
Gina bernafas lega saat Leana membuka pintu kamar mandi. Leana sudah menggunakan Bathrobe dan dia langsung melenggang ke walk in closet tanpa banyak bicara.
"Nona, saya akan mengikuti anda hari ini." Ucap Gina setelah Leana keluar 5 menit kemudian.
"Ya, aku memang butuh teman." Leana tidak menolak untuk ditemani. Pikiran Leana sedang kacau sekarang, dan dia butuh seseorang di sampingnya.
"Aku siap Gin. Ayo." Leana mengambil tas di meja rias, lalu mengajak Gina keluar. Ya, saat ini Leana tidak berminat untuk make up. Dia hanya ingin pergi ke restoran, tempat dirinya bisa merasakan tenang. Jika berada di rumah ini terus, otomatis Leana akan juga terus memikirkan Max.
Mereka berdua turun dan seperti biasa, ternyata Vero dan Marco sedang sarapan di meja makan.
Leana sangat ingin mengabaikan ibu mertuanya itu, tapi demi kelangsungan hidup seisi rumah ini, Leana memutuskan berhenti lebih dulu untuk berpamitan.
"Mom, Lea mau pergi ke restoran." ucap Leana dengan sopan.
"Apa perlu aku antar, Le?" Marco langsung berdiri dengan sigap.
"Gak perlu, Marco. Makasih. Aku sudah ajak Gina." tolak Leana terang-terangan.
"Marco, duduk." "Kita belum selesai bicara." Vero memberi peringatan lewat ucapan dan tatapan matanya.
"Tapi, Mom.. dia sedang hamil. Kalau ada apa-apa dengan kandungannya, Max bisa marah."
"Max saja pergi. Kenapa kamu yang khawatir? Lagian ada Gina." kata Vero yang terus memandang Leana. Ada yang aneh dengan anak itu. Leana pagi itu terlihat begitu dingin dan sinis.
"Mom, Marco, aku pergi dulu." Leana membungkukkan badan seperti biasa. Dia tidak ingin terlibat dalam urusan keluarga Scotts meskipun itu membawa namanya.
"Lihat, makin lama dia makin berani saja." "Kalian terlalu memanjakan dia." protes Vero yang melihat Leana semakin jauh.
"Berani apanya sih Mom? Mom gak liat dia udah kayak satpam bank gitu?"
"Marco.Kenapa kamu bela Leana. Mom jadi curiga kalau..."
"Curiga kalau aku suka Leana?" tembak Marco. "Mom sama aja kayak Max. Pikiran kalian sempit." "Mom yang ingin Leana bisa jadi menantu yang pantas untuk keluarga Scotts. Sekarang, Leana bertindak elegan dan sombong seperti tadi, Mom malah protes. Itu kan yang Mom mau? Leana sudah mirip dengan Max." oceh Marco.
"Ya.. ya.. kita lanjutkan saja makannya." Vero mengenyahkan pikiran buruknya pada Leana.
*
*
*
__ADS_1
Restoran milik Leana hari ini cukup ramai. Leana tidak bekerja di depan, melainkan di dapur. Dia yang menghandle dapur di temani koki mereka. Ya, kesibukan ini sangat membantu Leana. Dia jadi tidak memikirkan apapun selain memasak. Gina juga tidak bisa mengikuti Leana ke dapur dengan alasan privasi restoran. Jadi, Gina menunggu Leana di meja kasir.
"Bu, ada pelanggan di ruang VIP yang komplain." seorang pegawai Leana berlari terburu-buru ke dapur.
"Komplain? Kenapa?" tanya Leana bingung. Dia sudah mencicipi semua masakan yang dia buat.
"Katanya makanannya asin." ucap pegawai itu sambil menunduk karena tidak enak.
Leana mengoperkan kerjaannya pada Koki mereka. Dia berjalan mengikuti pegawainya dengan apron yang masih terpasang.
Ruangan VIP terletak di bagian atas restoran ini. Sesuai namanya, ruangan itu kusus di rancang untuk orang yang membutuhkan privasi. Jadi, ruangan itu berupa ruangan kedap suara dengan kursi sofa yang nyaman.
Leana masuk ke dalam setelah mengetuk pintu 3x. Dia menatap pria yang berdiri dengan posisi membelakanginya. Dari postur tubuh dan warna Rambut, Leana segera tau siapa pria yang komplain itu.
"Mark, kenapa kamu di sini?" tanya Leana kaget.
Mark berbalik dan langsung memberikan senyuman lebar. Dia berjalan ke sofa dan duduk di sana.
"Leana, karena kamu lupa janjimu, jadi aku terpaksa pura-pura komplain supaya bisa ketemu kamu." kata Mark dengan jelas.
