Love In Trauma

Love In Trauma
Bersatu


__ADS_3

Berkat bantuan Ericka, Leana semakin membaik. Dia bisa mengubah mindsetnya sehingga Leana tidak terlalu terpuruk lagi. Ya, Ericka selalu mengingatkan Leana untuk berdamai dengan dirinya sendiri. Dia tidak boleh putus asa karena hal yang di luar kendalinya. Kasus pemerkosaan itu, serta anaknya yang meninggal, adalah hal yang tidak terduga yang bisa menimpa siapapun. Ericka juga meyakinkan Leana jika Max sangat mencintai dia.


Max pun rela membawa pekerjaannya ke rumah sakit supaya dia bisa menjaga Leana 24 jam. Dan akhirnya hari ini Leana diperbolehkan untuk kembali ke rumah oleh Dokter. Gina sudah mengepak semua barang Leana. Ya, bukan hanya Max yang menunggu Lea 24 jam, tapi Gina juga. Dia dengan sukarela pergi ke rumah sakit karena ingin menemani Leana yang lebih seperti teman daripada majikannya.


"Bee, mau aku gendong?" tanya Max yang sudah siap menggendong Leana.


"Memangnya aku anak TK. Aku sudah sembuh, Max." jawab Leana sambil tersenyum.


"Okey, kita pulang sekarang."


'Tok.. Tok..' pintu kamar Lea di ketuk dari luar dan sosok Marco muncul dari baliknya. Ini pertemuan pertama Leana dengan Marco setelah kesalahpahaman yang terjadi.


Marco menyunggingkan senyum lebar melihat kondisi Leana yang sudah pulih.


"Aku baru saja menyelesaikan urusanku dengan Jessica." jelas Marco tanpa ditanya. Beberapa hari ini Marco pergi menemui Jessica untuk menyelesaikan urusan mereka. "Bisa aku bicara sebentar dengan Lea?" ijin Marco pada Max.


"Bertiga dengan Gina." Max memberi toleransi dan dia segera pergi dari ruangan itu.


"Le, aku minta maaf." Marco melangkah maju mendekati Leana.


"Ya, aku sudah maafkan." "Dan aku juga merasa bersalah karena menuduhmu." ucap Leana kikuk.


"Aku hampir saja melakukan apa yang Mark lakukan pada Jessica." ungkap Marco sambil menghela nafas panjang. "Sekarang aku gak akan mengejar Jessica lagi. Aku gak ingin wanita yang aku cintai jadi bernasib sepertimu."


"Ko, itu sungguh menyindir."


Marco tertawa karena Leana kesal.


"Anyway.. aku senang karena semua masalah sudah selesai." Marco menepuk pundak Leana. "Kamu dan Max bisa hidup bahagia sekarang."


Gina berdehem memberi peringatan pada Marco. Dia yakin Max tidak akan suka jika Marco melakukan skinship dengan Leana.


"Kamu juga perlu mencari pasangan, Ko." saran Leana.

__ADS_1


"Apa ada wanita yang kayak kamu, Le?"


"Ehem.. ehem.." Lagi-lagi Gina berdehem. Marco selalu meresahkan. Jadi tidak heran semua orang curiga padanya.


"Maksudku, mungkin ada temanmu yang mau kenalan denganku."


"Kalau kamu sedikit waras, mungkin ada." jawab Leana dengan jujur.


"Setuju." Gina menimpali ucapan Leana.


"Kurang ajar kamu Gin."


"Ko, belajarlah untuk berubah. Kamu bantu Max di perusahaan dan berhenti main-main." saran Leana.


Pintu kamar kembali terbuka sebelum Marco sempat menjawab. Max melongokkan kepalanya karena ketiga orang itu terlalu lama.


"Kalian itu ngobrol atau lagi main drama?" sindir Max.


Gina memapah Leana dan melewati Marco yang masih betah bicara dengan Leana.


Sementara itu, Max langsung menggantikan Gina untuk memapah Leana dengan merangkul pinggangnya.


*


*


*


Kamar Max adalah tempat yang paling nyaman di rumah ini bagi Leana. Selama di rumah sakit, Leana tidak bisa tidur karena tidak nyaman. Leana duduk di tepi ranjang, sementara Max meletakkan kopernya sembarangan di pojok ruangan. Dia sekaligus membuka pakaiannya karena merasa panas.


"Max, kamu keliatan lelah." ucap Leana yang melihat wajah Max begitu kusut dan tak terawat. Bulu-bulu halus di dagu Max juga tidak di cukur, membuat penampilan Max tidak setampan biasanya.


"It's okay Bee." jawab Max santai. Dia memang hanya tidur 2-3 jam saja sehari. Setiap Leana terbangun, Max juga terbangun.

__ADS_1


"Mau aku bantu cukur?" tanya Leana malu-malu.


Max tentu tidak menolak. Mereka berdua menuju ke kamar mandi dengan segera. Leana pertama kali menggunakan pisau cukur, jadi dia melakukan itu dengan sangat hati-hati.


Max membiarkan Leana berbuat sesuka hatinya. Dia tidak bergerak dan pasrah saja. Setelah proses yang cukup lama, akhirnya Leana selesai. Max sudah terlihat rapi dan lebih tampan. Apalagi saat ini Max bertelanjang dada membuat roti sobeknya terlihat jelas.


Leana tersenyum puas dengan hasil kerjanya. Dia menatap Max dan begitu sebaliknya sehingga pandangan mereka bertemu.


"Haruskah kita mulai dari awal?" tanya Max lirih.


"Aku belum tau kalau belum di coba."


Max mengangkat badan Leana dan mendudukan dia dia di pinggir wastafel supaya tinggi mereka sejajar. Mereka saling berpandangan cukup lama, sampai akhirnya mereka saling berciuman. Entah siapa yang mulai lebih dulu, tapi mereka tidak peduli. Mereka hanya menikmatinya. Max menggendong Leana lagi ke ranjang. Dia tidak mendapatkan penolakan dari Leana, bahkan Leana juga membalas apa yang Max lakukan. Jadi, Max sangat bersemangat. Rasa lelahnya hilang dalam sekejap dan berganti dengan perasaan bahagia yang tidak dapat diungkapkan dengan kata-kata.


Leana berusaha mengenyahkan pikiran negatifnya. Seharusnya kini sudah tidak ada halangan lagi bagi mereka. Leana harus menjalankan kewajibannya sebagai istri Max. Lagipula dia kasihan pada Max yang sudah bersabar dan menahannya sekian lama.


"Max, tolong pelan-pelan." pesan Leana ketika Max memandangnya.


"As you wish, Bee."


Mereka sudah sah melakukan hubungan suami istri yang seharusnya. Leana dan Max berhasil untuk bersatu dan kini mereka tidur sambil berpelukan.


"Thank you Bee.." "I love you,," bisik Max yang di akhiri dengan mencium pipi Leana.


"I love you more, Max."


Mereka tidak bisa berhenti saling memandang sampai pertanyaan itu terbesit dalam benak masing-masing.


"Aku belum siap memiliki anak lagi." ucap Leana lebih dulu. Dia masih trauma karena keguguran kemarin.


"No problem, aku juga tidak bisa jadi ayah yang baik." Max mengucapkan dengan pandangan menerawang seolah dia sedang memikirkan sesuatu.


Leana menyusuri dada bidang Max dengan tangannya. Dia masih penasaran dengan cerita masa lalu Max, tapi sepertinya pertanyaan itu terlupakan karena Max kembali mengulangi kegiatannya tadi.

__ADS_1


__ADS_2