sudah biasa dengan kerja keras di dapur. Dia bisa memasak berjam-jam di dapur tanpa merasakan lelah. Ini baru saja menamani Vero belanja dan memasak sebentar, Leana sudah kecapekan seperti orang yang baru kerja rodi.


Leana mengambil ponselnya untuk menelepon Bibi dan menanyakan obat yang bisa dia minum.


"Bi, aku sepertinya sakit. Aku mual dan kelelahan. Obat apa yang bisa aku minum, Bi?"


"Apa sering begitu?"


"Ya, sudah semingguan ini Bi."


"Minum teh hangat saja, Le. Itu bisa memulihkan tenaga kamu." saran Bibi dengan nada yang tenang.

__ADS_1


Bibi tau kemungkinan buruk yang terjadi. Leana hamil. Tapi dia tidak mau Leana shock dan stress. Bibi Marie juga perlu memberitahu Max tentang Leana.


(Mohon maaf nanti up nya agak telat ya.. author mau bikin selai nanas dulu sama bulet2in nastar😂)


__ADS_2