Leana diam. Dia memang lupa akan janji Mark yang ingin bertemu di restoran. Mana sempat Leana memikirkan Mark jika otaknya sudah penuh dengan masalah.
"Duduk dulu, Le. Ada sesuatu yang ingin aku tanya." Mark menarikkan kursi untuk Leana.
Leana berpikir sejenak, tapi akhirnya dia setuju. Dia sudah tidak ada hubungan apapun dengan Mark, jadi ini tidak akan jadi masalah besar.
"Le, aku minta maaf soal hubungan kita yang gak berakhir baik-baik." Mark membuka pembicaraan lebih dulu.
"Ya, aku sudah maafkan." Leana melipat tangannya di meja sambil memandang Mark sinis. Dia jelas tidak akan pernah lupa alasannya dengan Mark berakhir.
"Tapi, aku benar-benar kaget saat tau kamu itu sudah menikah dengan Max dan sedang hamil."
"Ya, aku sangat bahagia karena sudah menemukan pria yang menerima aku apa adanya." jawab Leana tanpa ragu. Padahal hatinya seperti teriris mengingat permasalahan dirinya dengan Max.
"Kalau kamu bahagia, kenapa wajahmu di tekuk?" Mark memperhatikan lingkaran hitam di mata Leana dan juga wajahnya yang pucat tanpa make up. Dia sangat berbeda dari waktu terakhir mereka bertemu sebelum putus. "Mana suamimu? Kenapa dia biarkan istrinya yang sedang hamil kerja seperti ini?"
"Max sedang berada di luar kota."
"Ooh.." Mark beralih pada perut dan badan Leana yang sudah sedikit berisi. "Sorry, berapa usia kandunganmu?"
"Jalan 3 bulan."
__ADS_1
"Bukankah kamu nikah baru 2 bulan?" Mark menaikkan satu alisnya. Dia tampak bingung dengan ucapan Leana. Ya, Mark sudah mencari informasi tentang Leana sebelum mereka bertemu. Mereka menikah di rumah sakit dan itu sungguh mencurigakan.
Leana menggigit bibir bawahnya karena malu. Dia lupa kalau waktu menikah dengan Max dia berarti sudah hamil.
"Kenapa kamu tanya kayak gitu? Aku saja gak tanya hubunganmu dengan Aileen atau siapa itu lah namanya." Ucap Leana dengan nada meninggi.
"Le, bukan seperti itu. Aku cuma mau bilang kalau.."
'Hoek' Leana tiba-tiba mual. Dia tidak bisa menahannya dan semua isi perutnya jatuh ke lantai.
"Le, kamu gak apa-apa?" Mark buru-buru menghampiri Leana dan membantu dia untuk mengikat rambutnya. Dia juga memijit leher Leana perlahan.
"Apa sering seperti ini?"
Leana menjawab dengan anggukan kepala.
"Perlu ke dokter?"
"No. Aku akan suruh karyawan bersihkan ini dulu." Leana menggeser kursinya, lalu berdiri dengan sempoyongan.
Mark ingin membantu Leana, tapi Leana sudah memberi kode supaya Mark tidak mendekat.
"Kenapa rasanya tidak enak sekali? Perutku juga sakit." Leana mencoba untuk berjalan perlahan dan kembali ke dapur.
Mark mengikuti Leana di belakangnya, takut jika wanita itu tiba-tiba jatuh pingsan.
Benar saja, baru turun satu anak tangga, Leana hampir terjatuh. Mark memegang lengan Leana dengan kuat.
Gina yang melihat itu dari bawah, segera berlari ke tempat Leana. Dia kaget kenapa Leana sudah berada di atas bersama seorang pria berwajah Bule. Padahal seharusnya Leana berada di dapur.
"Minggir, Pak. Saya yang akan urus Nona." Gina melepaskan paksa tangan Mark dari Leana. Dia yakin sebentar lagi pasti Max menelepon.
Benar saja. Ponsel Gina berdering dan itu panggilan dari Maxmillian.
"Halo, Tuan."
"Bawa Leana pulang sekarang!" teriak Max nyaring.
Gina sampai menjauhkan ponsel dari telinganya supaya gendang telinganya tidak pecah.
'Tuh kan. Bisa jadi masalah nih. Apalagi tadi Nona berduaan saja dengan pria lain." "Dengan kakaknya sendiri saja cemburu, apalagi dengan pria asing. Kenapa ada banyak sekali pria yang mendekati Nona? Apa mereka itu buta? Jelas-jelas Nona itu sudah menikah.' batin Gina sembari membawa Leana menuruni tangga.
__ADS_1