
Dua orang itu saling menatap tanpa bicara. Baik Max dan Marco hanya melemparkan pandangan tajam dengan jarak yang begitu dekat.
"Max, aku tau kamu mencintai Leana, tapi kamu gak bisa egois." "Kamu sudah cukup dapatkan semua dari Dad." ucap Marco lebih dulu.
"Semuanya?"
"Ya, perhatian Dad, uang Dad..perusahaan." "Kamu tau pasti, sejak dulu aku iri sama kamu sampai aku ingin rebut semua yang kamu punya."
"Marco!" bentak Max.
"Benar, kan?" Marco maju selangkah.
"Apa kamu sangat ingin tinggal dengan Dad?" Max memberikan pandangan tajam pada kakaknya itu.
"Aku hanya ingin diakui oleh Dad sebagai anaknya. "
__ADS_1
Pernyataan Marco yang blak-blakan membuat Max melunak. Dia hanya diam, karena tidak ada hal yang bisa dia ucapkan lagi. Mulutnya sudah terkunci rapat.
"Max, semua orang tau kalau aku anak tertua dari Keluarga Scotts. Dan mereka selalu tanya kenapa aku tidak memegang usaha Dad." "Itu karena aku hanya anak Mom dan selingkuhannya."
"Ko.."
"Tapi kamu.." "Kamu tetap anak Dad meskipun bukan dengan Mom."
"Marco!"
"Oke, aku akan tandatangani surat itu."
Tepat seperti dugaan Marco. Ini cara terkahir Marco membujuk Max. Dengan cerita masa lalu mereka, Max pasti akan luluh.
"Max.." Marco berbalik dengan menunjukkan tampang sedihnya.
__ADS_1
"Tinggalkan aku sebentar di sini sendirian." Max bicara dengan suara bergetar.
Karena tidak mau memperpanjang urusan, Marco akhirnya menurut. Dia pergi dari sana sebelum Max kembali berubah pikiran.
Max terduduk lemas. Dia tidak bisa lagi berpikir dengan jernih. Masa lalu kelam keluarga Scotts memang tertutup rapat. Entah siapa yang salah. Yang jelas, keputusan orang tua mereka berdampak besar untuk Max. Tuan Scotts menikah dengan Veronica dan tidak lama setelah itu, Veronica hamil. Tuan Scotts yang sangat senang, mengabulkan seluruh permintaan Veronica. Begitu juga dengan anak pertama mereka, Marcelino Scotts. Marco mendapatkan segala yang dia inginkan. Tuan Scotts sudah berharap banyak pada Marco. Tapi, ketika umur 5 thn, Tuan Scotts baru sadar jika Marco bukan anaknya. Golongan darah mereka berbeda. Itu adalah awal permasalahan keluarga Scotts. Tuan Scotts sangat marah mendapati jika Veronica selingkuh. Terlebih lagi, Vero sudah melakukan steril sehingga Tuan Scotts tidak bisa memiliki keturunan lagi.
Akhirnya, Tuan Scotts yang marah memutuskan untuk menggunakan jasa bayi tabung. Dia ingin punya anak laki-laki. Dan harapannya terkabul saat Max lahir. Tuan Scotts tentu saja mengalihkan semua perhatian pada Max. Max awalnya tidak tau kenapa Daddy nya lebih sayang padanya daripada Marco. Semua rahasia itu tertutup rapat dari Max. Sampai suatu hari Max mendengar percakapan Daddy nya dengan pengacara. Max baru tau jika Marco bukan kakak kandungnya. Begitu juga dengan Vero. Dia bukan ibu kandungnya.
"Daddy kenapa baru kasih tau Max sekarang?" percakapan sebelum Tuan Scotts meninggal kembali terngiang dalam benak Max.
"Max, kamu tau kenapa Dad gak menceraikan Mom?" "Biar bagaimanapun, kamu butuh sosok ibu." "Dad juga menyesal telah memperlakukan Marco dengan buruk." "Dad sayang kalian." "Kalian harus tetap jaga nama baik keluarga Scotts dan biarkan ini jadi rahasia kita saja." "Marco tetap kakakmu. Dan jaga dia dengan baik."
Tanpa sadar, air mata Max mengalir. Dia tidak bisa mengorbankan keluarganya. Leana sudah memutuskan untuk bercerai tanpa mendengarkan penjelasan Max lebih dulu. Jadi, Max memang harus menentukan pilihan sekarang.
Max mengambil ponselnya. Dia sudah tidak punya semangat dan tenaga lagi.
__ADS_1
"Ran, aku setuju untuk menikah dengan mu."