
Vero memperhatikan Leana dan Marco dari balkon kamarnya. Dia dapat dengan jelas mendengar percakapan mereka karena letak kamar Vero tepat di atas kolam renang.
Setelah Leana pergi, giliran Vero yang turun untuk menemui Marco. Dia hendak protes kenapa Marco malah membantu Leana.
“Marco.. kamu itu kurang kerjaan ya?” omel Vero sambil merebahkan badan di kursi santai di samping tempat Marco duduk.
Marco menyesap tehnya sambil memandang lurus ke depan.
“Ya, aku kurang kerjaan Mom. Jessica menghilang dan aku seperti kehilangan separuh hidupku.” Curhat Marco.
“Lebay sekali kamu.” “Apa menariknya Jessica sampai kamu seperti ini?”
“Dia itu sangat sesuai kriteria Mom, tidak seperti Leana.”
“Ya, kamu benar juga. Tapi, kenapa kamu bisa punya inisiatif untuk bantu gadis penyakitan itu?” Vero kembali mengomel.
“Mom,, Max sibuk bekerja, dan dia begitu ketakutan melihat Max. Jadi, aku hanya membantu saja.” Terang Marco sambil tersenyum pada Vero.
“Mom tidak percaya. Pasti kamu punya alasan lain.” Sanggah Vero.
“Mom ku yang paling cantik sedunia, apa Mom pikir aku suka dengan Leana?” Marco tertawa sinis. “Dia jauh dari kriteria ku. Keahliannya hanya bisa masak.” “Jessica pun bisa masak.”
Vero diam saja. Jika Marco menyukai Leana, maka akan ada perang Dunia ketiga di sini. Max kelihatannya benar-benar menyukai Leana.
“Mom, kenapa tidak jalan-jalan saja dengan Leana?” saran Marco.
“Untuk apa jalan-jalan dengan gadis itu? Mom bisa malu.” Ucap Vero dengan nada menghina.
“Lho, justru Mom bisa bermain dengan Leana.”
Vero mencerna kata-kata Marco. Marco benar juga. Dia sangat bosan karena tidak ada yang bisa melampiaskan kekesalannya.
“Have fun, Mom.” Marco menggunakan kacamata hitamnya, lalu tiduran di kursi sambil memejamkan mata.
__ADS_1
Sementara itu, Vero sudah ke dalam, tepatnya ke depan pintu kamar Max.
“Leana...” panggil Vero sambil menekan bel kamarnya. “Lea..” ulangnya.
Vero menunggu cukup lama sampai akhirnya pintu terbuka. Leana tampak sedang mengeringkan rambut dengan handuk.
“Ikut Mom sekarang.” Vero menarik tangan Leana. Leana tentu saja kaget. Tapi dia tidak bisa melawan Vero karena Vero sudah keburu mencengkeramnya dan mengajak Leana turun.
“Mom, mau kemana Mom?”
“Sudah ikut saja. Jangan cerewet.”
Vero baru melepaskan Leana saat mereka sudah sampai di mobil. Vero mengajaknya pergi tanpa peduli penampilan Leana saat ini. Lea hanya menggunakan celana pendek dan kaos. Rambutnya juga masih basah dan belum di sisir.
“Ada apa Mom? Kenapa buru-buru?” tanya Leana bingung.
“Kita ke supermarket Pak.” Ucap Vero pada sopirnya tanpa menanggapi ucapan Leana.
Leana pasrah. Dia menyisir rambut dengan tangan supaya lebih rapi. Seperti yang tadi Marco ucapkan, dia harus memahami mertuanya.
“Kita ke supermarket mana Nyonya?”
“Ke mall Terrance.” Vero berubah pikiran setelah melihat penampilan Leana.
Mall Terrance. Leana pernah ke mall itu. Mall itu begitu besar dan sangat mewah. Barang-barang branded di mall itu menjadi incaran kaum sosialita di kota ini. Jadi, sudah dapat di pastikan 80% pengunjung di sana adalah kaum elite. Satu lagi, mall itu adalah milik keluarga Scotts.
Leana sekali lagi memandang penampilannya. Untung saja Leana tadi menggunakan sepatu karena kamar Max begitu dingin. Jika tidak, sudah dapat dipastikan, penampilan Leana akan bagaikan gembel di tengah kaum sosialita.
Mereka sampai di mall dalam waktu singkat. Jarak rumah Max dengan mall ternyata sangat dekat.
Vero turun lebih dulu. Dia berjalan dengan anggun sambil menenteng tas branded limited editionnya. Satpam langsung menunduk penuh hormat ketika Vero masuk. Leana mengikuti Vero dengan terburu-buru. Di belakang Leana, 2 pengawal Vero juga terlihat kewalahan mengikuti majikannya.
“Aku hanya ingin ke supermarket. Kita akan belanja bahan-bahan makanan supaya kamu bisa memasak nanti malam.”
__ADS_1
“Tapi, Mom..” Leana tak kuasa menolak permintaan Vero karena mertuanya itu sudah mengangkat satu tangan tanda Leana harus berhenti bicara.
Leana mengambil keranjang belanjaan dan berjalan di belakang Vero.
“Nyonya.. apa Anda butuh bantuan?” salah seorang manager di supermarket itu langsung mendatangi Vero yang baru akan masuk ke dalam supermarket.
“Tidak perlu. Saya bawa dia.”Vero menunjuk Leana dengan dagunya.
“Apa ini pembantu baru, Nyonya? Biasanya nyonya bersama dengan Gina.”
Vero tersenyum sinis sambil melirik Leana. Leana menatap penampilannya sekali lagi. Orang itu benar. Leana tampak seperti pembantu jika dibandingkan dengan mertuanya. Apalagi kini kaosnya basah karena keringat dan juga karena tetesan air dari rambutnya.
“Ayo, Le. Ambil yang aku sebutkan.”
“Iya, Mom.” jawab Leana gugup.
Vero menyebutkan beberapa barang yang dia perlukan dengan begitu cepat. Leana mencoba bergerak dengan cepat, tapi tetap saja ada yang tertinggal.
“Ambil yang benar, Le.” Omel Vero.
“Iya, Mom.. maaf..”
“Gitu aja gak bisa. Sungguh lambat sekali.”
Leana diam seribu bahasa. Kata-kata Vero jelas menyakitkan hati. Tapi, Leana harus bersabar. Tidak mungkin Leana melawan ibu mertuanya.
‘Benar kata Marco.. ternyata asik juga membawa Leana belanja.’ Batin Vero dalam hati. Dia melihat Leana sudah berkaca-kaca di belakangnya.
“Lea.... cepat...” teriak Vero.
“Iya mom..” Leana mendorong troli sambil berlari.
2 pengawal di belakang Leana hanya mampu menggelengkan kepala melihat ibu mertua yang mengerjai menantunya. Mereka kasihan pada Leana yang bagaikan upik abu. Padahal Leana
__ADS_1
adalah istri dari pemilik mall ini.