Love In Trauma

Love In Trauma
Istriku


__ADS_3

Max mengetukkan pulpen ke meja. Dia berulang kali melihat ponselnya. Tidak ada tanda-tanda ponselnya menerima telepon atau pesan masuk.


Max mencoba membuka berkas untuk mengecek pekerjaan hari ini. Tapi, pikirannya tidak ada di situ. Pikiran Max berada di tempat lain, tepatnya di rumah.


"Rick, kata mu aku harus memperhatikannya. Tapi, dia sama sekali tidak bereaksi." Max menelepon Ericka seraya melihat rekaman CCTV di kamarnya.


"Ya ampun, Max. Kamu baru memperhatikan dia satu kali." "Mana bisa itu menutupi semua kesalahanmu?"


"Lalu, apa lagi yang harus aku lakukan?" tanya Max tidak sabar.


"Anggap dia pacarmu, Max. Jika kamu punya pacar, apa yang harus kamu lakukan?" pancing Ericka.


"Jangan main teka teki, Rick. Kamu tau persis aku tidak pernah mendekati wanita. Mereka yang suka mendekatiku." ucap Max kesal.


"Oh iya, aku lupa. Kamu adalah Maxmillian Scotts."


"Bagaimana ini, Rick?"


"Ya sudah, kamu ingin berikan apa lagi pada Leana?" Berikan saja yang kamu inginkan. Tapi jangan yang aneh-aneh."


"Jangan aneh-aneh?" Max mengulang perkataan Ericka yang terdengar random untuknya.


"Sudah ya, Max.. Aku sedang ada pasien lain."


Max berpikir apa yang bisa dia berikan pada istrinya. Setelah hampir setengah jam, Max tidak dapat menemukan jawaban dan tidak tau barang apa yang bisa menyenangkan untuk wanita.


"Rani, cepat kemari." Max bicara pada sambungan telepon. Tidak lama, pintu ruangan Max terbuka. Seorang wanita berambut sebahu langsung mendekati Max.


"Ada apa Tuan?"


"Barang apa yang sangat disukai oleh wanita?"

__ADS_1


Rani, alias sekretaris Max kebingungan untuk menjawab. Max tidak pernah bertanya tentang hal pribadi. Dia takut jika salah menjawab,karena jika salah berkata-kata, Max akan mengamuk.


"Eem..banyak Tuan."


"Yang spesifik, Ran."


"Ya, makanan, emas, mobil, berlian, sepatu, baju."


"Jangan banyak-banyak, Ran. Kamu bikin aku pusing. Pilih salah satu." omel Max. "Cepat."


"Mo.. mobil Tuan." jawab Rani ketakutan.


"Oke.. Kamu tunggu sebentar di sini. Aku akan pastikan dulu kalau dia senang."


Rani membeku di tempatnya. Siapa yang dimaksudkan Max? Apakah Bos nya itu sedang pacaran?


Max menelepon Gina dan menyuruh dia untuk memberikan kunci mobil pada Leana. Dia sebenarnya kurang suka memberikan mobil pada Leana, karena Leana bisa gunakan itu untuk kabur. Tapi, bukan Max namanya jika dia tidak punya rencana. Sekarang yang perlu Max lakukan adalah memastikan jika Leana senang dengan hadiahnya.


"Belum di jawab. Duduk saja, jangan seperti patung pancoran."


Rani duduk dan terus menunduk tanpa berani memandang Max. Dia tidak tau persis bosnya itu dalam mood yang baik atau buruk.


Lama mereka menunggu dalam diam, tapi Gina tidak kunjung menelepon juga.


Max terlihat resah sambil memandang ponselnya. Dia sudah tidak sabar dengan reaksi Leana.


5 menit kemudian, akhirnya Max menelepon Gina.


"Kenapa lama sekali, Gin?" "Apa yang dia pilih?" tanya Max tidak sabar.


"Tuan, nona sudah memilih mobil Porsche milik Tuan."

__ADS_1


"Apa dia senang?"


"Sepertinya dia senang. Setelah ini kami mau ke ruang bawah tanah melihat koleksi anda."


"Baguslah. Apa Mom mencari masalah dengan dia?"


"Tadi Nyonya menegur Leana karena bangun siang. Tapi, nona tidak apa-apa."


"Jaga istriku dengan baik." pesan Max sebelum menutup teleponnya.


Rani membulatkan mata mendengar Max mengucapkan kata istri.


"Anda sudah menikah, Tuan?" katanya tak percaya.


"Ya, aku sudah memiliki istri." jawab Max dengan wajah datar.


"Astaga.. selamat Tuan. Maaf saya tidak mendengar berita itu." ucap Rani sambil menunduk untuk memberikan hormat pada Max.


"Ya, semuanya mendadak. Aku tidak mengadakan pesta." "Dan jangan bilang pada karyawan yang lain."


"Baik Tuan. Saya permisi dulu."


"Tunggu, Ran." panggil Max lagi.


Rani harus berputar lagi, padahal dia sudah ingin mengambil langkah seribu.


"Ini, bonus untukmu." Max memberikan selembar tiket hotel untuk Rani.


"Terimakasih Tuan." Rani menerima tiket itu dengan senang hati. Jika Mood seorang Max sedang bagus, dia memang murah hati. Tapi, jika sedang buruk, Rani harus menerima segala kata-katanya yang kejam dan menusuk. Untung saja istri Max suka dengan apa yang Rani sarankan. Jika tidak, Max bukan memberikan tiket hotel, melainkan surat SP.


Rani jadi penasaran bagaimana rupa istri Max itu. Dia cukup punya nyali untuk bersanding dengan Max.

__ADS_1


__ADS_2